Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Jenis Air untuk Bersuci

15 Mar 2015

Thaharah menurut bahasa artinya bersih dan suci. Menurut istilah (fiqh) berarti membersihkan diri dari hadats atau najis, seperti dengan mandi, wudhu atau tayammum.

Air untuk Bersuci

Air yang boleh digunakan untuk thaharah/bersuci ada 7 macam, yaitu:
  1. Air hujan
  2. Air laut
  3. Air sungai
  4. Air sumur
  5. Air sumber / mata air
  6. Air es / salju
  7. Air embun

Macam-macam Air

Air dibagi menjadi 4 macam:

  1. Air muthlaq. Air yang suci dan mensucikan (bisa dipakai thaharah) dan tidak makruh untuk thaharah. Air muthlaq bisa menghilangkan hadats dan najis.
  2. Air musyammas. Air yang terkena sinar matahari sehingga menjadi panas. Air musyammas suci dan mensucikan tetapi makruh. Air yang terlalu panas dan air yang terlalu dingin juga makruh digunakan untuk thaharah. Syarat dinamai air musyammas adalah bila dipanaskan sinar matahari langsung di dalam bejana/wadah dari besi dan pemanasannya di daerah yang yang panas seperti Hijaz.
  3. Air musta'mal. Air yang telah dipakai untuk bersuci. Air ini suci dan mensucikan tetapi tidak boleh digunakan untuk bersuci lagi. Syarat air musta'mal, penggunaannya bukan pada basuhan yang fardhu, misalnya ketika wudhu, membasuh muka yang pertama kalinya adalah fardhu, sedangkan basuhan kedua dan ketiga sunnah, begitu juga ketika membasuh tangan sampai siku, basuhan pertamaitu wajib sedangkan basuhan kedua dan ketiga sunnah. Kemudian, air itu akan jadi musta'mal ketika air itu sudah lepas dari bagian tubuh yang dibasuh. Saat membasuh muka, air yang terjatuh dari muka akan menjadi air musta'mal.
  4. Air najis. Air yang terkena najis sehingga berubah warna, bau dan rasanya. Air initidak boleh untuk bersuci. Kalau airnya sedikit kemudian terkena najis, maka air itu menjadi najis baik itu berubah atau tidak. Tetapi, kalau air itu banyak (lebih dari 2 qullah, sekitar 200 liter) menjadi najis kalau terjadi perubahan warna, bau dan rasanya.

Menyamak Kulit

Kulit bangkai bisa menjadi suci dengan disamak, kecuali kulit anjing, babi, dan yang lahir dari keduanya. Maksudnya suci adalah kulit bangkai yang sudah disamak boleh digunakan untuk alat-alat seperti kain alas shalat, alas tidur, selimut, kantong air, dll. Tetapi, kulit yang disamak tidak boleh dimakan.

Bejana Emas dan Perak

Bejana dari emas dan perak dilarang untuk dijadikan tempat makanan dan minuman karena dalam hadits disebutkan bahwa emas dan perak adalah untuk dinikmati orang-orang kafir di dunia ini, sedangkan kita baru akan menikmatinya kelak di akhirat/surga.


Sumber : Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar, Penerbit Karya Toha Putra Semarang.