Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Dari Bilik Pesantren (Bag.1)

20 Nov 2015

DARI BILIK PESANTREN (Bagian 1 dari 3 tulisan)


Beberapa hari yang lalu, salah seorang teman kantor berbincang dengan saya
(Ustadz Rachmatullah Oky – red) mengenai program pesantren unggulan. Ada satu pertanyaan menggelitik yang dia ungkapkan
Bagaimana sebenarnya membentuk kurikulum pesantren yang baik itu? Sehingga outputnya juga bagus dan bermutu?”
Saya menjawab pertanyaan itu dengan agak panjang karena memang membicarakan pesantren bukanlah membicarakan Hitam dan Putih sebuah lembaga pendidikan. Tapi lebih dari itu, adalah juga membahas tentang akar filosofis pesantren, ruhul jihad-nya, keilmuan, lingkungannya, sistem pendidikannya, manajemen sumber daya manusianya,sampai kemandiriannya.
Tidak perlu terlalu rumit sebenarnya memahami apa itu pesantren. Kyai saya dulu secara sederhana menyatakan bahwa definisipesantren adalah :
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM BERASRAMA, DIMANA MASJID MENJADI PUSAT KEGIATANNYA DAN KYAI SEBAGAI SENTRAL FIGURNYA”
Sederhana bukan? Barangkali ada yang menganggap pengertian diatas terlalu mengkultuskan figur kyai. Tapi memang begitulah adanya. Coba simak baik-baik asal usul pesantren berikut ini :
Pada mulanya ada seorang kyai yang mendirikan masjid disebuh tempat. Lalu beberapa orang datang menemui sang kyai untuk MINTA diajar, menuntut ilmu. Lama kelamaan, semakin banyak orang yang datang kepada kyai sehingga rumah kyai tidak mencukupi lagi untuk menampung mereka. Sehingga atas inisiatif para santri sendiri, mereka mendirikan pemondokan disekitar rumah kyai untuk fasilitas pendidikan mereka sendiri.”
Jadi jelas, sejak awal filosofi pesantren mengajarkan pesantren adalah medan perjuangan, medan pelatihan dan pencetak generasi pejuang. Kyai tidak pernah memungut uang pendidikan, bahkan awalnya kyailah yang “mengidupi” para santri. Maka pendirian bangunan, dan fasilitas lain adalah inisiatif santri sendiri. Yang mereka upayakn sendiri, dan mereka jaga sendiri.
Jadi Kyai tidak pernah “memanggil” santrinya untuk datang, tidak pernah pasang iklan, tidak pernah koar- koar kesana kemari tentang faslitas pesantren ini itu dan sebagainya. Karena filosofi pesantren adalah perjuangan. Bukan kenikmatan, apalagi fasilitas duniawi. Maka Kyai tidak akan pernah memikirkan dunia. Ini filosofi. Lalu apa kyai tidak boleh kaya? Tentu boleh, tapi dengan syarat pesantren yang dikelola lebih “kaya” lagi untuk memajukan umat. Sebab fungsi pesantren adalah lembaga “mundzirul Qaum” (pemberi peringatan kepada kaumnya) sebagaimanafirman Allah dalam surat At Taubah : 122.
Jadi memang harus ada muslim yang menjadi pengusaha sukses, politikus unggul, pengacara handal, tentara yang perkasa, pedagang yang kaya raya. Harus ada…harus ada…tapi tugas pesantren memang bukan untuk itu semua, tugas pesantren memang sebagai Pemberi peringatan” apabila para Ekonomom, Politikus, dan pengusaha Muslim itu “kembali” kepada mereka selepas berjuang.
Maka kalau memang bercita-cita membangun pesantren, ya jangan bercita-cita untuk kaya dari pesantren. Peribahasanya :
Hidup-hidupilah Pesantren, Jangan mencari hidup dari pesantren”.
Pahit memang, tapi justru itulah yang membuat pesantren masih eksis sampai sekarang. Tidak ada demo murid yang memprotes fasilitas pesantren yang “apa adanya”, karena memang mereka tidak pernah diundang dan dijanjikan macam-macam tentang fasilitas oleh kyainya. 
Mereka datang sendiri, meminta kyai ntuk mengajarkan ilmu, kok aneh jadinya
kalau mendemo kyai. Kalau tidak cocok di medan kaderisasi pejuang ini ya silahkan keluar.

Nasehat Kyai saya yang senantiasa saya ingat adalah :
“Berjuang dulu, beramal, ikhlas. Sebab amal yang ikhlas anak menciptakan aktifitas, aktifitas yang istiqomah akan menimbulkan mobilitas, mobilitas yang terarah
akan menciptakan kreatifitas, dan kreatifitas yang baik akan menelorkan kualitas, sedangkan kualitas yang terjaga tentu akan membentuk kuantitas, setelah kuantitas terbentuk, baru bicara FASILITAS..!!!”
Jadi Faslitas diberikan setelah adanya kuantitas yang berkualitas.  Bukan sebaliknya, fasilitas diadakan duru, sambil “berharap” akan mendulang kuantitas yang
berkualitas. Ini s
udah keliru secara filosofis. Dan justru ini yang banyak terjadi di “pesantren2” abad 20. Masuk pesantren, yang pertama hadir di benak adalah “saya akan mendapat fasilitas apa” dan bukan “Saya bisa beramal apa?” 
Padahal pertanyaan kedua inilah yang justru akan sangat mendukung keberadaan dan kelangsungan hidup pesantren. Sebab dengan pertanyaan itu, maka pesantren boleh
punya unit usaha ekonomi, pesantren harus punya koperasi, harus punya perkebunan, harus punya basis- basis ekonomi, tapi bukan sebagai Fasilitas pribadi kyai
atau Gurunya, tapi adalah untuk mendukung kemandirian pesantren, agar para santri bisa belajar optimal dengan biaya minimal.
Apakah ini berarti pesantren hanya mengajarkan Agama saja? Tidak dengan ilmu yang lain? Ah, tentu tidak. Lagian siapa yang mengajarkan adanya dikotomi ilmu
agama dan ilmu umum?
Kami dulu selalu diajari bahwa kalau ditanya, berapa prosentasi perbandingan
antara ilmu agama dan ilmu umu yang diajarkan di pesantren kami?? Maka jawabannya adalah : 100% AGAMA dan 100% UMUM !
Tidak ada perbedaan itu. Fikih adalah ilmu umum, karena dengan itu kita seharusnya bermuammalah, matematika adalah juga ilmu agama, karena dengan itu
kita tahu perhitungan tahun untuk penentuan waktu ibadah kita.  Bukankah ulama ulama kita jaman dulu adalah bukan sekedar para Faqih dan Mufti hebat, tapi
juga ahli astronomi dan ekonomi yang dahsyat? Bukankah Imam Syafi’I adalah juga seorang matematikawan? Bukankah Abu
Yusuf adalah qadi syariaah Khalifah Abasiyah sekaligus penasehat ekonominya?? Bukankah ibnu sina adalah seorang Faqih yang juga ahli kedokteran?
Maka nasehat pertama dari Kyai saya ketika malam perpisahan dengan santri akhir adalah :
“Jangan pernah menjadikan Pegawai sebagai orientasi belajarmu !
Saya tidak anti pegawai, tapi mentalitas pegawai yang hanya mengharapkan menunggu gaji tanggal sekian, lalu bekerja seenaknya, sehingga dakwahnya terlupakan, tidak pernah membaca lagi, tidak pernah khutbah lagi, tidak pernah mengajar
mengaji lagi, tidak pernah mau ceramah lagi, gengsi jika berdakwah, gengsi jika berceramah, mental-mental seperti inilah yang saya tidak pernah setuju ada pada diri anak-anaku sekalian.
Percayalah kepada kasih sayang Allah, percayalah kepada ke-Maha-Kuasa-an Allah. Bahkan cacingpun di jamin rezekinya oleh Allah.
Bergerak, berbuat, berjuanglah untuk agama Allah, maka Allah akan menolong kehidupan kalian…!"