Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Pedoman Pelayanan Medis Bayi Berat Lahir Rendah

26 Nov 2014

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (<37 minggu) atau pada bayi cukup bulan (intrauterine growth restriction/IUGR).
Sampai saat ini BBLR masih merupakan masalah di seluruh dunia, karena menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada masa neonatal. Prevalens BBLR masih cukup tinggi terutama di negara-negara dengan sosio-ekonomi rendah. Secara statistik di seluruh dunia, 15,5% dari seluruh kelahiran adalah BBLR, 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 20-35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir >2500 gram. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yang berkisar antara 9-30%.
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu adalah umur (<20 tahun atau >40 tahun), paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskular, kehamilan ganda, dan lain-lain, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR.
Masalah yang sering timbul pada BBLR:
  • Masalah pernapasan karena paru-paru yang belum matur.

  • Masalah pada jantung
  • Perdarahan otak
  • Fungsi hati yang belum sempurna
  • Anemia atau polisitemia
  • Lemak yang sedikit sehingga kesulitan mempertahankan suhu tubuh normal
  • Masalah pencernaan/toleransi minum
  • Risiko infeksi

Diagnosis

Anamnesis

  • Umur ibu
  • Hari pertama haid terakhir
  • Riwayat persalinan sebelumnya
  • Paritas, jarak kelahiran sebelumnya
  • Kenaikan berat badan selama hamil
  • Aktivitas, penyakit yang diderita, dan obat-obatan yang diminum selama hamil

Pemeriksaan fisis

  • Berat badan <2500 gram
  • Tanda prematuritas (bila bayi kurang bulan)
  • Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa kehamilan)

Pemeriksaan penunjang

  • Pemeriksaan skor Ballard
  • Tes kocok (shake test) dianjurkan untuk bayi kurang bulan
  • Darah rutin, glukosa darah.
  • Bila perlu (tergantung klinis) dan fasilitas tersedia, diperiksa kadar elektrolit dan analisis gas darah.
  • Foto rontgen dada diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dan mengalami sindrom gangguan napas
  • USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan <35 minggu, dimulai pada umur 3 hari dan dilanjutkan sesuai hasil yang didapat.

Tata laksana

  • Pemberian vitamin K 1
  • Injeksi 1 mg IM sekali pemberian; atau
  • Per oral 2 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10 hari, dan umur 4-6 minggu).
  • Mempertahankan suhu tubuh normal
  • Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi, seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas, inkubator, atau ruangan hangat yang tersedia di fasilitas kesehatan setempat sesuai petunjuk.
  • Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin
  • Ukur suhu tubuh sesuai jadwal
  • Pemberian minum
  • ASI merupakan pilihan utama
  • Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali
  • Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.
  • Pemberian minum minimal 8x/hari. Apabila bayi masih menginginkan dapat diberikan lagi (ad libitum).
  • Indikasi nutrisi parenteral yaitu status kardiovaskular dan respirasi yang tidak stabil, fungsi usus belum berfungsi/terdapat anomali mayor saluran cerna, NEC, IUGR berat, dan berat lahir <1000 g.
  • Pada bayi sakit, pemberian minum tidak perlu dengan segera ditingkatkan selama tidak ditemukan tanda dehidrasi dan kadar natrium serta glukosa normal.
    Panduan pemberian minum berdasarkan BB:
  • Berat lahir <1000 g
  • Minum melalui pipa lambung
  • Pemberian minum awal : ≤10 mL/kg/hari
  • Asi perah/ term formula/half-strength preterm formula
  • Selanjutnya minum ditingkatkan jika memberikan toleransi yang baik: tambahan 0,5-1 mL, interval 1 jam, setiap ≥24 jam
  • Setelah 2 minggu: Asi perah + HMF ( human milk fortifier)/full-strength preterm formula sampai berat badan mencapai 2000 g.
  • Berat lahir 1000-1500 g
  • Pemberian minum melalui pipa lambung ( gavage feeding)
  • Pemberian minum awal : ≤10 mL/kg/hari
  • ASI PERAH/ term formula/half-strength preterm formula
  • Selanjutnya minum ditingkatkan jika memberikan toleransi yang baik: tambahan 1-2 ml, interval 2 jam, setiap ≥24 jam
  • Setelah 2 minggu: Asi perah + HMF( human milk fortifier)/full-strength preterm formula sampai berat badan mencapai 2000 g.
  • Berat lahir 1500-2000 g
  • Pemberian minum melalui pipa lambung ( gavage feeding)
  • Pemberian minum awal : ≤10 ml/kg/hari
  • ASI PERAH/ term formula/half-strength preterm formula
  • Selanjutnya minum ditingkatkan jika memberikan toleransi yang baik: tambahan 2-4 ml, interval 3 jam, setiap ≥12-24 jam
  • Setelah 2 minggu: ASI PERAH + HMF/ full-strength preterm formula sampai berat badan mencapai 2000 g.
  • Berat lahir 2000-2500 g
  • Apabila mampu sebaiknya diberikan minum per oral
  • ASI PERAH/ term formula
  • Bayi sakit:
  • Pemberian minum awal: ≤10 mL/kg/hari
  • Selanjutnya minum ditingkatkan jika memberikan toleransi yang baik: tambahan 3-5 mL, interval 3 jam, setiap ≥8 jam
Suportif
  • Jaga dan pantau kehangatan
  • Jaga dan pantau patensi jalan napas
  • Pantau kecukupan nutrisi, cairan dan elektrolit
  • Bila terjadi penyulit segera kelola sesuai dengan penyulit yang timbul (misalnya hipotermi, kejang, gangguan napas, hiperbilirubinemia, dll)
  • Berikan dukungan emosional kepada ibu dan anggota keluarga lainnya.
  • Anjurkan ibu untuk tetap bersama bayi. Bila ini tidak memungkinkan, biarkan ia berkunjung setiap saat dan siapkan kamar untuk menyusui
  • Ijinkan dan anjurkan kunjungan oleh keluarga atau teman dekat apabila dimungkinkan.

Lain-lain atau rujukan

  • Bila perlu lakukan pemeriksaan USG kepala atau fisioterapi
  • Pada umur 4 minggu atau selambat-lambatnya usia koreksi 34 minggu konsultasi ke dokter spesialis mata untuk evaluasi kemungkinan retinopathy of prematurity (ROP)
  • THT: skrining pendengaran dilakukan pada semua BBLR, dimulai usia 3 bulan sehingga apabila terdapat kelainan dapat dikoreksi sebelum usia 6 bulan.
  • Periksa alkaline phosphatase (ALP), P, Ca saat usia kronologis ≥4 minggu dan 2 minggu setelah bayi minum secara penuh sebanyak 24 kalori/oz. Jika ALP > 500 U/L berikan fosfat 2-3 mmol/kg/hari dibagi 3 dosis.
  • Imunisasi yang diberikan sama seperti bayi normal kecuali hepatitis B.
  • Bila perlu siapkan transportasi dan atau rujukan.

Pemantauan

Tata laksana

  • Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan
  • Preparat besi sebagai suplementasi mulai diberikan pada usia 2 minggu
Tumbuh Kembang
  • Pantau berat bayi secara periodik
  • Bayi akan kehilangan berat selama 7-10 hari pertama (sampai 10% untuk bayi dengan berat lahir ≥ 1500 gram dan 15% untuk bayi berat lahir <1500 gram). Berat lahir biasanya tercapai kembali dalam 14 hari kecuali apabila terjadi komplikasi.
  • Bila bayi sudah mendapat ASI secara penuh (pada semua kategori berat lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari: Tingkatkan jumlah ASI dengan 20 mL/kg/hari sampai tercapai jumlah 180 mL/kg/ hari
    Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan kenaikan berat badan bayi agar jumlah pemberian ASI tetap 180 mL/kg/hari
  • Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian ASI sampai 200 mL/kg/hari
  • Timbang berat badan setiap hari, ukur panjang badan dan lingkar kepala setiap minggu

Pemantauan setelah pulang

Masalah jangka panjang yang mungkin timbul:
  • Gangguan perkembangan
  • Gangguan pertumbuhan
  • Retinopati karena prematuritas
  • Gangguan pendengaran
  • Penyakit paru kronik
  • Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit
  • Kenaikan frekuensi kelainan bawaan
Untuk itu perlu dilakukan pemantauan sebagai berikut:
  • Kunjungan ke dokter hari ke-2, 10, 20, 30 setelah pulang, dilanjutkan setiap bulan
  • Hitung umur koreksi
  • Pertumbuhan: berat badan, panjang badan dan lingkar kepala
  • Tes perkembangan: Denver development screening test (DDST)
  • Awasi adanya kelainan bawaan
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada BBLR
  • Hipotermi
  • Hipoglikemia
  • Hiperbilirubinemia
  • Respiratory distress syndrome (RDS)
  • Intracerebral and intraventricular haemorrhage (IVH)
  • Periventricular leucomalasia (PVL)
  • Infeksi bakteri
  • Kesulitan minum
  • Penyakit paru kronis ( chronic lung disease)
  • NEC ( necrotizing enterocolitis)
  • AOP ( apnea of prematurity) terutama terjadi pada bayi <1000 g
  • Patent Ductus Arteriosus (PDA) pada bayi dengan berat <1000 g
  • Disabilitas mental dan fisik
  • Keterlambatan perkembangan
  • CP (cerebral palsy)
  • Gangguan pendengaran
  • Gangguan penglihatan seperti ROP (retinopathy of prematurity)

Sumber : Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2009.