Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Pedoman Pelayanan Medis Alergi Obat pada Anak

22 Nov 2014

Alergi obat merupakan salah satu reaksi simpang obat yang diperantarai oleh mekanisme imunologi. Mekanisme yang mendasari alergi obat dapat berupa reaksi hipersensitivitas tipe 1, 2, 3, atau 4. Alergi obat memerlukan paparan sebelumnya dengan obat yang sama atau terjadi akibat reaksi silang.
Pemberian label alergi obat pada anak sering menyebabkan penghindaran obat tertentu sepanjang hidup. Diagnosis alergi obat pada anak sulit karena kesulitan melakukan tes kulit pada anak. Hal ini sering menyebabkan overdiagnosis alergi obat pada anak.
Beberapa survei yang cukup besar menunjukkan prevalensi alergi obat pada anak berkisar antara 2,8% sampai 7,5%. Penelitian meta-analisis pada 17 studi prospektif menunjukkan proporsi penderita rawat inap karena alergi obat sekitar 2,1%, 39,3% merupakan reaksi yang mengancam jiwa. Insidens reaksi simpang obat pada anak yang dirawat di rumah sakit sekitar 9,5% dan pada penderita rawat jalan sekitar 1,5%.

Faktor risiko

Faktor risiko yang terpenting adalah riwayat alergi sebelumnya dengan obat yang sama. Pemberian parenteral dan topikal lebih sering menyebabkan sensitisasi. Dosis tunggal yang besar lebih jarang menimbulkan sensitisasi daripada pemberian yang sering dan lama. Usia dewasa muda lebih mudah bereaksi daripada bayi atau usia tua. Predisposisi atopi tidak meningkatkan kemungkinan terjadinya alergi obat, tetapi dapat menyebabkan reaksi alergi yang lebih berat. Infeksi virus tertentu seperti HIV, Herpes, EBV, dan CMV meningkatkan kemungkinan terjadinya alergi obat.

Diagnosis

Anamnesis

Anamnesis yang terperinci merupakan tahap awal terpenting untuk membuat diagnosis alergi obat. Anamnesis meliputi formulasi obat, dosis, rute, dan waktu pemberian. Selain itu harus ditanyakan perjalanan, awitan, dan hilangnya gejala. Catatan medik dan keperawatan harus diperiksa untuk mengkonfirmasi hubungan antara obat dan gejala yang timbul. Riwayat alergi terhadap obat yang sama atau satu golongan harus ditanyakan.

Pemeriksaan fisis

Pemeriksaan fisis yang teliti dapat menentukan mekanisme yang mendasari reaksi obat. Reaksi obat dapat terjadi sistemik atau mengenai satu atau beberapa organ. Kulit merupakan organ yang sering terkena.

Pemeriksaan penunjang

Tes kulit dapat memberikan bukti adanya sensitisasi obat, terutama yang didasari oleh reaksi tipe 1 (IgE mediated). Namun demikian sebagian besar obat tidak diketahui imunogen yang relevan sehingga nilai prediktif tes kulit tidak dapat ditentukan. Penisilin merupakan obat yang sudah dapat ditentukan metabolit imunogennya. Tes kulit dapat berupa skin prick test (SPT) atau tes intradermal. Tes intradermal lebih sensitif tapi kurang spesifik dibandingkan SPT. Pemeriksaan penunjang lainnya antara lain: IgE spesifik, serum tryptase, dan cellular allergen stimulation test (CAST).

Tes Kulit

Tes kulit untuk preparat penisilin diperlukan metabolit imunogennya, major antigenic determinant yaitu penicylloil. Preparat penicylloil untuk tes kulit dijual dengan nama dagang Pre-Pen, sayangnya preparat ini belum ada di Indonesia sehingga tes kulit terhadap penisilin tidak dapat dilakukan di Indonesia.
Untuk obat dan antibiotika yang lain, belum ada preparat khusus untuk tes kulit. Untuk beberapa jenis antibiotika yang sering digunakan dan kita ragu apakah pasien alergi atau tidak, dapat dilakukan tes kulit dengan pengenceran yang tidak menimbulkan iritasi (nonirritating concentration). Meskipun demikian, tes kulit untuk diagnosis alergi obat terutama antibiotika tidak dianjurkan karena nilai prediksi rendah. Kalau hasil tes positif, masih mungkin alergi terhadap obat tersebut, tetapi kalau negatif belum tentu tidak alergi.

Graded Challenge

Graded challenge, tes provokasi dengan dosis yang ditingkatkan, dilakukan dengan hati- hati pada pasien yang diragukan apakah alergi terhadap sesuatu obat atau tidak. Tes provokasi ini biasanya dilakukan secara oral. Anak yang jelas dan nyata menunjukkan reaksi yang berat setelah terpajan dengan obat, tidak dilakukan tes provokasi ini.
Graded challenge biasanya aman untuk dikerjakan, tetapi tetap dengan persiapan untuk mengatasi bila terjadi reaksi anafilaksis. Biasanya dosis dimulai dengan 1/10 sampai 1/100 dari dosis penuh dan dinaikkan 2 sampai 5 kali lipat setiap setengah jam, sampai mencapai dosis penuh. Bila pada waktu peningkatan dosis terjadi reaksi alergi, maka tes dihentikan dan pasien ditata laksana seperti prosedur pengatasan reaksi alergi.
Tes provokasi dilakukan bila pemeriksaan lain negatif dan diagnosis alergi obat masih meragukan. Tujuan tes ini adalah untuk menyingkirkan sensitifitas terhadap obat dan menegakkan diagnosis alergi obat.

Tata laksana

  • Menghentikan obat yang dicurigai
  • Mengobati reaksi yang terjadi sesuai manifestasi klinis
  • Mengidentifikasi dan menghindari potential cross-reacting drugs
  • Mencatat secara tepat reaksi yang terjadi dan pengobatannya
  • Jika memungkinkan, identifikasi pilihan pengobatan lain yang aman
  • Jika dibutuhkan pertimbangkan desensitisasi. Desensitisasi dilakukan dengan memberikan alergen obat secara bertahap untuk membuat sel efektor menjadi kurang reaktif. Prosedur ini hanya dikerjakan pada pasien yang terbukti memiliki antibodi IgE terhadap obat tertentu dan tidak tersedia obat alternatif yang sesuai untuk pasien tersebut. Protokol spesifik telah dikembangkan untuk masing-masing obat. Prosedur ini harus dikerjakan di rumah sakit dengan peralatan resusitasi yang tersedia lengkap dan berdasarkan konsultasi dengan dokter konsultan alergi.

Sumber : Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2009