Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Rukun dan Sunnah Wudhu

06 Apr 2015

Pasal: Menerangkan tentang fardhu-fardhunya wudhu

Kata “wudhu” dibaca dhammah huruf wawunya menurut pendapat yang lebih masyhur yang dimaksudkan di sini ialah nama bagi suatu perbuatan. Dan dibaca fathah huruf wawunya berarti nama bagi sesuatu benda yang dibuat wudhu. Pengertian pertama tadi (wudhu) mengandung beberapa fardhu dan sunnah.
Fardhunya/rukunnya wudhu itu ada 6 perkara:
  1. Niat, menurut syara' hakikat niat adalah menuju sesuatu dengan dibarengi dengan mengerjakannya. Jika tidak disertai mengerjakannya maka ia dinamai “Azam”. Niat tersebut dikerjakan ketika membasuh permulaan bagian muka, artinya ia dilakukan bersamaan dengan membasuh bagian muka (wajah), tidak secara keseluruhannya, tidak sebelum membasuhnya dan tidak sesudahnya. Wajiblah niat bagi orang yang menghilangkan hadats dari beberapa hadastnya (wudhu). Atau baginya niat mengerjakan fardhunya wudhu saja atau pula niat bersuci dari hadats. Apabila orang yang berwudhu tidak berniat menghilangkan hadats, maka tidak sah wudhunya. Oleh karena itu sebaiknya niat tersebut ditempuh dengan cara sebagaimana yang sudah biasa dikerjakan sehari-hari yakni niat membersihkan (bersuci) dari hadats, maka hukumnya sudah sah wudhunya.

  2. Membasuh seluruh bagian muka/wajah. Adapun yang disebut dengan muka batasannya adalah mulai tempat tumbuhnya rambut kepalasampai bagian bawah dagu, dan mulai dari tempat sentil (tempat anting-anting) telinga yang kanan sampai telinga kiri. Apabila pada bagian muka tersebut terdapat rambut yang tumbuh, baik tumbuh tipis (jarang-jarang) atau tebal, maka wajib membasuh bagian luar dan bagian dalam yakni bagian yang menjadi tempat tumbuhnya rambut itu. Adapun jenggot yang tebal, yakni sekiranya orang yang berbicara di hadapannya tidak mengetahui kulitnya maka cukuplah membasuh pada bagian lahirnya saja. Berbeda dengan jenggot yang tipis yaitu rambut sekiranya orang yang berbicara di hadapannya dapat melihat kulitnya maka wajiblah membasuhkan air ke kulitnya. Dan yang demikian itu mengecualikan jenggotnya orang perempuan dan orang banci, karena itu wajib bagi keduanya membasuh rambut jenggotnya (kalau ada) sampai kulit-kulitnya. Agar pembasuhan itu dapat merata sebaiknya air itu senantiasa dimasukkan ke dalam bagian-bagian yang harus terkena air, seperti bagian kepala, leher dan bagian-bagian yang ada di bawah jenggot itu sendiri.
  3. Membasuh kedua tangan sampai sikunya. Apabila seseorang tidak mempunyai dua siku maka pembasuhan dapat dilakukan dengan cukup memperkiarakan saja. Dan juga wajib membasuh benda-benda yang terdapat pada dua tangan. Misalnya, rabut, uci-uci, anak jari tambahan, kuku. Dan semua benda yang ada di bawah kuku (kotoran) maka wajib dihilangkan, sebab hal itu dapat mengakibatkan terhalangnya air untuk sampai ke bagian yang ada di bawah kuku.
  4. Mengusap sebagian kepala, baik laki-laki maupun perempuan, juga diperbolehkan mengusap sebagian rambut yang ada pada batasan kepala. Sedangkan cara mengusapnya tidaklah harus dengan tangan, akan tetapi diperkenankan mengusap dengan memakai kain bekas atau lainnya. Seandainya terjadi seseorang membasuh kepalanya (bukan mengusap) maka hukumnya diperbolehkan. Demikian pula bila orang tersebut memasukkan tangannya yang sudah dibasahi air, misalnya di dalam kolam (bak air) sedangkan ia tidak menggerakkan tangannya itu, maka hukumnya ssah.
  5. Membasuh dua kaki beserta kedua mata kaki. Jika orang yang wudhu itu tidak memakai dua muzah/khuff/sepatu. Apabila memakai maka wajib baginya mengusap keduanya atau membasuh kedua kaki. Dan juga wajib membasuh setiap benda yang terdapat di atas kedua kaki misalnya rambut, uci-uci dan anak jari tambahan sebagaimana yang terjadi pada pembasuhan kedua tangan tersebut di atas.
  6. Harus tertib (urut) di dalam mengerjakan wudhu sesuai dengan urutan rukun (fardhunya) yang telah diatur oleh syara'. Seandainya terjadi orang yang berwudhu itu lupa mengerjakan fardhunya secara tertib maka hukumnya tidak sah.
Adapun sunnatnya wudhu itu ada 10 macam perkara:

  1. Membaca Bismillah pada permulaannya. Paling tidak membaca Bismillah dan sempurnanya Bismillahirahmanirrahim, seandainya ia tertinggal membaca Bismillah pada permulaannya, maka boleh dibaca di tengah-tengahnya. Bila sampai selesai wudhu masih belum membaca Bismillah, maka cukup tidak perlu membacanya.
  2. Membasuh kedua telapak tangan sampai dengan pergelangannya yang dikerjakan sebelum berkumur dan jika ragu-ragu dalam kesuciannya maka sunnah membasuh sampai 3 kali sebelum dimasukkan ke dalam tempat air (sedang airnya) kurang dari 2 qullah. Apabila orang yang berwudhu belum membasuh kedua telapak tangannya maka makruh hukumnya memasukkan ke dalam air yang ada di tempat itu, dan bila ia telah yakin kesucian kedua telapak tangannya, maka hukumnya tidak makruh baginya untuk membasuh keduanya.
  3. Berkumur sesudah membasuh kedua telapak tangan. Jika orang yang berwudhu itu memasukkan air ke dalam mulut, baik ia mengkumurkan air itu di dalam mulutnya atau memuntahkannya, maka yang demikian ini sudah termasuk mendapatkan kesunnahan. Sedangkan bila menghendaki yang lebih sempurna maka caranya yaitu dengan mengkumurkan air tersebut ke dalam mulut terus dimuntahkan. Menghirup air ke dalam hidung (istinsyaq) dan dinyatakan berhasil kesunnahannya dalam hal ini dengan memasukkan air ke dalam hidung sampai ke rongganya, baik mengerikan atau tidak. Apabila menghendaki yang lebih sempurna memang sebaiknya air tersebut dihirup sampai rongga hidung, meskipun dalam keadaan yang mengerikan. Apabila keduanya (menghirup air ke dalam hidung dan berkumur) itu dikumpulkan maksudnya dikerjakan secara bersama, maka yang demikian itu lebih baik daripada dipisah-pisahkan.
  4. Meratakan di dalam mengusap kepala. Adapun mengusap sebagian kepala maka hukumnya sudah jelas yaitu wajib. Apabila orang yang berwudhu itu tidak melepaskan atau membuka tutup kepala, misalnya surban atau yang lainnya maka cukup mengusap pada bagian atasnya surban itu tadi.
  5. Mengusap seluruh bagian kedua telinga, baik pada bagian muka atau belakang sampai ke lipat-lipatannya, juga sampai pada lubang-lubang telinga itu dengan memakai airyang baru, tidak boleh menggunakan air yang terdapat pada bagian muka (wajah) atau yang di kepala. Adapun caranya mengusap telinga supaya dapat merata yaitu jari penunjuk dimasukkan ke dalam lubang telinga lalu diputarkan (digerakkan dari arah bawah ke atas) pada bagian lipatan-lipatannya. Kemudian ibu jarinya digerakkan untuk meratakan bagian telinga yang di belakang. Kemudian kedua telapak tangan dibasahi air terus dipertemukan dengan kedua telinga secara jelas.
  6. Memasukkan air ke dalam sela-sela rambut jenggot yang tebal bagi laki-laki dengan jalan ditekan-tekan tangannya (jarinya) pada sela-sela rambut jenggotnya. Sedangkan rambut jenggot yang tipis (jarang-jarang) yang terdapat pada laki-laki, perempuan dan orang yang banci, maka wajib menyampaikan air pada sela-sela jenggot tersebut. Adapun caranya yaitu dengan memasukkan beberapa jarinya (ke sela-sela) jenggot dari arah bagian bawah jenggot itu.
  7. Dan sunnah juga memasukkan air pada sela-sela jari-jari kedua tangan dan kaki. Hal ini dilakukan jika memang air tersebut dapat sampai ke dalam sela-sela itu dengan tanpa dimasukkan padanya. Apabila air tersebut tidak dapat sampai ke sela-sela kecuali dengan dimasukkan, maka menyampaikan air ke sela-sela tersebut hukumnya wajib. Sedang bila jari-jari itu dalam keadaan berhimpitan sehingga tidak memungkinkan air dapat sampai ke dalam sela-selanya, maka haram hukumnya membelah (merobek) jari-jari tersebut karena hendak menyela-nyela. Adapun caranya menyampaikan air ke dalam sela-sela jari yaitu dengan berpanca (memasukkan jari-jari tangan ke dalam sela-sela jari tangan yang satunya) sedangkan cara menyela-nyelai jari kaki yaitu memasukkan kelingking tangan kiri dari arah bawah, mulai dari kelingking kaki kanan selesai pada kelingking kaki kiri.
  8. Sunnah mendahulukan anggota tubuh yang kanan daripada yang kiri. Seperti tangan dan kaki anggota yang mudah mensucikannya dengan cara berbarengan (kanan dan kiri) seperti dua telinga dan pipi maka tidak sunnah mendahulukan yang kanan atas yang kiri, tetapi keduanya boleh dibasuh bersama-sama.
  9. Sunnah mengulang 3 kali pada setiap anggota yang dibasuh atau diusap. Hal ini sesuai dengan perkataan Mushannif sendiri bahwa “Bersuci itu sunnah mengulang 3 kali”. Dan menurut sebagian keterangan bahwa mengulang itu bagi anggota yang dibasuh dan diusap.
  10. Sunnah sambung-menyambung, artinya perbuatan wudhu (membasuh atau mengusap) di antara dua anggota tidak boleh berhenti lama, tetapi segera dilakukan pencucian satu anggota dari anggota yang sebelumnya, sekiranya anggota yang ada di depannya belum kering kembali disertai cuaca sedang juga situasi dan kondisinya. Sunnahnya melakukan perbuatan (membasuh atau mengusap) dalam berwudhu itu tadi dengan mengulag sampai 3 kali, maka yang dinyatakan sebagai perbuatan pembasuhan atau usapan adalah perbuatan yang akhir (yang ketiga). Sambung-menyambung perbuatan dalam wudhu itu adalah disunnahkan bagi selain orang yang berada dalam keadaan darurat, bahwa waktunya itu masih luas (longgar). Sedang bagi orang yang dalam keadaan darurat maka perbuatan sambung-menyambung tersebut hukumnya wajib. Di samping 10 perbuatan sunnah yang ada di dalam wudhu sebagaimana telah diterangkan di dalam kitab-kitab yang panjang lebar keterangannya.
Disalin dari Terjemah Fathul Qorib, Jilid 1, Cetakan 1, 1983, Penerbit Menara Kudus.