Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Dari Bilik Pesantren (Bag.3-Habis)

03 Dec 2015


Begitu sering kita mendengar ungkapan orang tua yang berkata kepada anak-anaknya :
“Nak, kalau kamu pinter, nilai kamu bagus, papa akan daftarkan kamu ke sekolah unggulan tapi kalau kamu malas-malasan, dan nilai kamu jelek, maka jangan salahkan papa kalau papa akan masukkan kamu ke pesantren…biar kapok..!!”
Sebagai alumni pesantren, saya (Ustadz Rachmatullah Oky – red) jelas tersinggung dengan ungkapan itu. Tapi sejujurnya, memang keadaan pesantren kebanyakan demikianlah adanya.
Figur kiai memang sentral, tapi sisi buruknya adalah keluarga kiai jadi golongan yang “ekslusif” dan merasa Can Do No Wrong, sehingga efeknya, kalau pesantrennya masih kecil, akan berat bagi kiai untuk menghandle sendiri amanhanya, kalau toh sudah besar pesantren itu, penyakit KKN akan muncul, sehingga meski kurang mempunyai kualitas, tapi masih kerabat dekat kiai, maka biasanya bisa menduduki posisi “strategis’ dalam dunia pesantren. Sisi lain dari pesantren adalah, terlalu Jumud (kolot) dalam menerapkan sitem pembelajaran. Sehingga pembahasan dan pembelajaran hanya berkutat di masalah fiqhiyah dan aqidah. Ini bukan salah, tapi tentu harus di tambahi secara gradual untuk mnyesuaikan dengan perkembangan zaman. Dan yang jelas terlihat adalah, terlalu bergantungnya pesantren kepada figur kiai, sehingga ketika kiai tersebut meninggal,, maka pesantrennya ikut mati.
Dalam tulisan ini, tanpa bermaksud membanding-bandingkan, saya coba tuliskan sedikit tentang pembaharuan system manajemen pesantren, yang dilakukan oleh salah satu pesantren Modern di Jawa Timur .
Sistem ini mungkin belum sempurna, tapi sebagai benchmark, saya kira pantas untuk dibahas Pesantren ini, sejak tahun 1960-an para pendirinya telah mewakafkan seluruh tanah yang mereka milik kepada umat yang diwakili oleh lembaga yang bernama badan wakaf. Jadi ini memang dilakukan untuk mengindari konflik antar keluarga kiai yang jamak terjadi ketika kiai sudah meninggal. Maka dengan wakaf itu, segenap keluarga kiai tidak mempunyai hak lagi di kemudian hari untuk mengambil fasilitas dari pesantren, kecuali kalau memang keluarga tersebut qualified dan ikhlas membantu pesantren. Dalam pengembangannya, pesantren ini mengembangkan program “Panca Jangka”.
Untuk istiqamah menjaga kualitas pesantren dan ruhul ma’hady yang ada. Kelima program jangka panjang itu adalah :

1 . Pendidikan dan Pengajaran

Pesantren ini dulunya bermula dari sebuah Madrasah Kecil di zaman colonial Belanda. Para Muridnya juga hanya datang dari bebarapa tempat di sekitar desa tempat pesantren itu berdiri. Tapi para keluarga pendirinya sepakat, mengirimkan putra-putra mereka ke semua lembaga pendidikan yang maju di Indonesia waktu itu. Sehingga dari hasil “benchmark” itulah kemudian berdiri Pondok Gontor dengan pembaharuan kurikulum pengajaran yang revolusioner pada masanya.
Perbaikan system pendidikan terus menerus dilakukan. Di antaranya dengan mendatangkan beberapa pengajar langsung dari luar negeri. Maupun sebaliknya, mengirimkan guru-guru untuk pelatihan atau dibiayai untuk studi di luar negeri.

2.Infrastruktur dan Pergedungan

Bicara soal fasilitas pergedungan. Bukan hanya bicara soal sarana kelas dan asrama saja. Tapi lebih dari itu, adalah juga pembangunan fasilitas yang mendukung terciptanya mutu dan lingkungan pesantren secara utuh dan dinamis.
Di pesantren ini, sejak dulu memang ada aturan yang melarang para santri berhubungan langsung terlalu sering dengan masyarakat.
Hal ini bukan tanpa alasan. Karena nilai-nilai yang diajarkan di pesantren, jelas berbeda dengan apa yang “diajarkan” oleh masyarakat.
Maka untuk mendukung hal itu, maka pesantren juga harus siap dengan infrastukturnya. Maka didirikanlah Koperasi Pelajar yang menyediakan segala kebutuhan santri, sehingga santri tidak perlu membeli di luar.
Didirikanlah gedung Olah raga, agar santri juga bisa menyalurkan bakat dan minatnya tanpa harus pergi keluar. Sarana informasi, baik itu internet maupun Koran untuk mewadahi kebutuhan santri akan informasi.
Dibanguan fasilitas kesehatan, sebagai tindakan pertama bagi santri yang sakit.
Dibangun kantin dan rumah makan yang dikelola sendiri oleh santri agar para santri juga tidak perlu jajan di luar dan masih banyak lagi.

3 . Sumber dana (pembiayaan Pesantren)

Inilah point pentingnya.
Sesuai dengan filosofi pendirian pesantren yang saya tulis pada bagian pertama lalu, bahwa inisiatif pendirian asrama dan prasaran lain adalah dari santri. Tapi tidak semua santri datang dari keluarga mampu yang bisa begitu saja menyumbang untuk pembangunan asramanya. Maka pesantren harus punya inisiatif untuk mencari sumber dana lain yang tidak memberatkan santrinya.
Mengandalkan bantuan pemerintah? Wah, bisa karatan nunggunya, apalagi dengan segala prosedur dan “potongan” yang ribet ga karua-karuan. Di pesantren Gontor, kiai-nya berinisiatif untuk membangun unit-unit usaha ekonomi yang semuanya dikelola sendiri oleh staff pesantren. Sampai saat ini, tercatat ada kurang lebih 22 unit usaha yang dimiliki pesantren.
Dari mulai Toko Buku, Toko Besi, Pabrik Es, Pabrik Roti, hingga pengelolaan hutan di Sulawesi. Sehingga segala pembangunan di pesantren madani, tidak semata tergantung iuran SPP santri, dan juga tidak harus menunggu bantuan dari pihak lain.

4 . Kaderisasi

Perhatian utama untuk kelangsungan hidup pesantren di masa depan adalah kaderisasi. Karena berapa banyak pesantren di Indonesia yang berjaya tapi kemudian menghilang seiring meninggalnya kiai sebagai sentral figurnya? Atau ketika penggantinya justru tidak memahami tentang tantangan pesantren masa depan?? Sehingga kebijakannya bertolak belakang dengan cita-cita almarhum pendirinya?
Maka disinilah diperlukan proses kaderisasi yang berkelanjutan, untuk menjamin berlangsungnya perjuangan dan tercapainya cita-cita pesantren. Kader ini adalah asset utama. Mungkin hasilnya tidak bisa dirasakan seketika. Tapi kelak, di masa yang akan datang, hasil manis dari investasi itu akan sangat terasa.
Sejak awal berdirinya, pesantren ini sudah mulai mengirim banyak kadernya ke Timur Tengah maupun ke Eropa, selama bebrapa tahun, mereka dibiayai oleh pesantren sampai tuntas study-nya.
Hasilnya? Ketika saat ini lembaga pesantren ini akan membuka program pasca sarjana, tidak sulit mencari pengampu yang menguasai bahasa Arab dan Inggris, hasil dari investasi kader yang dilakukan puluhan tahun lalu.

5 . Kesejahteraan Keluarga Pondok

Berusaha supaya kehidupan pendiri dan pengasuh tidak mejadi beban Pondok. Sebab Pondok adalah tempat beramal. Pendiri dan pengasuh-pengasuh Pondok- pun haruslah beramal kepadanya. Maka tidaklah pada tempatnya apabila mereka menggantungkan hidupnya pada Pondok . Bahkan sebaliknya Pondok Pesantren bercita-cita untuk adanya kedermawanan pengasuh-pengasuhnya dan kepada Pondok.
Ma’isyah para guru adalah hak, tapi bagaimana agar itu tidak mambebani keuangan pesantren? Untuk alasan itu lah, pesantren memang sudah seharusnya memiliki unit usaha ekonomi yang mendukung hal ini.
Unit-unit tersebut dikelola langsung oelah para guru, tapi dengan manajemen keuangan satu pintu. Sehingga selain bisa lebih di kontrol, juga untuk menghindari kesan “area basah” dan “area kering” bagi para guru yang bertgas di tempat tersebut.
Di Pesantren ini, tidak ada perbedaan ma’isyah, antar guru-guru yang menjaga unit-unit usaha tersebut, dan guru-guru biasa. Dan tidak ada kepastian nominal. Karena, seperti yang saya tuliskan sebelumnya, ada ruh keikhlasan yang harus dijaga.
Maka konsep ma’isyah di pesantren ini, adalah kalau di sesuaikan dengan keuntungan dan laba unit-unit usaha pesantren tersebut, setelah di kirangi dengan prioritas pengembangan pesantren. Semua tercatat, dan transparan, dilaporkan setiap tahun oleh kiai kepada sidang badan wakaf.
Begitulah, Pesantren adalah lembaga pendidikan islam tertua di Indonesia. Nilai-nilai filosofinya tidak boleh hilang bahkan jangan sampai berubah. Tapi pengelolaan, metodologi, dan manajemennya harus senantiasa diperbarui.

Sumber : Ustadz Rachmatullah Oky