Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Keputusan MUI tentang Istihalah

30 Jul 2015

Pada tanggal 19 – 22 Sya’ban 1436 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 7 – 10 Juni 2015 Masehi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia yang diadakan di Pondok Pesanren At Tauhidiyah, Cikura, Tegal, Jawa Tengah.
Ijtima ini menghasilkan banyak keputusan penting, salah satunya tentang istihalah, sebagaimana tersebut di bawah ini.

Deskripsi Masalah

Saat ini teknologi pangan sudah berkembang sedemikan maju, sehingga sebuah makanan bisa terbuat dari berbagai bahan yang sangat banyak, yang oleh orang awam sulit untuk ditelusuri. Namun dengan  bantuan teknologi, bahan-bahan yang banyak tersebut memungkinkan untuk dilacak dan diketahui asal-usulnya.
Informasi tentang asal-usul bahan dan proses produksi tersebut sangat membantu dalam penetapan status hukum makanan tersebut, apakah halal atau tidak.Perubahan bahan baku menjadi makanan yang siap saji, yang melewati proses demikian rumit, menjadi tantangan tersendiri dalam menetapkan status hukumnya. Karena itu, para ulama mencurahkan pikirannya untuk merumuskan kaidah yang dapat lebih sederhana dalam menetapkan status hukum suatu makanan. Di antara kaidah yang dipandang memberikan alternative adalah tentang istihalah.
Istihalah  yang berarti perubahan merupakan kata yang digunakan dalam pembahasan fiqh mengenai bebagai hal termasuk perubahan benda  najis  atau mutanajjis. Perubahan itu karena berbagai sebab dan mengakibatkan perubahan dengan berbagai bentuknya. Perubahan benda tersebut tentu berdampak pada hukum yang berbeda. Pada sisi lain terjadi perbedaan identifikasi terhadap bermacam perubahan yang  diakibatkannya. Sehingga, pembahasan masalah ini sampai sekarang selalu menimbulkan beragam pendapat.
Pembahasan  istihalah  dengan berbagai sebab dan ragamnya itu kiranya dipandang semakin penting dilakukan, terutama karena semakin banyak beredar berbagai jenis makanan, minuman, obat dan lainnya yang disinyair sengaja dicampur dengan bahan najis, seperti enzim babi dan lainnya. Ternyata persoalan ini tidak sederhana karena tidak cukup hanya berdasar pada dugaan semata, tetapi diperlukan tahqiq (verifikasi) dengan menggunakan peralatan yang akurat oleh tenaga ahli.
Masalah istihalah ini terus menjadi perbincangan di antara lembaga penerbit sertifikat halal dunia. MUI sebagai salah satu lembaga sertifikat halal yang banyak diikuti pendapatnya oleh lembaga serupa di berbagai Negara telah mempunyai prinsip-prinsip tentang istihalah. Namun prinsip-prinsip tersebut belum formal menjadi sebuah keputusan resmi berbentuk fatwa. Ijtima’ ulama diharapkan dapat merumuskan tentang istihalah, yang nantinya bisa menjadi keputusan resmi MUI.

Pertanyaan/Rumusan Masalah

1.  Apakah istihalah bisa mengubah bahan najis menjadi suci?
2.  Bagaimana pendapat MUI tentang hal itu?
3.  Bagimana hukum istihalah?
4.  Apakah perubahan dari kolagen menjadi gelatin termasuk istihalah?

Ketentuan Umum

Istihalah  adalah perubahan material dan sifat-sifat suatu benda menjadi benda lain. Yang dimaksud perubahan material meliputi unsur-unsurnya. Sedangkan perubahan sifat meliputi warna, bau dan rasa.

Ketentuan Hukum

1.  Proses istihalah  tidak mengubah bahan najis  menjadi suci, kecuali berubah dengan sendirinya (istihalah binafsiha) dan bukan berasal dari  najis ‘aini. Dalam hal khamr menjadi cuka, baik berubah dengan sendirinya atau direkayasa hukumnya suci.
2.  Setiap  pengolahan bahan halal yang diproses dengan media  pertumbuhan yang najis atau bernajis, maka bahan tersebut hukumnya  mutanajjis  yang harus dilakukan pensucian (tathhir syar’an).
3.  Setiap  bahan yang terbuat dari babi atau turunanya haram dimanfaatkan untuk membuat makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika dan barang gunaan, baik digunakan sebagai bahan baku, bahan tambahan maupun bahan penolong.

Adapun dalil dan keputusan lengkap silahkan klik di sini.