Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Mengenal KItab At Tadzhib

07 Mar 2016

Kitab At Tadzhib fi Adillah Matan Al Ghayah wat Taqrib adalah kitab fiqih madzhab Syafi'i yang ditulis oleh ulama kontemporer asal Suriah, Syaikh Prof. Dr. Mushthafa Dib Al Bugha. Kitab ini merupakan syarah atau penjelasan dari kitab Matan Al Ghayah wat Taqrib, atau yang lebih dikenal dengan nama Matan Abi Syuja', yang ditulis oleh Al Qadhi Abu Syuja' Al Ashfihani, yang hidup di abad 5 hijriyyah.

Kitab Matan Abi Syuja', kitab yang sangat populer dalam madzhab Syafi'i, ditulis secara ringkas dan tanpa menyebutkan dalil, hanya berisi kesimpulan-kesimpulan hukum fiqih. Ini karena kitab tersebut memang ditulis untuk mudah dihafal, sedang pembahasan yang rinci beserta dalil-dalilnya bisa dipelajari dari kitab lain. Kitab ini kemudian banyak disyarah (diperluas pembahasannya dalam kitab lain) oleh para ulama, dengan memuat dalil-dalil dan/atau penjelasan lebih rinci. Salah satu kitab syarah tersebut adalah kitab At Tadzhib fi Adillah Matan Al Ghayah wat Taqrib. Adapun kitab syarah yang lain di antaranya Kifayatul Akhyar dan Fathul Qaribil Mujib.

Kitab At Tadzhib ini tidak memberikan penjelasan terhadap Matan Abi Syuja' secara panjang lebar. Ia lebih fokus pada penyebutan dalil-dalil terhadap satu persoalan hukum dari Al Qur'an, Sunnah maupun atsar Shahabat, ditambah qiyas pada beberapa tempat. Penjelasan di luar itu hanya diberikan jika benar-benar diperlukan untuk memudahkan pemahaman, tapi bukan untuk memperluas dan memperlebar pembahasan. Kitab ini sangat cocok untuk pelajar fiqih pemula, yang akan kesulitan jika diajak mempelajari bab-bab fiqih terlalu dalam.

Mengapa Fiqih Madzhab Syafi'i?

Jika ada yang bertanya demikian, maka beberapa versi jawaban bisa diajukan. Pertama, belajar fiqih dengan mengikuti madzhab tertentu sama sekali tidak tercela, bahkan para ulama dulu pun secara turun-temurun belajarnya juga seperti itu. Walau memang, tidak ada dalil yang menyebutkan untuk mengikuti madzhab fiqh tertentu. Madzhab fiqih ini seperti madrasah/sekolah yang tiap madrasah atau madzhab punya metode tersendiri. Bayangkan jika di awal belajar kita sudah dibawa pada kajian perbandingan madzhab fiqih, apa yang akan terjadi? Kemungkinan besar adalah kebingungan yang teramat sangat.
Mengapa harus mengikuti madzhab tertentu? Mengapa tak seperti beberapa buku sekarang ini, fiqih sesuai Al Qur'an dan As Sunnah saja, tanpa harus mengikuti madzhab? Jawabannya adalah, kita perlu ketahui, pembahasan fiqih itu meniscayakan proses ijtihad dari seorang mujtahid. Dan dalam proses ijtihad tersebut, besar kemungkinan terjadi perbedaan antara mujtahid A dan mujtahid B. Inilah yang menyebabkan terjadinya khilafiyah dalam fiqih. Jadi, walaupun ada kitab fiqih yang menyebutkan ia sesuai Al Qur'an dan As Sunnah, sebenarnya kesimpulan-kesimpulan fiqih di kitab tersebut kebanyakan adalah hasil ijtihad si penulis kitab, atau hasil ijtihad orang lain yang diikuti penulis kitab. Dan kitab-kitab fiqih madzhab pun juga mengikuti Al Qur'an dan As Sunnah. Apa ia kita katakan orang selevel Imam Syafi'i atau Imam Nawawi itu bikin-bikin sendiri kesimpulan fiqih tanpa berdasar pada Al Qur'an dan As Sunnah?
Lalu mengapa fiqih madzhab Syafi'i, bukan madzhab yang lain? Kalau saya ditanya begitu, saya akan jawab, karena saya lebih merasa tenang dan mantap dengan madzhab Syafi'i. Madzhab ini lahir dari seorang ulama besar pilih tanding, Imam asy-Syafi'i, yang namanya sangat harum dan dipuji oleh ulama-ulama sezamannya dan yang setelahnya. Madzhab ini juga mampu memadukan dua kutub fiqih yang berseberangan, fiqih ahlil hadits dan fiqih ahlir ra'yi. Tapi jawaban seperti ini tentu sangat subyektif.
Ada jawaban lain yang lebih mudah diterima. Karena madzhab ini adalah madzhab mayoritas umat Islam di negeri ini. Tak elok rasanya, saat mayoritas umat Islam di negeri ini bermadzhab Syafi'i, kita -di awal belajar fiqih- malah belajar fiqih madzhab yang lain. Kalau sudah level menengah atau tingkat tinggi, bolehlah belajar fiqih madzhab yang lain atau perbandingan madzhab sekaligus. Ini juga akan mengajarkan pada kita, bahwa fiqih madzhab Syafi'i yang diamalkan penduduk negeri ini juga berlandaskan dalil, bukan tanpa dalil.

Wallahu a'lam bish shawwab.


Sumber : Ustadz Muhammad Abduh Abu Furqan Al Banjary