Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Jenis-jenis Air

03 Apr 2015

Kitab Thaharah
Menurut pengertian bahasa, kata “Kitab” artinya “Kumpul”. Sedang menurut pengertian yang lazim berlaku di kalangan masyarakat (istilah) kata “Kitab” mempunyai arti “Suatu tulisan yang menunjukkan jenis dari beberapa hukum”. Kata “Bab” artinya “Suatu bagian (macam) dari sesuatu yang berada di bawah jenis tersebut”.
Kata “Thaharah” adalah sama dengan “Nadhafah” artinya “Bersih atau suci”. Sedangkan jika dibaca “Thuharah” maka ia mempunyai arti “Kelebihan dari air yang dipergunakan untuk bersuci”. Di kalangan para ahli fiqh, thaharah mempunyai banyak pengertian yang antara lain ialah “Sesuatu perkara yang menyebabkan seseorang diperbolehkan mengerjakan shalat. Seperti wudhu, mandi, tayammum dan menghilangkan najis”.
Karena air adalah alat bersuci, maka pengarang kitab ini memandang perlu menjelaskan macam-macam air tersebut.
Air yang sah untuk bersuci itu ada 7 macam, yaitu

  1. Air hujan
  2. Air laut (air asin)
  3. Air sungai (air tawar)
  4. Air sumur
  5. Air sumber/ mata air
  6. Air embun
Ketujuh macam air tersebut di atas, kemudian diringkas menjadi 2 yaitu air yang datang dari langit dan yang dari bumi. Hal ini bila dilihat dari segi keadaan yang wujud. Sedangkan menurut asalnya semua air itu adalah air langit.
Kemudian air-air tersebut dibagi lagi menjadi 4 bagian, yaitu:

  1.   Air mutlak, yaitu air yang suci keadaannya dan mensucikan, tidak makruh memakainya, jauh dari adanya qayyid (ikatan) yang tetap, maka tidak akan berakibat bahaya adanya qayyid yang pecah seperti air sumur yang keadaannya mutlak sucinya.
  2. Air suci yang mensucikan tapi makruh memakainya di badan saja, tidak makruh untuk mensucikan pakaian, yaitu air yang dipanaskan dengan sinar matahari. Menurut pandangan syara', air yang dipanaskan dengan sinar matahari dalam tempat selain yag terdiri dari emas dan perak, maka hukumnya makruh. Selanjutnya apabila air yang panas tersebut menjadi dingin lagi, maka hukumnya tidak makruh memakainya. Imam Nawawi berpendapat bahwa air tersebut hukumnya mutlak tidak makruh, tetapi justru makruh memakai air yang sangat panas atau dingin sekali.
  3. Air suci, tidak dapat mensucikan kepada yang lainnya, yaitu air mustakmal, yakni air yang sudah pernah terpakai untuk menghilangkan hadats (kotoran) atau najis, jika memang air itu tadi tidak berubah atau tidak bertambah dari asal muasalnya sesudah diperkirakan adanya air yang meresap pada benda yang dibasuh (disuci).
    Termasuk ke dalam bagian air yang suci tidak dapat mensucikan adalah yang berubah salah satu dari beberapa sifatnya yang disebabkan kecampuran benda-benda suci, sehingga menjadikan hilangnya nama kemutlakan air tersebut, maka air ini dihukumi sama dengan hukumnya air mustakmal, dalam arti ia masih tetap suci tetapi tidak dapat mensucikan. Perubahan air itu tadi dapat dibuktikan, baik dengan panca indera atau hanya dengan perkiraan, sebagaimana bila air tersebut kecampuran benda-benda yang kebetulan sifatnya sama. Misalnya kecampuran air mawar yang sudah hilang baunya atau juga kecampuran air mustakmal.
    Apabila air itu berubah, tidak sampai menghilangkan nama air mutlak. Misalnya disebabkan kecampuran benda suci dengan sedikit mengalami perubahan, maka air itu hukumnya suci dan mensucikan. Demikian juga bila air tadi berubah sebab campur dengan benda yang menurut lahiriahnya mempunyai sifat yang sama dengan air itu, akan tetapi dapat diperkirakan bahwa benda-benda itu tadi berbeda sifatnya dan tidak akan dapat merubah keadaan air tersebut, maka air yang semacam itu hukumnya suci dan mensucikan.
    Kata “Khalathahu” yang artinya “Benda itu bercampur dengan air” adalah dikandung maksud untuk mengecualikan air yang berubah sebab berdampingan dengan perkara yang suci yang memungkinkan dapat dipisahkan atau dapat dilihat indera. Seperti bercampur dengan minyak (meskipun berubahnya itu banyak), maka status hukum air itu masiih tetap suci. Demikian pula terhadap air yang berubah sebab campur dengan benda yang tidak dapat mengakibatkan air tersebut bertambah banyak. Seperti campur dengan lumpur dan ganggang serta segala macam benda yang ada di air. Atau air itu berubah (dengan sendirinya) karena terlalu lama berhenti di tempatnya, maka air yang semacam ini hukumnya tetap suci.
  4. Air najis, yaitu air suci yang terkena najis yang tidak ma'fu. Air najis ini terbagi menjadi 2, yaitu:
    a. Air yang sedikit, kurang dari 2 qullah yang terkena najis, baik ia berubah atau tidak. Dan terkecuali, apabila air tersebut terkena najis yang ma'fu seperti kejatuhan bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya (misalnya semut, lalat dsb), asalkan saja bangkai itu tadi tidak disengaja dimasukkan ke dalam air itu dan tidak menyebabkan berubahnya air, maka air yang demikian keadaannya adalah suci hukumnya. Dan juga bila najis tersebut tidak dapat dilihat oleh mata dan tidak dapat pula membuat benda cairnya (air) menjadi najis, maka hukumnya air itu tetap suci. Dan terkecuali juga beberapa contoh yang tersebut di dalam kitab yang panjang lebar keterangannya.
    b. Air yang banyak (lebih dari 2 qullah) yang berubah sebab kemasukan sesuatu, baik berubahnya itu sedikit atau banyak.
    Adapun yang dinamakan “air 2 qullah”, menurut ukuran di Baghdad, yaitu sebanyak 500 kati. Sedangkan ukuran per 1 kati menurut Imam Nawawi adalah bernila 128 dirham lebih 4/7 dirham.
    Selanjutnya pengarang kitab ini tidak membicarakan bagian air yang kelima yaitu air suci yang tidak diperbolehkan (diharamkan) untuk berwudhu. Seperti wudhu menggunakan air ghashaban atau air yang disediakan untuk diminum.
Disalin dari Terjemah Fathul Qorib, Jilid 1, Cetakan 1, 1983, Penerbit Menara Kudus.