Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Dari Bilik Pesantren (Bag.2)

02 Dec 2015

Sebenarnya, pesantren itu (apapun namanya) mau pesantren modern, tradisional, unggulan, pesantren juara atau apapun namanya, yang tidak boleh dilupakan adalah  KURIKULUM PESANTREN ITU BERLANGSUNG 24 JAM NON STOP.
Jadi bicara kurikulum pesantren adalah bicara tentang sebuah sistem pendidikan berasrama dimana segala kehidupan yang meliputinya adalah sebuah materi pendidikan. Jadi tidak cukup sekedar mengatur dari jam 7 sampai jam 2 siang di kelas.

Tapi juga pendidikan disiplin berasrama, pendidikan mandi yang baik, makan yang benar, berbicara dan mengobrol yang bijak, berolah raga yang sesuai, belajar seni yang membangun, belajar berpidato yang terarah, belajar memimpin, belajar ikhlas dipimpin, belajar berbahasa asing yang aktif dan berkelanjutan, tahsin qira'at Al Qur'an secara fasih dan tartil, berlajar berpakaian yang sederhana dan sopan, belajar mengelola diri sendiri dan lingkungan, belajar tahu tentang orang lain, sampai belajar bagaimana mengolah tidur yang yang benar, dan semuanya itu terjadi 24 Jam sehari.
Pesantren adalah laksana sebuah keluarga, di mana kiai dan guru-guru sebagai figur orang tua dan santri senior sebagai figur kakak yang membantu orang tua untuk mengasuh adik-adiknya. Maka apa yang diajarkan di kelas, dengan mudah bisa langsung dipraktekkan di asrama, tak perlu ragu karena ada kakak senior yang ikhlas membimbing.
Interaksi antara guru dan murid bisa berlangsung terus menerus, karena mereka tinggal dilingkungan yang sama. Di lingkungan seperti inilah, fungsi TRIBRATA Pendidikan (Sekolah, Keluarga, Dan Masyarakat) dapat secara optimal dan terpadu dilaksanakan.
Ketika ditanya, bagaimana dalam waktu singkat (3 Bulan) para santri sudah bisa berbincang-bincang dengan bahasa Arab dan Inggris dalam percakapan sehari hari mereka? Sedangkan dengan sistem kurikulum terbaru sekalipun sangat sulit mewujudkannya?
Jawabannya juga sama, karena setelah mereka diajar pelajaran bahasa di kelas, mereka langsung menggunakannya dalam bahasa pergaulan mereka sehari-hari yang memang berdisiplin untuk berbahasa Asing. Sedangkan di sekolah umum sepulang sekolah, di keluarganya, siswa akan kembali berbahasa Indonesia / daerah, sehingga susah untuk membiasakan diri berbahasa asing. Jadi kurikulumnya adalah total kehidupan itu sendiri.
Memang ada yang formal tertulis. Tapi yang paling utama, tentu adalah kurikulum nyata yang mengatur pola kehidupan selama 24 jam penuh. Kehidupan pesantren ini, senantiasa diliputi oleh paling setidaknya lima ruh kehidupan muslim, yang di pesantren kami dikenal dengan panca jiwa.

1. Keikhlasan

Al ikhlasu Ruhul Amal” (ihlas adalah jiwa dari setiap perbuatan). Ini dasar dari semua jiwa pesantren. kiai dan guru-guru ikhlas mengajar dan membina para santri. Dan santri secara ikhlas menunut ilmu kepada guru-gurunya.
Bisa jadi usia santri itu lebih tua dari gurunya (di dunia pesantren hal ini jamak terjadi). Tapi keikhlasan untuk menuntut ilmu akan membuat segala perasaan “tidak enak” itu akan hilang.
Jiwa ini menciptakan suasana kehidupan pondok yang harmonis antara kiai yang disegani dan santri yang taat, cinta dan penuh hormat.
Jiwa ini menjadikan santri senantiasa siap berjuang di jalan Allah, di manapun dan kapanpun.
Ikhlas bukan berarti bekerja tanpa dibayar seperti Romusha. Tapi ikhlas adalah mendasarkan semua perbuatan karena memang ini perintah Allah. Gaji bulanan adalah rizki yang Allah sudah atur peruntukannya. Tapi tidak semata-mata guru mengajar hanya untuk itu. Sebab kalau semata-mata untuk itu, maka semua akan diperhitungkan dengan materi. Memberi pelajaran tambahan ketika malam hari, menjadi imam tahajjud, memberi tambahan tahsin Al Qur'an, menjadi pembimbing gerakan bahasa, bahkan menjadi supir bagi tamu pesantren dan mengantar mereka keliling kampus pesantren, semua diperhitungakn dengan materi, sehingga justru perkembangan pesantren akan terhambat, karena setiap gerakan, menunggu “kompensasi” dulu sebelum dilaksanakan.

2.Jiwa kesederhanaan

Kehidupan di pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau nrimo, tidak juga berarti miskin dan mlarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup.
Dalam kesederhanaan itu santri diajarkan bagaimana tidak mudah mengeluh. Tidak mudah menyalahkan keadaan. Tidak mudah bingung dan gugup menghadapi masyarakat.
Dakwah tanpa computer? Tanpa hape? Tanpa Motor? Atau bahkan tanpa tempat tinggal sekalipun, bukan hal sulit bagi para santri yang terdidik dengan jiwa kesederhanaan.
Fasilitas minim juga bukanlah merupakan hambatan. Karena ketrampilan jauh lebih diperlukan dari sekedar alatnya bukan?

3. Kemandirian

Berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja berarti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi pondok pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan juga harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain. Inilah Zelp berdruiping system (sama-sama memberikan iuran dan sama-sama memakai).
Semua pekerjaan yang ada di dalam pondok dikerjakan oleh kiai dan para santrinya sendiri, tidak ada ISTILAH PEGAWAI di dalam pondok pesantren.

4.Ukhuwah Islamiyah

Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwwah diniyyah. Tidak ada dinding yang dapat memisahkan antara mereka. Ukhuwah ini bukan saja selama mereka di Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan ummat dalam masyarakat setelah mereka terjun di
masyarakat.
Santri boleh berasal dari keluarga ormas tertentu atau Partai tertentu misalnya. Tapi ketika masuk pesantren, segala atribut itu harus dilepaskan. Hal ini untuk menghindari adanya “friksi-friksi” dalam pesantren yang akan mengganggu ruhul ukhuwan yang ada di dalamnya.

5. Jiwa Bebas

Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar, masyarakat. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan.
Hanya saja dalam kebebasan ini seringkali ditemukan unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal) dan berakibat hilangnya arah dan tujuan atau prinsip. Sebaliknya, ada pula yang terlalu bebas (untuk tidak mau dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggapnya sendiri telah pernah menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak hendak menoleh ke zaman yang telah berubah. Akhirnya dia sudah tidak lagi bebas karena mengikatkan diri pada yang diketahui saja.
Maka kebebasan ini harus dikembalikan ke aslinya, yaitu bebas di dalam garis-garis yang positif, dengan penuh tanggungjawab; baik di dalam kehidupan pondok pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan masyarakat. Jiwa yang meliputi suasana kehidupan
Pondok Pesantren itulah yang dibawa oleh santri sebagai bekal utama di dalam kehidupannya di masyarakat. Jiwa ini juga harus dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.
Jadi, mempersiapkan kurikulum pesantren, artinya mempersiapkan total pola kehidupan keluarga pesantren selama 24 jam. Dan ini biasanya memang memerlukan proses trial and error. Tapi sebagai sebuah ijtihad pendidikan, hal itu jelas bisa dimaklumi.
Kurikulum kelas itu penting, tapi metode pengajarannya jauh lebih penting, sedangkan Ruhul Mudarris (jiwa pendidik) adalah yang paling penting diantara semuanya.

Sumber : Ustadz Rachmatullah Oky