Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Hormati Orang yang Tidak Berpuasa?

27 May 2017

Para simpatisan dan pengusung sepilis (sekularisme, pluralisme, liberalisme) pada bulan Ramadhan biasanya menyuarakan untuk menghormati orang yang tidak berpuasa. Mereka tidak setuju dengan adanya penutupan tempat hiburan seperti tempat karaoke dan diskotik. Mereka juga tidak setuju apabila warung makan/rumah makan yang buka di siang hari ditutup tabir. Kebijakan seperti itu (penutupan tempat hiburan,penabiran warung makan,dsb) bertujuan untuk menciptakan suasana yang kondusif, menciptakan kekhusyu’an ibadah puasa.

Perlukah menghormati orang yang tidak berpuasa? Perlu, mengingat orang yang tidak berpuasa seperti orang yang hamil, lansia dan orang sakit juga butuh makan/minum demi menjaga kesehatannya. Akan tetapi, menghormati orang yang berpuasa itu juga perlu. Mengapa? Puasa pada bulan ramadhan adalah ibadah yang termasuk rukun islam, yang merupakan hal fundamental bagi kaum muslimin. Pengingkaran terhadap 1 saja rukun islam akan menjadikan kafir/murtad alias batal keislamannya. Sedangkan apabila tidak menjalankanya tanpa alasan yang sesuai syari’at islam, maka menjadikannya berdosa besar. Negara Indonesia telah mengakui islam sebagai agama yang sah. Peraturan perundang-undangan menjamin kebebasan warga negara untuk menjalankan agamanya, tercantum dalam pasal 29 UUD 1945. Jadi, meskipun berada dalam kerangka berbangsa dan bernegara dan bhinneka tunggal ika, menghormati orang yang berpuasa itu tetap konstitusional, tidak bertentangan dengan undang-undang.