Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Kerja Terus, Kapan I'tikafnya?

14 Jun 2017

Pertanyaan:

Kami tahu hukum dan keutamaan i’tikaf, khususnya pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan. Namun pekerjaan atau profesi kami membuat kami tidak mungkin menetap berhari-hari di masjid kecuali dalam waktu yang singkat. Lalu, apa yang bisa kami lakukan agar bisa melaksanakan sunah ini dan tetap bekerja?

Jawaban:

I’tikaf adalah sunah Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam. Sayyidah Aisyah berkata: Sesungguhnya Nabi selalu i’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan sampai beliau wafat. Lalu para istrinya melakukan i’tikaf setelah itu.

I’tikaf boleh dilakukan dalam jangka waktu yang lama atau singkat. Ini adalah pendapat mazhab Syafii.

Jadi, i’tikaf adalah tinggal atau menetap di masjid dengan disertai niat i’tikaf, baik untuk waktu lama atau pun sebentar saja. Orang yang i’tikaf mendapat pahala selama ia berdiam diri di masjid.

Bagi orang yang memiliki kesempatan i’tikaf, walau semalam, ia dianjurkan secara syariat untuk i’tikaf, karena mengikuti sunah Rasulullah shallallaahu ‘alahi wasallam dalam i’tikaf bulan Ramadan. Dan bagi yang belum mendapatkan kesempatan itu, maka ia tidak dituntut untuk melakukan i’tikaf ini. Namun ia tidak boleh melewatkan kesempatan i’tikaf lainnya, karena seseorang tetap bisa mendapatkan pahala i’tikaf walaupun hanya berdiam diri di masjid sesaat untuk menunggu salat jamaah. Bukankah sesuatu yang tidak bisa dikerjakan semuanya, tidak boleh ditinggalkan semuanya?. Ya, Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Jika aku perintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian”.

I’tikaf boleh dilakukan semalam saja, atau lebih, sejak sebelum magrib sampai fajar.

Pertanyaan dijawab oleh Maulana Syaikh Ali Jum’ah (Fatâwâ `Ashriyah, I / 100).

Disalin dari Facebook Page Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum’ah