Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Tafsir Al Baqarah: 2-3

17 May 2016

بسم الله الرحمن الرحيم.

Asbabun Nuzul

Rasulullah bersabda, “Ada tiga perkara yang barang siapa yang dapat mengumpulkan ketiga hal itu dalam dirinya, maka ia telah dapat mengumpulkan keimanan secara sempurna. Yaitu, memperlaku’kan orang lain sebagaimana engkau suka dirimu diperlakukan oleh orang lain, memberi salam terhadap setiap orang (yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal), dan mengeluarkan infak di jalan Allah, meskipun hanya sedikit.” (Hadits riwayat Bukhari, 9)

Tafsir Ath Thabari

Al Gaibi berarti segala hal yang masih tersembunyi. Oleh karena itu, beriman kepada perkara yang gaib berarti membenarkan adanya surga dan neraka, pahala dan siksa, juga adanya hari kebangkitan, serta membenarkan adanya Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, dan segala hal yang sebelumnya disangkal oleh orang-orang Arab Jahiliah. Padahal, perkara-perkara itu adalah perkara-perkara yang wajib diimani walaupun hakikatnya masih tersembunyi.

Firman Allah yuqimunash shalata berarti menunaikan shalat dengan menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, memelihara kekhusyu’annya, dan memahami bacaannya, serta menegakkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata. Itulah maksud mendirikan shalat menurut pendapat Ibnu ‘Abbas. Shalat itu sendiri secara etimologis berarti doa, sehingga orang yang mendirikan shalat pada hakikatnya adalah seseorang yang sedang memohon kepada Allah subhanahu wata’ala. agar mendapatkan pahala darinya, serta agar terpenuhi segala hajat hidupnya di dunia.

Adapun tafsir Dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka menurut Ibnu ‘Abbas adalah orang-orang yang menunaikan zakat mal (harta). Sedangkan menurut Ad Dahhak adalah orang-orang yang menginfaqkan sebagian harta sesuai batas kemampuan. Kedua penafsiran itu menurut Ath Thabari dapat dipadukan, karena baik zakat maupun infaq pada dasarnya sama-sama merupakan upaya seorang hamba untuk mengeluarkan sebagian hartanya yang halal agar memperoleh keridhaan dari Allah subhanahu wata’ala. (Tafsir Ath Thabari’ Jilid I, 2001: 240-250)

Tafsir Ibnu Katsir :

Ibnu ‘Abbas berkata, Beriman berarti membenarkan. Mu’ammar meriwayatkan, Az Zuhri berkata, ‘Iman berarti perbuatan’. Abu Ja’far Ar Razi meriwayatkan dari Rabi bin Anas, kata Beriman berarti takut.

Menurut Ibnu Jarir, definisi yang tepat untuk kata Beriman adalah orang-orang yang mengimani hal gaib dengan perkataan, perbuatan, dan keyakinan. Takut kepada Allah subhanahu wata’ala. termasuk dalam makna iman jika disertai pembenaran berupa perkataan dan perbuatan. Secara prinsip, kata iman mengakumulasi keyakinan terhadap Allah subhanahu wata’ala, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya jika dibuktikan dengan perbuatan.

Abu Ja’far Ar Razi meriwayatkan dari Rabi bin Anas, Abu Aliyah berkata, “Maksud Yang beriman kepada yang gaib adalah mereka yang mengimani Allah subhanahu wata’ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari Kiamat, surga dan neraka, serta pertemuan dengan-Nya. Termasuk makna al gaib adalah mengimani kehidupan pascakematian.”

Menurut Ibnu ‘Abbas, kalimat Dan mereka mendirikan shalat bermakna mereka menunaikan shalat sesuai ketentuan-ketentuannya. Dahhak meriwayatkan, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Melaksanakan shalat berarti menyempurnakan gerakannya dengan ruku’, sujud, dan tilawah secara khusyuk karena Allah subhanahu wata’ala.” Ali bin Abu Talhah meriwayatkan, Ibnu ‘Abbas berkata, “Kalimat Dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka bermakna mengeluarkan zakat dari harta yang dimiliki.” (Al Misbah Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 28-29)

الحمد لله ربّ العالمين

Sumber : Channel Telegram Tafsir Al-Qur’an