Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Isi Ceramah Theo Syafei

06 May 2016


[INDONESIA-L] Isi Ceramah Theo Syaf
From: [email protected]
Date: Sun Jan 17 1999 - 12:57:00 EST

Forwarded message:
From [email protected] Sun Jan 17 16:55:27 1999
Date: Sun, 17 Jan 1999 14:55:59 -0700 (MST)
Message-Id: <[email protected]>
To: [email protected]
From: [email protected]
Subject: [INDONESIA-L] Isi Ceramah Theo Syafei
Sender: [email protected]

From: Semoga_Awet <[email protected]>
To: "[email protected]'" <[email protected]>
Date: Wed, 13 Jan 1999 10:02:39 +0700
MIME-Version: 1.0
Subject: [Kuli Tinta] ISI CERAMAH THEO SYAFEI
 
  Kalau ada diantara rekan-rekan yang pingin tahu isi pidato Theo Syafei
 (bekas Pangdam Udayana) silahkan dibaca naskah berikut ini.
  
 
  Pengantar Redaksi
  Berikut ini adalah transkip lengkap pidato Mayjen (Pur) Theo Sjafei di
  hadapan aktivis gereja, yang kasetnya beredar luas di Kupang menjelang
  Tragedi 30 November 1998. Redaksi memperoleh kaset pidato ini dari
  seorang aktivis gereja Kupang. Redaksi sengaja menurunkan lengkap
  transkrip pidato tersebut untuk memberi gambaran utuh tentang apa saja
  yang telah disampaikan Theo Sjafei. Karena itu tidak ada editing
  redaksional yang cukup berarti dalam tulisan ini. Redasi menambahkan
  anak judul untuk setiap persoalan guna memudahkan pembaca mengikuti
  pidato yang cukup panjang ini.
  
  Tentang Penyebaran Agama Kristen di
  Indonesia
  Saudara-saudara yang saya kasihi dalam Kristus. Saya akan coba
  menyampaikan peta politik Indonesia sekarang ini dan menuju ke tahun
  depan, tahun pemilu, apabila pemerintah itu siap untuk melaksanakan
  pemilu. Tetapi sebelum saya sampai pada peta politik hari ini, kita
  kembali dulu di tahun 1511.
  Tahun 1511 Portugis mendarat di Ambon. Portugis yang mendarat di Ambon
  itu mendapat dua mandat, satu mandat dari Raja di Portugis, dan satu
  mandat dari Paus di Roma. Mandat dari Raja Portugis untuk mengambil dan
  memonopoli rempah-rempah. Mandat dari Paus di Roma, untuk membawaterang
  ke bumi wilayah yang masih gelap ini. Dan dalam membawa terang itu,
  manusia-manusia yang ada di Nusantara ini, apabila tidak takluk, dia
  dapat dibunuh. Itu adalah teologia di abad ke-15 dan ke-16.
  Karena itu, ketika Portugis datang ke sini, dia lalu melihat, bahwa di
  pesisir-pesisir Nusantara sudah banyak sekali terbentuk
  kerajaan-kerajaan kecil Islam. Kristen sampai ke Indonesia secara fisik
  itu di tahun 1511, ketika Portugis datang. Kita tidak tahu, mengapa
  Rasul Tomas itu bisa berhenti sampai 14 abad lamanya. Rasul Tomas itu
  sudah bergerak sampai di India. Tetapi kemudian, kekristenan itu
  berhenti di sana, tidak dapat menembusnya. Sedangkan Islam yang baru
  muncul beberapa abad kemudian, mendahului masuk ke Nusantara melalui
  pedagang-pedagang dari Gujarat. Malah, kekristenan itu tidak datangnya
  dari India, tetapi malah datangnya dari Eropa, melalui Portugis,
  Inggris, dan Belanda.
  Jadi, ketika Portugis tiba di sini atau kekristenan itu tiba di
  Indonesia, mereka menemukan raja-raja kerajaan Islam, dan
  kerajaan-kerajaan Islam itu yang menguasai Nusantara, lalu terjadilah
  pertempuran-pertempuran. Perang ini oleh Portugis dianggap sebagai
  pertempuran suci, perang Suci, kecuali untuk merebut rempah-rempah,juga
  untuk menyebarkan agama Kristen. Dulu agama Kristen disebarkan dengan
  perang.
  Tahun 1512 Malaka ditaklukkan oleh Portugis. Ahir tahun 1590-an Belanda
  datang. Belanda yang datang adalah yang sudah Protestan. Kekuatan
  Protestan waktu itu sedang dikejar-kejar di Eropa. Karena itu mereka
  lari ke Amerika. Kekuatan Protestan itu, Jerman menjadi Protestan,
  Belanda menjadi Protestan, negara-negara Eropa bagian Utara menjadi
  Protestan. Ketika mereka bertemu dengan Katolik Portugis di sini, lalu
  yang Protestan itu menganggap Portugis yang Katolik itu adalahmusuhnya,
  kemudian mereka bantai Portugis itu. 15.000 orang Katolik, orang asli
  pribumi Katolik di Ambon, mereka habiskan dalam 1 malam. Jadisebetulnya
  sejarah kekristenan itu juga bukan sejarah yang bersih dari darah.
  Amerika itu terjadi seperti sekarang ini, karena juga orang-orang
  Katolik. Kerajaan Katolik mengejar pengikut-pengikut Protestan Martin
  Luther dan Calvin. Mereka lalu lari ke Amerika. Karena itu ketikasampai
  di sana, ketika mereka mendirikan negara Amerika, ingatan orang-orang
  Amerika yang pertama, bahwa kita sampai di sini karena masalah agama.
  Karena itu negara yang kita dirikan, adalah negara yang tidak boleh
  mencampuri masalah-masalah agama. Negara yang tidak boleh mencampuri
  masalah agama ini kita kenal dengan sekuler. Amerika adalah negara yang
  sekular. Dia tidak mau mencampuri masalah agama. Tapi bukan anti agama.
  Jadi ada negara yang non-sekuler, dan ada negara yang sekuler.
  Saya kembali ke Belanda yang masuk ke sini. Belanda yang masuk ke sini
  kemudian mengalahkan Portugis, dan untuk mengalahkan Portugis, ia
  bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan kecil Islam. Lalu setelahPortugis
  bisa dia hancurkan, kemudian kerajaan-kerajaan kecil ini diadu sesama
   mereka, lalu kemudian jadilah mereka kekuatan yang menguasai seluruh
  Nusantara, karena berhasil melakukan divide et impera.
  Tentang Islam yang Galau dan Selalu Berontak
  Ini artinya, bahwa ketika abad ke-7, Sriwijaya menguasai Nusantara
  sampai ke daerah Muangthai, maka Sriwijaya menguasai Nusantara dengan
  filosofi dasarnya itu adalah Budha. Ketika Sriwijaya turun, naik
  kerajaan Majapahit yang berpusat di Singosari Jatim. Filosofi dasarnya,
  mereka menguasai Nusantara itu, dengan filosofi Hindu. SetelahMajapahit
  turun, maka yang menggantikan kekuatan Majapahit di Nusantara, filosofi
  berikutnya itu bukan filosofi Islam, tetapi filosofi Kristen yangdibawa
  oleh kolonial Belanda.
  Jadi, kaum mayoritas Islam, atau Islam itu tidak pernah memegang peran
  sentral di Nusantara, di Indonesia ini. Tidak pernah UU diberlakukan
  menurut pikiran-pikiran Islam, tetapi menurut pikiran-pikiran Kristen.
  KUHAP yang kita punyai, KUHP yang kita punyai, dimasa lalu, itu
  landasannya adalah landasan kekristenan. HAM yang kita punya, ituadalah
  filosofi Kristen.
  Jadi yang menggantikan Budha, Hindu, itu bukan Islam tetapi Kristen.Dan
  ini membuat orang Islam galau. Mengapa kami yang bagian terbesar yang
  hidup di Nusantara ini tidak bisa mengatur Indonesia ini denganfilosofi
  Islam. Kenapa Kristen yang harus menjadi.
  Ketika Belanda dan Jepang turun, maka yang mengganti kemudian di
  Indonesia itu bukan Islam, tetapi Pancasila. Sekarang ini filosofi yang
  kita pakai adalah filosofi Pancasila, dan ini menambah galaunya orang
  Islam. Kenapa bukan Islam yang dipakai. Ketika BPUPKI dibentuk oleh
  Jepang, ketuanya adalah RM Widijodiningrat. BPUPKI anggotanya 60 orang.
  Wakil ketuanya orang Jepang 2 orang. Di dalam 60 orang itu ada 5 orang
  Cina dan 2 keturunan Arab. Di dalamnya ada 14 atau 15 orang yang
  beragama Kristen Katolik dan Protestan.
  Ketua BPUPKI bersidang tanggal 29, 30, 31 Mei dan 1 Juni 1945 ada 46
  anggota yang bicara. Prof. Dr. Soepono, pembicara yang ke-41mengatakan:
  Saudara-saudara, negara Indonesia yang akan kita bangun itu haruslah
  negara yang mengatasi semua perorangan dan semua golongan. Negara yang
  akan kita bangun ini tidak boleh berdasarkan pada kekuatan golonganatau
  pada kekuatan kita yang terbesar. Negara ini haruslah negara yang
  mengatasi semua golongan dan semua perorangan. Negara ini disebutnegara
  persatuan, negara integralistik, negara kekeluargaan. Itu salah satu
   bagian pidatonya Soepomo.
  Kemudian Soepomo melanjutkan, kepada yang terhormat Saudara-saudarayang
  menginginkan negara ini dibangun di atas dasar Islam, walaupn Islam itu
  bisa mengatur sebaik-baiknya kehidupan warga negaranya, tetapitentulah,
  kata Soepomo, mereka agama yang kecil-kecil itu tidak pernah merasakan
  bahwa negara ini adalah negaranya, karena negara ini dibuat dan
  didasarkan atas dasar Islam. Artinya itu saudara-saudara, walaupun Islam
  merupakan bagian yang terbesar daripada negara kita ini, kita tidak
  boleh mendirikan negara ini berdasarkan Islam, tetapi kita harusmembuat
  satu negara yang mengatasi semua goongan dan mengatasi semuaperorangan,
   negara itu adalah negara persatuan, negara integralistik, negara
  kekeluargaan.
  Ini pidato yang ke-41 Prof Dr Soepomo. Bayangkan di tahun 1945 sudahada
   profesor doktor dalam bidang hukum. Kemudian, pidato yang ke-46 tanggal
  1 Juni adalah pidatonya Bung Karno. Karena itu, kata Bung Karno, dasar
   negara yang akan kita buat itu saya sebut Pancasila. Yang pertama,
   silanya adalah sila kebangsaan. Yang keduanya, sila mufakat. Yang
  ketiga, silanya adalah sila internasionalisme, kemanusiaan. Yangkeempat
  silanya adalah keadilan sosial. Dan yang kelima silanya adalahKetuhanan
  Yang Maha Esa. Kebangsaan oleh Bung Karno ditempatkkan yang pertama,
  karena melihat bahwa bangsa ini perlu bersatu.
  Kemudian dibentuklah Panitia 5, yang dipimpin Bung Hatta. Untuk
  merumuskan kembali Pancasila. Di dalamnya ada dua yang Kristen, satu
   Maramis, satunya tokoh dari Jawa. Kemudian oleh Bung Hatta, disusunlah
  itu (menjadi) Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan
  Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmatdalam
  Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat
  Indonesia.
  Jadi dimulai Tuhan Yang Besar sekali. Kemudian, sesudah ketuhanan yang
  begitu besar dan tidak dapat dijangkau oleh pikiran oleh perasaan, oleh
  panca indera kita, diturunkan itu menjadi kemanusiaan, kemanusiaan di
  seluruh muka bumi, manusia sebagi satu spesies makhluk tertinggi
  martabatnya. Baru setelah manusia seluruh dunia itu, baru turun menjadi
  persatuan Indonesia. Baru kemudian dalam persatuan itu harus kita
   lakukan dalam kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Dan
  kemudian ada keadilan sosial.
  Inilah yang membuat kenapa umat Islam itu begitu galau. Mereka yang
  bagian terbesar dari republik ini tetapi tidak pernah meletakkan
  dasarnya untuk republik ini. Tidak pernah berhasil. Ketidakberhasilan
  mereka di 17 Agustus 1945, yang kemudian tanggal 18 UUD-nya disahkan
  digabungkan dengan Pancasila, lalu membuat mereka memberontak.
  Pemberontakannya itu adalah pemberontakan DI/TII, Darul Islam/Tentara
  Islam Indonesia. Mereka berkehendak mendirikan negara Islam Indonesia
  dengan imam besarnya adalah Kartosoewirjo, pimpinan DI/TII di sini. PM
  dan Menhannya adalah Kahar Muzakar, pimpinan DI/TII di Sulsel. Ibnu
  Hajar adalah Mendagrinya pimpinan DI/TII di Kalimantan Selatan, dan
  Daoed Beureueh pimpinan DI/TII di Aceh. Ini adalah pemberontakan Islam.

  Tentang Islam yang Membuat Berbagai Kerusuhan
  Kemudian di tahun 1955 diadakan pemilu di Indonesia. Pemilu ini kecuali
  memilih DPR juga memilih Konstituante. Tapi Dewan Konstituante yang
  diwajibkan untuk membentuk konstitusi negara, menggantikan UUD 1945.
  Konstituante ini kemudian bersidang selama 4 tahun dari tahun 1955
  sampai tahun 1959, dan tidak pernah bisa bersepakat membentuk dasar
  negara, apakah dasar negara itu nasional, Pancasila, ataukah Islam.
  Selalu kalau dalam pemilihan suara, tidak pernah dicapai kata sepakat
  untuk mendapatkan dasar negara. Kemudian Abdul Haris Nasution, Pangab
  waktu itu, mengusulkan, supaya kita tidak usah lagi bicarakan tentang
  ini, kita kembali saja ke UUD 1945, tanggal 5 Juli 1959.
  Kalah lagi Islam. Tiga kali Islam kalah berturut-turut. Dan
  kekalahannya
  ini, baik secara pemberontakan bersenjata maupun secara konstitusional
  dalam dewan-dewan yang sah, itu tidak membuat Islam itu selesai. Mereka
  masih ada Warsidi, mereka masih ada Tanjung Priok, mereka masih ada
  pemboman BCA, mereka masih melaksanakan pemboman Borobudur, masih
  membunuh pendetanya gereja Anglikan; Situbondo, Tasikmalaya segala
  macam
  itu masih dibuat oleh Islam, untuk memperlihatkan
  kekecewaan-kekecewaannya.
  
  Tetang Strategi HMI: Pembusukan dari Dalam
   Makin-makin Islam itu kecewa, ketika di tahun 1978 di dalam GBHN
  dikatakan, bahwa seluruh Ormas dan Orsospol dalam negara RI, harus
  asasnya tunggal, Pancasila. HMI ketika itu menolak asas tunggal, lama
  sekali. Himpunan Mahasiswa Islam, HMI itu tidak pernah berkehendak ia
  dinamakan Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia. HMI selalu mengatakan,
  kami adalah HMI, tidak pakai Indonesia di belakangnya. Karena dia
  adalah
  bagian Pan-Islamic, satu perjuangan Islam di seluruh dunia. Ini adalah
  penolakan HMI.
  Lalu HMI yang menolak ini, melaksanakan tiga kali muktamarnya. Dan pada
  muktamar yang ketiga, kemudian Akbar Tanjung , yang mantan ketua HMI,
  tapi waktu itu adalah ketua KAHMI - KAHMI itu adalah kesatuan alumnus
  HMI - berpidato di Medan. Dia mengatakan begini, kalau HMI tidak
  menerima asas tunggal, maka kalian sebagai ormas itu menjadi tidak sah.
  Kalau kamu tidak sah sebagai Ormas, maka perjuangan Islam itu harus
  dilaksanakan di luar sana, di perimeter-perimeter yang paling tepi,
  yang
  paling pinggir. Kapan kalian bisa di sentral power, di sentral
  kekuasaan. Mari kita terima asas tunggal Pancasila ini sebagai taktik,
  agar kita bisa masuk ke dalam Golkar, masuk ke dalam pemerintahan, dan
  kemudian melakukan pembusukan-pembusukan dari dalam. Dan itulah yang
  dilaksanakan oleh KAHMI, oleh unsur-unsur HMI.
  Kemudian mereka membuat ICMI, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia,
  dengan alasan bahwa Kristen membuat PIKI, Persekutuan Intelegensia
  Kristen Indonesia. Dan Katolik membuat ISKI, Ikatan Sarjana Katolik
  Indonesia. Kenapa kita tidak bisa membuat ICMI. Jadi kitalah sebetulnya
  yang salah langkah membuat PIKI, membuat ISKI. Sehingga ketika mereka
  membuat ICMI tidak ada yang bisa mencegah.
  ICMI didapuri selama 2 tahun. Tokoh yang mendapurinya adalah Prof Dr
  Imadudin. Imadudin ini ketikan tahun 1980 sekian, ketika ICMI itu
  terbentuk, ditanya kenapa bukan kalian-kalian yang mendapuri ICMI yang
  duduk sebagai ketua ICMI, kenapa kalian relakan kepada Habibie. Habibie
  kan kita tidak kenal keislamannya dengan betul. Jawab mereka, karena
  Habibie adalah orang atau figur yang paling bisa kita manfaatkan.
  Karena
  dia sudah dekat dengan sentral power. Dan dari Habibie ke-Islam di
  bawah
  itu harus melalui ICMI. Sebab ICMI itu punya mekanisme tersendiri.
  Habibie itu cuma simbol, lambang di atas. Kemudian ICMI itu makin lama
  makin banyak. Dalam Golkar, dalam pemerintahan, dalam kabinet yang lalu.
  Lalu Soeharto merasa bahwa dia punya kepemimpinan sebagai presiden itu
  harus diletakkan dalam tiga kaki. Satu kaki Golkar, karena ABRI sudah
  ada dalam Golkar. Oleh Hartono dikatakan bahwa ABRI adalah kader-kader
  Golkar, Hartono sudah memakai pakaian kuning sebagai KSAD, sebagai
  kader
  Golkar. Yang kedua Pak Harto merasa bahwa dia sudah bisa mengatur RI
  dengan kaki yang kedua adalah konglomerat. Dan dia sendiri merasa
  sebagai pribadi sudah punya yayasan-yayasan yang cukup besar, dan
  yayasan-yayasan itulah yang membiayai Golkar. Jadi itu bukan uang yang
  ada di dalam Golkar sendiri, tetapi uang dari luar Golkar. Yayasan
  Dakab
  itu, berapa keinginannya Golkar, Pak Harto membiayainya.
  Dengan demikian, kalau Golkar itu programnya tidak sesuai dengan yang
  diinginkan Pak Harto, uangnya tidak diberikan. Pak Harto merasa bahwa
  ia
  sudah memegang segala macam itu. Dia sudah memegang sembilan bahan
  pokok, ia sudah memegang industri-industri strategis, pesawat terbang,
  kapal, kereta api dan besi. Tinggal satu lagi kekuatan, dan kekuatan
  yang ketiga itu adalah kekuatan Islam.
  Di awal Orba, Pak Harto dengan tiga kakinya adalah teknokrat, ABRI dan
  pemerintahan sipil. Teknokratnya, Ali Wardana cs, Radius Prawiro cs,
  Frans Seda cs, Itu adalah teknokrat yang dipakai oleh Pak Harto. Hampir
  semua rektor dan dekan ditarik ke dalamnya. Itu pada awal Orba. Tetapi
  di akhir Orba, teknokrat-teknokrat itu, rektor-rektor itu sudah tidak
  lagi dianggap, karena seluruh profesor sudah ada dalam kabinet.
  Nah Islam yang dipakai oleh Pak Harto ini adalah Islam yang tadi
  dikatakan oleh Akbar Tanjug, adalah Islam yang melaksanakan pembusukan
  dari dalam. Islam ini kemudian mengatakan begini: mari kita dorong
  Soeharto itu, presiden ini, sebagai Bapak Pembangunan, satu-satunya
  yang
  paling mampu membangun di Indonesia adalah Soeharto. Mari kita dorong
  dia supaya dia menjadi bapak yang paling benar di seluruh Indonesia.
  Supaya nanti kalau ada kesalahan di republik ini, maka satu-satunya
  yang
  paling salah adalah Soeharto. Dan itu terjadi hari ini.
  
  Tentang "Brutus" Habibie
  Sekarang ini, itu sudah terjadi. Dan kita melihat, ketika Pak Harto
  akan
  mundur tanggal 20 Mei malam. Ini ceritanya Sudharmono kepada saya.
  Malam
  itu sehabis maghrib, saya dari Imam Bonjol dari rumah, saya dipaggil ke
  Cendana. Lalu Pak Harto mengatakan, tanggal 20 Mei itu, nanti hari
  Sabtu
  akan saya umumkan Komite Reformasi Nasional. Di dalam Komite itu duduk
  antara lain Megawati, Gus Dur, Amien Rais, ketua KWI, ketua PGI, empat
  puluhlima orang banyaknya. Lalu Pak Dharmono mengatakan, Pak, nanti
  kalau itu akan diumumkan, harus dicek betul-betul bahwa dari 45 orang
  ini tidak ada yang menolak untuk duduk.
  (Kata Pak Harto) Ya, ya, sudah saya katakan itu pada Saadilah Mursyid,
  supaya dicek di telepon satu-satu. Kemudian, hari Sabtu itu juga akan
  saya umumkan reshufle kabinet, kata Pak Hato kepada Sudharmono. Dalam
  reshuffle kabinet ini, semua orang yang disorot dengan keras oleh
  masyarakat akan saya keluarkan. Bob Hasan saya keluarkan. Hartono saya
  keluarkan, Tutut saya keluarkan, Alawiyah saya keluarkan. Semua yang
  disorot dengan keras akan saya keluarkan. Dan pembicaran itu selesai
  sesudah maghrib sampai kira-kira jam 8 malam.
  Ketika Pak Dharmono keluar, dia masih bertemu dengan wakil presiden
  Habibie, di ruang tunggu. Mereka salaman, Habibie membawa map. Kemudian
  map itu dibawa oleh Habibie ke dalam. Kemudian kira-kira jam 10 malam,
  Pak Dharmono ditelepon oleh Saadilah Mursyid, "Pak! Pak Harto sudah
  memutuskan, besok akan mengundurkan diri." Kata Pak Dharmono, "Kenapa?
  Tadi itu masih bicara tentang Komite Reformasi Nasional, masih bicara
  tentang reshuffle kabinet yang akan dilaksanakan hari Sabtu."
  Habibie membawa map yang isinya 14 orang menteri menarik diri,
  berkeberatan untuk duduk, baik di kabinet sekarang maupun di kabinet
  yang akan datang, kalau dipimpin oleh Pak Harto. Lalu, Pak Harto yang
  gundah ini, lalu mengatakan, "Baik kalau begitu. Kalau
  Brutus-Brutus...." =
   
  Brutus adalah yang menusuk Julius Cesar. Padahal, Habibie itu seperti
  Brutus, dia dibesarkan oleh Julius Cesar, dari anak pinggiran dijadikan
  panglima, dialah yang menusuk Julius Cesar.
  Saya jam 10 ditelepon Pak Dharmono. Jam 10 lewat 10 menit, Saadilah
  Mursyid menelepon Pak Try Sutrisno. Saya waktu itu berada di rumahnya
  Pak Try Sutrisno, karena saya adalah sekretaris politiknya. Malam itu,
  kita baru mengirimkan surat kepada Presiden, memberitahukan bahwa
  "Keadaan sudah begini - begini di luar. Kami sarankan Bapak mengambil
  langkah ini - ini." Malam itu suratnya dibawa kurir. Sebelum jam 7
  sudah
  sampai di tempatnya Pak Saadilah Mursyid, untuk diteruskan kepada
  Presiden. Kira-kira jam setengah delapan, Saadilah menelepon Pak Try
  Sutrisno "Suratnya sudah sampai kepada Bapak dan sudah dibaca oleh
  Presiden Soeharto." Tetapi ketika Brutus (Habibie) itu datang, besoknya
  kemudian terjadilah penyerahan kekuasaan.
  
  Tentang Muhammadiyah Fundamentalis
  Jadi, kita lihat di sini, bahwa memang Islam itu sangat galau kenapa
  negara ini tidak berdasarkan Islam. Islam yang sangat galau ini bukan
  Islam keseluruhannya. Islam yang sangat galau ini adalah Islam yang
  fundamental. Islam itu ada dua. Satu Islam yang fungsional, yang
  memperjuangkan supaya fungsi-fungsi Islam itu dilaksanakan di dalam
  keadilan sosial, di dalam kesejahteraan, di dalam kesehatan, di dalam
  makanan. Islam yang fungsional itu tecermin dari mereka yang ada di NU.
  Sedangkan Islam yang politik, yang ingin benderanya berkibar sebagai
  kekuatan, itu Islam yang berada di ICMI, dan Islam yang berada di
  setengah dari Islam Muhammadiyah.
  Amien Rais adalah ketua Muhammadiyah, tetapi dia masuk sebagai ketua
  Muhammadiyah dalam Muktamar di Aceh dengan pembiayaan yang sangat besar
 dari ICMI untuk mengalahkan Lukman Harun cs. Kemudian ia menjadi ketua
 Muhammadiyah, agar supaya kelihatan bahwa ICMI didukung oleh aliran
 Muhammadiyah.
 Bedanya dengan NU, apabila ada persoalan di luar, tentang haram atau
 halal, tentang sah atau tidak sah, aliran Muhammadiyah mencari
 pembenaran dalam Al Quran dan hadits. Al Quran itu adalah buku yang
 begitu tipis, hanya 30 juz isinya. Hadits itu adalah
 perbuatan-perbuatan
 Nabi dan sahabat-sahabat Nabi ketika mereka masih hidup, yang kemudian
 diingat-ingat, bahwa perbuatan itulah yang harus dicontoh apabila kita
 tidak menemukan jawabannya di Quran. Tidak seperti Alkitab kita. Semua
 kita bisa cari jawabannya di Alkitab. Di Quran tidak.
 Jadi kalau Muhammadiyah mencari pembenarannya itu di Quran dan di
 hadits. Kalau NU, Islam yang tradisional, mencari pembenarannya itu
 dari
 yai-kyai mereka yang tua, yang lama, yang mereka katakan, kita kembali
 kepada khittah tahun 1926. Ada mereka buat buku tentang
 perbuatan-perbuatan kyai-kyai di Indonesia dan sebelumnya. Jadi kalau
 ada persoalan di masyarakat, mereka cari ke dalam buku kuning. Buku
 Khittah tahun 1926.
 Artinya NU mencari jawabannya itu di dalam tradisi Indonesia, di dalam
 akar rakyat Indonesia. Muhammadiyah mencari pembenarannya itu di dalam
 tradisi dan akar di negeri Arab.
 
 Tentang Jilbab Kelakuan Orang Arab
 Karena itu bagi Muhammadiyah, memakai pakaian yang menutup seluruh
 tubuh, itu diperlukan, karena ini adalah kelakuan orang Arab di sana.
 Kenapa kelakuan ini dilakukan di sana? Itu bukan dilaksanakan oleh
 Islam
 saja di sana, tetapi juga dilaksanakan oleh orang kafir di sana,
 pakaian
 yang seperti itu.
 Mengapa pakaian itu harus dipakai? Satu karena sengatan matahari yang
 terlalu besar. Dua, di malam hari, terjadi pemurunan temperatur yang
 begitu dingin sehingga memang diperlukan pakaian yang sampai ke bawah.
 Yang ketiga, debu yang terbang itu adalah butir-butir pasir, yang
 sangat
 membahayakan terhadap kulit dan terhadap mata seseorang, sehingga
 pakaiannya memang harus demikian. Di Indonesia kan tidak perlu begitu.
 Panasnya tidak menyengat, malamnya tidak terlalu dingin, dan tidak ada
 debu pasir, tidak ada badai pasir yang sewaktu-waktu bisa terbang.
 Ada lagi alasan yang lain dari kelompok Islam ini. Bahwa pakaian yang
 seperti itu, untuk melindungi dari kaum kafirin Memang di zaman Islam
 mulai bertumbuh, di sekitarnya itu adalah kaum kafirin. Yang kalau
 melihat wanita, merebut dan memperkosanya. Lalu, kata mantan Menteri
 Agama Munawir Sjadzali, istri saya ini tidak pakai jilbab, dia cuma
 pakai rok yang panjang, dia tidak perlu disembunyikan wajahnya dan
 kecantikannya dari masyarakat, karena masyarakat ini bukan masyarakat
 kafir, masyarakat ini adalah masyarakat beradab, masyarakat Islam.
 Tetangga saya itu Islam, karena itu saya tidak usah menutup kecantian
 istri saya. Dulu itu dilaksanakan di Arab, karena masyarakat di
 sekitarnya adalah masyarakat kafir, yang kecantikan itu bisa berbahaya
 bagi keluarga itu. Karena saya tidak menganggap kalian ini kafir, maka
 istri saya tidak perlu pakai jilbab.

  Tentang Republik Agama (RepublikA)
  Tetapi karena mereka hanya melihat pada hadits dan Quran maka itu
 harus
  dilaksanakan. Di dalam hadits itu dikatakan, sebaik-baiknya kalian,
  pilihlah pemimpin di antara kamu sendiri. Itu kata hadits. Jadi kalau
  harus ada pemimpin di antara kamu, Islam, maka pemimpinnya mesti
 Islam.
  Jadi kalau camatnya harus Islam, bupatinya harus Islam. Kalau
 bupatinya
  harus Islam, maka gubernurnya harus Islam, presidennya Islam.
  Siapa nanti di atasnya Presiden, ada MPR, ada GBHN, GBHN-nya harus
  Islam. Dan GBHN Islam ini, itulah yang mereka akan buat, apabila
 mereka
  menang dalam pemilu tahun 1999. Golkar, PBB, Partai Bulan Sabit
 kecil,
  PUI, PNU, kalau itu semua menang, dan mereka akan menguasai MPR, maka
  MPR yang di tahun 2000 nanti - kan 1999 menang dalam pemilu, tahun
 2000
  mereka bikin MPR, MPR membuat GBHN, GBHN kemudian akan memilih juga
  presiden - maka presidennya pasti Islam, dan GBHN-nya adalah GBHN
 yang
  menuju yang memberikan instruksi-instruksi tertentu, yang akan menuju
  kepada Republika.
  Republika, koran yang kita kenal itu, itu adalah "Republik Agama".
  Seperti Kompas, adalah Komando Pastur. Republika adalah Republik
 Agama.
  Jadi GBHN-nya itu akan menuju kepada Republika di tahun 2005. Jadi
  sebagian perintah GBHN adalah membuat UU yang menetapkan
  filosofi-filosofi Islam sebagai dasarnya. Di tahun 2005, mereka
 berharap
  pemilu akan dimenangkan lagi, karena mereka sudah menang besok tahun
  depan, 2005 akan terjadi lagi MPR yang akan makin mengentalkan
  terjadinya republik Islam, republik yang berdasarkan Islam di tahun
  2010.
  Itu adalah skenarionya. Skenario yang mereka susun. Golkar pasti
 tidak
  akan menang, sebab siapa saja yang nanti akan kampanye untuk Golkar,
  nanti akan diteriakin dari bawah "Bohong lu!" Tidak ada satupun
 kekuatan
  yang bisa mengelak. Karena itu Akbar Tanjung, karena itu ICMI,
  mereka-mereka itu membentuk partai-partai Islam yang banyak, supaya
  Golkar yang turun prosentasenya dari 74 %, yang mungkin menjadi 12 %,
  itu bisa ditambah prosentasenya oleh PBB, Partai Bulan Bintang, oleh
 PAN
  Amien Rais, oleh PBSK, oleh PUI, oleh partai SUNI, oleh Masyumi Baru.
  Karena kalau didapatkan 51 %, 52 %, 55 %, maka mereka akan menguasai
  MPR, mereka bikin GBHN, mereka menunjuk presiden. Dan presiden yang
  berikutnya itu bukan Habibie. Habibie mereka anggap terlalu pendek
  menjadi presiden, terlalu banyak geraknya, terlalu bayak geraknya.
  Seharusnya Habibie ini dikasih mikropon untuk mainan, untuk nyanyi.
  
  Tentang Dwifungsi ABRI
  Presiden akan datang itu terletak pada dua atau tiga: Akbar Tanjung,
  Ahmad Tirtosudiro dan Sayidiman. Sayidiman dan Tirtosudiro inilah
  sebenarnya desainer yang berada pada semua pemikiran-pemikiran itu.
  Sekarang dengan sistematis mereka mengatakan bahwa ABRI itu busuk,
 ABRI
  itu buruk, ABRI itu pembunuh, ABRI itu pelanggar HAM, semua
 dikembalikan
  dengan secara demikian, mereka berharap nanti akan sampai kepada
  pembentukan opini, di mana opini itu akan mengatakan bahwa ABRI itu
  salah.
  Kalau ABRI salah, maka Aceh Merdeka akan menjadi benar. Aceh Merdeka
 itu
  adalah pemberontakan Islam. Kalau ABRI dituduh, diperlihatkan
  kesalahan-kesalahannya kemudian, ABRI itu lalu kehilangan kemampuan
  moral dan morilnya, yaitu mundur ke belakang. Kemudian ABRI itu
  dihakimi, diadili oleh masyarakat, oleh opini masyarakat, maka nanti
  yang benar, itu adalah pemberontakan-pemberontakan Islam. Warsidi di
  Lampung, Amir Biki di Tanjung Priok, Aceh Merdeka di Aceh.
  Kalau ABRI menyerah secara moril dan moral, maka ABRI ini lalu tidak
  berani mempertahankan dwifungsinya. Dua fungsi ABRI, satu kekuatan
  Hankam dan satu kekuatan sosial politik. Jadi ABRI punya sikap
 politik.
  Sikap politik ABRI itu terletak pada sumpahnya, ABRI itu kan
 bersumpah,
  sumpahnya ABRI itu namanya Sapta Marga. Tujuh Marga. Di Marga
  kesatu, ABRI itu mengatakan: Kami warga negara kesatuan Republik
  Indonesia, yang sendinya Pancasila. Di Marga kedua, ABRI mengatakan:
  Kami patriot Indonesia yang mempertahankan ideologi negara dan UUD.
  Jadi sikap politik ABRI itu, satu, negara ini harus negara kesatuan
 RI.
  Kedua, negara ini harus negara Pancasila. Itu sikap politik ABRI,
  sumpahnya ABRI. Jadi fungsi keduanya ABRI, fungsi sospolnya ABRI
 adalah
  itu, negara keatuan RI. Pancasila, ideologi negara harus Pancasila.
 Jadi
  kalau ABRI sekarang ini dengan sistematis sudah makin didorong untuk
  kalah secara moril dan moral, kemudian ABRI melepaskan dwifungsinya,
  maka artinya ABRI melepaskan dirinya untuk mempertahankan negara
  kesatuan, mempertahankan Pancasila, mempertahankan ideologi negara
  Pancasila.
  Kalau negara ini tidak punya ideologi, tidak punya dasar, karena
  Pancasila tidak ada yang mempertahankan - negara itu kan harus ada
  dasarnya - lalu ditawarkan siapa yang bisa memberikan kepada kita
 dasar
  negara yang baru, karena Pancasila sudah tidak dapat diterima sebagai
  asas tunggal dan sebagai dasar negara? Ideologi mana yang ada
 sekarang
  ini kecuali Pancasila, yang ada sekarang ini cuma ideologi Islam.
 Kita
  tidak berani, dan tidak bisa, dan tidak mungkin, kita mengatakan kita
  pakai ideologi Marx, mari kita pakai ideologi sosial komunis, tidak
  mungkin. Sesuatu yang sudah kita kutuk.
  Jadi kalau Pancasila itu berhasil dijatuhkan, dengan menjatuhkan ABRI
  supaya tidak punya lagi dwifungsi, maka tidak ada lagi kekuatan yang
  bisa mempertahankan negara kesatuan dan negara Pancasila ini. Dan
 secara
  sistematis, ABRI disudutkan ke sana, karena ekses-ekses politiknya,
  karena ekses-eksesnya di bidang pendekatan keamanan.
  Padahal yang melaksanakan penculikan (adalah) Prabowo betul, Sjafrie
  betul. Tetapi pelaksana di bawah, pem-"back up" di belakang ...
 Karena itu=
   
  dalam dua terbitan Tabloid ADIL hari ini, bahwa di belakang Prabowo
 yang
  masih muda itu, ada Benny Moerdani, supaya tuduhan itu tidak jatuh
  kepada KISDI yang Islam, tetapi kepada Benny Moerdani yang Katolik.
  
  Tentang Pertanggungjawaban Soeharto
  Ini yang kita hadapi hari-hari ini. Ini yang kita hadapi bahwa SI MPR
  nanti, itu SI yang mencabut Tap No. III yang mencabut Tap tentang
  pengangkatan Presiden Soeharto, dan kemudian mengangkat Habibie,
  kemudian mencabut Tap tentang Pemilu tahun 2002, dan menggantikannya
  dengan Tap Pemilu 1999. Kenapa cuma dua ini. Kenapa kita tidak boleh
  meminta Soeharto bertanggung jawab di depan MPR. Ketua jemaat saja
 kalau
  meminta pengunduran diri, itu ditanya, kenapa you mengundurkan diri,
 apa
  gajimu kurang.
  Ini seorang Presiden Soeharto. Sekarang ini sedang diopinikan, agar
 dia
  memberikan pertanggungjawaban di MPR. Kalau pak Harto memberikan
  pertanggungjawaban, ada dua kemungkinan pertanggungjawabannya itu.
 Satu,
  dia berbicara sejujur-jujurnya. Kalau dia bicara sejujur-jujurnya,
  Habibie segala macam di dalam kabinetnya sekarang, itu juga adalah
  rezimnya Soeharto. Ini juga bisa jatuh. Kalau dia bicara
  sebohong-bohongnya, sekuat-kuatnya berbohong Soeharto untuk
 melindungi
  Habibie, itu sekarang ini tidak lagi mungkin bisa. Karena sudah
 begitu
  banyak file, sudah begitu banyak arsip yang terbuka, sudah begitu
 banyak
  rekayasa yang kelihatan.
  Karena itu, rezim Habibie ini sangat kuatir, kalau Soeharto oleh
 opini
  rakyat, diminta untuk memberikan pertanggungjawaban.
 Pertanggungjawaban
  macam apa yang bisa dia berikan. Barangkali pertanggungjawaban yang
 bisa
  diberikan adalah seperti pertang-gungjawaban Bung Karno. Bung Karno
  memberikan pertanggungjawaban itu cuma di dalam sembilan aksara
  (Nawaksara).
  Inilah yang harus kita buat. Supaya opini rakyat begitu kuat
 mendorong
  dan mendesak, Soeharto harus memberikan pertanggungjawaban. Kalau
  Soeharto tidak memberikan pertanggungjawaban, akan menjadi preseden.
  Artinya di kemudian hari, seorang presiden yang sudah capek, terus
  ingin
  pulang ke Jerman, dia lalu bisa mengatakan, "Capek, capek, saya mau
  pulang ke Jerman, ambillah ini, saya mau pergi."
  Kalau begitu negara ini kan jadi lebih kacau daripada PT, daripada
  perusahaan. Perusahaan saja, Dirut mau mengundurkan diri harus
 dipanggil
  dulu itu RUPS. RUPS kita itu adalah MPR. Kalau diiyakan pada presiden
  kedua, presiden ketiga, keempat, kelima, bisa saja meletakkan jabatan
  kepresidenan itu kapan saja dia kehendaki. Dan ini tidak boleh
 menjadi
  preseden.
  
  Tentang Negara Islam Tahun 2005
  Jadi negara ini menjadi negara Islam atau tidak menjadi negara Islam,
  itu SI MPR 10 November nanti, mulai digulirkan. Di Pemilu nanti,
 Golkar
  akan berkoalisi dengan partai-partai ini. Kalau partai ini menang,
  mereka akan memegang MPR. Dan MPR yang mereka buat, mereka pegang,
 akan
  membuat GBHN yang menuju kepada "Republika".
  Kenapa mereka berkeras tahun 2000 ini harus dibentuk, agar 20005 itu
  "Republika" bisa dipegang. Karena ditahun 2003, begitu bunyi
 kesepakatan
  ASEAN, sudah terjadi semi globalisasi Indonesia. Di tahun 2010, sudah
  terjadi globalisasi untuk Pasifik, kecuali untuk beberapa komoditi.
 Di
  tahun 2020, itu seluruhnya sudah global, dalam bidang ekonomi. Tidak
 ada
  investasi yang akan masuk ke sini, kalau pemerintahan ini adalah
  primordial.
  Atau dibalik perkataan lain, apabila sudah tiba saatnya untuk
  globalisasi, dan pemerintahan Islam, pemerintahan primordial ini
 belum
  terbentuk, maka pemerintahan primordial ini tidak akan pernah
 terbentuk.
  Jadi mereka dikejar oleh waktu. Bahwa di tahun 2005 itu, Republika,
  Republik Agama itu sudah harus sangat kuat pancangan-pancangan
 kakinya.
  Kalau tidak, di dalam globalisasi tidak ada investasi yang
 mengijinkan
  berdirinya suatu pemerintahan primordial.
  
  Tentang Zaky (Anwar) Makarim
  Jadi bulan-bulan depan ini, adalah bulan-bulan perebutan, apakah ini
  akan menjadi negara Islam atau tidak, apakah dwifungsi ABRI akan
 jatuh
  ataukah bisa bertahan. Kalau Wiranto terlampau keras mempertahankan
  dwifungsinya, dia bisa diganti oleh perwira Islam yang lain. Fachrul
  Razi misalnya. Zaki Anwar Makarim misalnya.
  Zaky Anwar Makarim itu adalah Kepala BIA. Atase Pertahanan AS,
 Kolonel
  William, pernah mengatakan sama saya, kalau saya ingin bertemu dengan
  Prabowo, selalu ikut Zaky, Sjafrie, dan Kahirupan. Kalau saya ingin
  ketemu dengan Zaky Anwar, selalu ikut Sjafrie, Prabowo, dan
 Kahirupan.
  Jadi empat ini selalu ada. Mereka bersahabat, mereka sekawan, empat
  sekawan.
  Lalu pertanyaannya, pada hari-hari terakhir kepada saya adalah
 begini:
  Kahirupan sudah di-out oleh Hartono karena dia Kristen. Prabowo
 sudah di
  DKP-kan. Sjafrie sudah mulai ditanya-tanya. Kenapa tinggal Zaky
 Anwar,
  kenapa dia tidak bisa dikutak-kutik, padahal dia adalah Kepala BIA?
  Karena Zaky Anwar ini adalah Zaky Anwar Makarim, kakaknya Anwar
 Makarim
  itu adalah salah satu ketua ICMI.
  Jadi begitulah yang melingkupi ABRI hari-hari ini. Kalau ABRI
 melepaskan
  atau terpaksa melepaskan dwifungsinya, maka ABRI tidak lagi harus
  bertekad untuk mempertahankan Pancasila, dan negara yang ideologinya
  Pancasila. Dan kalau tidak ada lagi yang mempertahankan Pancasila
 itu,
  apa bisa kita serahkan pada PDI? Tidak bisa. Apa bisa itu kita
 serahkan
  kepada Gus Dur? Tidak bisa. Apa bisa kita serahkan pada partai-partai
  yang baru tumbuh? Tidak bisa.
  Dan inilah sistematika mereka (Islam-Red), memperburuk-buruk ABRI.
  Padahal ABRI yang diperburuk ini adalah ABRI yang sudah mereka
 susupi.
  Prabowo, Sjafrie, Hartono, Feisal Tanjung, Syarwan Hamid. Inilah
 situasi
  yang kita hadapi di hari-hari yang akan datang.
  
  Sebarluaskan Informasi ini!
  Saudara-saudara, memang informasi ini harus diopinikan menjadi
 informasi
  yang makin lama makin meluas. Supaya terbentuk opini yang mengetahui
  skenario mereka. Tetapi tentunya, semua ini dengan resiko-resiko pada
  diri kalian. Resiko yang kalian hadapi untuk membicarakan ini keluar,
  itu tidak sama besarnya. Lebih berat kalian. Kamu tidak punya nama.
  Kalian tidak punya prestise di tingkat tertentu. Kalian bisa diciduk
  diambil sewaktu-waktu. Kalian bisa disenggol oleh orang Madura, terus
  terjadi perkelahian, kemudian diclurit, mati. Alasannya bisa begitu.
  Jadi resiko yang kalian hadapi untuk menyebarluaskan dan menjadikan
 ini
  opini masyarakat, itu besar. Itu berbahaya. Tidak seberbahaya saya.
 Saya
  bicara seperti ini di depan 1.000, 2.000, 3.000 orang, karena saya
  dikenal mantan panglima yang menangkap Xanana, yang begini, yang
 begitu,
  mantan anggota DPR, kalau saya hilang tiba-tiba, itu gemanya lebih
 besar

------------------------------------------------------------------------
For the absolute lowest price on Computer Hardware visit:
http://ads.egroups.com/click/56/0/bottomdollar

eGroup home: http://www.eGroups.com/list/pk-timur
Free Web-based e-mail groups by eGroups.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [email protected]
To unsubscribe, e-mail: [email protected]
** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html **

Indonesia without violence!