Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Rekonstruksi Rasionalitas Keilmuan

22 Jun 2015

Di awal-awal kemodernan, sains adalah pengetahuan yang dianggap sangat meyakinkan. Dasarnya adalah ketepatan alur rasional yang sistematis dan metodis, yang diprakarsai oleh filsuf Descartes, serta kepastian pembuktian melalui data empiris, yang dipelopori oleh John Locke, Hume, Berkeley dan Bacon. Perpaduan pola deduktif rasionalistis dan induktif empiristik ini memang telah mengakibatkan sains berkembang pesat pada periode Aufklärung sehingga klimaksnya adalah lahirnya etos kemodernan abad 19 yang teramat optimis terhadap kemajuan peradaban produk sains dan teknologi. Kita ingat misalnya Auguste Comte yang di abad itu begitu yakin bahwa peradaban manusia akan memuncak pada cara berpikir ilmiah-positif serta meninggalkan cara teologis dan metafisik. Keyakinan macam ini lantas perlahan-lahan menjadi sejenis ideologi, yang biasa disebut “Scientism”.


Namun, abad 20 menyaksikan perkembangan yang ternyata tak seindah yang dibayangkan. Sejak munculnya teori Relativitas, teori Ketidaktentuan dan Mekanika Kuantum, sains dipaksa mempertanyakan keyakinan-keyakinan awalnya. Dahulu diyakini bahwa temuan-temuan sains adalah cermin objektif murni realitas alam, satu banding satu, karenanya disebut ‘hukum alam’. Kini keyakinan itu cenderung dianggap sebagai ‘realisme naif’. Sejak kemunculan teori-teori di atas, para ilmuwan meneliti kerangka-kerangka berpikir yang dipakainya, lantas menemukan berbagai sisi relatif yang tak terelakkan dari segala klaimnya. Dan yang mempersoalkan hal itu kebanyakan adalah para ilmuwan sendiri, orang-dalam. Alhasil, status fundamental sains sebagai jenis pengetahuan yang ‘rasional’ dan ‘objektif murni dipersoalkan.

Penelitian ini hendak mereview kembali berbagai kritik yang telah dilancarkan oleh para filsuf-ilmu terhadap sains, dan dengan itu mencoba menalarkan kembali apa yang dimaksud bila sains itu dianggap kegiatan yang ‘rasional’ dan di mana watak khas keilmuan bila dibandingkan dengan jenis pengetahuan lain yang non-ilmiah.

I. Kritik Mendasar Abad 20 atas Sains

Sains telah berkembang dengan dukungan kuat tradisi Positivisme Logis dan Empirisme Logis. Lama diyakini bahwa demi ketepatan dan kepastian hasil observasi, sains membutuhkan kesatuan bahasa yang lugas, yakni bahasa faktual, dan metode yang netral, yakni observasi induktif. Namun keyakinan itu mulai goyah sejak Karl Popper tampil menyatakan bahwa dalam kenyataannya induksi adalah mitos belaka. Orang bisa mengambil kesimpulan bahkan dari satu observasi saja lalu membuat prediksi dengan tes dan obervasi ulangan seolah itu prosedur induktif. Dan, seperti juga diamati Max Born, sukses hasil penelitian itu akhirnya juga lebih banyak ditentukan oleh argumentasi kritis yang bersifat deduktif, bukan dari observasi induktif. Bagi Popper ‘induksi’ hanyalah mitos yang biasa digunakan untuk memisahkan jenis pengetahuan ‘ilmiah’ dari yang ‘non-ilmiah’. Semacam garis pembatas atau demarkasi, yang kini sebenarnya juga tidak tepat.

Berkaitan dengan observasi itu, biasanya ditegaskan pula sentralitas prinsip ‘verifikasi’, artinya segala pernyataan wajib dikonfirmasi oleh fakta empirik. Prinsip ini bagi Popper juga problematis, sebab dalam kenyataannya setiap teori berkecenderungan membenarkan dirinya (justification, bukan verification) sehingga yang akan dilihat hanyalah segala fakta yang sesuai dan mendukungnya saja. Fakta yang menentang akan diabaikan. Alhasil yang didapat akhirnya bukanlah kebenaran, melainkan ‘pembenaran’ diri. Itu sebabnya Popper mengusulkan, bahwa yang diperlukan seharusnya adalah ‘falsifikasi’, yakni bagaimana suatu teori betul-betul dites dengan dihadapkan pada fakta yang menentangnya. Bila tak tergoyahkan, barulah ia dapat dipercaya. Dan agar dapat difalsifikasi itu, perlulah pernyataan-pernyataan tersebut cukup spesifik, tak boleh terlalu umum atau bahkan tautologis (macam Marxisme, teori Freud atau Adler, misalnya, yang menurut Popper tak bisa dites, terlalu umum). Jadi, menurut Popper, yang seharusnya menandai watak pengetahuan sebagai sains adalah kemampuannya untuk difalsifikasi dan keberaniannya membuat prediksi yang berresiko (misalnya bahwa “akan terjadi begini begitu, dan tak mungkin terjadi selain itu”). Semakin spesifik pernyataan-pernyataannya, semakin dapat dites, maka semakin kuatlah watak keilmiahannya.

Kritik ini dipertajam oleh Paul Feyerabend, yang mendeteksi bahwa dalam setiap observasi digunakan bahasa dengan peristilahan tertentu, yang diam-diam bermuatan ontologi metafisik tertentu pula. Persisnya, di balik observasi ilmiah terdapatlah ontologi metafisik Positivisme, yang sebagai kerangka metafisik tak akan bisa difalsifikasi dan tak bisa dites, sebab terlalu abstrak, tidak spesifik. Maka metafisika ‘Positivisme’ dengan sendirinya memang berstatus ‘mitos’ belaka, bahkan semacam ‘dogma’ saja (Feyerabend 1981a, p 21.; Companion, hlm 147).

Feyerabend meradikalisasi ‘prinsip testabilitas’ atau falsifikasi dari Popper dengan menyarankan bahwa agar teori-teori dapat lebih teruji, bahkan tergugat, diperlukan banyak teori alternatif yang justru berbeda untuk menantang teori yang ada. Artinya pernyataan-pernyataan dari suatu teori yang hendak dites harus dibenturkan pada pernyataan dari teori lainnya. Hanya bila demikian maka teori-teori ilmiah dapat lebih keras saling menggugat dan digugat. Maka akhirnya yang mesti berlaku adalah prinsip: anything goes, alias pluralisme teoretis. Ini penting agar dunia pengetahuan berkembang subur. Di kemudian hari Feyerabend bahkan semakin masuk ke wilayah relativisme ketika bukunya “Against Method” menyatakan bahwa yang menentukan perubahan dan perkembangan dalam sejarah sains bukanlah kekuatan argumen empirik benar, melainkan faktor sosial, kriteria estetik, dan kecerdikan pribadi. Lagi pula beragam bentuk pengetahuan yang ada nyatanya tak selalu bisa diukur berdasarkan standar yang tunggal dan seragam (incommensurable ), hingga akhirnya sebetulnya pengujian antar teori adalah sesuatu yang tak mungkin. Alhasil tak akan pernah ada alasan kuat untuk menganggap sains sebagai jenis pengetahuan paling superior.

Dalam karya lainnya kian jelas bahwa Feyerabend memang bermaksud mengkritik posisi sains dalam masyarakat Barat. Hasil-hasil yang dilahirkan oleh sains, katanya, sebetulnya bergantung juga pada pengetahuan-pengetahuan lain yang non-ilmiah dari tradisi lain, sementara tradisi-tradisi itu sendiri tak pernah diberi kesempatan yang sama untuk berkembang. Astronomi sesungguhnya berhutang budi pada tradisi Astrologi, seperti halnya Kimia berhutang budi pada tradisi Alkemi. Mekanika dan Optika awalnya banyak dibantu para tukang artisan. Kedokteran banyak dibantu perdukunan dan tradisi jejamuan. Namun sains berkembang menjadi ideologis dan menafikan segala bentuk pengetahuan lainnya itu. Sains, katanya, sebenarnya hanyalah salah satu bentuk pemikiran yang dikembangkan manusia, di antara banyak bentuk pemikiran lainnya yang sama canggihnya. Anggapan superior sains yang berlebihan akan menjadi ancaman bagi demokrasi. Dalam suatu masyarakat yang bebas, semua tradisi perlu mendapat peluang, hak dan akses yang sama terhadap kekuasaan. Kalau di awal abad modern telah terjadi pemisahan antara Gereja dan Negara, maka sekarang diperlukan juga pemisahan antara negara dan sains. Sains harus dikontrol secara demokratis. Di awal abad modern, sains sebenarnya membantu manusia terbebas dari kediktatoran agama, namun bersamaan dengan berkembangnya modernitas, ternyata sains menjadi semacam diktator tersendiri. Dalam masyarakat modern, sains menjadi sejenis indoktrinasi yang disebarkan dan ditanamkan secara sistematik lewat kurikulum persekolahan, yang senantiasa mengkritik alternatif lain sambil membuat dirinya sendiri immune terhadap kritik. Dalam sistem macam itu dicanangkan bahwa ‘kebenaran’ adalah nilai terpenting untuk dikejar. Bagi Feyerabend itu tidak tepat, ada banyak nilai lain yang juga layak dikejar dan tak kalah pentingnya, yakni: kebebasan, kebahagiaan, keadilan, kemandirian, dsb.

Dunia ilmu membentengi dirinya dengan metodologisme yang memberi kesan canggih dan konon telah melahirkan banyak hasil konkrit yang tak tersangkal. Bagi Feyerabend, dalam kenyataannya metodologi telah menjadi rumit hingga tidak jelas lagi kapan kita melakukan kesalahan. Metodologi telah menjadi sofistikasi tanpa isi. Metode umumnya diyakini sebagai jembatan antara fakta dan teori, namun bila kita teliti, hubungan antara fakta dan teori itu sebetulnya tidak jelas. Seringkali teori tidak ditarik dari fakta secara logis ketat. Kalau disebut ‘didukung’ oleh fakta, itu pun tak jelas maknanya, bagai pernyataan ‘semua gagak berwarna hitam’ didukung oleh gagak berwarna abu-abu. Bila disebut bahwa ‘teori membentuk dan menata fakta’ maka artinya apa yang ada dalam pikiran diproyeksikan ke dalam fakta, dan ini berarti objektivitas hanyalah ilusi semata. Jika dikatakan bahwa ‘teori dijustifikasi dan diukur kehebatannya dengan dibandingkan pada teori lain’, maka suatu teori dianggap sukses hanya bila ia dapat dianggap lebih komprehensif daripada teori lain itu. Tapi ini berarti teori tidak dikorelasikan pada fakta. Dan hasilnya pun sesungguhnya tidak menunjukkan bobot intrinsik teori tersebut. Apalagi ukuran untuk mem-‘falsifikasi’ ala Popper pun sebenarnya tak jelas, tidak sedemikian spesifik, sehingga nyatanya banyak teori yang mengandung kelemahan masih saja beredar, banyak teori yang revolusioner justru tak bisa difalsifikasi. Dalam kenyataan pun, teori yang buruk dapat lebih bagus dari teori lain yang ada saat itu, bila teori yang ada itu memang buruk juga (buruk: mengandung kontradiksi, bertentangan dengan kenyataan, berlaku sementara, dsb.).

Maka bagi Feyerabend adalah wajar bila dalam suatu masyarakat tak mesti ada satu saja standar umum untuk menentukan kesahihan pengetahuan dan pilihan. Biarlah standar pilihan berkembang bersama segala teori yang bersaing dan tersedia. Bahkan pilihan-pilihan yang kalah pun biarkan saja tetap beredar, sebab mereka itu tetap penting sebagai fungsi korektif dan membantu memahami isi lawannya.

Thomas Kuhn melihat sisi lain dari sains. Ia tak melihat testabilitas (seperti yang dibayangkan Popper) sebagai realistis dan penting. Menurutnya, dunia sains lebih ditandai oleh sistem ‘puzzle-solving’. Situasi umum kinerja sains biasanya tak menuntut pengetesan sedemikian revolusioner seperti yang dibayangkan Popper. Kuhn menyebut situasi umum itu sebagai periode ilmiah “normal” (periode Normal Science). Di situ, teori-teori besar umumnya dipakai begitu saja untuk menyoroti fenomena, bagai memecahkan teka-teki belaka. Kalau ternyata prediksi dan kalkulasi gagal, ilmuwan biasanya sekadar mengecek saja apakah datanya salah, observasi terdahulu kurang akurat, pengukurannya kurang tepat, atau bagian-bagian tertentu dari teori mesti dimodifikasi/dimanipulasi sedikit, atau teknik operasional beserta peralatannya harus diubah, dsb. Dan dengan mekanisme pengecekan serta modifikasi kecil-kecilan macam itu suatu tradisi teori bisa mengusulkan penggantinya sendiri, tanpa perlu proses pengetesan maupun falsifikasi. Artinya bila ternyata makin banyak anomali yang tak tertangani dengan teori besar seperti biasanya, maka dibutuhkan teori lain yang menggunakan paradigma lain. Dan baru ketika tampil teori lain dengan paradigma baru itulah momen revolusioner dalam dunia sains terjadi (semacam dari paradigma Newtonian ke Einsteinian misalnya). Perubahan komitmen para ilmuwan di sini, katanya, adalah bagaikan ‘perubahan agama’ (religious conversion). Dalam cara pandang macam ini, yang membedakan sains dan bukan sains hanyalah mekanisme “puzzle-solving” itu, alias periode “normal” itu, yang umumnya tak dimiliki oleh jenis pengetahuan tradisional. Astronomi memilikinya, namun Astrologi tidak.

Gagasan Kuhn itu sesungguhnya agak kabur, sebab dalam jenis pengetahuan macam Astrologi misalnya, mekanisme yang umumnya berlaku adalah justru yang ‘normal’ itu. Bahkan masalah dalam Astrologi adalah justru karena ‘selalu normal’ atau ‘terlalu normal’, artinya nyaris tak ada pembaharuan metodis ataupun pengayaan isi substansi informatif.

Dibandingkan dengan Popper dan Thomas Kuhn, Imre Lakatos mempunyai pandangan yang agak lebih canggih, dan sekaligus lebih realistis juga, mengenai watak khas keilmiahan. Cerita sejarah dunia ilmu yang seakan ditandai dengan suksesi paradigma oleh paradigma lainnya secara revolusioner radikal lewat falsifikasi (Popper) atau lewat Revolusi Paradigma (Kuhn), bagi Lakatos adalah cerita rekayasa belaka, produk fabrikasi jauh sesudahnya. Dalam kenyataannya, tak mungkin berjalan seperti itu. Sulit sekali membayangkan para pendukung teori tertentu berkomitmen memfalsifikasi teori yang diyakininya sendiri. Tendensi pengkhianatan-diri macam itu tak realistis dan bertentangan dengan kewajaran. Lagi pula bila urusannya hanyalah soal falsifikasi alias pembenturan atau penolakan, sebetulnya teori-teori besar umumnya juga mengalami banyak benturan penolakan, namun tetap saja berjalan dan berkembang. Pada saat Newton menerbitkan karyanya “Principia” ia tidak bisa menjelaskan gerakan bulan, bahkan dapat dikatakan gerakan bulan menolak teori yang dibuatnya. Saat Einstein menerbitkan teori relativitasnya, fisikawan Kaufmann sudah menolak teori itu dengan telak. Sedang pendakuan Kuhn ihwal perubahan paradigma yang bagai ‘perpindahan agama’, bagi Lakatos pun tak terlalu meyakinkan, sebab jika yang menentukan perubahan paradigma adalah sekadar faktor psikologis dan situasi sosiologis macam itu, maka tak jelas patokan untuk membedakan antara sains dan non-sains/pseudo-sains; juga antara kemajuan ilmiah dan pengeroposan intelektual (intellectual decay). Semuanya hanya soal perubahan kesadaran pribadi atau persekongkolan politis kelompok semata. Bukankah ini terlalu sederhana?

Bagi Lakatos, teori-teori besar macam Teori Gravitasi Newton, Teori Relativitas Einstein, Marxisme, Psikoanalisis Freud, dsb. itu tidaklah mudah untuk difalsifikasi hanya oleh fakta tertentu yang menentangnya. Para ilmuwan itu ‘berkulit tebal’, sebabnya adalah: unit pokok dari penjelasan ilmiah sebetulnya bukanlah hipotesis, bukan tindakan coba-coba (trial and error), bukan pula prakiraan dan penolakan (conjectures and refutations), melainkan sebuah “Program Riset” (Research Program), yang terdiri dari bagian ‘Inti’ (hardcore) dilapisi ‘sabuk pengaman’ (Protective Belt) dan dilengkapi dengan ‘mesin heuristik’-nya yang khas untuk mencerna segala bentuk anomali, bahkan mengubahnya menjadi evidensi. Dalam Paradigma Newtonian, misalnya, 3 hukum mekanik dan satu hukum gravitasi adalah ‘inti’ dari program riset, yang dikelilingi banyak hipotesis pembantu sebagai sabuk pengamannya, dan dilengkapi dengan rumus-rumus matematik sebagai mesin heuristikanya. Jadi, bila sebuah planet tidak bergerak sebagaimana mestinya, ilmuwan Newtonian akan mengecek kembali ketentuan-ketentuan tentang refraksi atmosferik, tentang propagasi sinar dalam badai magnetik, dsb. Bahkan ekstrimnya mungkin akan ‘menciptakan’ sebuah planet yang sesungguhnya tak ada, lantas mengkalkulasikan posisi, massa dan kecepatannya, dsb., demi menjelaskan suatu anomali.
Dalam kerangka macam itu, bagi Lakatos akhirnya tidak penting apa yang menentukan kekhasan watak keilmiahan, yang lebih penting adalah mana program riset yang cenderung ‘progresif’ dan mana yang cenderung ‘degeneratif’. Progresif adalah bila teori-teori dalam program riset itu membawa pada penemuan fakta-fakta baru yang tadinya tak diketahui. Misalnya, pada zaman Newton ada sekurang-kurangnya tiga teori tentang komet. Satu teori yang paling populer mengatakan bahwa komet adalah isyarat kemarahan Tuhan. Yang lain dari Kepler yang mengatakan bahwa komet adalah benda angkasa yang bergerak lurus. Yang ketiga adalah pandangan Newton yang mengatakan bahwa beberapa jenis komet bergerak seperti elips dan akan kembali. Fisikawan Halley menggunakan teori Newton dan meramal bahwa komet tertentu akan kembali dalam waktu 72 tahun kemudian. Ternyata benar, komet Halley memang muncul kembali setelah 72 tahun itu (tentu setelah Newton maupun Halley sendiri meninggal). Di sini program riset Newton memperlihatkan kecenderungan progresif.

Suatu program riset bersifat ‘degeneratif’ bila akhirnya hanya sibuk mencoba menjelas-jelaskan gejala-gejala yang telah terjadi (post-factum), terutama gejala-gejala yang sebetulnya anomali, seringkali dengan rekayasa pula. Bagi Lakatos, contoh program riset yang degeneratif adalah Marxisme. Dari berbagai peristiwa yang terjadi telah menjadi jelas bahwa berbagai prediksinya gagal. Revolusi kaum buruh tidak muncul di negara industri termaju; masyarakat sosialis sendiri ternyata tidak bebas dari revolusi; konflik kepentingan ternyata muncul juga di negara-negara sosialis. Penjelasan-penjelasan baru dari kaum Neo-Marxis nyatanya hanya membuat excuse atas segala kegagalan atau anomali itu dan tidak melahirkan prediksi baru yang menawan atau membukakan kenyataan.

Masalahnya adalah ukuran pragmatis yang disebut ‘kemampuan prediksi beresiko’ oleh Popper, atau pun ‘kecenderungan progresif’ menurut istilah Lakatos akhirnya bukanlah sesuatu yang unik juga. Jenis-jenis pengetahuan yang non-ilmiah pun pada kasus-kasus tertentu mampu melakukan ‘prediksi’ dan bertendensi ‘progresif’. Paul Thagard menemukan bahwa Astrologi pun sebagian prediksinya bisa tepat, misalnya bahwa ternyata memang ada korelasi antara karir dan posisi planet pada saat tanggal kelahiran tertentu. Jadi misalnya, memang ada kemungkinan keterkaitan antara profesi sebagai atlet dengan planet Mars, atau profesi sebagai ilmuwan dengan planet Saturnus. Meskipun demikian, seperti dalam kasus anak kembar yang berkepribadian berbeda atau juga dalam kasus bencana umum yang menimpa siapa pun tanpa peduli zodiak, menjadi tak jelas juga sebenarnya istilah ‘ketepatan’ prediksi atau pun ‘kebaruan’ fakta itu mesti dimengerti sebagai apa. Kriteria falsifikasi bila ditetapkan sebelumnya, dapat menjadi sewenang-wenang. Sedang bila ditetapkan sesudahnya, tak punya makna yang berarti, sehingga ‘falsifikasi’ menjadi tak lain daripada ‘kebisadigantian’ saja. Maka Paul Thagard mengusulkan bahwa kriteria untuk menentukan keilmiahan suatu pengetahuan seharusnya adalah pertama, ‘progresivitas’, dalam arti tingkat kemampuan penjelasannya lebih besar dibanding yang dicapai oleh teori-teori alternatifnya. Progresivitas ini menunjukkan keberhasilan dalam menjelaskan maupun memecahkan persoalan-persoalan yang makin kompleks dalam periode waktu yang panjang, di banding teori-teori alternatif lainnya. Konsep Thagard ini agak berbeda dari konsep Lakatos sebab pada Lakatos bandingannya adalah teori pendahulunya, sementara bagi Thagard bandingannya adalah teori-teori alternatif lain yang lebih progresif. Kedua, etos komunitas para praktisinya besar untuk mengembangkan terus-menerus teori-teorinya serta mengevaluasikan persoalan-persoalannya dalam hubungannya dengan teori-teori lain yang juga progresif. Dari kedua sisi itu, Astrologi dapat disebut sebagai ‘pseudo-ilmiah’ dalam arti: dari dulu hingga kini tingkat kemampuan penjelasannya (explanatory power) tidak memperlihatkan perkembangan yang berarti. Sementara di luar Astrologi, telah bermunculan teori-teori alternatif lain yang memberi penjelasan-penjelasan baru tentang pola kepribadian secara lebih kritis dan progresif, misalnya saja, Psikoanalisis, Behaviorisme, Gestalt, Transpersonal, dsb. Dari sisi etos kerja dan komitmen, para ahli Astrologi pun tak memperlihatkan upaya cukup signifikan untuk berdialog secara kritis dengan teori-teori psikologi di atas itu. Sama halnya dengan ilmu Sihir/Klenik, yang tidak tampak mengelaborasi secara serius ilmu-ilmu lain, seperti Fisika, Kimia, atau Biologi misalnya.

Dari pembahasan di atas menjadi jelas kini bahwa prinsip khas yang menandai kegiatan ilmiah, atau garis demarkasi yang membedakan suatu pengetahuan sebagai ‘ilmiah’ dari ‘pseudo-ilmiah’, akhirnya bukanlah prinsip ‘verifikasi’ seperti yang dahulu dibayangkan oleh Newton, Bacon atau pun Mill. Verifikasi mudah jatuh menjadi sekadar prinsip pembenaran-diri yang mengelabui dan sia-sia. Bukan prinsip ‘falsifiabilitas’/’testabilitas’/’refutabilitas’ seperti yang dibayangkan Popper, sebab sebetulnya semua teori pun selalu menghadapi anomali, dan bahkan tumbuh melaluinya. Bukan revolusi ala Kuhn, sebab nyatanya teori-teori berkembang lebih secara evolusioner melalui berbagai benturan (refutasi) dan kritik kecil-kecil, juga melalui berbagai modifikasi parsial, hingga lama kelamaan menjadi lebih matang dan ‘progresif’ membukakan kenyataan-kenyataan baru, seperti yang dibayangkan Lakatos. Namun perlu dicatat, bahwa progresivitas ini mestinya muncul melalui dialog dengan teori-teori alternatif di luarnya juga seperti yang diingatkan oleh Thagard.

Meskipun begitu, demarkasi ‘ilmiah’ dan ‘pseudo ilmiah’ sebenarnya lebih licin daripada batasan-batasan konseptual tegas macam di atas itu. Ada banyak faktor ikut mempengaruhi penilaian, termasuk keyakinan agama, kekuasaan politis atau pun kepentingan ekonomis. Suatu teori bisa dianggap ‘pseudo-ilmiah’ pada suatu masa namun menjadi ‘ilmiah’ di masa yang lainnya, atau sebaliknya. Pada zaman Renaisans, Astrologi adalah bagian dari kerja ilmiah Ptolemeus dan Kepler. Sebaliknya, tahun 1616 teori Copernicus justru dianggap ‘pseudo-ilmiah’, dan baru dianggap ‘ilmiah’ pada tahun 1820 ketika faktanya diakui. Teori Genetik Mendel tahun 1949 dianggap ‘pseudo-ilmiah’ oleh Central Committee Partai Komunis Soviet, dan pembelanya, Vavilov, dibunuh di kamp konsentrasi. Sama halnya batasan konsep tentang ‘rasional’ dan ‘irasional’, seperti halnya ‘waras’ dan ‘gila’, adalah persoalan serius, bukan ‘pseudo-problem’, sebab seringkali taruhannya nyawa. Akan tetapi betapa tak mudah membuat ketegasan demarkasi di sana.

II. Kekuatan dan Kelemahan Sains

Segala teori umumnya bukanlah pernyataan konklusif tertutup, melainkan dapat mengalami revisi dan sangat tergantung juga pada bagaimana orang menafsirkannya. Akan tetapi tidak segala teori lantas berbobot sama juga (sama benar dan sama salah), atau semua lantas bisa dianggap sejenis ‘kepercayaan’ belaka. Kendati fakta-fakta saat ini tak sepenuhnya membuktikan bahwa teori Evolusi atau teori Kuantum, misalnya, sebagai sungguh benar, tetaplah dapat dikatakan bahwa bukti-bukti hingga saat ini lebih mendukung teori-teori tersebut daripada teori-teori lawannya.

Catatan lain adalah, bahwa pada kerangka-kerangka evidensi yang terbatas, teori-teori tertentu memang dapat dibenarkan (justifiable). Pada abad 18, para teoretikus atom meyakini bahwa air terdiri dari 1 atom Hidrogen dan 1 atom Oksigen; para geolog meyakini bahwa benua-benua tak mungkin bergerak; para biokimia percaya bahwa protein adalah materi genetis, dsb. Dan saat itu keyakinan macam itu memang dapat dipertanggungjawabkan.

Sains juga dapat salah karena ambisinya untuk mendapatkan hukum alam universal sebetulnya di luar jangkauan observasi manusia. Keterbatasan itu nyatanya tidak membuat manusia cepat menyerah. Manusia mencari kemungkinan-kemungkinan untuk mengintip atau membuat dugaan atas hal-hal yang tidak mungkin diobservasinya secara langsung, baik pada skala makroskopik maupun mikroskopik. Namun bentuk-bentuk argumen-tak-langsung itu lantas memang rentan terhadap gugatan oleh peralatan baru maupun oleh evidensi dan argumentasi baru. Itu dapat menjelaskan mengapa mekanika Newton lantas digeser oleh relativitas Einstein.

Kekuatan sebuah teori dapat juga terletak pada implikasi prediktifnya atau pada konsekuensi observasionalnya. Misalnya, hipotesis Torricelli menyatakan bahwa kita ini hidup di dasar lautan udara yang menekan kita. Pascal mau membuktikan, bahwa bila itu benar maka tekanan udara di wilayah yang tinggi harus semakin kecil, sebab semakin dekat dengan permukaan atmosfer dan kolom udara semakin pendek. Ternyata pembuktian prediksi itu sukses.

Dalam realitasnya, teori bukanlah sekadar sebuah pernyataan tunggal. Seringkali ia merupakan kumpulan pernyataan yang saling berkaitan. Seperti dibayangkan Imre Lakatos di depan tadi, teori Newton misalnya terdiri dari bagian ‘inti’ (terdiri dari tiga hukum mekanik dan satu hukum gravitasi), lantas dikelilingi berbagai hipotesis pembantu sebagai ‘sabuk pengaman’, dan masih dijaga oleh rumusan-rumusan matematis sebagai ‘mekanisme heuristik’-nya, yang—semacam satpam—kerjanya membereskan kasus-kasus anomali. Tapi manakala sebuah teori merupakan kumpulan pernyataan macam itu, secara tak terelakkan pola bernalar deduktif bekerja juga di sana. Masalahnya, deduksi bisa tampak sahih (valid) secara prosedural, sedangkan secara substantif tidak benar. Menurut pola silogisme, bila dua pernyataan premis awal benar, maka kesimpulannya harus benar juga. Tapi tengok misalnya rangkaian deduktif seperti ini: “Para pencinta sepak bola tak suka Sutiyoso”, “Sutiyoso cinta sepak bola”, maka kesimpulannya ”Sutiyoso tak suka dirinya sendiri”. Secara prosedural ini sahih, namun secara substantif belum tentu benar. Dalam hal teori, kesimpulan, atau konsekuensi observasional dari suatu teori haruslah benar bila pernyataan-pernyataan dasarnya memang benar. Sebaliknya, bila konsekuensi observasionalnya salah, mestinya itu menunjukkan ada kesalahan pada pernyataan-pernyataan dasarnya. Masalahnya adalah, dalam sejarah sains banyak teori dalam buku teks merupakan bagian dari pernyataan-pernyataan lebih luas yang sebenarnya tak mempunyai konsekuensi observasional. Jadi dari sudut deduktif seringkali kesahihan suatu teori memang tak jelas. Yang jelas suatu teori dianggap sukses apabila mampu memecahkan makin banyak persoalan. Misalnya, teori Evolusi, kendati dari sudut deduktif maupun induktif memang tak pasti benar, namun banyak persoalan dalam rentang wilayah biologi yang luas memang dapat dijelaskan oleh teori itu, dari perkara diversitas organisme, pola distribusi, tendensi kesamaan dan perbedaan, kemampuan adaptasi dsb. Jadi dalam kenyataan yang menjadi kekuatan suatu teori umumnya adalah kekuatan penjelasannya (explanatory power).

Dalam filsafat ilmu orang kadang melihat dua kutub yang seolah bertentangan, yakni mereka yang menekankan kekuatan deksriptif (explanatory) sains, yang diberi label kaum “Realis” (Goldmann, 1999) dan mereka yang menekankan kekuatan prediktif sains, yang biasa dilabeli sebagai kaum “instrumentalis” (Bas van Fraasen 1980). Akan tetapi dalam praksis ilmu sebenarnya baik fungsi deskriptif (explanatory), maupun fungsi prediktif (prescriptif), dua-duanya memang nyata, dan itu masih ditambah unsur lain juga: kepentingan pribadi si ilmuwan sendiri. Ini semua akan dibahas dalam bab III selanjutnya.

III. Pemahaman Baru atas Rasionalitas Keilmuan

Rasionalitas” adalah konsep yang memang tidak teramat jelas. Artinya tentang apa yang membuat kegiatan ilmiah itu “rasional”, konotasi pemahamannya dalam permenungan filsafat ilmu ternyata berbeda-beda. Seperti telah tersirat dalam uraian sebelumnya, secara klasik hal yang membuat ilmu itu rasional terutama adalah kegiatan “verifikasi” alias konfirmasi, dalam arti: segala pendakuan para ilmuwan dinalarkan dengan bukti-bukti empiris yang mendukungnya. Maka “rasional” di sini menyangkut dimensi ‘koherensi’ dan ‘korespondensi’, yakni kepaduan nalar logis dan kesesuaian dengan kenyataan empiris. Inilah etos yang diyakini para ilmuwan klasik macam Newton, Bacon, J.S.Mill, A. Comte atau C.G. Hempel, misalnya.

Namun, seperti telah diuraikan di depan, Karl Popper berpendapat lain. Demi menjamin bobot rasionalitas sebuah teori, yang diperlukan bukanlah verifikasi melainkan “falsifikasi”, yakni kemampuan teori tersebut untuk dites dan digugurkan. Itu akan memaksa para ilmuwan lebih keras mengelola penalarannya melalui keberanian membuat prediksi yang berpresisi tinggi, dan karenanya beresiko tinggi pula.

Kelompok Lingkaran Wina mencoba mensistematisasi secara lain prosedur rasional kegiatan ilmu melalui teori probabilitas yang dirintis oleh R. Carnap, namun menjadi lebih eksplisit dan populer dalam Teorema Bayes, yang antara lain berbentuk:

P(H/E) = P(H) * P(E/H)/ P(E).

Ini adalah teorema yang menguji bobot kemungkinan suatu hipotesis-hipotesis H dengan evidensinya E dengan cara: probabilitas awal hipotesis itu dikalikan dengan probabilitas evidensi versi hipotesis, lantas keseluruhan dibagi oleh probabilitas evidensi. Jika ada dua hipotesis diperbandingkan, maka yang mengandung kemungkinan lebih tinggi adalah yang evidensinya lebih mungkin.

Meskipun tampak memberi kemungkinan menalar lebih terinci, ada beberapa kesulitan terhadap teorema itu. Pertama, apa yang dimaksudkan persisnya dengan istilah ‘probabilitas’? Apakah ‘tingkat kepercayaan’? ‘Tingkat kepercayaan yang di-idealisasikan’? Atau apa, tidak sangat jelas. Kedua, jumlah probabilitas kondisional yang dituntut akan meningkat bersama dengan meningkatnya jumlah proposisi. Untuk kasus-kasus yang kompleks tak mudah juga menggunakan teorema ini. Ketiga, unsur-unsur kualitatif cenderung diabaikan. Sebenarnya yang menjadi perhatian ilmuwan pun bukan sekadar seberapa banyak dan kuatnya bukti, melainkan juga keragaman bukti, kesederhanaan teori dan analogi-analogi antara penjelasan yang diusulkan dan penjelasan yang telah ada.

Kemungkinan lain memahami ‘rasionalitas’ adalah dengan melihatnya dalam “koherensi penjelasan” alias explanatory coherence, seperti yang telah dirintis para filsuf abad 19 macam William Whewell dan Charles Peirce. Di sini sang ilmuwan membuat penjelasan-penjelasan tentang fenomena yang diamatinya. Sebuah teori akan dianggap unggul dan lebih rasional bila lebih mampu menjelaskan fenomena itu dibanding teori lainnya. Ini bukan sekadar menilai teori mana yang mampu menjelaskan lebih banyak bukti fenomena, melainkan juga menilai koherensi antar tiap hipotesisnya dalam kaitan dengan keseluruhan sistem kepercayaan si ilmuwan. Kesulitan dari paham ini adalah pengertian konsep ‘penjelasan’, ‘penjelasan terbaik’ atau ‘koherensi’ sering juga tidak sedemikian jelas. Misalnya, apakah ‘penjelasan’ yang dimaksud itu artinya ‘hubungan deduktif’, ‘hubungan probabilistik’ atau ‘hubungan sebab-akibat’? Paul Thagard yang memerkarakan soal ini lebih memilih penjelasan sebagai ‘hubungan sebab akibat’, dalam arti: teori hipotetis yang baik adalah yang mampu menjelaskan penyebab yang diisyaratkan oleh suatu bukti, yang berbeda dari pola penjelasan deduktif atau pun probabilistik.

Tapi yang terjadi di dunia ilmiah tidaklah hanya urusan menerima atau menolak suatu hipotesis. Wilayah nalarnya bukanlah hanya rasionalitas epistemik, melainkan juga rasionalitas praktis yang berkisar sekitar persoalan: mengapa bidang keilmuan tertentu ingin ia gumuli, di mana ia harus belajar, topik riset apa yang mesti ia teliti, di lingkungan kelompok macam apa ia harus berkiprah, eksperimen macam apa yang perlu dilakukannya. Dalam kerangka itu, ilmuwan berada pada tataran rasionalitas praktis, yang berkaitan dengan perkara manfaat/kegunaan dan emosi. Di sini orang mengambil keputusan lebih berdasarkan pertimbangan intuitif-emosional, bahwa misalnya, tindakan yang paling tepat sasaran akan sekaligus merupakan tindakan yang secara emosional memuaskan. Bagaimana pun, emosi adalah reaksi cerdas atas persepsi nilai, termasuk atas nilai epistemik. Istilah ‘elegan’ yang biasa dikenakan orang pada sebuah teori yang bagus menunjukkan dimensi emosional itu. Dalam kenyataan kepentingan epistemik memang campur baur dengan kepentingan atau tujuan praktis. Artinya, banyak orang menjadi ilmuwan karena mereka memang menikmati menemukan kunci rahasia-rahasia kehidupan dan kenyataan, nyaman bekerja di kelompok yang kooperatif, serta merasa leluasa mengomunikasikan gagasan-gagasannya. Rasionalitas kelompok di sini memang sangat berperan pula. Maka, Paul Thagard sempat melihat bahwa penerimaan hipotesis atau konsensus banyak ditentukan oleh koherensi, komunikasi, tingkat kontak personal dan tingkat rasa keterikatan seseorang pada kelompok. Meskipun demikian, dengan itu semua tidaklah berarti bahwa tujuan-tujuan epistemik macam pencarian kebenaran dan penjelasan harus takluk pada konsensus kelompok. Sebaliknya, tujuan-tujuan utama itu harus menembus dan mengatasi ikatan-ikatan kelompok macam itu.

Dalam konteks rasionalitas praktis ini, pertimbangan psikologis maupun sosiologis seperti di atas, kendati pun real, mestilah diwaspadai. Bila ‘rasionalitas’ pada akhirnya adalah soal bagaimana tujuan dapat dicapai melalui cara yang dapat dipertanggungjawabkan, maka sains itu ‘rasional’ bila tujuan-tujuannya, yakni pencarian kebenaran, penjelasan dan teknologi demi kesejahteraan manusia, dapat tercapai melalui cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Thagard menyebut hambatan pertama ke arah itu adalah “Pemikiran Dingin” (Cold Cognition), yakni tuntutan berpikir-dingin dalam sains, macam tuntutan ‘falsifikasi’ atau ‘probabilistik’ tanpa emosi, misalnya. Bila ini dihadapkan pada kecenderungan kognitif ‘konfirmatif’ orang dalam bernalar dan memecahkan persoalan (kecenderungan mencari pembenaran diri), maka ‘berpikir-dingin’ menjadi suatu tantangan yang sulit.

Tantangan kedua lebih sulit, yaitu ‘Berpikir Panas’ (Hot Cognition ), yakni cara berpikir yang terlampau bermuatan emosi akibat terikat pada kepentingan pribadi. Contoh, demi kemajuan karir pribadi, ilmuwan merekayasa atau memanipulasi data, menghalangi publikasi teori-teori yang mengancamnya, menipu diri sendiri dengan terus-menerus meyakini bahwa kerangka berpikirnya lebih bagus daripada lawannya, atau pun nekad berpihak pada mereka yang memiliki kekuasaan (seperti banyak kasus pada zaman Nazi dan Uni Soviet). Tentu saja emosi tidak selalu lantas dilihat sebagai unsur yang menggiring orang ke arah ‘irasionalitas’, sebab emosi dapat pula menunjang tercapainya tujuan-tujuan mulia sains. Pada titik ini berpikir-panas justru merupakan sumber energi untuk mencapai tujuan sains.

Setelah segala pertimbangan itu, yang lantas perlu dipertanyakan adalah: bila sains memang ‘rasional’, itu dibandingkan dengan apa? Paling gampang dibandingkan dengan pengetahuan mereka yang bukan ilmuwan. Kendatipun ada sisi-sisi emosional di kalangan ilmuwan, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, kiranya jawabannya jelas: para ilmuwan lebih rasional. Begitu banyak teori yang telah mereka lahirkan, yang memang memberi penjelasan penting tentang, misalnya, elektromagnetisme, relativitas, evolusi, kuantum, genetika, dst., dan hasil terapannya berupa teknologi pun nyata telah mengubah hidup manusia.

Secara ringkas, rasionalitas sains tak memadai bila dijelaskan semata berdasarkan logika formal dan teori probabilitas. Lebih tepat bila rasionalitas itu dipahami melalui model koherensi-emosional dan koherensi eksplanatoris disertai model konsensus yang secara sosial realistis.

Sumber : Prof. Dr. Bambang Sugiharto