Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Maaf : Meminta atau Memberi?

29 Mar 2015

"Maafkan Aku!" Itulah rangkaian kata yang lebih sering kita dengarkan daripada rangkaian kata: “Kumaafkan kamu!" Apalagi "kumaafkan kamu sebelum kau meminta”.
Pada saat kita bersalah, dan menyadari kesalahan yang kita perbuat, kita akan – dengan mudah – meminta maaf kepada siapa pun yang kita salahi. Dan ujung-ujungnya, kita merasa lega ketika orang yang pernah kita salahi “memaafkan”.
Kata orang, perbuatan kita yang kita khawatirkan menyinggung perasaan orang lain, biasanya kita tindaklanjuti dengan tindakan atau ucapan "minta maaf". Dan sebegitu mudah setiap orang untuk melakukannya, karena kita tengah mengharapkan sesuatu pemberiaan.

Bayangkan, di saat kita meminta bantuan kepada seseorang yang kita harapkan akan memberikan sesuatu yang berharga kepada diri kita, kita akan dengan senang hati melakukannya dan berharap untuk diberi dengan penuh harap. Kita akan berada dalam suasana kejiwaan ar raja’ wal khauf (harap-harap cemas). Dan itulah yang banyak dicari oleh setiap orang ketika banyak berharap, dan oleh karenanya semua orang suka untuk melakukannya.
Namun, bagaimana ketika kita tidak berbuat salah, tetapi justru banyak disalahi? Mungkinkah kita tetap mampu bersikap tawadhu’ (rendah hati) untuk memberi maaf kepada siapa pun yang bersalah kepada diri kita?
Ternyata bukan hal yang mudah bagi kita kita untuk berjiwa besar, dengan menunjukkan sikap tawâdhu’ kita: “memaafkan siapa pun yang pernah bersalah kepada diri kita”. Apalagi ketika kita sedang memiliki sejumlah “kebencian” – dengan seluruh kemungkinan derivasi sikap benci kita – kepada orang yang kita inginkan untuk kita beri maaf. Tentu saja, kita akan memiliki kesulitan besar untuk melakukannya. Keengganan dan bahkan arogansi kita kadang-kadang menjadi penghambat bagi diri kita untuk berbuat sesuatu yang terbaik, untuk – dengan sikap legawa -- menampilkan diri sebagai seorang pemaaf, sebagaimana yang diteladankan oleh sang Uswatun Hasanah, Rasululllah (Muhammad) shallallahu alayhi wasallam.
Kesadaran untuk memberi, dan bahkan menjadi orang yang lebih puas untuk memberi daripada “meminta”, memerlukan latihan yang berkesinambungan. Mungkin akan memakan waktu lama dan cukup melelahkan bagi setiap orang yang berkeinginan untuk menjadi seseorang yang bermental “pemberi” setelah sekian lama dilatih menjadi seseorang dan kelompok orang yang bermental “peminta-minta”.
Bukankah kita lebih sering diajar untuk berdoa dengan tahapan instan oleh orang-tua, guru, ustadz dan para mubaligh kita, dengan satu tafsir (tunggal) dari ayat-ayat Al Quran dan hadis tentang kepastian terkabulnya doa tanpa melihat nalar kausalitasnya? Sehingga seolah-olah (dikesankan) kita akan terus dijamin oleh Allah – secara cuma-cuma -- dengan perolehan-perolehan terbaik hanya karena doa-doa (permintaan-permintaan) tanpa preseden dan instrumen pengiring berupa potensi-potensi diri dan kerja keras setiap peminta (ad dâ’i, pendoa). Naif, bila pemahaman semacam ini menjadi mainstream (baca: cara pandang utama) umat Islam yang kini tengah berupaya secara terus-menerus menjadi khairu ummah (umat terbaik). Jangan sampai mentalitas mustahiq (penerima), peminta apalagi pengemis (peminta-minta) menjadi lebih dominan daripada mentalitas munfiq, mutashaddiq dan muzakki (baca: pemberi) dalam ranah hablun minannas (hubungan antarmanusia), setelah kita nikmati aktivitas doa-doa kita dalam ranah hablun minallah (hubungan kita dengan Allah) yang meskipun telah banyak kita lakukan, tetapi perlu sedikit “koreksi”. Karena, bagaimanapun juga, doa kita akan terkabul (dikabulkan oleh Allah) dengan sejumlah prasyarat yang mengiringinya, sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Allah dalam firman-firman-Nya (baca, antara lain Al Qur'an surah Al Baqarah : 186 dan surah Ar Ra’d : 11).
Kita boleh saja selalu berdoa dengan sejuta harapan. Namun kita pun diharuskan berusaha untuk mengiringi setiap doa kita, agar setiap doa kita menui hasil optimal. Demikian juga, kita boleh saja selalu meminta, termasuk di dalamnya: “meminta maaf”. Tetapi jangan pernah lupa untuk “memberi”, termasuk di dalamnya: “memberi maaf”. Karena dengan selalu memberi, permintaan kita akan lebih mungkin dikabulkan oleh siapa pun yang pernah kita beri. Seperti yang saat ini berlaku dalam nalar marketing (pemasaran) kontemporer: “kepedulian para konsumen akan terjadi sebagai akibat dari kepuasan yang pernah mereka terima dari para produsen”.
Kita pun bisa memahami arti penting “memberi” ketika kita berharap pemberian dari siapa pun yang kita harapkan untuk memberi dari firman Allah dalam surah Ali ‘Imran : 31, yang simpulan pentingnya adalah: “Cinta Allah akan hadir sama sebangun dengan cinta kita yang pernah kita berikan kepada-Nya”. Perolehan kita akan selalu sama-sebangun dengan apa yang pernah kita belanjakan. Termasuk di dalamnya “perolehan maaf, dengan sejumlah “pemberian maaf” kita kepada siapa pun.
Kini saatnya mulai kita bangun sikap lebih puas “memberi maaf" sebelum kita “meminta maaf”, kepada siapa pun.
Ibda’ bi nafsik (mulailah dari dirimu sendiri), sebelum kita menuntut orang lain untuk berbuat.

Sumber : Ustadz Muhsin Hariyanto