Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Niat dalam Menuntut Ilmu

01 Oct 2014

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Banyak perbuatan atau amal yang tampak dalam bentuk amalan keduniaan, tapi karena didasari niat yang baik (ikhlas) maka menjadi atau tergolong amal-amal akhirat. Sebaliknya banyak amalan yang sepertinya tergolong amal akhirat, kemudian menjadi amal dunia, karena didasari niat yang buruk (tidak ikhlas).”
Niat seorang pelajar dalam menuntut ilmu harus ikhlas mengharap ridha Allah, mencari kebahagiaan di akhirat menghilangkan kebodohan dirinya, dan orang lain menghidupkan agama, dan melestarikan Islam. Karen islam akan tetap lestari kalau pemeluknya atau umatnya berilmu.

Zuhud dan takwa tidak sah tanpa disertai ilmu. Syaikh Burhanuddin menukil perkataan para ulama berikut, “Orang yang tekun, beribadah tapi bodoh, bahayanya lebih besar daripada orang alim tapi durhaka. Keduanya adalah penyebab fitnah di kalangan umat, yaitu bagi orang yang menjadikan mereka sebagai panutan dalam urusan agama.”
Dalam menuntut ilmu juga harus didasari niat untuk mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan. Jangan sampai terbersit niat supaya dihormati masyarakat, untuk mendapatkan harta dunia, atau agar mendapat kehormatan di hadapan pejabat atau lainnya.
Muhammad bin Hasan berkata, “Andaikata seluruh manusia menjadi budakku, pasti akan kumerdekakan semuanya dan akan kubebaskan diriku dari wala' (loyalitas) mereka.”
Barangsiapa dapat merasakan lezatnya ilmu dan nikmatnya mengamalkannya, maka dia tidak akan tertarik dengan harta yang dimiliki orang lain.
Syaikh Imam Hammad bin Ibrahim bin Ismail Asysyafar Al Anshari membacakan syairnya kepada Abi Hanifah, “Siapa yang menuntut ilmu untuk akhirat, tentu ia akan memeroleh anugerah kebenaran. Dan kerugian bagi orang yang menuntut ilmu hanya karena mencari kedudukan di masyarakat.”
Boleh menuntut ilmu dengan niat dan upaya mendapat kedudukan di masyarakat kalau kedudukan tersebut digunakan untuk amar ma'ruf nahi munkar, dan untuk melaksanakan kebenaran, serta untuk menegakkan agama Allah. Bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri, juga bukan karena keinginan hawa nafsu.
Hal itu perlu direnungkan oleh para penuntut ilmu, supaya ilmu yang mereka cari dengan susah payah tidak sia-sia. Oleh karena itu dalam mencari ilmu jangan punya niat untuk mencari dunia yang hina dan fana itu. Seperti kata sebuah syair, “Dunia ini lebih sedikit dari yang sedikit, orang yang terpesona padanya adalah orang yang paling hina. Dunia dan isinya adalah sihir yang dapat menulikan dan membutakan, mereka kebingungan tanpa petunjuk.”
Para ulama harus menjaga diri dari hal-hal yang dapat merendahkan martabatnya. Harus tawadlu'. Dan tidak tamak pada harta dunia.
Tawadhu' adalah salah satu tanda atau sifat orang yang bertakwa. Dengan bersifat tawadhu', orang yang takwa akan semakin tinggi martabatnya. Yang aneh adalah ujubnya orang yang tidak tahu keadaan dirinya apakah ia termasuk orang yang beruntung atau orang yang celaka. Atau bagaimana akhir umurnya, atau apa tempat kembalinya pada hari kiamat kelak, ke neraka atau ke surga. Sifat sombong itu merupakan sifat khusus Tuhan kita, maka hindari dan takutlah bersifat demikian.
Imam Abu Hanifah berkata, “Besarkan surban, dan lebarkan lengan baju kalian.” Beliau berkata demikian agar ilmu dan orang yang berilmu tidak diremehkan.
Para pelajar seharusnya membaca kitab wasiat karangan Imam Abu Hanifah yang diberikan kepada Yusuf Khalid Assimty, ketika ia kembali kepada keluarganya. Kitab tersebut juga sangat perlu dibaca oleh para pengajar atau guru, dan para pemberi nasihat.


Sumber : Ta'limul Muta'allim Thariqatta'allum