Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Pedoman Pelayanan Alergi Susu Sapi pada Anak

23 Nov 2014

Alergi susu sapi (ASS) adalah reaksi simpang terhadap protein susu sapi yang diperantarai reaksi imunologi. Istilah alergi yang dipergunakan dalam panduan ini sesuai dengan definisi yang dikeluarkan oleh World Allergy Organization, yaitu alergi adalah reaksi hipersensitivitas yang diperankan oleh mekanisme imunologi. Mekanisme tersebut bisa diperantarai oleh IgE (reaksi hipersensitivitas tipe I, reaksi cepat) maupun non-IgE (reaksi hipersensitivitas tipe III atau IV, reaksi lambat). Alergi susu sapi yang tidak diperantarai IgE lebih sering mengenai saluran cerna, sementara ASS yang diperantarai IgE dapat mengenai saluran cerna, kulit, dan saluran napas serta berhubungan dengan risiko tinggi timbulnya alergi saluran napas di kemudian hari seperti asma dan rinitis alergi.

Diagnosis

Anamnesis

  • Alergi susu sapi dapat menyebabkan beragam gejala dan keluhan, baik pada saluran cerna, saluran napas, maupun kulit. Luasnya gejala yang timbul dapat mempersulit pengenalan, menyebabkan misdiagnosis atau kadang-kadang overdiagnosis.
  • Awitan gejala ASS, waktu antar pemberian susu sapi dan timbulnya gejala, dan jumlah susu yang diminum hingga menimbulkan gejala.
  • Riwayat atopi pada orangtua dan saudara kandung perlu ditanyakan. Risiko atopi meningkat jika ayah/ibu kandung atau saudara kandung menderita atopi, dan bahkan risikonya lebih tinggi jika kedua orangtua sama-sama penderita atopi.
  • Riwayat atau gejala alergi sebelumnya.

Gejala pada saluran cerna

  • Edema dan gatal pada bibir, mukosa oral, dan faring terjadi jika makanan yang mensensitisasi kontak dengan mukosa.
  • Muntah dan/atau diare, terutama pada bayi, bisa ringan, melanjut, atau intractable dan dapat berupa muntah atau buang air besar berdarah. Alergi susu sapi dapat menyebabkan kolik infantil. Jika hipersensitivitas berat, dapat terjadi kerusakan mukosa usus, dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, dan penurunan berat badan.
  • Konstipasi kronik yang tidak responsif terhadap laksatif.

Gejala pada kulit

  • Dermatitis atopi merupakan kelainan kulit paling sering dijumpai pada alergi susu sapi, menempati urutan kedua setelah gejala saluran cerna. Erupsi yang kemerahan pada umumnya terjadi setelah sensitisasi 1-2 minggu dan sering mengalami eksaserbasi.
  • Urtikaria dan angioedema.

Gejala pada saluran napas

  • Rinitis kronis atau berulang, otitis media, batuk kronis, dan mengi merupakan manifestasi alergi susu sapi yang cukup sering.

Gejala hematologi

Pucat akibat anemia defisiensi karena perdarahan mikro pada saluran cerna.

Pemeriksaan fisis

  • Kondisi umum: status gizi, status hidrasi, kadang tampak pucat
  • Kulit: dermatitis atopi, urtikaria, angioedema
  • Saluran napas: tanda rinitis alergi (konka edema dan pucat) atau asma (mengi), otitis media efusi
  • Saluran cerna: meteorismus, skibala, fisura ani

Pemeriksaan penunjang

  • Konfirmasi diagnosis ASS sangat penting karena seringkali terdapat ketidaksesuaian antara gejala yang dikeluhkan orangtua dengan bukti secara klinis.
  • Double-blind, placebo-controlled food challenge (DBPCFC) dianggap sebagai baku emas. Pada prosedur ini, dilakukan pemberian makanan yang mengandung alergen dan plasebo dengan metode crossover secara tersamar baik terhadap pasien maupun evaluator disertai pemantauan reaksi alergi. Metode tersebut lebih banyak digunakan untuk keperluan riset. Metode yang dapat dilakukan pada praktik klinis adalah melakukan eliminasi dan uji provokasi terbuka.
  • Mengingat risiko terjadinya reaksi alergi saat dilakukannya uji provokasi makanan (food challenge), maka dapat dipilih pemeriksaan alternatif dengan efikasi yang sama, seperti: uji cukit kulit (skin prick test, SPT), pengukuran antibodi IgE serum spesifik terhadap protein susu sapi, dan uji tempel (patch test).
  • Kombinasi SPT dan pengukuran antibodi IgE spesifik memiliki nilai duga positif 95% untuk mendiagnosis ASS yang diperantarai IgE, sehingga dapat mengurangi perlunya uji provokasi makanan jika yang dicurigai adalah ASS yang diperantarai IgE.
  • Uji cukit kulit dan kadar IgE spesifik tidak berguna dalam diagnosis ASS yang tidak diperantarai IgE, sebagai alternatif dapat dilakukan uji tempel, atau uji eliminasi dan provokasi. Pemeriksaan laboratorium tidak memberikan nilai diagnostik, tetapi dapat menunjang diagnosis klinis. Penurunan kadar albumin sugestif untuk enteropati; hipoproteinemia sering terjadi bersama-sama dengan anemia defisieni besi akibat alergi susu sapi. Peningkatan trombosit, LED, CRP, dan leukosit tinja merupakan bukti adanya inflamasi tetapi tidak spesifik, sehingga nilai normal tidak dapat menyingkirkan ASS. Leukositosis eosinofilik dapat dijumpai pada kedua tipe ASS.

Tata laksana

Prinsip utama dalam tata laksana ASS adalah menghindari susu sapi dan makanan yang mengandung susu sapi sambil mempertahankan diet bergizi dan seimbang untuk bayi dan ibu yang menyusui. Pada bayi yang diberikan ASI eksklusif, ibu perlu mendapat penjelasan berbagai makanan yang mengandung protein susu sapi yang perlu dihindari. Konsultasi dengan ahli gizi perlu dipertimbangkan. Pada anak yang mendapat susu formula, diberikan susu pengganti berupa susu terhidrolisis sempurna/ekstensif atau susu formula asam amino pada kasus yang berat. Susu formula kedelai dapat dicoba untuk diberikan pada anak berusia di atas 6 bulan apabila susu terhidrolisis ekstensif tidak tersedia atau terdapat kendala biaya.

Indikasi rawat

  • Dehidrasi berat
  • Gizi buruk
  • Anafilaksis
  • Anemia yang memerlukan transfusi darah

Prognosis

Pada umumnya alergi susu sapi tidak menetap, sebagian besar penderita akan menjadi toleran sesuai dengan bertambahnya usia. Umumnya diketahui bahwa ASS akan membaik pada usia 3 tahun: sekitar 50% toleran pada usia 1 tahun, 70% usia 2 tahun, dan 85% usia 3 tahun. Pada anak dengan alergi yang tidak diperantarai IgE, toleransi lebih cepat terjadi yaitu pada usia sekitar 1 tahun yang dapat dibuktikan dengan memakai metode uji provokasi. Pada anak dengan alergi yang diperantarai IgE sebaiknya pemberiannya ditunda lebih lama lagi dan untuk menentukan waktu yang tepat, dapat dibantu dengan panduan tes alergi.

Sumber : Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak, 2009.