Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Istinja dan Adab Buang Air

07 Apr 2015

Pasal: Menerangkan tetang istinja' dan tata krama orang yang mendatangi hajat

Arti kata 'Istinja'” ialah “Aku memutuskan sesuatu”.maka sesungguhnya orang yang hendak beristinja' itu akan memutuskan/membersihkan suatu kotoran dari dirinya. Istinja' itu hukumnya wajib, disebabkan karena kencing atau berak. Istinja' dilakukan dengan menggunakan air atau batu dan benda-benda keras sejenis batu yang suci serta dapat menghilangkan najis yang tidak diharamkan.
Tetapi yang lebih baik dalam bersesuci itu adalah dengan menggunakan beberapa batu dahulu, kemudian mengikutinya dengan air. Sedangkan kewajiban bersesuci dengan menggunakan batu yang demikian itu adalah dalam mengerjakannya berjumlah 3 kali usapan, meskipun dengan 1 batu yang mempunyai 3 sudut. Seseorang yang bersesuci boleh meringkasnya yaitu boleh memilih dengan air saja atau dengan 3 batu saja yang dapat membersihkan tempat najisnya tersebut (jika memang dengan 3 batu itu saja sudah dapat membersihkan najisnya). Sedangkan bila tidak maka hendaklah menambah jumlah bilangan batu sehingga benar-benar bersih. Sesudah itu, maka disunnahkan mengulang sampai 3 kali.

Apabila menghendaki untuk meringkas (di antara salah 1 dari air atau batu tersebut) maka yang lebih baik adalah dengan menggunakan air saja, karena air itu dapat menghilangkan najis dan bekas-bekasnya.
Adapun syarat istinja' dengan beberapa batu tersebut yaitu sekiranya najis yang keluar itu tidak dalam keadaan kering dan tidak berubah dari tempat keluarnya serta tidak mendatangkan najis lain. Jika tidak dipenuhi 1 syarat dari syarat-syarat tersebut maka sebaiknya menggunakan air saja.
Wajib bagi orang yang sedang mendatangi hajat (kencing atau berak) untuk tidak menghadap qiblat atau membelakanginya, kecuali bila terdapat tabir (pemisah) yang mencukupi, atau ada tabir yang tingginya 2/3 dzira' atau bahkan lebih dan antara orang yang berhajat dengan tabir itu tadi letaknya paling jauh hanya 3 dzira'nya anak Adam, sebagaimana pendapat dari sebagian ulama bahwa yang demikian itu tidak haram hukumnya.
Adapun bangunan sebagaimana terdapat di suatu tempat (bukan khusus WC) maka ia seperti halnya tanah lapang dengan syarat sebagai yang telah disebutkan di muka tadi, kecuali bangunan yang memang disediakan khusus untuk WC, maka secara mutlak tidak haram hukumnya. Dan sesuai perkataan mushannif, maka yang demikian itu juga mengecualikan bangunan yang menjadi qiblat pertama, seperti Baitul Maqdis, maka menghadap atau membelakangi qiblat tersebut hukmunya makruh.
Dan supaya menjauhi, bagi orang yang mendatangi hajat dari air yang berhenti (baik berak atau kencing). Adapun berak atau kencing di air yang mengalir meskipun air itu sedikit mengalirnya, maka hukumnya makruh. Sedangkan bila mengalirnya banyak, maka tidak makruh. Tetapi yang lebih baik sedapat mungkin dijauhkan (meskipun air itu mengalir banyak). Bahkan menurut Imam Nawawi haram hukumnya mendatangi hajat di air yang sedikit, baik air itu mengalir atau berhenti. Dan supaya tidak kencing atau berak di bawah pohon yang berbuah, baik pada waktu berbuah atau tidak.
Di samping pada tempat-tempat sebagaimana tersebut itu, maka bagi orang yang berhajat supaya menjauhi juga untuk tidak mendatangi hajat di jalan yang biasa dilalui manusia, juga di tempat berteduh pada musim kemarau dan di tempat yang panas pada musim hujan. Dan di tempat liangan yang ada di bumi yakni lubang yang bundar dan menurun ke bumi. Adapun lafazh At Tsaqbi itu, menurut sebagian tulisan yang ada di dalam kitab matan adalah ditiadakan (digugurkan).
Dan tidak diperbolehkan berbicara bagi orang yang sedang kencing atau berak karena ini merupakan tata krama, tidak dalam keadaan darurat. Apabila darurat itu memaksa untuk berbicara, misalnya orang tersebut melihat ada ular yang menuju kepada dirinya (manusia) maka tidak makruh hukumnya berbicara dalam keadaan seperti itu.
Juga tidak diperbolehkan menghadap matahari dan rembulan, demikian pula membelakanginya, artinya ketika orang itu berhajat dimakruhkan menghadap atau membelakangi matahari dan rembulan. Tetapi bagi Imam Nawawi, ebagaimana keterangan yang terdapat di dalam kitab Ar Raudhah dan Syarah Muhadzdzab, beliau berkata, bahwa jika membelakangi keduanya itu tidak makruh hukumnya.

Berkata Imam Nawawi dalam kitab Al Wasith, bahwa sesungguhnya meninggalkan menghadap keduanya atau membelakanginya itu hukumnya sama saja, yakni diperbolehkan. Demikian juga berkata Imam Nawawi dalam kitab Tahqiq bahwa sesungguhnya hukum makruh menghadap keduanya itu tidak terdapat asalnya. Sedangkan perkataan mushannif “Dan tidak boleh menghadap........” itu gugur menurut bagian keterangan Matan.

Disalin dari Terjemah Fathul Qorib, Jilid 1, Cetakan 1, 1983, Penerbit Menara Kudus.