Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Proxy War - Hidden Agenda Cina di Bitung?

30 Sep 2014

Pada catatan ini, saya tak hendak membahas ulang latar dan motivasi Cina, kenapa ia meminta (dan memilih) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kepada Indonesia seperti uraian Hendrajit, mungkin garis-garis besarnya saja, artinya bila diulang hanya sekedar menjalin topik bahasan supaya tetap nyambung. Kita mulai tulisan ini.
Dari perspektif asymmetric warfare (peperangan non militer), meski KEK boleh dibilang sebagai ‘skema’, atau tujuan akhir sebuah kolonialisme ---apabila hal itu murni bisnis--- maka pada konteks asymmetric strategy, sebenarnya KEK cuma agenda (atau tema) belaka. Artinya, masih terdapat tujuan lain yang lebih besar, urgen dan strategis yang ingin diraih oleh Cina. Istilahnya, “Ada skema di atas skema.”

Melalui KEK, Cina seakan-akan memiliki daerah jajahan (baru) di Indonesia. Ia tak sekedar membawa uang semata, namun juga menyertakan sumberdaya manusia (SDM)-nya, pabrik-pabrik, dll secara serentak. Ini poin menariknya. Dalam dokumen Global Future Institute (GFI), Jakarta, dikatakan bahwa pola kolonialisme ala Cina memang cenderung memakai ‘Pendekatan Panda’ (simpati) melalui investasi, capacity building, hibah, dll. Tentu berbeda sekali dengan pola ala Barat yang cenderung (usil) memainkan isu demokratisasi, lingkungan, HAM, dan lainnya guna memasuki kedaulatan negera lain, dimana ujungnya seringkali pendudukan militer dengan aneka dalih. Itu jamak dalam potret politik global.
Cina semenjak reformasi, kata Prof Wang Gung Wu ketika seminar di CSIS tanggal 16 November 1997, mengalami masa transformasi dan konvergensi ke arah kapitalisme yang melahirkan konsep ONE COUNTRY AND TWO SYSTEM, yaitu sistem negara dengan elaborasi ideologi sosialis dan kapitalis. Poin kajian dan diskusi di GFI menyebut, bahwa titik berat ‘konsep baru’ Cina ini adalah swasta di satu sisi, sedang peran negara diperkecil pada sisi lain. Artinya, para pengusaha boleh berdiri pada garis depan membuka ladang-ladang usaha di luar negeri, tetapi ada dukungan militer (negara) di belakangnya. Itu titik poin atas konsepsi one country and two system di Cina.
Dengan demikian, bahwa skema KEK di Bitung, Sulawesi Utara, “Apakah bisa dibaca atau diduga menyimpan hidden agenda terkait kepentingan strategis militer dan pertahanan Negeri Tirai Bambu?” Kenapa tidak, adanya pergeseran geopolitik (geopolitical shift) dari Timur Tengah ke kawasan Asia Pasifik memang memungkinkan ‘manuver’ dimaksud. Maka ibarat sodokan biliar yang mengenai dua bola, selain cengkraman ekonomi, juga kuku militernya pun kelak tertancap di Bitung. Ini yang layak dicermati.
Prakiraan akan bercokolnya kepentingan strategis militer Cina dibalik skema KEK, terlihat dari beberapa indikasi. Antara lain adalah:
Pertama, ambisi Cina membangun sendiri infrastrukturnya terutama bandara udara dan pelabuhan laut. Pola ini hampir mirip saat Cina membangun pelabuhan-pelabuhan laut pada beberapa negara pesisir (tepian) di Kawasan Jalur Sutera (laut) sebagai implementasi string of pearl, strategi handalnya untuk mengamankan “energy security” (ketahanan energi)-nya;
Kedua, secara kultur, agama dan ras (maaf), langkah Cina membangun KEK di Bitung kemungkinan tidak bakal ada penolakan secara signifikan dari masyarakat sekitarnya, bahkan cenderung diterima dengan tangan terbuka karena dinilai justru bisa meningkatkan perekonomian wilayah timur;
Ketiga, letak Bitung di antara dua Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II dan ALKI III, dimana secara geoposisi cukup strategis, karena selain Sulawesi Utara dianggap pintu gerbang Indonesia (dari Timur) menuju Asia Pasifik, ia juga dapat mengendalikan dua ALKI sekaligus;
Keempat, pembangunan KEK di Bitung, kemungkinan selaras dengan “welcome”-nya Timor Leste terhadap militer Cina, sebagaiman dikatakan oleh Xanana Gusmao. Artinya kelak akan ada interaksi secara masif antara Bitung dan Timor Leste melalui ALKI III-A;
Kelima, inilah kontra-strategi Cina dalam rangka membendung gerak laju Amerika (AS) di Asia Pasifik, kendati “aura” Paman Sam sebenarnya lebih dulu menebar di Indonesia Timur baik via pangkalan militer di Philipina, dll maupun melalui World Ocean Conference (WOC) 2009 di Menado. Itulah jawaban (sementara), “Kenapa Cina memilih Bitung?”
Dari kajian geopolitik, sepertinya Sulawesi cq Bitung hendak dijadikan semacam proxy war antara Cina versus AS. Keduanya hendak-saling berebut pengaruh sebagaimana terjadi di banyak negara Afrika, Cina via “Pendekatan Panda”, sedang Paman Sam ---seperti biasa---melalui penyebaran (pangkalan) militernya. Pertanyaannya kini, “Bagaimana takdir geopolitik Indonesia nantinya?”


Sumber : M Arif Pranoto