Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Yang Membatalkan Wudhu

08 Apr 2015

Pasal: Menerangkan tentang perkara-perkara yang merusak/membatalkan wudhu yang dinamakan juga sebagai hadats

Adapun perkara-perkara yang merusakkan wudhu itu ada 5 perkara, yakni:
Pertama : Ada sesuatu yang telah keluar dari salah 1 jalan yaitu qubul dan dubur dari orang yang berwudhu yang hidup secara sempurna, biasa ke luar seperti kencing ddan berak atau tidak biasa seperti darah dan kerikil dalam keadaan najis seperti contoh ini.
Atau sesuatu yang suci, seperti kermi, kecuali air mani yang keluar dari orang yang mempunyai wudhu sebab mimpi dalam posisi duduk yang dua pantatnya tidak berubah dari tempat semula, jika demikian maka tidak membatalkan wudhu. Tetapi yang menjadi sulit bila wudhu itu rusak/batal sebab keluarnya sesuatu dari dua farji (pada orang berkelamin ganda) secara bersama.

Kedua : Yaitu tidur dalam posisi tidak menetap pantatnya pada bumi (lantai). Hal ini mengecualikan pada orang yang tidur secara duduk yang tidak menetapkan pantatnya, atau tidur dengan berdiri atau tidur dengan menghadap ke atas (mlumah bahasa jawanya) meskipun pantatnya tetap, maka yang demikian itu tidak membatalkan wudhu.
Ketiga : Hilang akal yang disebabkan karena mabuk, sakit, gila, ayan dlsb.
Keempat : Menyentuhnya orang laki-laki kepada orang perempuan lain yang bukan mahramnya, meskipun sudah menjadi mayit. Adapun yang dimaksud dengan orang laki-laki dan perempuan yaitu yang sudah sampai batas ukuran syahwat menurut kebiasaan.
Sedangkan yang dimaksud dengan mahram yaitu perempuan yang haram untuk dikawini karena masih ada tali nasab, atau tali susuan atau karena masih ada hubungan mertua. Adapun perkataan mushannif “dengan tanpa alat pemisah” adalah mengecualikan bila memang terdapat alat pemisah maka yang demikian itu tidak membatalkan wudhu.
Kelima : dari perkara akhir yang membatalkan wudhu yaitu menyentuh farji (kemaluan) anak Adam dengan bathinnya telapak tangan dari orang yang berwudhu atau lainnya, baik dia laki-laki atau perempuan, kecil atau besar, masih hidup atau sudah mati. Adapun lafazh “Al Adamiy” dinyatakan gugur menurut sebagian keterangan kitab Matan.
Demikian juga gugur perkataan mushannif “Dan menyentuh lubang duburnya anak adam” karena membatalkan wudhu. Demikian menurut qaul Imam Syafi'i yang dahulu, bahwa hal itu tidak dapat membatalkan wudhu.

Adapun yang dimaksud dengan “lubang dubur” yaitu bertemunya lubang yang menembus (terus). Sedangkan yang dikehendaki dengan pengertian “Bathinnya telapak tangan” yaitu telapak tangan beserta bathinnya (bagian-bagian dalam) dari seluruh jari-jari. Dan hal itu mengecualikan bagian luar dari telapak tangan, bagian sampingnya, bagian ujung-ujungnya dan sesuatu yang ada di antara seluruh jari-jari, maka semuanya itu tidak membatalkan wudhu.

Disalin dari Terjemah Fathul Qorib, Jilid 1, Cetakan 1, 1983, Penerbit Menara Kudus.