Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Kesesatan Syi'ah di Mata Ketua Majlis Tarjih PWM Jateng

01 Jan 2015

Melihat sepak terjang syi'ah yang berusaha ingin diakui eksistensinya, Ketua Majlis Tarjih PWM Jateng, Ustadz Sholahuddin Sirizar angkat bicara.
Ustadz Sholahuddin menjelaskan bahwa syi'ah itu ada beberapa sekte. Ada yang pemahamannya dekat dengan ahli sunnah wal jama'ah (aswaja) yang kita ikuti yaitu Zaidiyah, tapi ada juga yang menyimpang sangat jauh.
“Di antara sekte syi'ah ada yang menganggap bahwa malaikat Jibril ‘alaihis salam  salah menyampaikan wahyu. Mestinya diberikan kepada Ali radhiallahu ‘anhu tapi kok diberikan kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Nah, yang seperti itu sudah jauh sekali dari Islam,” terang beliau.
Kemudian beliau menerangkan bahwa ada sekte-sekte syi'ah yang mencela para sahabat khususnya yang diangggap tidak mau bai'at kepada Ali radhiallahu ‘anhu, “Mereka (para sahabat nabi) dicela bahkan dikafirkan oleh syi'ah. Termasuk ada juga sekte syi'ah yang melaknat Aisyah radhiallahu ‘anhuma. Salah satu ummahatul mukminin itu dilaknat, bahkan mereka punya lagu-lagu yang melaknat kepada Aisyah radhiallahu ‘anhuma. Nah, itu kan sudah sangat jauh. Karena rangkaiannya bisa sampai kesitu jelas aqidahnya sudah sangat jauh dari Islam,”

Tentang sekte-sekte syi'ah ini beliau juga menerangkan ada juga yang menyebut Ali radhiallahu ‘anhu adalah jelmaan antara Tuhan dan manusia. Jadi ketika Aliradhiallahu ‘anhu gugur, mereka malah bergembira, karena dalam anggapan mereka Ali radhiallahu ‘anhu sebagai manusia sudah selesai, tinggallah Ali radhiallahu ‘anhu sebagai Tuhan.
Di antara kesesatan lain syi'ah yang beliau sebutkan adalah dalam masalah rukun iman. Rukun iman dalam syi'ah yang sangat jauh dari aqidah kita adalah tidak memasukkan, tidak mengakui dan tidak percaya kepada malaikat sebagai salah satu bagian dari rukun iman. Hai itu disinyalir karena salah satu malaikat, yaitu Jibril ‘alaihis salam  mereka anggap telah salah saat mengurusi masalah wahyu sebagaimana tadi disebutkan (seharusnya wahyu diturunkan kepada Ali radhiallahu anhu bukan kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam).
Selanjutnya, model imamah yang maksum itu juga dianggap oleh ustadz Sholahuddin sebagai kesesatan yang berat. Artinya mereka menganggap imam mereka yang 12 itu tidak akan melakukan kesalahan dan berposisi sama dengan para Nabi. Apa yang para imam katakan dan perbuat adalah hukum yang wajib ditaati. Padahal dalam keyakinan ahlus sunnah, selain para Nabi tidak ada yang maksum. Sehebat dan sealim apapun, mereka tetap manusia biasa yang tidak maksum sehingga sangat mungkin berbuat salah. Itulah beberapa perbedaan antara syi'ah dan ahlus sunnah yang sangat mendasar.
Syahadat mereka juga berbeda. Selain syahadat tauhid dan syahadat rasul yang diikrarkan ahlus sunnah, mereka juga menyebutkan dua belas imam. Dengan syahadat yang semacam ini artinya mereka sendiri mengatakan kalau kita (ahlus sunnah) yang belum bersyahadat kepada 12 imam itu dianggap belum muslim atau kafir oleh mereka.
Kalaupun ada syi'ah yang moderat itu hanya satu, yaitu syi'ah Zaidiyah yang ada di Yaman. Namun dalam pandangan beliau saat kita bicara syi'ah akhir-akhir ini, yang sangat progresif untuk menyebarkan faham syi'ah adalah Iran dengan fahamnya Imamiyah Istna Astariyah. Perbedaan kita (ahlus sunnah) dengan mereka dalam masalah prinsip cukup banyak seperti yang disebutkan tadi.
Memang saat kaum Muslimin tidak mempelajari ajaran syi'ah langsung dari kitab-kitab mereka, kita akan menganggap bahwa syi'ah itu juga orang Islam hanya saja dengan madzhab syi'ah. Yang oleh segelintir orang, syi'ah di Indonesia itu dikenal toleran dan mau menggunakan hadits-hadits dari Imam Bukhari dan Imam Muslim. Padahal kalau kita ketahui syi'ah Imamiyah itu anti pada kitab-kitab hadits, baik shahihain maupun kutubus sittah yang muktabar di kalangan ahlus sunnah. Mereka tidak mau menggunakan kitab-kitab tersebut karena tidak mengakui hadits-hadits yang tertulis didalamnya. hadits yang mereka akui hanyalah hadits dari ahlul bait yang ada dalam kitab-kitab mereka saja.
Ustadz Sholahuddin juga menceritakan kisahnya dengan seorang syi'ah saat masih kuliah di Iraq dulu. “Saya pernah ketemu dengan seorang al fadhil, sebuah jenjang keulamaan. Dia bilang bahwa dia sering ke Karbala untuk mengisi kajian disana. Dari Baghdad menuju Karbala jaraknya sampai beberapa ratus kilometer. Saat di Karbala tersebut biasanya dia menginap satu atau dua pekan. Karenanya dia sudah melakukan nikah mut’ah lebih dari 25 kali. Bahkan dia pernah mengajak saya  untuk ikut nikah mut’ah. Saya hanya tersenyum saja, tidak menolak, tidak juga menanggapi. Karena kalau saya menentang wong saya posisinya di sana (Iraq juga basis syi'ah), kalau harus mendukung mut’ah juga tidak sesuai dengan hati.”
Al Fadhil tersebut juga pernah berkata kepada beliau, “Sholahuddin kamu jangan curiga, saya itu kalau nikah mut’ah di karbala, saya hanya membaca Alquran dengan istri (mu’tah) saya sampai subuh dan tidak tidur,” begitu beliau mengisahkan.
Mendengar perkataan ini Ustadz Sholahuddin hanya bisa bertanya dalam hati, “Saya sebenarnya ada pertanyaan besar buat dia, kalau hanya membaca Alquran saja kenapa harus nikah mut’ah?!”
Karena efek negatif nikah mut’ah yang luar biasa, kata beliau ulama-ulama kalangan syi'ah di Iran sekarang sudah mulai memperselisihkan dan memberikan batasan-batasan untuk mut’ah. Diantara efek negatif tersebut adalah dengan lahirnya anak-anak hasil mut’ah tersebut yang banyak sditelantarkan dan akhirnya menjadi beban negara.
Tentang perlunya Majelis Tarjih Muhammadiyah memfatwakan kesesatan syi'ah. Beliau mengatakan, “kalau Muhammadiyah dibutuhkan untuk memfatwakan tentang kesesatan syi'ah, maka Muhammadiyah perlu menjelaskan secara lengkap juga bahwa di dalam syi'ah terdiri dari banyak sekte. Sekte yang sangat keras dan prinsip akidahnya jauh melenceng dengan prinsip agama Islam yang kita anut, maka menurut saya mereka sudah lakum dinukum waliyadin (bukan lagi Islam). Meskipun ada satu yang masih dekat dengan paham Ahlus Sunnah, yaitu Zaidiyah.