Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Perkara yang Mewajibkan Mandi

09 Apr 2015

Pasal: Menerangkan tentang perkara yang mewajibkan mandi

Pengertian mandi menurut bahasa ialah mengalirnya air atas sesuatu perkara secara muthlaq. Sedangkan menurut pengertian syara', mandi ialah mengalirnya air ke seluruh tubuh dengan disertai niat yang sudah ditentukan.
Adapun sesuatu yang mewajibkan mandi itu ada 6 perkara. Tiga di antaranya bersamaan ada pada laki-laki dan perempuan.

  1. Yaitu bertemunya 2 kemaluan, yakni yang dimaksud ialah masuknya hasyafah (dzakar/penis) ke dalam farji' orang yang masih hidup secara sempurna, atau kepala penisnya saja dan atau juga hanya sekedar kira-kira bagi orang yang buntung penisnya. Maka jadilah anak Adam yang memasukkan hasyafahnya ke dalam farji' (dan sewaktu-waktu perempuan kemasukan hasyafah) wajib baginya mandi. Mayit yang disebabkan dimasuki farji'nya maka tidak perlu mengulangi mandi lagi. Adapun orang banci yang merepotkan, maka tidak wajib mandi sebab memasukkan hasyafahnya dan demikian juga tidak wajib mandi sebab dimasuki qubulnya.
  2. Keluar air mani dari seseorang tanpa sebab kemasukan hasyafah atau farji' meskipun air mani itu hanya sedikit, seperti 1 tetesan saja dan meskipun berupa darah. Juga meskipun air mani yang keluar itu sebab bersanggama atau lainnya, baik dalam keadaan berjaga atau tidur dengan disertai syahwat atau tanpa syahwat, air mani tersebut keluar dari jalannya yang dibiasakan atau dari jalan lain, seperti jika pecah tulang rusuknya orang itu, maka menyebabkan keluar air maninya.
  3. Setengah dari perkara yang sama-sama ada (laki-laki dan perempuan) yang mewajibkan mandi yaitu mati, kecuali mati syahid.
Sedangkan 3 perkara lagi adalah khusus pada orang perempuan yaitu:
  1. Keluar darah haidh, yakni darah yang keluar dari seorang perempuan yang telah sampai umur 9 tahun.
  2. Keluar darah nifas, yakni darah yang keluar dari orang perempuan mengiringi lahirnya anak, maka keluarnya darah nifas itu menyebabkan wajib mandi secara pasti.
  3. Ketika melahirkan (beranak) yang dibarengi adanya basah-basah, maka pasti wajib mandi. Adapun beranak yang tidak dibarengi adanya basah-basah yang keluar maka tetap wajib mandi. Demikian menurut pendapat yang shahih.

Disalin dari Terjemah Fathul Qorib, Jilid 1, Cetakan 1, 1983, Penerbit Menara Kudus.