Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Thaharah Mengusap Sepatu

12 Apr 2015

Pasal: Mengusap kedua khuffain (sepatu) di dalam wudhu itu hukumnya jaiz (boleh). Hal ini tidak berlaku di dalam mandi wajib atau sunnah dan untuk menghilangkan najis

Apabila seseorang yang memakai sepatu itu junub atau kakinya keluar darah, sedang ia menghendaki mengusap sepatu sebagai ganti membasuh kaki, maka usapan itu hukumnya tidak boleh. Tetapi wajib baginya membasuh kakinya.
Perkataan mushannif “Jaiz” itu tadi memberikan pengertian, bawah sesungguhnya membasuh kedua itu adalah lebih baik daripada mengusapnya.

Hukum boleh mengusap sepatu itu harus kedua-duanya, tidak salah satunya saja, kecuali jika memang orang yang memakai sepatu tersebut tidak memiliki yang lain. Hukum boleh mengusap sepatu itu tadi apabila terpenuhi dengan 3 syarat, yaitu:
Pertama: Orang tersebut harus memulai memakai kedua sepatuya sesudah bersuci secara sempurna. Seandainya orang itu membasuh ssatu kakinya dan memakai sepatu pada kaki tersebut kemudian berbuat seperti itu pada kaki yang satunya maka cara semacam ini adalah tidak cukup. Jika memakai kedua sepatunya sesudah sempurna bersuci kemudian berhadats sebelum kakinya sampai ke telapaknya sepatu, maka tidak boleh mengusap sepatu tersebut.
Kedua: Sepatunya harus dapat menutupi bagian anggota kaki yang wajib dibasuh ketika wudhu, yakni dari kedua telapak kaki sampai dengan kedua mata kakinya. Adapun yang dikehendaki dengan perngertian “Tertutup” pada bab khuffain ini, yaitu pemisah yang menghalangi penglihatan.
Ketiga: Kedua sepatu itu harus terbuat dari bahan yang kuat untuk berjalan-jalan sekitar jarak bepergian yang boleh mengqashar shalat. Dari pembicaraan mushannif tersebut dapat diambil pengertian bahwa kedua sepatu itu harus terbuat dari bahan yang kuat (rapat) sekiranya dapat menahan kebocoran air.
Disyaratkan juga keadaan dua sepatu itu harus suci.
Seandainya seseorang memakai sepatu rangkap, misalnya karena keadaan sangat dingin, maka bila sepatu yang luar itu lebih bagus / pantas untuk diusap bukan sepatu yang di dalam, maka mengusap sepatu yang luar hukumnya sah.
Dan seandainya sepatu yang dalam itu pantas untuk diusap, bukan sepatu yang di luar, maka mengusap sepatu yang dalam hukumnya sah.
Atau seandainya yang diusap itu sepatu yang luar sehingga menyebabkan sepatu yang dalam basah maka usapannya itu sah jika memang yang dimaksud adalah mengusap sepatu yang dalam atau memang keduanya secara bersama-sama.
Apabila bertujuan hanya mengusap sepatu yang luar saja maka tidak sah. Sedang bila tidak bermaksud mengusap salah satu dari keduanya, tetapi bertujuan mengusap keseluruhannya maka hukumnya sah. Bagi orang yang mukim, maka masa mengusap sepatu hanya sehari semalam. Bagi mereka yang sedang bepergian masa mengusap sepatu 3 hari 3 malam, baik malamnya yang dahulu atau yang akhir dari 3 hari itu adalah sama saja.
Adapun permulaan masa memakai sepatu itu dihitung mulai dari habisnya hadats yang ada sesudah sempurnanya memakai kedua sepatu. Tidak dihitung dari permulaan hadats, tidak dari sewaktu mengusap dan tidak dari permulaan memakainya.
Orang yang senantiasa dalam keadaaan hadats ketika datang hadats yang lain, sesudah memakai sepatu sebelum mengerjakan shalat fardhu dengan mengusap sepatu maka boleh baginya mengusap sepatu.
Sebaiknya bila dipandang perlu ada perkara yang harus dimenangkan, maka memenangkan perkara tersebut sudah terhitung fardhu satu dan beberapa kesunnnahan. Hal ini bila memang orang yang memakai dua sepatu itu dalam keadaaan tetap suci.
Seandainya orang tersebut mengerjakan shalat fardhu satu dengan keadaaan sucinya itu sebelum berhadats, maka mengusaplah dan boleh memenangkan beberapa kesunnahan.
Jika seseorang mengusap sepatu sewaktu berada di rumah kemudian bepergian atau mengusap di waktu bepergian, kemudian kembali berada di rumah sebelum lewat waktu sehari semalam maka hendaklah menyempurnakan sebagaimana mengusapnya orang yang mukmin (berada di rumah). Kewajiban mengusap sepatu itu berdasarkan kemutlakan nama “mengusap” ketika mengusapnya itu di atas bagian luar sepatu.
Tidak dapat mencukupi bila mengusapnya pada bagian dalam sepatunya,telapak sepatu, pinggirnya atau bagian bawahnya.
Adapun sunnahnya mengusap sepatu itu ialah menggaris-garis dengan melonggarkan di antara beberapa jari orang yang mengusap, jari-jari tersebut tidak terkumpul.
Batal hukumnya mengusap dua sepatu disebabkan 3 perkara:

  1. Sebab lepasnya dua sepatu atau salah satunya, terlepasnya sepatu atau keluarnya sepatu dari kebaikan untuk mengusapnya seperti robeknya sepatu.
  2. Sebab sudah habis masanya boleh mengusap sepatu yaitu sehari semalam bagi orang yang mukim dan tiga hari bagi tiga malam bagi orang yang bepergian.
  3. Sebab adanya perkara yang mewajibkan mandi. Seperti jinabat, haidh atau nifas bagi orang yang memakai sepatu.
Disalin dari: Terjemah Fathul Qorib, Jilid 1, Cetakan 1, Penerbit Menara Kudus