Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Agar Bersamanya di Firdaus Tertinggi

03 Apr 2015

Sahabat mulia…
Menyambut ceria mentari pagi di Jum’at mulia ini, sejenak merenungkan potret cinta sejati para Sahabat kepada Rasulullah ‘alaihissalam dengan mentadabburi ayat berikut ini :
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama- sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin (yang teguh keimanannya terhadap Rasulullah), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baik nya.” (Al Qur'an surah An Nisa’:69)
Sahabat mulia, di mana kita dari mereka…?

Suatu hari, dengan penuh percaya diri Sahabat Mulia Umar bin Khattab, datang kepada baginda Nabi ‘alaihissalam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari siapapun, kecuali diriku sendiri!”. Beliau menimpal, “Tidak wahai Umar, kau belum beriman, hingga aku lebih kau cintai dari dirimu sendiri!.”. Demi mendengar sabda mulia itu, bergegas Umar menjawab,”Demi Allah, sungguh engkau wahai Rasulullah lebih aku cintai dari diriku sendiri!.” (Hadits riwayat Bukhari)
Seusai perang Uhud (3H), delegasi Al Ahdlal dan Al Qarah (suruhan Quraisy) datang menemui Rasulullah ‘alaihissalam, memohon kepada beliau agar mengirim beberapa sahabatnya untuk mengajarkan Islam karena banyaknya orang yang masuk Islam dari kabilah tersebut. Demi memenuhi permohonan tersebut Rasulullah ‘alaihissalam mengutus enam orang sahabat. Di tengah perjalanan delegasi kaum musyrik tersebut berkhianat, dan membunuh tiga orang sahabat dan menawan tiga lainnya di kota Makkah, termasuk sahabat Zaid bin Datsinah radhiallahu ‘anhu. Bersebab keteguhannya mempertahankan iman, orang-orang Quraysh memutuskan untuk membunuhnya di luar area Tanah Suci.
Abu Sufyan bin Harb, seorang tokoh terkemuka Quraisy yang saat itu belum masuk Islam, sempat berdialog dengan sahabat Zaid bin Datsinah radhiallahu ‘anhu. Kata Sufyan, “Wahai Zaid !, sudikah engkau jika posisimu saat ini digantikan oleh Muhamad, lalu kami penggal lehernya, kemudian kami bebaskan dirimu kembali kepada keluargamu?”. Dengan kstaria Zaid bin Datsinah menjawabnya, “Demi Allah sungguh aku tak rela sedikitpun, jika saat ini Muhammad ‘alaisssalam berada di rumahnya tertusuk duri, sementara aku bersama keluarga di rumahku!”. Abu Sufyan berkata, “ Tak pernah aku mendapatkan seseorang mencintai orang lain seperti cintanya para sahabat Muhammad kepada Muhammad itu sendiri!” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa Nihayah, V/505; Al Baihaqy, Dalail Nubuwwah III/326).
Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (II/72, 332), menukil riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu. Di tengah berkecamuknya perang Uhud, tersebar isu di tengah-tengah penduduk Madinah yang hampir saja meruntuhkan kondisi psikis mereka : Rasulullah ‘alaihissalam terbunuh!. Madinah, Kota Kenabian yang mulia itu banjir air mata…Seorang wanita Anshar berbegas keluar meninggalkan rumahnya menuju medan pertempuran Uhud, ia mendapatkan berita bahwa ayah, anak, suami dan saudara kandungnya gugur dan termasuk di barisan para Syuhada’.
Dengan gagah berani wanita tersebut masuk medan perang yang hanya menyisakan bekas-bekas dan menjadi saksi bisu kesyahidan keluarganya. Jasad-jasad suci bergelimpangan sepanjang tapak jalannya…”Ini siapa?”, tanya-nya. “Bapakmu, anakmu, suamimu dan saudara kandungmu!”, jawab pada sahabat di sekitarnya. Tiada menghiraukan informasi kematian keluarga terdekat yang dicintainya, Sahabat wanita pemberani ini malah menanyakan keadaan Rasulullah ‘alaihissalam, yang berjarak dekat di depan matanya, ”Apa yang terjadi dengan diri Rasulullah ‘alaihissalam ?”. Bak air danau tertumpah, segera ia bergegas menemui Manusia Agung tersebut, ‘alaihissalam. Katanya dengan penuh keteguhan hati dan ketegaran jiwa beriman, “ Demi Allah wahai Rasulullah, sungguh aku tak peduli apapun penderitaan yang menimpa diriku, selama dirimu yang mulia selamat!”.
Sahabat mulia,
Mari terus kita cintai qudwah dan teladan kita Muhammad yang teramat agung dan mulia…Mari ucapkan shalawat dan salam di Jum’at yang mulia ini…
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا وَ قُدْوَتِنَا وَشَافِعِنَا وَ قُرَّة ِأَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ
أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً
"Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak ber- shalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti." (Hadits riwayat Baihaqi)


Sumber : Ustadz Fathurrahman Kamal