Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Sebelum Menginstall Linux

07 Jun 2015

Memang sudah seharusnya sebelum menginstall linux kita memiliki beberapa pengetahuan yang memadai. Imam Bukhari mengatakan “al ilmu qablal qawl wal amal” yang maksudnya sebelum melakukan sesuatu harus dilandasi dengan ilmu/pengetahuan tentang apa yang akan dilakukannya itu.
Pertama yang harus diketahui adalah niat. Kenapa?
Karena innama amalu binniyat, semua amal tergantung niatnya. Niat ini akan sangat menentukan apalagi kalau menemui kesulitan. Pastikan niat menginstall linux adalah untuk menggunakan linux, entah itu untuk belajar linux ataupun kegiatan komputasi sehari-hari seperti menonton film/video, mendengarkan musik, mengetik dokumen, browsing, dll untuk kebaikan. Jangan sampai install linux hanya untuk pamer ataupun kesombongan diri. Misalnya,
Jangan pula untuk maksiat. Misalnya, “linux udah otomatis ada SSH. Install linux ah biar bisa internetan gratis pakai SSH.” Provider atau operator internet sudah menentukan tarif, syarat dan ketentuan untuk pelanggannya, termasuk bonus gratis internet sekian jam atau sekian MB. Nah, yang biasa disebut internet gratis pakai SSH itu ternyata tidak memenuhi syarat internet gratis yang ditentukan operator. Ini kan sama aja maksiat, mencuri!
Contoh niat yang benar adalah seperti ini. Linux itu katanya pas installnya tidak akan diminta serial number-nya. Kenapa? Karena lisensi linux memang untuk publik (GPL). Serial number (SN) adalah cara untuk validasi/pengesahan. Satu SN hanya boleh digunakan untuk satu komputer (umumnya). Kalau ada 2 komputer menggunakan SN yang sama, maka salah satunya bajakan. Mana yang bajakan? Ya yang dapat SN tanpa membeli. Nah, kita menggunakan linux niatnya adalah untuk menggunakan software legal, menghindari pembajakan software. Jangan sampai kita koar-koar “Jangan nonton film pakai VCD bajakan” eh ternyata komputer yang kita pakai ternyata softwarenya bajakan.
Selanjutnya adalah pengetahuan tentang lisensi/perijinan/perjanjian. Lisensi itu tidak hanya seperti yang ada di contoh di atas. Tapi juga boleh tidaknya menggunakannya untuk keperluan komersial (berjualan atau bisnis). Lisensi bisa dianalogikan sebagai akad jual beli. Misal jual beli rumah. Kita ingin beli rumah. Pihak penjual mematok harga Rp 3 miliar dengan perjanjian :
Kita pilih opsi kedua, kredit. Ternyata di tahun kelima, temboknya kusam. Kesepakatan/perjanjian/akad saat jual beli “silahkan dicat lagi, tapi dengan warna yang sama dan biaya sendiri”. Nah kalau aslinya warna hijau, kita cat ulang warna putih berarti kita melanggar perjanjian yang telah disepakat sebelumnya.
Demikian juga kalau kita akan menggunakan linux. Saat kita menginstall linux berarti kita juga menginstall aplikasi atau software. Apakah lisensi yang ada di aplikasi tersebut? Bolehkah kita menggunakannya untuk bisnis? Hal seperti ini sudah selayaknya kita ketahui.
Selanjutnya adalah kemampuan bahasa Inggris. Secara default, installasi linux menggunakan bahasa Inggris tapi bisa diubah menjadi bahasa Indonesia. Memang saat ini hampir semua distro linux sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, tapi kemampuan bahasa Inggris akan sangat membantu.
Kemudian, tidak kalah penting pengetahuan teknis.