Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Pedoman Pelayanan Medis Campak

28 Nov 2014

Campak, measles atau rubeola adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh virus campak. Penyakit ini sangat infeksius, dapat menular sejak awal masa prodromal sampai lebih kurang 4 hari setelah munculnya ruam. Penyebaran infeksi terjadi dengan perantara droplet.
Angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun 1990 sampai 2002 masih tinggi sekitar 3000-4000 per tahun demikian juga frekuensi terjadinya kejadian luar biasa tampak meningkat dari 23 kali per tahun menjadi 174. Namun case fatality rate telah dapat diturunkan dari 5,5% menjadi 1,2%. Umur terbanyak menderita campak adalah <12 bulan, diikuti kelompok umur 1-4 dan 5-14 tahun.

Diagnosis

Anamnesis

  • Adanya demam tinggi terus menerus 38,50 C atau lebih disertai batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah dan silau bila terkena cahaya (fotofobia), seringkali diikuti diare.
  • Pada hari ke 4-5 demam timbul ruam kulit, didahului oleh suhu yang meningkat lebih tinggi dari semula. Pada saat ini anak dapat mengalami kejang demam.
  • Saat ruam timbul, batuk dan diare dapat bertambah parah sehingga anak mengalami sesak napas atau dehidrasi. Adanya kulit kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi) dapat merupakan tanda penyembuhan.

Pemeriksaan fisis

Gejala klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari, terdiri dari tiga stadium:
  • Stadium prodromal: berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan demam yang diikuti dengan batuk, pilek, faring merah, nyeri menelan, stomatitis, dan konjungtivitis. Tanda patognomonik timbulnya enantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut bercak Koplik.
  • Stadium erupsi: ditandai dengan timbulnya ruam makulopapular yang bertahan selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ke ekstremitas.
  • Stadium penyembuhan (konvalesens): setelah 3 hari ruam berangsur-angsur menghilang sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi kehitaman dan mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu.

Pemeriksaan penunjang

  • Darah tepi: jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada komplikasi infeksi bakteri
  • Pemeriksaan untuk komplikasi
  • Ensefalopati dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinalis, kadar elektrolit darah, dan analisis gas darah
  • Enteritis: feses lengkap
  • Bronkopneumonia: dilakukan pemeriksaan foto dada dan analisis gas darah

Tata laksana

Medikamentosa

  • Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi, antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder, antikonvulsi apabila terjadi kejang, dan pemberian vitamin A
  • Tanpa komplikasi:
  • Tirah baring di tempat tidur
  • Vitamin A 100.000 IU, apabila disertai malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari
  • Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya komplikasi
  • Pengobatan dengan komplikasi:
  • Ensefalopati
  • Kloramfenikol dosis 75 mg/kgbb/hari dan ampisilin 100 mg/kgbb/hari selama 7-10 hari
  • Kortikosteroid: deksametason 1 mg/kgbb/hari sebagai dosis awal dilanjutkan 0,5 g/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis sampai kesadaran membaik (bila pemberian lebih dari 5 hari dilakukan tappering off)
  • Kebutuhan jumlah cairan dikurangi 3⁄4 kebutuhan serta koreksi terhadap gangguan elektrolit
  • Bronkopneumonia
  • Kloramfenikol 75 mg/kgbb/hari dan ampisilin 100 mg/kgbb/hari selama 7-10 hari
  • Oksigen 2 liter/menit

Indikasi rawat

Pasien dirawat (di ruang isolasi) bila:
  • hiperpireksia (suhu>39.00 C)
  • dehidrasi
  • kejang
  • asupan oral sulit
  • adanya komplikasi

Pemantauan dan konsultasi

  • Pada kasus campak dengan komplikasi bronkopneumonia dan gizi kurang perlu dipantau terhadap adanya infeksi tuberkulosis (TB) laten. Pantau gejala klinis serta lakukan uji tuberkulin setelah 1-3 bulan penyembuhan.
  • Pantau keadaan gizi untuk gizi kurang/buruk, konsultasi pada Divisi Nutrisi & Metabolik.

Faktor risiko terjadinya komplikasi

Campak menjadi berat pada pasien dengan gizi buruk dan anak berumur lebih kecil.
  • Diare dapat diikuti dehidrasi
  • Otitis media
  • Laringotrakeobronkitis ( croup)
  • Bronkopneumonia
  • Ensefalitis akut, terjadi pada 2-10/10.000 kasus dengan angka kematian 10-15 %
  • Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE): suatu proses degeneratif susunan saraf pusat dengan gejala karakteristik terjadi deteriorisasi tingkah laku dan intelektual yang diikuti dengan kejang. Disebabkan oleh infeksi virus yang menetap, timbul beberapa tahun setelah infeksi dan merupakan salah satu komplikasi campak awitan lambat. Terjadi pada 1/25.000 kasus, menyebabkan kerusakan otak progresif dan fatal.

Sumber : Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2009.