Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Pedoman Pelayanan Medis Bronkiolitis Anak

27 Nov 2014

Menurut Wohl, bronkiolitis adalah inflamasi bronkioli pada bayi <2 tahun. Berdasarkan guideline dari UK, bronkiolitis adalah penyakit seasonal viral yang ditandai dengan adanya panas, pilek, batuk, dan mengi. Pada pemeriksaan fisis ditemukan inspiratory crackles dan/ atau high pitched expiratory wheeze. Etiologi bronkiolitis antara lain adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV) (tersering), Rhinovirus, Adenovirus, Parainfluenzae virus, Enterovirus, dan Influenzae virus. Bronkiolitis merupakan penyebab tersering perawatan rumah sakit pada anak usia 2-6 bulan dan sering terjadi misdiagnosis dengan asma.

Diagnosis

Anamnesis

  • Sering terjadi pada anak berusia <2 tahun. Sembilan puluh persen (90%) kasus yang membutuhkan perawatan di rumah sakit terjadi pada bayi berusia <1 tahun. Insidens tertinggi terjadi pada usia 3-6 bulan.
  • Anak yang menderita bronkiolitis mengalami demam atau riwayat demam, namun jarang terjadi demam tinggi.
  • Rhinorrhea, nasal discharge (pilek), sering timbul sebelum gejala lain seperti batuk, takipne, sesak napas, dan kesulitan makan.
  • Batuk disertai gejala nasal adalah gejala yang pertama muncul pada bronkiolitis. Batuk kering dan mengi khas untuk bronkiolitis.
  • Poor feeding. Banyak penderita bronkiolitis mempunyai kesulitan makan yang berhubungan dengan sesak napas, namun gejala tersebut bukan hal mendasar untuk diagnosis bronkiolitis
  • Bayi dengan bronkiolitis jarang tampak ”toksik”. Bayi dengan tampilan toksik seperti mengantuk, letargis, gelisah, pucat, motling, dan takikardi membutuhkan penanganan segera.

Pemeriksaan Fisis

  • Napas cepat merupakan gejala utama pada lower respiratory tract infection (LRTI), terutama pada bronkiolitis dan pneumonia.
  • Retraksi dinding dada (subkosta, interkosta, dan supraklavikula) sering terjadi pada penderita bronkiolitis. Bentuk dada tampak hiperinflasi dan keadaan tersebut membedakan bronkiolitis dari pneumonia.
  • Fine inspiratory crackles pada seluruh lapang paru sering ditemukan (tapi tidak selalu) pada penderita bronkiolitis. Di UK, crackles merupakan tanda utama bronkiolitis. Bayi dengan mengi tanpa crackles lebih sering dikelompokkan sebagai viral-induced wheeze dibandingkan bronkiolitis.
  • Di UK, high pitched expiratory wheeze merupakan gejala yang sering ditemukan pada bronkiolitis, tapi bukan temuan pemeriksaan fisis yang mutlak. Di Amerika, diagnosis bronkiolitis lebih ditekankan pada adanya mengi.
  • Apnea dapat terjadi pada bronkiolitis, terutama pada usia yang sangat muda, bayi prematur, atau berat badan lahir rendah.

Pemeriksaan Penunjang

  • Saturasi oksigen
  • Pulse oximetry harus dilakukan pada setiap anak yang datang ke rumah sakit dengan bronkiolitis. Bayi dengan saturasi oksigen ≤92% membutuhkan perawatan di ruang intensif. Bayi dengan saturasi oksigen >94% pada udara ruangan dapat dipertimbangkan untuk dipulangkan.
  • Analisis gas darah
  • Umumnya tidak diindikasikan pada bronkiolitis. Pemeriksaan tersebut berguna untuk menilai bayi dengan distres napas berat dan kemungkinan mengalami gagal napas.
  • Foto toraks dipertimbangkan pada bayi dengan diagnosis meragukan atau penyakit atipikal. Foto toraks sebaiknya tidak dilakukan pada bronkiolitis yang tipikal. Foto toraks pada bronkiolitis yang ringan tidak memberikan informasi yang dapat memengaruhi pengobatan.
  • Rapid diagnosis infeksi virus pada saluran napas adalah cost effective karena mengurangi lama perawatan, penggunaan antibiotik, dan pemeriksaan mikrobiologi.
  • Pemeriksaan bakteriologi secara rutin (darah dan urin) tidak diindikasikan pada penderita bronkiolitis bakteriologi tipikal. Pemeriksaan bakteriologi dari urin dipertimbangkan pada bayi berusia <60 hari.
  • Pemeriksaan darah lengkap tidak diindikasikan dalam menilai dan menata laksana bayi dengan bronkiolitis tipikal.
  • C-reactive protein (CRP)
  • Penelitian yang ada merupakan penelitian retrospektif atau penelitian dengan kualitas yang buruk dan tidak memberikan bukti yang cukup berhubungan dengan bronkiolitis.

Tata laksana

Medikamentosa

Bronkiolitis pada umumnya tidak memerlukan pengobatan. Pasien bronkiolitis dengan klinis ringan dapat rawat jalan, jika klinis berat harus rawat inap. Terapi suportif seperti pemberian oksigen, nasal suction masih dapat digunakan. Fisioterapi dada dengan vibrasi dan perkusi tidak direkomendasikan untuk pengobatan penderita bronkiolitis yang tidak dirawat di ruang intensif.
Menurut penelitian, pemberian antiviral, antibiotik, inhalasi β2-agonis, inhalasi antikolinergik (ipratropium) dan inhalasi kortikosteroid tidak direkomendasikan. Belum ada penelitian yang dapat menunjang rekomendasi pemberian leukotriene receptor antagonist (Montelukast) pada pasien dengan bronkiolitis.
Indikasi rawat di ruang rawat intensif
  • Gagal mempertahankan saturasi oksigen >92% dengan terapi oksigen
  • Perburukan status pernapasan, ditandai dengan peningkatan distres napas dan/atau kelelahan
  • Apnea berulang.
Faktor resiko bronkiolitis berat
  • Bayi usia muda dengan bronkiolitis mempunyai risiko lebih tinggi untuk mendapat perawatan di rumah sakit.
  • Bayi lahir prematur kemungkinan menderita RSV-associated hospitalization lebih tinggi daripada bayi cukup bulan.
  • Kelainan jantung bawaan
  • Chronic lung disease of prematurity
  • Orangtua perokok
  • Jumlah saudara/berada di tempat penitipan
  • Sosioekonomi rendah

Sumber : Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2009.