Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Kiprah Muhammadiyah Menabur Amal

20 Aug 2015

1.  Organisasi Islam generasi awal yang masih eksis hingga kini

Lahir pada 08 Dzulhijjah 1330 Hijriyah atau 18 November 1912 Miladiyah, Muham-madiyah merupakan organisasi sosial kebangsaan dan keagamaan generasi awal di tanah air. Bersama Sarikat Islam yang lahir pada 01 Dzulhijjah 1330 H bertepatan 11 November 1912 M, berdirinya Muhammadiyah mendahului Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang didirikan di Jakarta pada 15 Syawwal 1332 H bertepatan 6 September 1914 M, Mathlaul Anwar pada 10 Ramadhan 1334 H bertepatan 10 Juli 1916 M, Persatuan Islam (Persis) yang lahir pada 1 Shafar 1342 H bertepatan 12 September 1923 di Bandung, dan Nahdhatul Ulama (NU) lahir pada 16 Rajab 1344 H bertepatan 31 Januari 1926 M, dan berbagai organisasi Islam lain seperti Nahdlatul Wathan, Al-Washliyah, dan lain sebagainya.
Kelahiran Muhammadiyah ini tak lepas kondisi di lingkungan Kraton Ngayogyakarta yang banyak menimbulkan tanda tanya di benak Ahmad Dahlan. Hingga akhirnya ketika ia menjabat sebagai Khatib Am, menggantikan ayahnya yang wafat, ia ban-yak menyampaikan apa yang menurutnya benar, walaupun bertentangan dengan pemikiran banyak orang, bahkan para Kiai, saat itu.
Sebelum mendirikan persyarikatan ini, Dahlan terlebih dahulu menjalani ‘training keorganisasian’ di Boedi Oetomo, organisasi pergerakan generasi awal yang dimo-tori oleh Dr. Sutomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji. Di Boedi Oetomo inilah, Kiai Dahlan sering berdikusi dengan para aktivis BO. Hingga akhirnya Boedi Oetomo pun menawarkan bantuan dalam usaha Ahmad Dahlan mendirikan Mu-hammadiyah. Hanya saja ada syarat yang diberikan oleh pihak Boedi Oetomo, yakni setiap anggota Muhammadiyah juga merupakan anggota Boedi Oetomo.
Tidak banyak organisasi atau perhimpunan yang mampu bertahan selama 1 abad. Bahkan ada pameo yang mengatakan, siklus organisasi itu hanya 100 tahun, sete-lah itu akan perlahan mati dan digantikan oleh kehadiran organisasi baru lainnya.
Sebuah pameo yang tak pernah ada penelitian validnya. Namun demikian, begitu-lah memang kenyataannya. Kini, Muhammadiyah adalah sedikit dari organisasi atau perhimpunan di Indonesia yang masih eksis hingga setelah berumur 100 tahun.

2.  Peletak Dasar Pendidikan Islam Modern

Di saat para Kiai masih menganggap sekolah yang memakai kursi dan meja untuk belajar itu merupakan sekolah orang kafir, Ahmad Dahlan melampaui pemikiran itu dengan mendirikan sekolah yang bahkan tidak hanya mengajarkan ilmu agama saja, tetapi juga ilmu-ilmu umum.
Tepatnya pada tahun 1910, Ahmad Dahlan mulai menjalankan sekolah tersebut. Dengan jumlah siswa 8 orang, sekolah itu diselenggarakan di ruang tamu kediaman Kiai Dahlan.
Pada 1 Desember 1911, sekolah yang didirikan Ahmad Dahlan itu diresmikan. Den-gan menggunakan nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, jumlah murid saat diresmikan 29 orang. Madrasah itu kemudian berubah nama menjadi Qismul Arqo. Lalu dirubah lagi tahun 1923 menjadi Kweekschool Islam. Pada 1927, para santriwati atau siswa perempuan dipisahkan dan sekolahnya diberi nama Kweekschool Isteri. Kedua sekolah inilah, Kweekschool dan Kweekschool Isteri yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimaat Muhammadiyah Yogya-karta (1930), salah satu sekolah yang kini menjadi kawah candradimuka bagi kader-kader Muhammadiyah.

3.  Organisasi kemasyarakatan yang tua dan besar di Indonesia dan dunia

Muhammadiyah yang berdiri pada 18 November 1912 adalah organisasi tua, ia menjadi yang tertua di negeri ini karena organisasi yang lahir sebelumnya atau pada saat yang hampir bersamaan banyak yang sudah tinggal nama dalam sejarah.
Dalam usia yang telah mencapai satu abad (103 tahun dalam kalender hijriyah) gerakan Islam ini sebagai contoh terbaik bagi gerakan modernisme Islam yang masih mampu menunjukkan elan vitalnya untuk tetap survive dan berkiprah dalam perca-turan kehidupan ummat manusia.
Kebesaran Muhammadiyah agaknya lebih terletak pada amal nyata, yaitu amal usaha-amal usaha Muhammadiyah seperti sekolah/perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan sebagainya yang demikian banyak jumlahnya tersebar di pel-bagai penjuru Nusantara. Perguruan tinggi Muhammadiyah terdata sejumlah 157 buah (Data Majelis Dikti PP Muhammadiyah, Agustus 2012), beberapa di antaranya adalah universitas besar di pulau-pulau utama Nusantara. Selain itu tercatat 4623 Taman Kanak-Kanak/Taman Pendidikan al-Qur’an, 2.604 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, 1.772 SMP/Madrasah Tsanawiyah, 1.143 SMA/SMK/ Madrasah Aliyah, 67 Pondok Pesantren (104 versi Ittihadul Ma’had Muham-madiyah), 71 Sekolah Luar Biasa. Muhammadiyah juga memiliki 457 Rumah Sakit/Rumah Bersalin/BKIA, 318 Panti Asuhan, 54 Panti Jompo, 82 Rehabilitasi Cacat dan 11.198 Masjid/Musholla yang tersebar di pelbagai pelosok tanah air.
Melihat pada skala amal usaha yang demikian besar, maka dapat dikatakan Muham-madiyah adalah sebuah gerakan modernis di dunia yang menuai keberhasilan yang signifikan. Gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipimpin Sayyid Qutb di Mesir dan Jama’at Islam pimpinan Abdul A’la Al-Maududi di Pakistan, yang keduanya juga ter-masuk gerakan Islam modernis, jika diukur segi ini, jauh dibanding Muhammadiyah.

4.  Pelopor Gerakan Emansipasi Perempuan

Muhammadiyah dapat dikatakan menjadi salah satu pelopor gerakan emansipasi perempuan di Indonesia. K.H. Ahmad Dahlan sangat menaruh perhatian terhadap pendidikan para gadis di kampung Kauman, baik pendidikan agama maupun ilmu umum. Pada 1913, tiga orang wanita dari Kauman, Yogyakarta masuk ke sekolah umum Neutraal Meisjes School (kini Sekolah Dasar Negeri Ngupasan) atas doron-gan Kiai Dahlan. Mereka adalah Siti Bariyah (puteri H. Hasyim Ismail), Siti Wadingah, dan Siti Dawimah (kemenakan H. Fakhrudin).
Beberapa wanita yang mendapatkan didikan langsung dari Kiai Dahlan, di antaranya adalah ketiga gadis yang masuk Neutraal Meisjes School yakni Siti Bariyah, Siti Wadingah, Siti Dawimah, selain itu puteri Dahlan sendiri, Siti Busyro, Siti Dalalah, dan Siti Badilah Zuber.
Dari murid-murid Ahmad Dahlan ini, baik yang dididik di Madrasah Diniyah, ang-gota kursus agama, dan murid-murid Neutraal Meisjes School, terbentuklah kelom-pok pengajian yang diberi nama Sapa Tresna. Sapa Tresna inilah cikal bakal dari or-ganisasi ‘Aisyiyah yang dikenal sekarang.

5.  ‘Aisyiyah, Organisasi Pergerakan Perempuan Indonesia Sejak 1917

Sama seperti induknya, Muhammadiyah, ‘Aisyiyah juga tercatat sebagai organisasi atau perhimpunan wanita Indonesia yang pertama kali didirikan, dan masih ek-sis hingga saat ini di usianya yang hampir satu abad. Berdiri pada 27 Rajab 1335 H bertepatan dengan 19 Mei 1917 M. Generasi awal ‘Aisyiyah adalah murid-murid wanita Kiai Dahlan yang langsung menerima tempaan dari pendiri Persyarikatan ini.
Beberapa di antaranya adalah Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Busyro, Siti Dawingah, Siti Badilah Zuber, dan Siti Dalalah.
Bermula dari sebuah kelompok pengajian wanita yang dinamai Sapa Tresna. Selain Sapa Tresna, juga ada pengajian Wal Ashri yang diselenggarakan setelah Ashar dan pengajian Maghribi Class yang dihelat setelah Maghrib. Para kaum wanita ini ke-mudian makin menyadari pentingnya sebuah perkumpulan. Akhirnya berdirilah or-ganisasi perempuan Muhammadiyah yang diberi nama ‘Aisyiyah, atas usulan Haji Fakhrudin. Siti Bariyah kemudian diberikan amanah untuk memimpin ‘Aisyiyah se-bagai ketua (president) pertama.
‘Aisyiyah berkembang pesat dan menemukan bentuknya sebagai organisasi wanita modern. ‘Aisyiyah mengembangkan berbagai program untuk pembinaan dan pendidikan wanita. Diantara aktivitas ‘Aisyiyah ialah Siswa Praja Wanita yang bertugas membina dan mengembangkan puteri-puteri di luar sekolah sebagai kader ‘Aisyi-yah. ‘Aisyiyah juga mendirikan Urusan Madrasah bertugas mengurusi sekolah/ma-drasah khusus puteri, Urusan Tabligh yang mengurusi penyiaran agama lewat pen-gajian, kursus dan asrama, serta Urusan Wal ’Ashri yang mengusahakan beasiswa untuk siswa yang kurang mampu. Pada tahun 1935, ‘Aisyiyah mendirikan Urusan Adz-Dzakirat yang bertugas mencari dana untuk membangun Gedung ‘Aisyiyah dan modal mendirikan koperasi.
Perkembangan ‘Aisyiyah selanjutnya pada tahun 1939 mengalami titik kemajuan yang sangat pesat. ‘Aisyiyah menambah Urusan Pertolongan (PKU) yang bertugas menolong kesengsaraan umum. Oleh karena sekolah-sekolah putri yang didirikan sudah semakin banyak, maka Urusan Pengajaran pun didirikan di ‘Aisyiyah. Di samp-ing itu, ‘Aisyiyah juga mendirikan Biro Konsultasi Keluarga.
Demikianlah, ‘Aisyiyah menjadi gerakan wanita Islam yang mendobrak kebekuan feodalisme dan ketidaksetaraan gender dalam masyarakat pada masa itu, serta seka-ligus melakukan advokasi pemberdayaan kaum perempuan.

6.  ‘Aisyiyah Perintis Pendidikan Usia Dini dan Pendidikan Kaum Perempuan

Pada tahun 1919, dua tahun setelah berdiri, ‘Aisyiyah merintis pendidikan dini un-tuk anak-anak yang saat itu dikenal dengan nama Frobelschool. Umumnya, frobels-chool saat itu adalah sekolah untuk anak-anak dari kalangan bangsa Belanda dan kalangan tertentu bangsa Indonesia. Frobelschool ‘Aisyiyah ini merupakan Taman Kanan-Kanak pertama yang didirikan oleh bangsa Indonesia untuk semua kalangan. Selanjutnya Taman kanak-kanak ini diseragamkan namanya menjadi TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) yang saat ini telah mencapai jumlah 5.865 TK di seluruh Indonesia. Pelopor Taman Kanak-kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal ini tak lain adalah Siti Umniyah, salah satu murid K.H. Ahmad Dahlan.
Dapat dikatakan, TK ABA merupakan amal usaha pokok dari setiap pimpinan Ranting ‘Aisyiyah. Selain TK, dalam dua dasa warsa terakhir di Indonesia berkem-bang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). ‘Aisyiyah mengambil peran penting dalam perkembangan dan penyebaran PAUD di seluruh Indonesia. Dengan jumlah Pimpi-nan Ranting ‘Aisyiyah sebanyak 6.924, ‘Aisyiyah memiliki 4.560 lembaga pendidikan, terdiri dari Kelompok Bermain, Taman Pengasuhan Anak, Taman Kanak-Kanak, Se-kolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Pendidikan Tinggi.
Gerakan pemberantasan kebodohan juga menjadi salah satu pilar perjuangan ‘Aisyiyah dicanangkan dengan mengadakan pemberantasan buta huruf pertama kali, baik buta huruf arab maupun latin pada tahun 1923. Dalam kegiatan ini para pe-serta yang terdiri dari para gadis dan ibu-ibu rumah tangga belajar bersama dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia publik.

7.  Aisyiyah, Pelopor Organisasi Perempuan Indonesia

Kiai Dahlan sangat memperhatikan pembinaan terhadap wanita. Anak-anak perem ‘Aisyiyah didirikan sebagai gerakan wanita didasari pertimbangan bahwa per-juangan wanita ini diharapkan dapat meniru perjuangan ‘Aisyah, isteri Nabi Muham-mad, yang selalu membantu Rasulullah dalam berdakwah.
Karena prinsip gerakannya yang demikian itu, maka dalam konteks pergerakan kebangsaan pada waktu itu, ‘Aisyiyah turut memprakarsai dan membidani terbentuknya organisasi wanita pada tahun 1928. ‘Aisyiyah bersama dengan organisasi wanita lain bangkit berjuang untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan dan kebodohan. Badan federasi ini diberi nama Kongres Perempuan In-donesia yang sekarang menjadi KOWANI (Kongres Wanita Indonesia).
Tentang sejarah Congres Perempoean Indonesia yang pertama 22-25 Desember 1928 di Mataram (Yogyakarta) itu, Hoofbestuur ‘Aisyiyah mencatat bahwa Kongres dihadiri sekitar 1000 peserta. Kongres ini memutuskan pembentukan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPI) pada 25 Desember 1928.
‘Aisyiyah termasuk pelopor dalam Komite Kongres dari 10 perkumpulan yang terdiri dari: Ismudiati (Wanita Oetama), Sunarjati (Poetri Indonesia), St. Sukaptinah (Jong Islamieten Bond), Nyi Hajar Dewantara (Taman Siswa), RA Sukonto (WO), St Munjiah (Aisyiyah), RA Hardjadiningrat (Wanita Katolik), Sujatin (PI), ST Hajinah (‘Aisyiyah) dan B Murjati (Jong Java). Selain itu, acara pembukaan Kongres ini dimeriahkan dengan lantunan Penembrana yang dilakukan oleh gadis-gadis Siswoprojo (siswi ‘Aisyiyah) dengan bahasa Arab dan Indonesia, yang isinya merupakan ucapan selamat datang dan memuji maksudnya kongres akan membuat persatuan perempuan Indonesia supaya tercapai.
Kongres Perempuan I ini memiliki nilai penting kebangsaan, maka pada Kongres Perempuan III di Bandung, 23-27 Juli 1938 yang dipimpin Ny. Emma Puradireja, di-cetuskan momentum Kongres Perempuan I itu sebagai hari Ibu yang diadakan tiap tanggal 22 Desember. Tanggal ini karena untuk bangkitnya gerakan kaum Ibu (per empuan) di tanah air dengan berhasilnya menyelenggarakan Kongres Perempuan.
Kongres yang terselenggara di tengah rintangan dari golongan konservatif yang mencintai adat lama: kaum istri atau perempuan tidak perlu berkongres-kongres, cukup di dapur tempatnya, kaum isteri belum matang, belum bisa berdamai dalam perkumpulan.

8.  Kiprah Aisyiyah di Masa Sekarang

Dalam kiprahnya hampir satu abad di Indonesia, saat ini ‘Aisyiyah telah memiliki 33 Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (setingkat Propinsi), 370 Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (setingkat kabupaten), 2332 Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (setingkat Kecamatan) dan 6924 Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (setingkat Kelurahan).
Selain itu, ‘Aisyiyah juga memiliki amal usaha yang bergerak diberbagai bidang yaitu : pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Saat ini ‘Aisyiyah telah dan tengah melakukan pengelolaan dan pembinaan seban-yak: 86 Kelompok Bermain/ Pendidikan Anak Usia Dini, 5865 Taman Kanak-Kanak, 380 Madrasah Diniyah, 668 TPA/TPQ, 2.920 IGABA, 399 IGA, 10 Sekolah Luar Biasa, 14 Sekolah Dasar, 5 SLTP, 10 Madrasah Tsanawiyah, 8 SMU, 2 SMKK, 2 Madrasah Aliyah, 5 Pesantren Putri, serta 28 pendidikan Luar Sekolah. ‘Aisyiyah juga dipercaya oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan ratusan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di seluruh Indonesia. Untuk pendidikan tinggi Aisyiyah memiliki 3 Perguruan Tinggi, 2 STIKES, 3 AKBID serta 2 AKPER di seluruh Indonesia.
Dalam bidang Kesehatan ‘Aisyiyah telah mengelola dan mengembangkan 10 RSKIA (Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak), 29 Klinik Bersalin, 232 BKIA/yandu, dan 35 Balai Pengobatan yang tersebar di seluruh Indonesia
Sebagai gerakan yang peduli dengan kesejahteraan sosial kemasyarakatan, ‘Aisyi-yah hingga kini juga memiliki sekitar 459 amal usaha yang bergerak di bidang ini meliputi : Rumah Singgah Anak Jalanan, Panti Asuhan, Dana Santunan Sosial, Tim Pangrukti Jenazah dan Posyandu. ‘Aisyiyah menyadari, bahwa harkat martabat per-empuan Indonesia tidak akan meningkat tanpa peningkatan kemampuan ekonomi di lingkungan perempuan. Oleh sebab itu, berbagai amal usaha yang bergerak di bi-dang pemberdayaan ekonomi ini diantaranya koperasi, Baitul Maal wa Tamwil, Toko/kios, BUEKA, Simpan Pinjam, industri rumah tangga, kursus ketrampilan dan arisan.
Dalam program pemberdayaan Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah (BUEKA) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Aisyiyah memiliki dan membina Badan Usaha Ekonomi sebanyak 1426 buah di Wilayah, Daerah dan Cabang yang berupa badan usaha koperasi, pertanian, industri rumah tangga, pedagang kecil/toko.
‘Aisyiyah juga memiliki beragam kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat khu-susnya penyadaran terhadap kehidupan bermasyarakat muslim Indonesia. Hingga saat ini kegiatan yang mencakup pengajian, Qoryah Thayyibah, Kelompok Bimbin-gan Haji (KBIH), badan zakat infaq dan shodaqoh serta musholla berjumlah 3785.
Beberapa lembaga baik semi pemerintah maupun non pemerintah menjadi mitra kerja ‘Aisyiyah dalam rangka kepentingan sosial bersama antara lain: Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), peningktan Peranan Wanita untuk keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS), Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Yayasan Sayap Ibu, Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di samping itu, ‘Aisyiyah juga melaku-kan kerjasama dengan lembaga luar negeri dalam rangka kesejahteraan sosial, pro-gram kemanusiaan, sosialisasi, kampanye, seminar, workshop, melengkapi prasara-na amal usaha, dan lain-lain. Di antara lembaga luar negeri yang pernah kerjasama dengan ‘Aisyiyah adalah: Oversea Education Fund (OEF), Mobil Oil, The Pathfinder Fund, UNICEF, UNESCO, WHO, John Hopkins University, USAID, AUSAID, NOVIB, The new Century Foundation, The Asia Foundation, Regional Islamicof South East Asia Pasific, World Conference of Religion and Peace, UNFPA, UNDP, World Bank, Parner-ship for Governance Reform in Indonesia, beberapa kedutaan besar negara sahabat dan lain-lain.

9.  Muhammadiyah telah berdiri di 5 Benua (PCIM)

Salah satu keunggulan yang dimiliki Muhammadiyah adalah kemampuannya untuk mengembangkan jaringan bahkan sampai ke manca negara. Saat ini sudah diben-tuk 13 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah. Di benua Asia, ada PCIM Ma-laysia, PCIM Jepang, PCIM Iran, dan PCIM Islamabad, Pakistan. Sementara di Benua Afrika, Muhammadiyah terwakili dengan berdirinya PCIM di Kairo/Mesir, Libya, dan Sudan. Di Benua Eropa telah berdiri PCIM United Kingdom (Inggris Raya), PCIM Pran-cis, PCIM Jerman, dan PCIM Belanda. Kemudian di Benua Amerika dan Benua Australia, masing-masing telah berdiri PCIM Amerika dan PCIM Australia.
Pimpinan Cabang Istimewa adalah struktur baru di lingkungan Muhammadiyah untuk menghimpun warga dan simpatisan Muhammadiyah yang sedang berada di luar negeri. Berbeda dengan pimpinan cabang yang ada di dalam negeri yang be-rada di bawah wilayah dan daerah, pimpinan cabang istimewa langsung di bawah binaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Keberadaan cabang istimewa ini memiliki peran antara lain, pertama sebagai penyelenggara silaturrahmi antaranggota, warga, dan simpatisan Muhammadiyah, kedua menjadi mediator antara Persyarikatan dengan pemerintah dan lembaga lain setempat, ketiga sebagai forum peningkatan kualitas dan kuantitas anggota dan simpatisan Muhammadiyah, keempat menjadi media pembinaan organisasi dan ideologi Muhammadiyah, dan kelima sebagai pelaksana dakwah serta pengem-bangan syiar Islam sesuai dengan faham agama dalam Muhammadiyah.

PCIM Malaysia

Berdiri pada 31 Agustus 2007 dengan ketua pertama, Prof. Dr. M. Akhyar Adnan. Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia yang berada di Kuala Lumpur adalah sebuah cabang dari Persyarikatan Muhammadiyah di Indonesia yang bertujuan untuk menjalin silatutrahmi antarwarga Muhammadiyah yang berada di Malaysia. PCIM diresmikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK) pada tarikh 31 Agustus 2007. Kini PCIM Malaysia selama periode kedua (2011-2013) mempunyai Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA), tiga Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM: Kampung Baru, Sun Way, dan KL Sentral) dan satu Pimpinan Ranting Istime-wa Aisyiyah (PRIA) di Kampung Baru.
Aktivitas PCIM Malaysia antara lain adalah: Pemberdayaan Masyarakat; Ekonomi dan Kewirausahaan, Manajemen Keuangan Keluarga, Kesehatan Keluarga; Pelatihan Muballigh; Pengajian Taman bulanan; Pengajian Ranting, Pengajian Aisyiyah; Diskusi bersama para tokoh Indonesia maupun Malaysia; Penyaluran hewan qurban dan zakat fitrah; Silaturahim dan bakti sosial Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia; Media Santri Ramadhan (Mesra) untuk kanak-kanak dan remaja; Diskusi ilmiah, conference, seminar, bedah buku dan lain-lain.
Salah satu kegiatan PCIM Kualalumpur adalah pengajian lintas profesi, yaitu forum pengajian yang diselenggarakan Majlis Dakwah dan Tarjih PCIM Malaysia. Peserta pengajian berasal dari latar belakang profesi yang berbeda, mulai dari kalangan TKI, pelajar, dosen dan ekspatriat yang bekerja sebagai tenaga ahli di berbagai bidang seperti tenaga ahli perminyakan Petronas, perbankan, komunikasi, dan kalangan pengusaha di Malaysia.
PCIM Kualalumpur Malaysia beralamat di C-9-8 Pelangi Condo No. 1, Jalan Pelan-gi 9, Taman Pelangi, Sentul, 51100) Kuala Lumpur, Malaysia. Telp. 603-40231082, +60122955829 Email: [email protected] dan [email protected]

PCIM Jepang

Pada hari Ahad 28 Rajab 1428 bertepatan Ahad 12 Agustus 2007, bertempat di Sekretariat Japan Muslim Assosiation, Yoyogi, Tokyo, Jepang, warga Muhammadiyah di Jepang mendeklarasikan terbentuknya Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadi-yah Jepang sebagai bentuk tanggungjawab atas misi Muhammadiyah dan sebagai wadah gerakan dakwah Muhammadiyah di Jepang untuk memperkenalkan “Islam yANg berkemajuan” pada Masyarakat Jepang dan mendorong ekonomi Umat dan IPTEK di Indonesia.
Deklarator terdiri dari 5 orang, yaitu: 1). Muhammad Kustiawan, sebagai Ketua Umum (researcher of Plus Line Inc, Tokyo & Graduate Student Ilmu politik pada To-kyo Kokushikan University); 2). Dr. Harus Laksana Guntur, (Assistant professor pada Tokyo Institute of Technology); 3). Tatang Sopian (Phd Student pada Tokyo Institute of Technology University); 4). Mr. Khalid M. Higuchi (Research Institute of Islamic Sci-ences Waseda University); dan 5). Haji Idris No Madjid (Direktur surat kabar Al-Ummah Jepang).
PCIM Jepang memulai kegiatannya dengan menyelenggarakan pengajian rutin. Pengajian pertama disampaikan oleh Mr. Khalid Higuci, Visiting Profesor di Cyber University dan Waseda University. Mr. Khalid Higuci menjelaskan ketertarikan-nya terhadap Muhammadiyah adalah karena Muhammadiyah dianggapnya seba-gai salah satu organisasi Islam di Indonesia yang dapat diterima oleh masyarakat Jepang. Khalid Higuci menggarisbawahi bahwa yang membuat dia benar-benar ter tarik adalah karena kepedulian Muhamadiyah terhadap pendidikan dan pengembangan umat.

PCIM Iran

Berdirinya PCIM di Iran tidak berjalan mulus seperti PCIM di negara-negara lain. Berawal dari perjuangan M. Zuhdi Zaini, mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah DKI Jakarta yang tengah mengambil studi di Qom, Iran. Ia memperhatikan banyaknya pelajar Indonesia di Iran dari keluarga Muhammadiyah terutama dari Makassar dan sekitarnya, sehingga ia merasa terpanggil untuk mendirikan PCIM Iran. Namun, cita-cita itu ternyata menjadi awal dari derita perjuangan bagi dirinya dan keluarganya.
Pemboikotan rencana pendirian PCIM justru dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sangat anti Muhammadiyah. Mereka menfitnah dan melaporkan kepada pemerintah Iran dalam hal ini ke International Center for Islamic Studies (sekarang al-Mushtafa International University) tentang gerakan Muhammadiyah versi mereka. Fitnah mereka berhasil. Akibatnya, Zuhdi didatangi seorang intel yang menanyakan berbagai masalah. Beberapa kali ia dipanggil ke sekolah dan diinter-ogasi hingga 2-3 jam untuk menjelaskan alasan mengapa ia mendirikan Muham-madiyah di Iran.
Seorang tokoh Iran memanggilnya dan memintanya untuk menulis sebuah artikel tentang Muhammadiyah karena menurut dia Muhammadiyah adalah organisasi Islam ternama di Indonesia. Kenyataan yang menggembirakan adalah ada sebuah skripsi yang ditulis mahasiswa asal Azarbaizan tentang Muhammadiyah. Sebagai kader yang terlahir dari keluarga Muhammadiyah, Zuhdi berusaha memberikan pemahaman yang obyektif kepada pihak Iran. Diantara fakta dan data yang disam-paikan adalah: pertama, jumlah anggota dan simpatisan Muhammadiyah kurang lebih 30 juta itu berarti separoh dari penduduk negara Iran. Kedua, Muhammadiyah di Indonesia memiliki ratusan universitas dan sekolah tinggi dan pembiayaan itu sebagian besar merupakan hadiah, wakaf dan infak dari anggota dan simpatisan Muhammadiyah. Ketiga, Muhammadiyah memiliki ratusan rumah sakit dan balai kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Keempat, Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah dasar hingga sekolah menengah tingkat atas.
Alhamdulillah, kesabaran membawa hasil, setelah mengalami perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya penderitaan berubah menjadi kebahagiaan, kesulitan menjadi kenikmatan, dan ini meneguhkan kebenaran al-Qur’an bahwa sesung-guhnya didalam duka tersimpan suka, didalam kesulitan ada kemudahan. PCIM Iran berdiri dan mempunyai nilai tersendiri bagi pemerintahan Iran, khususnya di mata Markaje Jahon-e Ulum-e Islamy.
PCIM Iran beralamat di 45 Mitr-e Shaduq, Alley 52th No. 51 Zanbil Abad Qom, Islamic Republic of Iran Telp. 0251-2918376; 09198521182.

PCIM Islamabad, Pakistan

PCIM Islamabad Pakistan berdiri pada 26 Mei 2009 dengan ketua pertamanya Hamdan Maghribi, S.Th.I. Berdirinya PCIM ini adalah prakarsa dari para pelajar Indonesia yang tengah studi di Pakistan. Semula mereka terhimpun dalam Ikatan Keluarga Muhammadiyah (IKM) Pakistan.
PCIM Islamabad Pakistan beralamat di I-10/2 St. 13, House 1639 Islamabad Pakistan.

PCIM Kairo MESIR

PCIM Kairo Mesir berdiri secara resmi pada tanggal 23 November 2002 melalui SK Pimpinan Pusat Muhammadiyah No: 137/KEP/I.0/B/2002.
Hampir sama dengan PCIM lainnya, PCIM Kairo Mesir didirikan untuk mempertahankan tradisi ilmiah Islam yang menjadi pelita bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat Indonesia pada umumnya. PCIM Mesir mendiskripsikan diri sebagai lumbung kader Persyarikatan yang memiliki wawasan dan spesialisai ilmu keagamaan.
PCIM Kairo Mesir beralamat di Build 112/15 Swessry A Tenth District Nasr City Cairo - Egypt, telp. 202-2877897; Mobile: 20109766176, 20106823387 Fax. 202-7962495), email: [email protected]

PCIM Libya

Keberadaan PCIM Libya dimulai dari terbentuknya Ikatan Keluarga Muhammadiyah (IKM) Libya pada tanggal 29 Juni 2006. Libya adalah salah satu kantong tem-pat berkumpulnya beberapa kader Muhammadiyah yang secara khusus mendalami ilmu syar’i (tafaqquh fiddin). Sebagai kader persyarikatan, mereka perlu pembinaan dan motivasi untuk senantiasa meningkatkan kualitas keilmuan mereka, sehingga pada saatnya nanti mereka menjadi kader yang tangguh dan sanggup meneruskan cita-cita persyarikatan. IKM dibentuk sebagai wadah pembinaan kader secara sistematis dan terorganisir dengan baik. Selanjutnya IKM kemudian diresmikan men-jadi PCIM Libya pada 2 Jumadil Ula 1428 H bertepatan 19 Mei 2007 M.
PCIM Libya berfungsi sebagai wadah pembinaan kader persyarikatan di Libya; perekat ukhuwah seluruh kader di Libya; dan sebagai transformator dan mediator Persyarikatan dengan dunia internasional. PCIM-Libya bertugas: Menetapkan dan memutuskan kebijakan organisasi berdasarkan kebijakan Pimpinan Pusat Muham-madiyah dan seluruh permusyawaratan yang terdapat di PCIM; melaksanakan ke-tetapan dan keputusan tersebut, memimpin dan mengendalikan pelaksanaan kebi-jakan; dan membina kader Muhammadiyah di Libya.
PCIM Libya bertujuan untuk membentuk kader persyarikatan yang berwawasan keislaman luas dan berakhlak mulia, dalam rangka mencapai tujuan Persyarikatan Muhammadiyah; dan mengorganisir seluruh kegiatan kader Muhammadiyah di Libya. Untuk mencapai tujuan tersebut, PCIM Libya berusaha: Memotivasi dan membimbing seluruh anggota untuk bersama-sama mengembangkan SDM dan memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang keislaman; Mengembangkan dan meningkatkan kualitas SDM anggota, melalui: berbagai dis-kusi, seminar, penelitian, pengajian, penulisan karya ilmiah, penerbitan dan lain-lain; Menjalin kemitraan dengan berbagai organisasi atau lembaga Islam, baik yang berada di Indonesia ataupun di Libya.

PCIM Khartoum - Sudan

Aktivitas PCIM Khartoum Sudan diantaranya digerakkan oleh Abu Jahid Darso At-mojo, seorang mahasiswa asal Bantul Yogyakarta yang saat itu tengah menempuh studi pascasarjana di sebuah Universitas di Sudan. Sebagaimana halnya PCIM di wilayah Timur Tengah lainnya, aktivitas PCIM Khartoum banyak diramaikan oleh mahasiswa Indonesia yang tengah studi di negeri tersebut. PCIM Khartoum Sudan beralamat di:

PCIM United Kingdom (UK), Inggris Raya

Berdiri pada tahun 2007 dan disyahkan melalui SK PP Muhammadiyah No. 35/KEP/I.0/D/2007. Ketua PCIM UK periode pertama adalah Saherman Gae, mahasiswa PhD di Queens Mary University of London (QMUL).
Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Inggris Raya/United Kingdom (PCIM UK) merumuskan tujuan pendiriannya dalam rangka mengembangkan Dakwah Islam, Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar sesuai dengan Manhaj Tarjih Muhammadiyah.
Wilayah dakwah PCIM UK adalah bersama dengan organisasi Muslim yang lain untuk menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam di United Kingdom. PCIM UK melaksanakan kegiatannya antara lain berupa kajian Al-Qur’an dan al-Hadits, kajian Kemuhammadiyahan, Akidah dan Akhlak serta kajian umum. Kajian ini dapat kita simak pula melalui website PCIM UK dengan alamat www.muhammadiyah.org.uk 
Diantara kegiatan yang pernah diselenggarakan (PCIM UK) adalah bedah buku “Menyandera Timur Tengah” yang ditulis pakar pengamat Timur Tengah, Riza Sih-budi, yang juga Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London. Acara bedah buku ini merupakan kegiatan perdana PCIM UK yang bertujuan memperkaya pemaha-man dan kajian tentang Timur Tengah dimana Indonesia perlu belajar dari AS dalam ‘menundukkan’ kawasan tersebut melalui kajian dan studi.
Sekretaris PCIM UK, Muhammad Izzul Haq, menyebutkan bahwa acara yang meng-hadirkan dua pembicara Syahrul Hidayat dari University of Exeter dan Arianto Sangaji dari University of Birmingham dengan moderator Joko Susanto dari LSE. Dalam bedah itu disimpulkan salah satu penyebab terjadinya konflik dan kekerasan yang tidak habis-habisnya memenuhi pemberitaan media-media internasional dan na-sional itu adalah adanya kepentingan yang kuat dari hegemoni Amerika Serikat yang ingin mengontrol sumber daya dan konfigurasi politik kawasan itu.
Bedah buku ini dihadiri oleh sekitar 40 mahasiswa Indonesia dari berbagai kota di Inggris diantaranya dari Glasgow, Birmingham, Exeter, dan Brighton, menilai Ameri-ka ingin memperoleh pasokan minyak dengan harga murah dan proses perdamaian Israel-Palestina yang sesuai dengan definisi negara adidaya itu. Untuk alasan itulah Amerika memaksakan perubahan rejim di Afghanistan dan Irak.

PCIM Prancis

Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Perancis, dideklarasikan pada pukul 18.00, 1 Oktober 2007 M bertepatan 19 Ramadan 1428 H di Paris. Hadir di tengah-tengah masyarakat sekuler. Berkah demokrasi (kebebasan berorganisasi, ber-pendapat, berkeyakinan) memberikan kesempatan besar kepada Muhammadiyah untuk tampil menawarkan dan menyebarkan ajaran dan nilai Islam yang berkema-juan, berkeadilan, dan berkemanusiaan kepada masyarakat Perancis. Jenis pemaha-man Islam seperti inilah yang sesuai dan diterima oleh kultur masyarakat Prancis yang sekuler, rasional, dan terbuka. Ekspansi Muhammadiyah di negeri anggur ini, diharapkan dapat menjadi forum bersama bagi masyarakat Indonesia yang berada di Perancis untuk memahami Islam àla Muhammadiyah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemajuan, keadilan, kemakmuran, dan kesetaraan.

PCIM Jerman

PCIM Jerman menjadi wadah silaturrahmi dan beraktivitas dalam gerakan Muhammadiyah bagi warga Indonesia yang tengah melaksanakan studi di Jerman. Diantara kegiatan PCIM Jerman adalah forum-forum silaturrahmi dan pengajian, serta diskusi dan kajian ilmiah dalam rangka menunjang misi utama warga Muhammadiyah di Jerman yang tengah melaksanakan studi tersebut.
PCIM Jerman beralamat di Mausbach Str. 17’ 48149 Muenster, Germany.

PCIM Belanda

Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Belanda, diresmikan oleh Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsudin di Amsterdam, pada tanggal 8 Desem-ber 2006. Peresmian sekaligus dilakukan pelantikan pengurus PCIM Belanda setelah shalat Jum`at di Masjid Amsterdam. Terpilih sebagai Ketua PCIM M. Surya Alinegara dan Sekretaris Arifin Hudaya dengan 10 anggota pimpinan lainnya.
PCIM Belanda adalah PCIM yang ketujuh setelah sebelumnya sudah juga terbentuk PCIM di Kairo, Jeddah, Damaskus, Sudan, Teheran dan Kuala Lumpur.
Dalam amanat pelantikan, Din Syamsuddin mengharapkan agar PCIM Belanda da-pat menunjukkan kiprahnya dalam melangsungkan dakwah Islamiyah di negara kincir angin, baik terhadap masyarakat asal Indonesia maupun masyarakat Eropa.
“Bawalah pesan Islam sebagai agama perdamaian dan tampilkanlah citra Islam In-donesia yang moderen dan moderat, karena Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang mengusung Islam yang berkemajuan”. Selain itu, secara khusus Din meng-harapkan kepada PCIM Belanda dan PCIM di negara-negara lain untuk dapat meng-hubungkan Muhammadiyah dengan berbagai pihak di negara masing-masing dan menggali sumber daya yang bermanfaat bagi pemajuan gerakan Muhammadiyah di Indonesia, seperti mengusahakan beasiswa dan kerjasama ekonomi.

PCIM Amerika

“Tantangan Muhammadiyah saat ini adalah menyatukan kader-kader Muhammadi-yah yang tersebar di mana-mana dalam jaringan yang lebih kuat”, kata Muhammad Ali, Ph.D, Associate Professor di University California Riverside, langsung dari Cali-fornia melalui jaringan skype pada acara deklarasi Pimpinan Cabang Istimewa Mu-hammadiyah (PCIM) Amerika Serikat, (1/1/2008) waktu Cambridge atau Rabu pagi (2/1/2008) Waktu Indonesia Bagian Barat.
Menurut Muhammad Ali, Muhammadiyah harus bercermin kepada gerakan seperti Hizbut Tahrir dan gerakan lain yang mampu mengenali potensi dirinya dan mem-buatnya dalam jaringan yang bagus. “Inilah tantangan Muhammadiyah sekarang”  ungkapnya kepada peserta deklarasi di apartemen Sukidi, mantan aktifis IMM, di Cambridge. Lebih lanjut, Muhammad Ali menyatakan bahwa dengan berdirinya Muhammadiyah Amerika ini, harus menjadi Ummatan Wasathan. “Jangan menam-bah semakin pecahnya umat Islam,” pesannya.
Dia juga menyampaikan perlunya meningkatkan sumber daya Muhammadiyah di antaranya melalui pengiriman kader-kader Muhammadiyah untuk bersekolah ke luar negeri, tidak hanya di negara “Timur” tetapi juga ke berbagai negara barat dan Amerika khususnya. Di samping itu perlu terus menerus melakukan kontektualisasi ajaran Islam dan meningkatkan jejaring dengan berbagai pihak.
Sementara itu, Rahmawati Husein, mantan Sekretaris Jenderal PP Nasyiatul Aisyiyah yang sedang studi di Texas A&M University menyatakan, pendirian Muhammadiyah Amerika ini adalah dengan pertimbangan perlunya mengembangkan dakwah Islam di Amerika untuk memberikan gambaran bentuk dakwah Islam yang oleh Mu-hammadiyah bisa tampil moderat dan mencerahkan.
Acara deklarasi diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Ulil Absar, aktifis JIL dan NU yang juga sedang menempuh S3 di Havard University. Dalam sambutan sing-katnya, Ulil juga berharap Muhammadiyah Amerika dapat berdakwah di kalangan masyarakat Amerika yang mendapatkan informasi yang tidak tepat mengenai Islam dan masih tingginya prasangka negatif tentang umat Islam. “Semoga berdirinya Muhammadiyah di AS bisa mengembangkan dakwah Islam, dan meluruskan informasi tentang Islam di Amerika, yang sempat rusak setelah tragedi 11 September” ungkapnya.
Acara deklarasi yang didahului dengan shalat berjamaah dan pengajian ini diliput www.muhammadiyah.or.id  melalui siaran langsung radio IMSA (Indonesian Moslem Society in America) dan conference call melalui internet yang dapat diikuti langsung dari seluruh penjuru dunia.
Dalam butir deklarasi dinyatakan, PCIM Amerika didirikan pada 1 Januari 2008 di Cambridge untuk mengemban misi suci dasar Muhammadiyah sebagai gerakan reformasi sosial-keagamaan. Orientasi gerakan reformasi ini terletak pada usahanya untuk selalu komitmen pada pencerahan umat, yang melampaui batas-batas ne-gara bangsa. PCIM sengaja hadir di Amerika sebagai pelopor utama pencerahan, dengan mulai sadar mengakui bahwa Amerika sedang berproses menjadi bagian dari “dunia Islam.”
Dengan melihat pertumbuhan jutaan umat Islam yang begitu pesat di Amerika, PCIM bermaksud untuk berpartisipasi aktif untuk mengembangkan dakwah Islam yang toleran, moderat, demokratis dan mencerahkan umat. Hasrat ingin tahu yang begitu tinggi tentang arti sejati Islam di kalangan warga Amerika di tengah citra Islam dan umatnya yang kurang baik, maka PCIM memikul tanggung jawab mor-al-keagamaan untuk menghadirkan Islam yang berspirit pencerahan. Yakni, Islam yang mengajarkan nilai kebebasan untuk menggali ilmu, toleransi, dan mencintai perdamaian. Di tengah hasrat ingin tahu yang meningkat di kalangan warga Amerika tentang arti sejati Islam, pencerahan utama yang diemban PCIM Amerika adalah mengartikulasikan Islam yang sesuai mengembangkan model Islam yang dialogis.
PCIM Amerika dideklarasikan untuk mengemban misi otentik Muhammadiyah sebagai gerakan reformis keagamaan. Gerakan ini diorientasikan untuk pencerahan umat, untuk membawa bangsa Indonesia dan umat Islam di dunia menuju rahma-tan lil alamin. PCIM Amerika juga didirikan untuk terus menggalang kerjasama dan menguatkan simpul silaturahmi antar umat Islam serta institusi lain yang dapat mendukung Muhammadiyah dalam meneguhkan dan menyebarkan visi dan mis-inya demi kemajuan bangsa Indonesia, umat Islam dan bangsa dunia.

PCIM Australia

Warga Muhammadiyah di Australia mendeklarasikan PCIM Australia pada 9 Desem-ber 2007 bertempat di Aula Bhinneka Graha, Konjen RI Melbourne. Menurut Atok Ainur Ridho, Sekretaris PCIM Australia, Muhammadiyah Australia berawal dari ko-munikasi via email oleh kader-kader Muhammadiyah melalui mailing list Muhammadiyah ANZ (Australia New Zealand).
Menurut staf pengajar Universitas Muhammadiyah Jember tersebut, karena seba-gian besar kader-kader Muhammadiyah ada di Melbourne, maka pertemuan per-dana PCIM setelah pelantikan bertempat di rumah Mas Riga di Melbourne pada bu-lan Desember 2007. Pada pertemuan tersebut, terbentuk dua koordinator daerah yaitu daerah Clayton dan City untuk terus menjaring kader dan simpatisan. Untuk daerah Clayton, Atok Ridho sendiri menjadi koordinatornya sedangkan untuk dae-rah City, Ketua PCIM Australia, Muhammad Zainuddin.
Lebih lanjut, menurut Atok Ridho, di Melbourne kurang lebih ada 10 keluarga yang aktif. Pada awalnya, kegiatan yang dijalankan adalah pengajian rutin.
PCIM Australia beralamat di 2/44 Davies St., Brunswick Vic 3056 Australia Telp. +613 93846251

10.  Aisyiyah di Manca Negara

‘Aisyiyah tidak hanya berkembang di Indonesia namun sudah merambah ke man-canegara. Pendirian PCIA (Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah) telah mulai dilaku-kan di Kairo Mesir, Belanda, dan Malaysia. Di Singapura juga telah terbentuk PCIA Singapore dengan berbagai program dan kegiatan yang telah dilaksanakan, seperti berdirinya Day Care (tempat Penitipan Anak), Taman Kanak-Kanak ‘Aisyiyah, pengaji-an-pengajian dan lain sebagainya. Terbentuknya PCIA ini mendapatkan sambutan yang baik dari organisasi perempuan setempat, regional, dan Internasional.
Di Malaysia, PCIA Malaysia mengakomodasi potensi kaum ibu dan wanita dari kader, warga, simpatisan dan keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Ma-laysia. PCIA diresmikan dan dilantik oleh Ketua Umum PP Aisyiyah Ibu Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno di Kuala Lumpur, pada bulan Februari 2009. Ketua PCIA Malaysia saat dilantik adalah Ibu Yuenda V. Larasati, SH. Saat ini Ibu Yuenda telah pindah ke Jakarta, dan posisi Ketua PCIA Malaysia kini ditempati oleh Ibu Mimi Fitriana Zulfan, M.A. Bertindak sebagai pensehat adalah Ibu Finny Nihayati Akhyar.
Sekretariat PCIA Malaysia bisa dihubungi di alamat email: [email protected] (c.q. Ibu Nita Nasyithah, M.Ed.)

11.  Muhammadiyah Internasional

Walau tidak memiliki hubungan struktural organisasi, di beberapa manca negara, Muhammadiyah berdiri dan berkembang. Dengan logo, misi, dan tujuan gerakan yang sama, Muhammadiyah di berbagai negara itu turut menyebarkan nilai-nilai yang dibangun Persyarikatan ini. Beberapa negara yang terdapat organisasi Mu-hammadiyah tanpa hubungan struktural dengan Muhammadiyah di Indonesia mis-alnya Singapura, Thailand, dan Laos.
Di Singapura, Muhammadiyah telah mulai berdiri sejak 1957 yang dipelopori oleh Murid-murid dari Madrasah Raudatil Atfal dan murid-murid dari Ustadz Abdul Rah-man Harun, Ustadz Rijal Abdullah dan Ustadz Amir Esa.Diantara aktivitas dakwah yang dikembangkan di Muhammadiyah Singapura anta-ra lain adalah: Kelas Asas Bimbingan Agama, Muhammadiyah Kindergarten, Madrasah al-Arabiah al-Islamiyah, Tapak Suci Singapura, Muhammadiyah Health Care Centre, Muhammadiyah Welfare Home, Muhammadiyah Resource Development Unit, Jenazah Management Service. Sejak tahun 2000 Muhammadiyah Singapura mendirikan Kolej Islam Muhammadiyah.
Info lebih lengkap, lihat www.muhammadiyah.org.sg .
Kiprah gerakan dakwah Muhammadiyah Internasional tidak bisa dilepaskan dari seorang yang bernama Ustadz Abdul Wahab, warga Negara Malaysia yang tinggal di Kulim Kedah Malaysia. Berikut ini adalah kisah kegiatan yang dilakukan Muhammadiyah Internasional yaitu tebar hewan Qurban bagi suku anak pedalaman di Thailand Utara. Ribuan kilo meter jauhnya yang harus ditempuh untuk mencapai wilayah itu dari Kulim Kedah Malaysia.
Hatyai, salah satu kota di Provinsi Yala, Thailand Selatan, empat provinsi di selatan itu mayoritas penduduknya muslim, seperti di Patani, Narathiwat dan Songklah.
Banyak pelajar dari sana menimbah ilmu di Indonesia, beberapa dari mereka menjadi pengurus Muhammadiyah di Thailand dan tergabung dalam Muhammadiyah Internasional.
Dari Batam Indonesia dengan Ferry ke Stulang Laut Johor Malaysia ditempuh sekitar 1 jam lebih. Sementara dari terminal Bus Larkin di Johor Bahru langsung ke Hatyai Thailand sekitar 15 jam perjalanan. Ustazd Wahab, telah berbelas tahun melaksana-kan dakwah di pedalaman Thailand. Hampir seluruh provinsi dan kota di Thailand telah dilaluinya dan banyak pula negara selain Thailand yang telah dikunjunginya.
Hampir semua masjid, sepanjang perjalanan yang bisa dilalui untuk berhenti sholat dari Selatan ke Utara tak ada jamaah dan imam masjid yang tak mengenal sosok Ustazd Wahab.
Penyembelihan hewan kurban dipusatkan di Pha Yao dan berjalan lancar, Rom-bongan warga Muhammadiyah dari Thailand yang mengikuti kegiatan Qurban ini dipercepat 2 hari dari rencana semula 10 hari. Karena tanggal 23 Desember 2007 bertepatan dengan hari pemilihan raya di Thailand, sementara sebagian rombongan Malaysia pulang melalui udara.
Rombongan dari Malaysia yang pulang dengan Bus, sehari sebelum pulang ke Ma-laysia mengunjungi beberapa masjid di Chiang Rai. Beberapa masjid yang di kunjungi, ada masjid yang dibangun dan dibina oleh Muhammadiyah Internasional, di masjid itu ditempatkan Dai untuk membina para muallaf.
Di masjid dimana ditempatkan Ustadz Ahmad Siddiq misalnya, pemerintah setempat dalam hal ini pemerintah Thailand bagian Utara khususnya cukup akomodatif, “Asal kita laporkan saja kegiatan kita kepada kerajaan”, ujar Ustadz Siddiq yang menjadi ketua madrasah di situ. Dia pun selalu diundang oleh kerajaan dalam hal-hal yang berkenaan dengan agama.
“Kita berdakwah haruslah santun dan bijak”, ujar Ustadz Wahab menimpali. “Banyak suku Bukit yang mendiami perbukitan sejuk di Thailand Utara itu belum tersentuh dakwah, kita memerlukan banyak dai dan dana untuk itu”, kata Ustadz Wahab.
Tak terasa perjalanan telah memasuki kawasan Golden Triangle (segi tiga emas) yang terkenal itu, disepanjang tepian sungai Mekong terlihat banyak bangunan resot, cafe dan restoran. Disitu pun banyak tempat perjudian. Sungai Mekong adalah sungai yang menjadi perbatasan tiga negara, Thailand, Burma dan Laos. Sembari menatap air yang agak keruh mengalir di Sungai Mekong yang membatasi ketiga negara itu, yang kini banyak berdiri tempat maksiat, Ustadz Wahab mengungkap kan tekad beliau, yaitu hendak menjadikan sungai Mekong tempat berwuduk dan tempat mandi junub, nantinya dikemudian hari. Maksudnya, hendak berupaya mendakwahkan Islam kepada penduduk di sepanjang sungai Mekong itu sampai mereka menjadi muslim dan menggunakan air sungai Mekong untuk mensucikan diri menjalankan ibadah.
Sejarah perjuangan Muhammadiyah di kawasan Asean bisa dilihat dari kiprah salah seorang tokoh terkemuka dalam gerakan Muhammadiyah di tanah Malayu yaitu Syeikh Tahir Jalaluddin (1869-1957). Beliau adalah seorang putera Minangkabau yang menuntut ilmu Islam di Makkah. Salah seorang gurunya adalah Syeikh Ahmad Khatib (1860-1916M) seorang ulama di Makkah yang berasal dari Minangkabau.
Syeikh Tahir Jalaluddin juga menuntut di Al-Azhar Mesir. Di Mesir, beliau banyak berkenalan kelompok Muhammad Abduh. Pemikiran Muhammadiyah tertanam dalam jiwanya, selepas balik ke tanah air beliau terus memperjuangkan ide-ide pembaharuan itu. Beliau memulai gerakan Muhammadiyah dengan menerbitkan majalah al-Iman. Kawan seperjuangan beliau adalah Syed Syeikh al-Hadi, seorang tokoh keturunan Hadramaut.Mesir, India, Makkah, Malaysia dan Indonesia ialah tempat-tempat yang menjadi pangkalan kemasukan fahaman Muhammadiyah. Tokoh-tokoh seperti Syed Syeikh al-Hadi, Syeikh Jalaluddin, Haji Abbas Taha, dan Datuk Haji Muhammad bin Haji Mohd Said membawa angin Muhammadiyah ke Malaysia. Mereka menerbitkan be-berapa majalah yang berpengaruh seperti al-Ikhwan dan Pengasuh. Berdiri beberapa sekolah Islam seperti Madrasah al-Hadi di Malaka pada tahun 1917 dan Madrasah al-Masyhur al-Islamiyan di Pulau Pinang (1919), juga penerbitan majalah al-Ikhwan (1926) dan Majalah Saudara (1928). Anak-anak didik mereka kemudiannya melan-jutkan perjuangan Muhammadiyah. Demikian menurut cerita Ustadz Wahab bin Ahmad.
Di Kelantan gerakan Muhammadiyah mendapat sambutan baik. Salah seorang tokoh terkenal adalah Haji Wan Musa bin Abdul Samad (1874-1939M). Beliau bukan-lah seorang tokoh yang berjuang sendirian di Kelantan. Dalam suatu perdebatan di Kota Bahru beliau disokong oleh Haji Abbas Taha dari Singapura, pengarang al-Iman dan DR Burhanuddin al-Helmi. Beliau juga mempunyai hubungan surat menyurat yang berisi pertukaran pendapat tentang pelbagai-bagai masalah dengan Syed Al Hadi. Beliau juga pernah berhubungan langsung dengan Syed Rasyid Ridha di Mesir. Selain itu ada juga tokoh bernama Abu Abdillah Syed Hasan bin Nor Hasan yang dikenal dengan “Tok Khurasan” (Datuk Khurasan) seorang tokoh ilmu yang berasal dari Afganistan, pernah mendalami ilmu agama di India. Sekembalinya mereka ke tanah air, mereka menyumbangkan unsur-unsur Muhammadiyah kepada umat Is-lam setempat. Begitu juga kepulangan Haji Mohd. Yusuf bin Muhammad yang lebih di kenali “Tok Kenali” atau Datuk Kenali (Kenali adalah nama kampung tempat beliau tinggal, di kawasan Kubang Kerian) membawa angin baru dalam perkembangan Islam di Kelantan. Beliau belajar di Makkah selama 20 tahun, pernah mengunjungi Mesir. Beliau dilantik menjadi pengarang majalah Pengasuh yang diterbitkan oleh Majlis Agama Islam dan adat istiadat Melayu Kelantan.

12.  Penyelenggara Kongres Islam Pertama Kali

Bersama dengan Sarekat Islam (SI), Muhammadiyah menyelenggarakan Kongres Islam untuk pertama kalinya di Garut, tahun 1924 (bulan Mei). Dalam Kongres ini, Haji Agus Salim, seorang anggota Muhammadiyah dari Buitenzorg (Bogor), meny-ampaikan pidato pembukaan menanggapi runtuhnya Dinasti Utsmaniyah di Turki (3 Maret 1924). Ia menyatakan bahwa kesatuan ummat Islam telah rusak dan se-mua khalifah baik yang pernah ada di Turki maupun Syarif Husain bukanlah khalifah untuk Ummat Islam Indonesia; hanya khalifah bagi seluruh dunia yang juga dapat menjadi khalifah bagi muslimin Indonesia. Dalam kesempatan itu pula, ia melontar-kan gagasan dibentuknya Pan Islamisme.

13.  Melewati Lima Generasi Pemerintahan

Sejak berdiri hingga kini, Muhammadiyah sudah melewati lima masa pemerintahan. Sejak Kolonial Belanda berkuasa dengan Pemerintah Hindia Belandanya saat itu, lalu Kolonial Jepang, Orde Lama, Orde Baru, hingga Era Reformasi.
Tentu bukan tanpa tantangan, namun sungguh sebuah prestasi Muhammadiyah dapat melalui lima fase tersebut. Sementara banyak organisasi atau perhimpu-nan lain yang terpaksa menelan pil pahit, dibubarkan karena tidak sejalan dengan pemerintah atau dianggap membahayakan pemerintahan.
Bukan tanpa resep, Muhammadiyah mampu bertahan. Salah satunya adalah melalui kebijakan tidak berpolitik praktis. Itu menjadi kunci bagaimana Muhammadiyah dapat eksis selama lima generasi pemerintahan.

14.  HW, Kepanduan Asli Indonesia Pertama

Jauh sebelum muncul kepanduan Praja Muda Karana (Pramuka), Kiai Ahmad Dahlan telah merintis sebuah kepanduan yang diberi nama Padvinder Muhammadiyah pada 1918/1338, enam tahun setelah Muhammadiyah berdiri. Atas usulan R. Hadjid, nama Padvinder Muhammadiyah lalu dirubah menjadi Hizbul Wathan (1920) yang memiliki arti “Pembela Tanah Air”.
Ide pendirian Hizbul Wathan muncul tatkala Ahmad Dahlan, sekitar tahun 1917, dalam satu perjalanan di kota Surakarta sepulang dari pengajian SATV (Siddiq-Amanah-Tabligh-Vatonah), beliau melintas dan melihat ada sekumpulan pemuda yang sedang berlatih baris-berbaris dan bermain-main di alun-alun Mangkunega-ran dengan mengenakan seragam. Dari sanalah ide itu kemudian muncul.
Sesampainya di Yogyakarta, Kiai Dahlan pun memanggil beberapa orang guru Muhammadiyah untuk merumuskan pembentukan kepanduan tersebut. Beberapa orang yang terlibat adalah Soemodirdjo (mantri guru Standaard School Suronatan), H. Sjarbini (guru sekolah Muhammadiyah Bausasran), dan seorang lagi dari Sekolah Muhammadiyah Kotagede.
Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan adalah kepanduan pribumi pertama di Indonesia. HW sempat meraih perhatian warga banyak tatkala menjadi pengiring Sri Sultan Hamengkubuwono saat menuju Ambarrukmo. Prosesi ini cukup mengangkat nama Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, sebagai organisasi kepanduan pribumi.
Namun demikian, sejarah kelam sempat menghiasi perjalanan kepanduan ini. Tercatat, dua kali Hizbul Wathan harus mengalami “kematian” sementara. Pertama di saat masa penjajahan Jepang. Pada masa penjajahan Jepang, organisasi-organisasi kepanduan dan organisasi pergerakan lainnya dilarang berdiri dan berkegiatan oleh penjajah Jepang. Akhirnya, kepanduan-kepanduan yang ada, termasuk Hizbul Wa-than, harus memberhentikan segala aktifitasnya pada saat itu. Pada 29 Januari 1950, diadakan Apel untuk secara simbolis meresmikan berdirinya kembali HW. Belum lama aktif kembali, HW harus menelan pil pahit untuk kedua kalinya. Kalau dahulu karena larangan penjajah, kini karena pemerintah sendiri. Di era Orde Lama, keluar Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 238/61 yang menyatakan bahwa satu-satunya Organisasi Kepanduan di Indonesia adalah Pramuka (Praja Muda Karana). Saat itu para pandu HW dihadapkan pada satu situasi yang sangat sulit. Setelah melalui pemikiran dan perdebatan panjang, akhirnya diputuskan untuk mengikuti
apa yang telah menjadi keputusan Presiden. Hizbul Wathan pun dilebur ke dalam Pramuka. Pada saat upacara peleburan ini, para pandu Hizbul wathan tak kuasa menahan tangisnya.
Jika diperhatikan secara seksama, yang saat ini dikenal sebagai Trisatya dan Dasa-darma Pramuka, tak lain tak bukan, banyak terinspirasi oleh Janji dan Undang-Un-dang Hizbul Wathan. Bahkan ada pasal yang bunyinya sama persis.
Berikut perbandingan Janji dan UU Pandu Hizbul Wathan dengan Trisatya dan Dasa-darma Pramuka:
Janji Pandu Hizbul Wathan
Mengingat harga perkataan saya, maka saya berjanji dengan sungguh-sungguh :
1.       Setia mengerjakan kewajiban saya terhadap Allah, Undang-Undang, dan Tanah Air
2.       Menolong siapa saja semampu saya
3.       Setia menepati Undang-Un-dang Pandu Hizbul Wathan
Undang-Undang Pandu HW
Hizbul Wathan itu :
1.       HW selamanya dapat dipercaya
2.       HW setia dan teguh hati
3.       HW siap menolong dan wajib berjasa
4.       HW cinta perdamaian dan per-saudaraan
5.       HW sopan santun dan perwira
6.       HW menyayangi semua makhluk
7.       HW siap melaksanakan perin-tah dengan ikhlas
8.       HW sabar dan bermuka manis
9.       HW hemat dan cermat
10.   HW suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan
Trisatya Pramuka
Demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
1.           Menjalankan kewajibanku kepada Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan pancasila
2.           Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat
3.           Menepati dasadarma
Dasadarma Pramuka
Pramuka itu :
1.       Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.       Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3.       Patriot yang sopan dan ksatria
4.       Patuh dan suka bermusyawarah
5.       Rela menolong dan tabah
6.       Rajin, terampil, dan gembira
7.       Hemat, cermat, dan bersahaja
8.       Disiplin, berani, dan setia
9.       Bertanggungjawab dan dapat diper-caya
10.   Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan

Setelah bergulirnya reformasi tahun 1998 dan hilangnya represi pemerintahan Orde Baru, pada 10 Sya’ban 1420 H bertepatan dengan 18 November 1999 M, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan bangkit kembali berdasarkan Surat Keputusan PP Mu-hammadiyah No : 92/SK-PP/VI-B/1.b/1999 M, dan lalu menyusul SK PP Muhammadi-yah No: 10/KEP/I.O/B/2003 M sebagai penegasan bangkitnya HW di Indonesia.

15.  Pelopor Pendirian Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Muhammadiyah berperan besar dibalik berdirinya Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pembentukan MUI datang dari ide Prof. Dr. Buya Hamka, seorang tokoh Muhammadiyah. Ide MUI ini lahir karena Buya Hamka melihat kondisi umat Islam Indonesia yang terpecah belah berdasar golongan dan kelompoknya masing-masing. Perbedaan yang ada kerap menjadi alasan bagi kelompok-kelompok yang ada untuk berselisih. Ini tentu mengancam persatuan ummat. Demi menanggulangi hal terse-but, dibentuklah MUI sebagai wadah Ulama Indonesia.
Kondisi serupa terjadi sebelumnya saat Majelis Tarjih dibentuk pada tahun 1927. Pembentukan Majelis Tarjih pada saat itu dengan tujuan untuk mengharmonisasi-kan kembali berbagai gerakan yang ada, yang berpotensi memecah belah ummat.
Sebagai pelopor, Buya Hamka pun terpilih sebagai Ketua Umum MUI pertama (1977-1981).

16.  Ketua Muhammadiyah sebagai Penggerak Reformasi

Tahun 1998 menjadi tonggak sejarah baru bagi Indonesia. setelah 32 tahun, bangsa ini dipimpin oleh seorang “Raja”, setelah 32 tahun Negara ini dikendalikan oleh Presiden Soeharto, pada Mei 1998 itulah, akhirnya rezim tersebut tumbang.
Sosok yang tak bisa dilepaskan dari peristiwa ini, bahkan disebut sebagai Bapak Reformasi Indonesia adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1995-2000, Prof. Dr. H.M. Amien Rais, MA. Amien Rais, bersama Gus Dur, Megawati, dan tokoh-tokoh bangsa lainnya, menjadi penghembus semangat reformasi.
Semangat reformasi bermula ketika Amien Rais dengan berani mengungkap borok yang ada pada sistem pengelolaan PT. Freeport Indonesia. Dengan lantang Amien menyuarakan ketidakadilan yang terjadi dalam masalah kontrak eksplorasi pertam-bangan di Freeport dan Busang.
Setelah misi reformasi itu berhasil, Amien Rais “mengabdikan” dirinya pada bangsa melalui jalur politik, sebagai bentuk tanggung jawabnya atas reformasi yang didorongnya.
Amien pernah dijuluki sebagai King Maker oleh sebuah majalah. Julukan tersebut disematkan kepadanya lantaran perannya yang begitu besar kentara dalam menen-tukan jabatan Presiden pada Sidang Umum MPR tahun 1999 dan juga pada saat Sidang Istimewa tahun 2001 digelar.

17.  Memiliki Lembaga Pendidikan Swasta Terbanyak di Indonesia

Jika ditanya mengenai apa sumbangsih riil Muhammadiyah pada bangsa dan Negara ini. Tidak sulit untuk menjawabnya. Di bidang pendidikan contohnya, merintis pendidikan Islam modern pada tahun 1912, Muhammadiyah terus berkembang. Tidak hanya di Jawa saja, bahkan hingga ke seluruh pelosok tanah air. Perlahan tapi pasti, di masing-masing daerah didirikan Sekolah.
Didalam buku Profil Satu Abad Muhammadiyah terbitan Majelis Pustaka dan Infor-masi Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2010), dipaparkan bahwa Persyarikatan ini saat ini memiliki sekitar 1176 Sekolah Dasar, 1428 Madrasah Ibtidaiyah, 1188 Se-kolah Menengah Pertama, 534 Madrasah Tsanawiyah, 515 Sekolah Menengah Atas, 278 Sekolah Menengah Kejuruan, 172 Madrasah Aliyah, 67 Pondok Pesantren, dan 161 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah, 461 Rumah Sakit, BKIA, dan Bal-ai Pengobatan, serta 312 Panti Asuhan Yatim/Piatu yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara, dari Sabang hingga Merauke.
Banyaknya amal usaha milik Muhammadiyah maupun Aisyiyah tersebut adalah bukti nyata pengabdian Persyarikatan ini kepada Bangsa dan Negara Indonesia. Di tingkat perguruan tinggi, bahkan jika dibandingkan dengan Perguruan Tinggi Negeri pun, Perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) tidak kalah banyak. Jumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia mencapai 204 perguruan tinggi (15 akademi, 48 politeknik, 19 institut, 68 sekolah tinggi, 54 universitas), sementara itu, perguru-an tinggi Muhammadiyah berjumlah 161 di seluruh Indonesia (akademi, politeknik, institut, sekolah tinggi, universitas). Ini adalah potensi besar yang dimiliki Muhammadiyah untuk terus ikut berkiprah membangun bangsa ini.

18.  Pemberdayaan Petani dan Masyarakat Miskin oleh MPM

Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) baru dibentuk berdasarkan keputusan Muktamar Muhammadiyah tahun 2005 di Malang Jawa Timur. Pembentukan itu didasari kenyataan bahwa kaum miskin di Indonesia setelah 11 tahun reformasi (1998) belum mengalami perbaikan yang berarti. Masih banyak kita jumpai petani, peternak dan nelayan semakin sengsara hidupnya. Kemiskinan itu bukan disebabkan oleh individual atau kultural semata, melainkan ada sebab-sebab struktural seperti adanya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada mereka, misalnya impor se-gala macam barang yang juga diproduksi oleh petani. Kebijakan perdagangan yang membebankan pajak yang merugikan petani, dan sebagainya.
Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah sebenarnya sudah merintis usaha pember-dayaan masyarakat dengan adanya bagian Penolong Kesengsaraan Umum. Kini, ketika kondisi kehidupan rakyat miskin tidak mendapat pembelaan, Muhammadi-yah mulai merintis upaya mengembalikan lagi vitalitas awal untuk menolong rakyat miskin. Pada Muktamar tahun 2000 dibentuk Lembaga Buruh, Petani dan Nelayan.
Dan pada Muktamar 2005 di Malang upaya ini lebih sempurnakan lagi dengan dibentuknya Majelis Pemberdayaan Masyarakat. Lima tahun pertama sejak pembentukannya (2005-2010) sudah ada 70 kabupaten yang dimasuki oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat. Sekitar 40 kabupaten antara lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Maluku, Sulawesi Selatan, Bengkulu, Sumatera Barat, program-program MPM bisa efektif berjalan baik.
MPM melaksanakan program pemberdayaan kepada petani, pendampingan terha-dap kelompok-kelompok usaha mikro, dan pemberdayaan masyarakat miskin. Pemberdayaan kepada petani diantaranya dilakukan dengan cara pembinaan tata cara tanam menggunakan pupuk organik, pelatihan dan penyediaan fasilitator pember-dayaan serta penyadaran fungsi penting pupuk organik. Pembinaan petani dengan format dakwah jamaah telah dilakukan MPM di beberapa Pimpinan Daerah Muham-madiyah (Jawa Barat, Jawa tengah, Jawa Timur), misalnya proyek percontohan MPM di Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Bandung. Panen perdana padi organik di beberapa tempat Garut, Bandung, Kuningan, Cirebon, Cilacap, Madiun, Banten dan lain-lain.
Selain pemberdayaan petani, MPM melakukan pendampingan terhadap kelompok usaha mikro, misalnya di Berbah Sleman, kelompok perempuan petani kakao di Kulonprogo, kelompok petani di Tasikmalaya, Kebumen, Cilacap serta kelompok in-dustri rumah tanggal di Gunungkidul.
Untuk pendampingan terhadap kelompok miskin kota, MPM membuat pilot project pemberdayaan terhadap pengemudi becak di sepanjang jalan KHA Dahlan Yogyakarta, lokasi kantor MPM.
Pada saat panen raya di Ngipikrejo Kalibawang Kulonprogo, 13 Juni 2010, anggota kelompok tani Ngudi Rejeki yang menjadi binaan MPM Muhammadiyah, Ngatirin, mengatakan bahwa penanaman padi dengan varietas padi Ciherang mengalami peningkatan signifikan. Penanaman padi dengan menggunakan pupuk organik zat perangsang tumbuh atau solid dengan cara pemupukan tepat waktu dan tepat jenis serta tepat ukuran, menghasilkan produksi panen yang lebih baik daripada panen sebelumnya.
“Jumlah produksi padi semula 6-7 kwintal/1000 meter persegi menjadi 9,8 kwin-tal/1000 meter persegi setelah mendapat binaan dari MPM Muhammadiyah,” kata Ngatirin. “Hasil ubinan 2,5 x 2,5 meter didapat hasil padi sebanyak 6,8 kg. Maka, dengan luas sawah 2.200 meter persegi, hasil panen saya produksinya mencapai 2.133 kg. Sebelum menggunakan solid (pupuk organik), produksi padi hanya men-capai 1.885 kg,” papar Ngatirin.
Di Palopo Sulawesi Selatan ratusan petani binaan MPM PWM Sulawesi Selatan, pada 18 April 2012, mengadakan panen padi sawah organik seluas 3 hektar di Desa Kaluku Pitu, Kecamatan Cendana, Palopo. Panen padi sawah organik ramah ling-kungan merupakan suatu wujud kepedulian petani binaan Muhammadiyah dalam menghindari bahaya dampak negatif proses pertanian menggunakan pupuk kimia dan urea. Pertanian semacam inilah yang dikembangkan oleh MPM bersama jarin-gan MPM di seluruh Indonesia.

19.  Jenjang Perkaderan yang Sistematis dan Berkesinambungan

Muhammadiyah merupakan organisasi dengan jaringan pengkaderan yang jelas dan tertata rapi. Dimulai sejak bangku sekolah, pada kader Muhammadiyah dididik melalui wadah organisasi otonom Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Selain itu, mereka juga dididik dan berlatih ilmu bela diri melalui Tapak Suci Putera Muhammadiyah, dan ilmu kepanduannya di Gerakan kepanduan Hizbul Wathan.
Beranjak ke usia mahasiswa, para kader memiliki wadah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) untuk menempa dirinya menjadi kader yang militan. Lepas dari usia mahasiswa, bagi para pemuda sudah dinanti Pemuda Muhammadi-yah, sementara yang pemudinya dapat langsung berkiprah di Nasyiatul Aisyiyah. Hingga akhirnya, beranjak usia dewasa, mereka kelak akan menjadi penerus dan pelangsung gerak langkah Muhammadiyah dan Aisyiyah.

20.  Kawasan Tanpa Rokok di seluruh fasilitas dan forum Muhammadiyah

Bertempat di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jl. Menteng Raya 62 Jakarta Pusat, pada tanggal 14 November 2011, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menye-lenggarakan Launching Nasional “Kawasan Tanpa Rokok” (KTR) di seluruh lingkun-gan amal usaha, fasilitas dan forum Muhammadiyah.
Menurut Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni, dengan launching ini maka secara resmi dideklarasikan bahwa semua kantor Muhammadiyah, amal usaha, serta forum-forum resmi Muhammadiyah adalah “Kawasan Tanpa Rokok“ dan dinyatakan bebas dari asap rokok. Hal ini sejalan dengan UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan bahwa pembangunan kesehatan harus ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat masyarakat yang setinggi-ting-ginya sebagai investasi bagi pembangunan sumberdaya masyarakat, salah satunya disebutkan di pasal 115 tentang penerapan Kawasan Tanpa Rokok.
Namun pada sisi lain Syafiq juga menegaskan, bahwa launching ini tidak dimaksudkan pelarangan merokok atau budidaya tanaman tembakau. “Yang diharapkan oleh Muhammadiyah adalah, bahwa para perokok hendaknya merokok secara “baik dan benar”, dan tidak dilakukan seperti di lingkungan fasilitas umum, angkutan umum, lembaga pendidikan, rumah ibadah dan sebagainya sebagaimana diatur oleh UU Kesehatan,”

21.  Tidak berpolitik praktis, berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam yang beramal dalam segala bidang kehidupan masyarakat. Tidak mempunyai afiliasi dengan partai politik manapun dan memberikan hak seluas-luasnya kepada anggotanya untuk masuk ke partai politik manapun.
Muhammadiyah meyakini bahwa politik dalam kehidupan bangsa dan negara mer-upakan salah satu aspek dari ajaran Islam dalam urusan keduniawian (al-umur ad-dunyawiyat) yang harus selalu dimotivasi, dijiwai, dan dibingkai oleh nilai-nilai luhur agama dan moral yang utama.
Muhammadiyah senantiasa memainkan peranan politiknya sebagai wujud dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar dengan jalan mempengaruhi proses dan kebijakan negara agar tetap berjalan sesuai dengan konstitusi dan cita-cita luhur bangsa.
Muhammadiyah tidak berafiliasi dan tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan kekuatan-kekuatan politik atau organisasi manapun. Muhammadiyah senantiasa mengembangkan sikap positif dalam memandang perjuangan politik dan menjalankan fungsi kritik sesuai dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar demi tegaknya sistem politik kenegaraan yang demokratis dan berkeadaban.
Muhammadiyah memberikan kebebasan kepada setiap anggota Persyarikatan untuk menggunakan hak pilihnya dalam kehidupan politik sesuai hati nurani masing-masing. Penggunaan hak pilih tersebut harus merupakan tanggung jawab sebagai warga negara yang dilaksanakan secara rasional dan kritis, sejalan dengan misi dan kepentingan Muhammadiyah, demi kemaslahatan bangsa dan negara.
Bagi anggota Muhammadiyah yang aktif dalam politik diminta untuk benar-benar melaksanakan tugas dan kegiatan politik secara sungguh-sungguh dengan mengedepankan tanggung jawab (amanah), akhlak mulia (akhlak al-karimah), ket-eladanan (uswah hasanah), dan perdamaian (ishlah).

22.  Muhammadiyah Disaster Management Center

Lembaga Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah (Muhammadiyah Disaster Management Center – MDMC) dirintis tahun 2007. MDMC bergerak dalam kegiatan penanggulangan bencana sesuai dengan definisi kegiatan penanggulangan ben-cana baik pada kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan, tanggap darurat dan juga Re-habilitasi. MDMC mengadopsi kode etik kerelawanan kemanusiaan dan piagam ke-manusiaan yang berlaku secara internasional, mengembangkan misi pengurangan risiko bencana selaras dengan Hygo Framework for Action dan mengembangkan basis kesiapsiagaan di tingkat komunitas, sekolah dan rumah sakit sebagai basis gerakan Muhammadiyah.
MDMC bergerak dalam kegiatan kebencanaan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia, sesuai wilayah badan hukum Persyarikatan Muhammadiyah yang dalam operasionalnya mengembangkan MDMC di tingkat Pimpinan Wilayah Muhammadi-yah (propinsi) dan MDMC di tingkat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (kabupaten).

23.  LAZISMU

Lembaga Amil Zakat Infak dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU) adalah lemba-ga nirlaba nasional yang berhidmat dalam pemberdayaan masyarakat melalui pen-dayagunaan secara produktif atas dana zakat, infak, wakaf, sedekah dan dana kedermawanan lainnya baik dari perorangan. Lembaga, perusahaan dan instansi lainnya.
LAZISMU didirikan mengingat dua hal: pertama, fakta Indonesia yang berselimut kemiskinan, kebodohan dan indeks pembangunan manusia (Human Development Index) yang rendah yang semuanya itu disebabkan dan berakibat tatanan keadilan sosial yang lemah. Kedua, zakat, infak, sedekah dan kedermawanan lainnya diyakini mampu mendorong keadilan sosial, pembangunan manusia dan mengentaskan kemiskinan.
Deklarasi pembentukan LAZISMU ditandatangani oleh Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Ahmad Syafi’i Ma’arif dan selanjutnya dikukuhkan oleh Menteri Agama RI sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional melalui Surat Keputusan nomor 457/21 November 2002.
Berdirinya LAZISMU dimaksudkan sebagai institusi pengelola zakat dengan manajemen modern yang dapat menghantarkan zakat menjadi bagian dari penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan.
LAZISMU melaksanakan kerja-kerjanya yang dikemas dalam gerakan Pantang Me-nyerah Indonesia. Dengan tema Spirit Zakat untuk Kebangkitan Bangsa, beberapa program yang dilakukan, antara lain adalah:
YES INDONESIA(Youth Entrepreneurship); gerakan pemberdayaan generasi muda dengan cara menggugah kesadaran, serta mengembangkan pengetahuan dan skill dalam rangka membangun kemandirian generasi muda.GERAK INDONESIA (Gerakan Pemberdayaan Ekonomi); gerakan pemberdayaan ekonomi melalui pengembangan lembaga keuangan mikro berwatak sosial (social microfinance) dan pemberdayaan usaha kecil.
GAPURA INDONESIA(Gerakan Perempuan Berdaya); gerakan untuk kemandirian perempuan melalui pengembangan ekonomi berbasis keluarga serta edukasi dan advokasi hak-hak perempuan.
TANI BANGKIT;gerakan pemberdayaan untuk membangun kemandirian petani melalui strategi community development, pengembangan pertanian ramah ling-kungan (pertanian organik) dan pertanian terintegrasi (memadukan kegiatan per-tanian dan peternakan).
SAVE OUR SCHOOLS;gerakan penyelamatan sekolah-sekolah pinggiran menjadi sekolah unggulan melalaui pengembangan pendidikan yang terintegrasi, meliputi pengembangan sarana-prasarana, peningkatan sistem, peningkatan sumberdaya pengajar serta subsidi beastudi.
SAVE NEXT GENERATION; gerakan penyelamatan masa depan pendidikan bagi anak bangsa melalui pemberian beasiswa sarjana dan beastudi bagi pelajar melalui model pengasuhan (beasiswa orang tua asuh).
INDONESIA SEHAT; gerakan untuk pemerataan hak dasar kesehatan bagi masyarakat melalui pelaksanaan program layanan kesehatan keliling bagi masyarakat kurang mampu, bantuan pengobatan rawat jalan serta penyebaran gizi dan nutrisi bagi masyarakat.
SIAGA INDONESIA; adalah aksi cepat kemanusiaan untuk memberikan pertolongan terhadap korban bencana alam melalui aktivitas kesiap-siagaan, tanggap daru-rat, rehabilitasi dan rekonstruksi.
SYIAR INDONESIA; gerakan siar agama untuk membina umat di kawasan pinggiran, pedalaman dan perkotaan melalui pengiriman Da’i Mandiri dan pembentukan jamaah pengajian Komunitas Hati.
QURBAN UNTUK NEGERI; program qurban dalam bentuk layanan ibadah qurban dan distribusinya kepada masyarakat di seluruh pelosok negeri secara cepat dan tepat, adil dan merata.

24.  Pelopor penerbitan media muslim

Dalam Statuten (Anggaran Dasar) Muhammadiyah 1912 (Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 22 Agustus 1914), salah satu misi persyarikatan in disebut-kan : “...menerbitkan serta membantu terbitnya kitab-kitab, kitab sebaran, kitab khutbah, surat kabar, semuanya yang muat perkara ilmu agama Islam, ilmu ketertiban cara Islam.”
Setahun setelah keluar besluit (surat keputusan) tahun 1914, Muhammadiyah mulai mengawali penerbitan surat kabar. Diantara penerbitan Muhammadiyah pada masa awal tersebut adalah Soewara Moehammadijah, Bintang Islam dan Soeara Aisjijah.

Soewara Moehammadijah

Majalah bulanan ini terbit sejak 1915. Pada nomor edisi ke-2 bulan pertama 1915 (1333 H) terbit menggunakan bahasa dan huruf Jawa dengan tipografi yang masih sederhana. Secara umum, materi majalah adalah tentang agama dan dakwah Islam.
Pemimpin redaksi pertama Suara Muhammadiyah adalah Haji Fachrodin, dengan jajaran redaksi: H. Ahmad Dahlan, H.M. Hisyam, R.H. Djalil, M. Siradj, Soemodirdjo, Djojosugito dan R.H. Hadjid. Pengelola administrasi: H.M. Ma’roef dibantu Achsan B. Wadana. Alamat redaksi dan tata usaha di Jagang Barat, Kauman, Yogyakarta. Terbi-tan tahun pertama ini dicetak di Percetakan Pakualaman.

Bintang Islam

Majalah dwi mingguan ini adalah metamorfosa dari Tjahja Islam yang terbit di Solo. Terbit pertama kali pada Januari 1923 di Yogyakarta menggunakan bahasa Melayu. Majalah ini memuat informasi kemajuan agama Islam di tanah air, berita umat Islam di Eropa dan menyajikan kisah-kisah kepahlawanan dalam Islam. Tiras Bintang Is-lam mencapai 1500 eksemplar. Jaringan pemasaran mencapai luar negeri. Selain di tanah Jawa, majalah ini tersebar di Penang, Singapura, Perak dan Johor. Pemimpin redaksi pertama: M.A. Hamid. Jajaran redaksi: H.M. Sudjak, M. Soemodirdjo, dan M. Mochtar Boechari. Administrasi: Harsoloemekso. Pada tahun 1925, Mohammad Hat-ta dari Amsterdam membantu redaksi Bintang Islam sebagai koresponden. Majalah Bintang Islam berhenti terbit pada tahun 1931.

Soeara Aisjijah

Majalah bulanan ini mulanya adalah lembaran khusus wanita Islam di Soeara Moehammadijah yang terbit sejak awal 1925. Pada Oktober 1926 terbit nomor perdana Soeara Aisjijah yang terpisah dari Soeara Moehammadijah. Pertama kali terbit, Soeara Aisjijah masih menggunakan bahasa Latin Jawa dengan moto “Madjalah boelanan kawekdalaken deneng Moehammadijah Djokjakarta.” Tiras 1000 eksem-plar. Para pengelola Soeara Aisjijah yang pertama: Siti Djoehainah (pimpinan redak-si), Siti Aminah, Siti Wakirah, Siti Hajinah, Siti Wardijah, Siti Barijah (redaksi). Alamat redaksi majalah ini yang pertama kali di Suronatan.
Selain ketiga media tersebut, sebelum tahun 1930 Muhammadiyah juga menerbit-kan media-media yaitu: Muhammadi (majalah bulanan, terbit di Batavia/Jakarta), Papadanging (majalah bulanan, terbit di Solo), dan Suryo (majalah bulanan, terbit di Yogyakarta).
Di Surabaya, K.H. Mas Mansur yang waktu itu masih memimpin Muhammadiyah di Jawa Timur, menerbitkan media komunikasi antara lain Le Jinem (1920), Suara Sant-ri (1921), serta Journal Etude dan Proprietair. Nama-nama majalah tersebut, selain Suara Santri, seolah-olah berbahasa Perancis. Padahal majalah tersebut berbahasa Jawa dan ditulis menggunakan huruf arab melayu (pegon). Pengaruh bahasa Peran-cis ini barangkali dibawa oleh K.H. Mas Mansur dari Mesir, dimana bahasa Perancis juga digunakan di Mesir karena merupakan jajahan Perancis.

25.  Website Resmi Muhammadiyah dengan 550 Sub Domain

Sebagai respon atas perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat revolusioner khususnya pada dua dekade terakhir, Majelis Pustaka dan Informa-si PP Muhammadiyah telah membangun dan meluncurkan website resmi Muhammadiyah yang dapat dimanfaatkan oleh para pengguna internet di seluruh dunia untuk mengakses informasi tentang Muhammadiyah. Website yang dibangun ini menyediakan tidak kurang dari 550 buah sub domain yang dialokasikan sebagai media informasi online bagi Majelis/Badan/Lembaga /Biro/Ortom tingkat Pusat, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah seluruh Indonesia, termasuk 13 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di luar negeri.
Website atau situs (sites) merupakan kumpulan halaman digital yang menampilkan informasi data, teks, gambar, data animasi, suara, video dan gabungan semuanya baik yang besifat statis maupun dinamis, yang membentuk suatu rangkaian bangunan informasi yang saling terkait dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink).
Website resmi persyarikatan Muhammadiyah memiliki alamat akses: www.muhammadiyah.or.id. Selain nama domain www.muhammadiyah.or.id yang menyajikan informasi yang dikelola oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, website Muhammadi-yah ini juga menyajikan informasi dari sub domain yang menyajikan informasi yang dikelola oleh Majelis/Badan/Lembaga/Biro/Ortom tingkat Pusat, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah seluruh Indonesia, termas-uk Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah. Sebagai contoh, untuk mengakses informasi tentang Majelis Tabligh dapat diakses dari alamat: tabligh.muhammadi-yah.or.id. Informasi Muhammadiyah wilayah Riau dapat diakses dari alamat: riau.muhammadiyah.or.id. Informasi tentang Muhammadiyah daerah malang dapat diakses dari alamat: malang.muhammadiyah.or.id. Informasi tentang Aisyiyah dapat diakses dari aisyiyah.or.id. Informasi tentang PCIM Malaysia dapat diakses dari: malaysia.muhammadiyah.or.id. dan seterusnya. Informasi lengkap tentang sub do-main website Muhammadiyah ini dapat diunduh dari http://www.muhammadiyah.or.id/content-173-det-sitemap.html atau dengan melakukan searching dengan kata kunci: daftar sub domain website muhammadiyah.
Website persyarikatan Muhammadiyah dengan sub domain raksasa ini dapat terselenggara atas kerjasama MPI PP Muhammadiyah dengan Lembaga Infokom Universitas Muhammadiyah Malang dan Biro Sistem Informasi dan Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Disalin dari buku Muhammadiyah 100 Tahun Menyinari Negeri yang diterbutkan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, 2013.