Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Kafirnya Syi'ah

02 Mar 2015

Jangan grusa-grusu mengatakan syi'ah bukan Islam karena masuk masalah takfir, masalah yang berat. Wajib tahu apa sebab kekafirannya!
Syi'ah (شيعة )secara bahasa artinya pengikut. Pengikut siapa? Pengikut Ali bin Abi Thalib. Gagalnya perundingan di Siffin antara pihak Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan, memunculkan 2 kelompok yang kemudian berkembang menjadi ekstrem. Kelompok pertama, adalah mereka yang tidak puas atas keimaman/kekhalifahan Ali bin Abi Thalib kemudian keluar dari barisan Ali yang di kemudian hari menjadi sangat benci kepada Ali bin Abi Thalib. Kelompok ini adalah khawarij, secara bahasa khawarij artinya mereka yang keluar. Kelompok kedua adalah mereka yang tetap setia kepada Ali sehingga disebut sebagai pengikut Ali atau Syi'ah Ali. Tidak ada masalah dengan Syi'ah Ali karena mereka sepaham dengan Ali, bahwa Abu Bakar dan Umar bin Khaththab layak menjadi khalifah menggantikan Rasulullah.

Kecintaan pada Ali bin Abi Thalib ini mengundang musibah besar bagi mereka. Setelah Ali wafat, mereka pecah jadi 3 kelompok: Syi'ah Saba'iyah, Syi'ah Kaisaniyah, dan Syi'ah Za'idiyah.
Syi'ah Saba'iyah ini saking cintanya pada Ali (mungkin), tidak mau terima kenyataan kalau Ali telah wafat. Mereka meyakini Ali tidak terbunuh dan tidak akan mati. Keyakinan Ali tidak akan mati jelas kufur yang menyebabkan kafir karena menyamakan Ali dengan Allah yang abadi tak kan mati. Syi'ah Saba'iyah telah nyata batal Islamnya a.k.a kafir! Adanya syi'ah Saba'iyah inilah yang melahirkan dugaan syi'ah buatan yahudi karena Abdullah bin Saba' dedengkotnya syi'ah Saba'iyah selama dia memeluk yahudi dia meyakini bahwa Yusa' bin Nun adalah penerus kenabian Nabi Musa, setelah masuk Islam dia meyakini yang berhak meneruskan kepemimpinan (sekaligus kenabian) Rasulullah Muhammad shallallahu alayhi wasallam adalah Ali bin Abi Thalib bukan syaikhain (Abu Bakar dan Umar bin Khaththab) yang keduanya kafir menurut Saba'iyah. Syi'ah Kaisaniyah juga mengkafirkan Abu Bakar dan Umar. Menjatuhkan vonis kafir kepada shahabat sekaliber Abu Bakar dan Umar bin Khaththab dan mengatakan mereka berada di neraka selamanya, jelas masalah besar yang bisa menjadikan dirinya kafir.
Sedangkan syi'ah Za'idiyah tidak mengkafirkan syaikhain dan 100% loyal kepada syaikhain. Syi'ah Za'idiyah ini berpendapat yang berhak menjadi khalifah setelah Ali bin Abi Thalib adalah Za'id bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Menurut ulama sunniy, fiqh syi'ah Za'idiyah sebagian bisa diterima. Tapi, tidak semua ulama sunniy menerima. Menurut Syaikh Hasyim Asy'ari (pendiri NU) syi'ah Za'idiyah tidak boleh diikuti pendapatnya.

Cinta yang teramat sangat kepada Ali bin Abi Thalib membuat mereka lari dari kenyataan bahwa Abu Bakar dan Umar bin Khaththab adalah khalifah yang sah. Mereka menolak kekhalifahan syaikhain. Mereka menolak kepemimpinan syaikhain. Mereka menolak imamah syaikhain. Mereka menolak jasa-jasa perjuangan syaikhain. Bahkan mereka menolak keislaman syaikhain. Sehingga mereka dijuluki sebagai rafidhah (رافضة ) yang artinya yang menolak.
Penolakan rafidhah atas syaikhain tak berhenti sampai di situ.
Karena Abu Bakar memulai pengumpulan Al Qur'an menjadi suhuf hingga dilanjutkan Utsman bin Affan menjadi Mushaf Al Imam (Mushaf Utsmany) maka rafidhah mengatakan bahwa Al Qur'an yang saat ini (Mushaf Utsmany) adalah palsu, banyak ayat yang dihapus, sehingga menurut rafidhah Al Qur'an yang asli berjumlah 17000an ayat, jauh lebih banyak dari Mushaf Utsmany yang hanya 6000an ayat.
Karena yang jadi khalifah menggantikan Rasulullah adalah Abu Bakar, Umar, Utsman baru kemudian Ali, rafidhah menolak para shahabat sebagai orang yang setia pada Rasulullah. Rafidhah meyakini saat peristiwa Ghadir Khum Rasulullah telah melantik Ali sebagai imam/khalifah untuk menggantikan Rasulullah. Sehingga, kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman adalah ilegal, membangkang dari yang diperintahkan Rasulullah. Para shahabat yang mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman dan mendukung kekhalifahan mereka juga dicap sebagai pembangkang yang murtad. Takfir/vonis kafir tak hanya diberikan kepada shahabat, tapi juga kepada ahlus sunnah wal jama'ah/aswaja/sunniy yang mencintai dan mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman. Sunniy yang mencintai syaikhain dan para shahabat yang lainnya yang juga cinta syaikhain ini disebut oleh rafidhah sebagai An Nashib. Sedangkan An Nashib menurut sunniy adalah orang yang mengalahkan Ali dan keluarganya Ali. Sehingga, bagi rafidhah halal hukumnya membunuh sunniy dan merampas harta milik sunniy. Sehingga, jangan heran kalau di Suriah yang presidennya syi'ah nushairiyah (sepaham dengan rafidhah) terjadi perang. Jangan heran juga kalau di Yaman (banyak ga diliput) syi'ah hutsyi membantai sunniy di sana, tapi bolehlah bertanya-tanya kemanakah gerangan syi'ah Za'idiyah yang dulunya adalah syi'ah mayoritas di Yaman.

Syi'ah di Indonesia?
Syi'ah yang di Indonesia mengaku sebagai syi'ah Za'idiyah atau Ja'fariyah atau sunniy madzhab Ahlul Bayt. Pengakuan ini perlu diragukan. Mayoritas syi'ah yang ada di Indonesia adalah 'impor' dari Iran. Iran syi'ahnya adalah Itsna Asyariah atau Imamiyah atau Isma'iliyah, yang semua itu sepaham dengan rafidhah.
Oya, karena kaum muslimin di Indonesia (mengaku) bermadzhab Syafi'iyah, tidak ada salahnya mengikuti pendapat Imam Syafi'iy dalam kitab Manaqib Asy Syafi'iy,
“Saya tidak pernah melihat seorang pun dari pengikut hawa nafsu yang paling banyak berdusta dalam dakwaannya dan yang paling banyak bersaksi palsu daripada rafidhah”.
Dan yang disebutkan dalam Siyar A'lam An Nubala', salah seorang murid Imam Syafi'iy, Abu Yusuf Ya'qub bin Yahya Al Buwaithi bertanya kepada Imam Syafi'iy, “Bolehkah saya shalat menjadi makmumnya rafidhah (shalat diimami rafidhah)?”. Imam Syafi'iy menjawab, “Jangan shalat di belakang rafidhah, qadariyah dan murji'ah”.

Atau, dengan kata lain, Imam Syafi'iy berpendapat rafidhah adalah kafir.