Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Ironi Krisis Ideologi

29 Sep 2014

Bersatunya Uni Eropa ternyata diilhami oleh Pancasila. Tetapi, di Indonesia sendiri mengapa Pancasila kini seakan-akan hanya menjadi simbol mati, bukan lagi menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara? Sungguh, dewasa ini kita merasakan bahwa bangsa Indonesia sepertinya sedang mengalami krisis ideologi.
Sekjen Uni Eropa, Willem Frederik Van Eekelen, yang sejak 1979 mempelajari Pancasila, menyebutkan bahwa dasar negara Indonesia yakni Pancasila dapat menjadi model untuk perubahan yang bertanggung jawab, karena mencakup ketuhanan, humanitarianisme, nasionalisme, demokrasi, dan keadilan sosial. Dia melihat, semangat Bhinneka Tunggal Ika dapat mengikat 27 provinsi (kini 33 provinsi) se-Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kemudian, mulai 1991 dia memperkenalkan konsepsi Pancasila ke negara-negara Eropa.

Berhasil. Maka, 27 negara Eropa pun dipersatukan. Konsep Bhinneka Tunggal Ika, unity in diversity, menjadi semboyan Uni Eropa. “Kami masih harus menempuh jalan panjang, tetapi fakta bahwa kami sekarang memiliki Uni Eropa dengan 27 negara anggota itu sudah merupakan kontribusi luar biasa untuk stabilitas dan kemakmuran Eropa,” kata Van Eekelen, 1 April 2011 silam, ketika membuka Pasar Malam Indonesia di alun-alun Malieveld, Den Haag.
Eropa yang berbeda-beda bangsa dan agama serta sejarahnya, menurut Van Eekelen, diwarnai sejarah perpecahan dan peperangan, melihat perlunya persatuan dan perdamaian demi kemakmuran bersama. Seusai Perang Dunia II jalan menuju kesatuan-persatuan mulai dirintis, hingga terwujudlah Uni Eropa. Van Eekelen adalah Menteri Pertahanan dalam Kabinet Lubbers II (1986-1988). Sebelumnya dia menjabat sebagai Deputi Menteri Pertahanan dalam Kabinet Van Agt (1978-1981).
Kalau kita mau membuka-buka lembaran sejarah bangsa Indonesia, maka kita bisa melihat bagaimana sampai para pendiri republik ini mampu merumuskan lima butir Pancasila sebagai dasar Indonesia merdeka. Lima butir itu digali dari rahim kebudayaan bangsa Indonesia sendiri. Sebagai bangsa, para pendiri republik ini bersepakat bahwa kita harus berketuhanan. Pancasila yang lahir dari rahim kebudayaan bangsa Indonesia yang telah ada semenjak enam juta tahun silam. Sebagai nurani bangsa dan sebagai jati diri bangsa yang religius, maka sendi ketuhanan dijadikan sila pertama, mengingat Tuhanlah sesungguhnya sumber dari segala sumber kehidupan ini.
Dengan BERKETUHANAN YANG MAHA ESA maka kita memiliki rasa KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB, sehingga dalam kebhinnekaan kita bisa menciptakan PERSATUAN INDONESIA. Setelah bersatu kita memerlukan pemimpin untuk mengelola segala persoalan rakyat lewat musyawarah yang dilakukan oleh orang-orang yang hikmat dan bijaksana dalam lembaga perwakilan (KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN) demi terciptanya KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA.
Tidaklah berlebihan ketika Bung Karno sampai merasa perlu memperjuangkan agar Pancasila bisa menjadi ideologi dunia sebagaimana dikemukakan pada Sidang Umum PBB di New York, 30 September 1960. Melalui pidato tanpa teks yang diberinya judul To Build the World Anew atau Membangun Dunia Kembali, kala itu Bung Karno sempat menggegerkan dunia dengan seruannya agar dasar PBB yakni Declaration of Human Right diganti dengan Pancasila. Apa pun reaksi dunia, sejarah kemudian membuktikan bahwa Bung Karno tidaklah berlebihan.
Berpuluh tahun kemudian bersatulah sejumlah negara ke dalam Uni Eropa melalui pendekatan manifesto Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi, sekali lagi, kenapa kita yang tinggal di Indonesia justru cenderung meninggalkan Pancasila? Dewasa ini kita sepertinya sedang mengalami krisis ideologi. Akankah kita bangkit dari krisis ideologi ini setelah kelak kita belajar ke Eropa, khususnya Belanda, negara yang pernah menjajah kita, mengingat di sana tersimpan literatur peradaban dan kejayaan nusantara masa silam? Sungguh sebuah ironi.


Sumber : M Djoko Yuwono