Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Hakikat Ilmu, Fiqh, dan Keutamaannya

30 Sep 2014

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan.”
Perlu diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata, “Ilmu yang paling utama ialah ilmu hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.” Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama Islam, shalat misalnya.

Setiap orang Islam diwajibkan menuntut ilmu yang berkaitan dengan apa yang diperlukannya saat itu, kapan saja. Oleh karena itu setiap orang Islam mengetahui rukun-rukun dan syarat-syarat sahnya shalat, supaya dapat melaksanakan kewajiban shalat dengan sempurna.
Setiap orang Islam wajib mempelajari atau mengetahui rukun maupun syarat amalan ibadah yang akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari wasilah atau perantara tersebut hukumnya wajib. Ilmu agama adalah wasilah untuk mengerjakan kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hkumnya wajib. Misalnya ilmu tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu, dan ilmu tentang jual beli jika berdagang.
Muhammad bin Al Hasan pernah ditanya mengapa beliau tidak menyusun kitab tentang zuhud, beliau menjawab, “Aku telah mengarang sebuah kitab tentang jual beli.” Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari hal-hal yang syibhat (tidak jelas halal haramya) dalam berdagang.
Setiap orang yang berkecimpung di dunia perdagangan, wajib mengetahuk tata cara berdagang dalam Islam supaya dapat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Setiap orang Islam juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan batin atau hati, misalnya tawakkal, taubat, takut kepada Allah, dan ridha. Sebab semua itu terjadi pada segala keadaan.
Tidak seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu pengetahuan, karena itu khusus dimiliki umat manusia. Adapun selain ilmu, itu bisa dimiliki manusia dan bisa juga dimiliki binatang. Dengan ilmu pengetahuan, Allah Ta'ala mengangkat derajat Nabi Adam alaihissalam di atas para malaikat. Oleh karena itu, malaikat diperintah oleh Allah agar sujud kepada Nabi Adam alaihissalam.
Ilmu itu sangat penting karena ia sebagai perantara (sarana) untuk bertakwa. Dengan takwa inilah manusia menerima kedudukan terhormat di sisi Allah, dan keuntungan abadi. Sebagaimana dikatakan Muhammad bin Al Hasan bin Abdullah dalam syairnya:
“Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna.” Belajarlah ilmu agama, karena ia adalah ilmu yang paling unggul. Ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan takwa, ilmu paling lurus untuk dipelajari. Dialah ilmu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yakni jalan petunjuk, laksana benteng yang dapat menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Oleh karena itu orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara' lebih berat bagi setan daripada menggoda seribuorang ahli ibadah tapi bodoh.
Setiap orang Islam wajib mengetahui atau mempelajari akhlak yang terpuji dan yang tercela, seperti watak murah hati, kikir, penakut, lancing, sombong, rendah hati, menjaga diri dari keburukan, israf (berlebihan), bakhil (terlalu hemat) dan sebagainya.
Karena sifat sombong, kikir, penakut, israf hukumnya haram. Dan tidak mungkin bisa terhindar dari sifat-sifat itu tanpa mengetahui kriteri sifat-sifat tersebut serta mengetahui cara menghilangkannya. Oleh karena itu setiap orang Islam wajib mengetahuinya.
Asy Syahid Nasyiruddin telah menyusun kitab yang membahas tentang akhlak. Kitab tersebut sangat bermutu dan perlu dibaca. Karena setiap orang Islam wajib memelihara akhlaknya.
Adapun mempelajari amalan agama yang dikerjakan pada saat-saat tertentu seperti shalat jenazah dan lain-lain, itu hukumnya fardhu kifayah. Jika di suatu daerah sudah ada orang yang mempelajari ilmu tersebut, maka yang lain bebas dari kewajiban.
Tapi bila di suatu daerah tak ada seorang pun yang mempelajarinya, maka semua penduduk daerah itu berdosa. Oleh karena itu pemerintah wajib menyuruh rakyatnya supaya belajar ilmu yang hukumnya fardhu kifayah tersebut. Pemerintah berhak memaksa mereka untuk melaksanakannya.
Dikatakan bahwa mengetahui atau mempelajari amalan ibadah yang hukumnya fardhu 'ain itu ibarat akanan yang dibutuhkan setiap orang. Sedangkan mempelajari amalan yang hukumnya fardhu kifayah, itu ibarat obat, yang mana tidak dibutuhkan oleh setiap orang, dan penggunaannya pun pada waktu-waktu tertentu.
Sedangkan mempelajari ilmu nujum (yaitu astrologi, ilmu perbintangan yang dihubungkan dengan nasib manusia) itu hukumnya haram, karena ia diibaratkan penyakit yang sangat membahayakan. Dan mempelajari ilmu nujum itu hanyalah sia-sia belaka, karena ia tidak bisa menyelamatkan seseorang dari takdir Tuhan.
Oleh karena itu, setiap orang Islam seyogyanya mengisi seluruh waktunya dengan berdzikir kepada Allah, berdoa, memohon seraya merendahkan diri kepada-Nya, membaca Al Qur'an, dan bersedekah supaya terhindar dari mara bahaya.
Boleh mempelajari ilmu falak untuk mengetahui arah kiblat dan waktu-waktu shalat.
Boleh pula mempelajari ilmu kedokteran, karena ia merupakan usaha penyembuhan yang tidak ada hubungannya dengan sihir, jimat, tenung, dan sebagainya. Karena Nabi juga pernah berobat.
Imam Syafi'i rahimahullah berkata, “Ilu itu ada dua, yaitu ilmu fiqh untuk mengetahui hukum agama, dan ilmu kedokteran untuk memelihara badan.”
Ilmu tafsir ialah ilmu yang digunakan untuk menafsir atau menyingkap ayat-ayat Al Qur'an dengan sempurna. Dengan ilmu tafsir seseorang mampu mengungkap atau mengetahui maksud ayat-ayat Al Qur'an. Sedangkan ilmu fiqh adalah ilmu untuk mengetahui hukum-hukum agama, secara rinci. Imam Abu Hanifah berkata, “Ilmu fiqh adalah ilmu untuk mengetahui mana yang berguna bagi seseorang dan mana yang membahayakannya.” Beliau juga berkata, “Tidak ada ilmu kecuali untuk diamalkan, sedangkan mengamalkannya berarti meninggalkan dunia untuk meraih kebahagiaan di akhirat.”
Oleh karena itu, setiap orang Islam hendaknya tidak melupakan hal-hal yang bermanfaat, dan yang membahayakan dirinya di dunia dan akhirat. Maka itu dia harus belajar ilmu yang bermanfaat, dan menjauhi ilmu yang tidak berguna, agar akal dan ilmunya tidak membahayakan dirinya.

Sumber : Ta'limul Muta'allim Thariqatta'allum