Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Pedoman Pelayanan Medis DSA Anak

29 Nov 2014

Setiap defek pada septum atrium, selain paten foramen ovale, disebut defek septum atrium (DSA). Secara anatomis, terdapat tiga tipe DSA yaitu: defek sekundum, defek primum, dan defek tipe sinus venosus. Defek septum atrium mencakup lebih kurang 5- 10% penyakit jantung bawaan. Defek septum atrium tipe sekundum merupakan bentuk kelainan terbanyak (50% sampai 70%), diikuti tipe primum (30%), dan sinus venosus (10%). Kebanyakan DSA terjadi sporadis tetapi pada beberapa keluarga ada peranan faktor genetik.
Pada defek sekundum kurang dari 3 mm yang didiagnosis sebelum usia 3 bulan, penutupan secara spontan terjadi pada 100% pasien pada usia 11⁄2 tahun. Defek 3 sampai 8 mm menutup pada usia 11⁄2 tahun pada 80% pasien, dan defek lebih besar dari 8 mm jarang menutup spontan. Defek ini dalam perjalanannya dapat mengecil, menetap, atau meski jarang, melebar. Defek sinus venosus dan primum tidak mengalami penutupan spontan.

Diagnosis

Anamnesis

Sebagian besar bayi dan anak asimtomatik. Bila pirau cukup besar, maka pasien mengalami sesak napas (terutama saat beraktivitas), infeksi paru berulang, dan berat badan sedikit kurang.

Pemeriksaan fisis

  • Anak dapat tampak kurus, tergantung derajat DSA.
  • Pada auskultasi, S2 melebar dan menetap pada saat inspirasi maupun ekspirasi disertai bising ejeksi sistolik di daerah pulmonal. Pada pirau kiri ke kanan yang besar dapat terdengar bising diastolik pada tepi kiri sternum bagian bawah akibat stenosis trikuspid relatif.

Pemeriksaan penunjang

  • Elektrokardiografi: deviasi sumbu QRS ke kanan (+90 sampai 180 o ), hipertrofi ventrikel kanan, blok cabang berkas kanan (RBBB) dengan pola rsR’ pada V1.
  • Foto toraks: kardiomegali dengan pembesaran atrium kanan dan ventrikel kanan. Arteri pulmonalis tampak menonjol disertai tanda peningkatan corakan vaskular paru.
  • Ekokardiografi (transtorakal) dapat menentukan lokasi, jenis dan besarnya defek, dimensi atrium kanan ventrikel kanan dan dilatasi arteri pulmonalis. Pada pemeriksaan Doppler dapat dilihat pola aliran pirau. Jika pada ekokardiografi transtorakal tidak jelas maka dapat dilakukan ekokardiografi trans esofageal dengan memasukkan transduser ke esofagus.

Tata laksana

Medikamentosa

  • Pada DSA yang disertai gagal jantung, diberikan digitalis atau inotropik yang sesuai dan diuretik.
  • Profilaksis terhadap endokarditis bakterial tidak terindikasi untuk DSA, kecuali pada 6 bulan pertama setelah koreksi dengan pemasangan alat protesis.

Penutupan tanpa pembedahan

Hanya dapat dilakukan pada DSA tipe sekundum dengan ukuran tertentu. Alat dimasukkan melalui vena femoral dan diteruskan ke DSA. Terdapat banyak jenis alat penutup (occluder) namun saat ini yang paling banyak digunakan adalah ASO (Amplatzer Device Occluder). Keuntungan penggunaan alat ini adalah tidak perlunya operasi yang menggunakan cardiopulmonary bypass dengan segala konsekuensinya, rasa nyeri minimal dibanding operasi, serta tidak adanya luka bekas operasi.

Penutupan dengan pembedahan

Dilakukan apabila bentuk anatomis DSA tidak memungkinkan untuk dilakukan pemasangan alat
  • Pada DSA dengan aliran pirau kecil, penutupan defek dengan atau tanpa pembedahan dapat ditunda sampai usia 5-8 tahun bila tidak terjadi penutupan secara spontan.
  • Pada bayi dengan aliran pirau besar, pembedahan/intervensi dilakukan segera bila gagal jantung kongestif tidak memberi respons memadai dengan terapi medikamentosa.
  • Tindakan intervensi penutupan defek dilakukan bila hipertensi pulmonal belum terjadi. Bila telah terjadi hipertensi pulmonal dengan pirau balik dari kanan ke kiri hanya diberikan terapi konservatif.

Sumber : Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2009.