Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Meneladani Khalifah Umar bin Abdul Aziz

24 Sep 2014

Saudaraku...
Dari keprihatinan kita terhadap kondisi para pemimpin umat di negeri ini sekarang maka perlu kiranya kita himbau dan nasehatkan mereka agar meneladani para ulama/pemimpin di masa lalu yang telah jelas tercatat oleh sejarah kebaikan-kebaikan dan keberhasilan mereka dalam memimpin umat, agar apa-apa yang selalu didengung=dengungkan mereka ketika akan meraih jabatan tersebut dapat mereka realisasikan.
Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah (wafat 101 Hijriyah) adalah orang nomor satu di generasinya dalam keutamaan dan paling unggul dari kaum kerabatnya dalam hal keadilan. Dunia datang kepadanya dengan berbagai gemerlap dan gegap gempitanya, akan tetapi beliau lebih memilih akhirat. Beliau memenuhi bumi dengan keadilan, setelah sebelumnya dunia dipenuhi dengan kezhaliman dalam waktu hanya dua tahun lima bulan beliau menjalankan misi (janjinya) lalu menghadap Rabbnya.

Beliau adalah orang yang sangat gigih dalam mengikuti sunnah Rasulullah صلى الله عليه و سلم,
Ziyadh bin Mikhraq pernah mendengar Umar bin Abdul Azis dalam khutbahnya mengatakan, "Seandainya bukan karenasunnah yang aku hidupkan atau bid'ah yang aku matikan, niscaya aku tidak perduli bila aku tidak hidup walaupun sesaat."(Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz, Ibnul Jauzi hal. 97/ath-Thabaqat, Ibnu Sa'ad 5/383),
Lewat perantaranya, Allah memuliakan agama ini, meninggikan mercusuar sunnah dan memadamkan api bid'ah sehingga ahli bid'ah tertekan lagiterhina. Beliaulah yang memerintahkan menulis hadist-haditsNabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan menghimpunnya, sehingga kebaikan menjadi banyak, keshalihan merata dan berbagai urusan hamba tertata. Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Sesungguhnya Allah mendatangkan kepadamanusia padasetiap penghujung seratus tahun (satu abad) orang yang mengajarkan sunnah-sunnahkepadamereka dan menghilangkan kedustaan dariRasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 
Kami memperhatikan, ternyata di penghujung seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul Aziz, sedangkan di penghujung dua ratus (abad kedua) adalah Imam Asy Syafi'i."(Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz, Ibnul Jauzi hal. 74)
Ketika beliau diangkat menjadi khalifah bukan dihadapi dengan pesta-pora dan kegembiraan seperti yang terlihat sekarang ini namun dihadapi dengan tangisan dan berkata,
"Sesungguhnya aku memikul urusan umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu berpikir mengenai orang yang fakir lagi kelaparan, orang yang sakit lagi tersia-siakan, orang yang tidak berpakaian lagi kesusahan, orang yang terzhalimi lagi tertekan, orang yang asing lagi tertawan, orang yang sudah tua renta dan orang-orang yang memiliki kebutuhan di berbagai penjuru bumi. Aku tahu bahwa Rabbku akan bertanya padaku tentang mereka dan yang memperkarakanku untuk membela mereka adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka aku takut bila argumenku tidak mampu menghadapi tuntutan beliau, maka aku kasihan kepada diriku."(Siyar A'lam An Nubala, Adz Dzahabi 5/131-132).
Adakah hal ini ditakutkan juga oleh pemimpin kita sekarang?
Pidato kenegaraan pertama beliau sungguhlah menakjubkan dan semoga ini bisa menjadi contoh buat kita, beliau memuji Allah jalla jalaluhu dan menyanjungNya serta bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata,
"Aku berpesan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah adalah pengganti dr segala sesuatu sdgkan ketakwaan kepada Allah itu tidak memiliki pengganti. Beramallah untuk akhirat kalian karena barangsiapa beramal untuk akhiratnya maka Allah mencukupi urusan dunianya. Perbaikilah bathin kalian, niscaya Allah yang Maha Pemurah akan memperbaiki zahir kalian. Perbanyaklah mengingat kematian dan persiapkanlah dengan baik sebelum kematian datang kepada kalian, karena kematian adalah penghancur kenikmatan dunia.
Dan sesungguhnya barangsiapa yang tidak mengenang bapak yang masih hidup dari kalangan nenek moyangnya antara dia dan Nabi Adam, niscaya itu menyebabkannya berkeringat dalam kematian. Sesungguhnya umat ini tidak berselisih tentang Rabb mereka azza wa jalla, tidak tentang Nabi mereka shallallahu 'alaihi wa sallam, serta tidak pula tentang Kitab Suci mereka, tetapi mereka berselisih tentang dinar dan dirham. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan memberi satu dirham pun yang bathil kepada seseorang dan tidak pula menghalangi seseorang dari haknya. Wahai manusia, barangsiapa mentaati Allah, maka dia wajib ditaati dan barangsiapa bermaksiat kepada Allah maka tidak ada ketaatan kepadanya. Taatilah aku selama aku mentaati Allah. Jika aku durhaka kepada Allah, maka kalian tidak wajib mentaatiku."(Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz, Ibnul Jauzi hal. 65-66)
Subhanallah, sungguh pantas sampai Bilal bin Abu Burdah berkata kepada beliau, "Dahulu kekhalifahan membuat orang mulia, maka sekarang engkaulah yang memuliakan kekhalifahan. Dahulu kekhalifahan menghiasi seseorang, maka sekarang sungguh engkaulah yang menghiasi kekhalifahan."(Min A'lam as-Salaf, Syaikh Ahmad Farid hal. 77)
Sikap wara' dan zuhud beliau juga sangat pantas untuk dicontoh, ketika ada seseorang yang menegur beliau karena ketika mengimami shalat jum'at dengan pakaian yang sudah bertambal kerah lehernya, beliau berkata, "Sebaik-baiknya kesederhanaan adalah pada saat berlebihan dan sebaik-baiknya pemberian maaf adalah pada saat memiliki kemampuan membalas."(Siyar A'lam An Nubala, Adz Dzahabi 5/134),
Beliau juga memiliki lampu lilin yang diperlukan untuk kaum muslimin dan jika dia telah selesai dengan urusan mereka maka dia memadamkan lilin tersebut dan menyalakan lampunya sendiri. Ketika beliau menginginkan madu dan ternyata di rumahnya tidak ada, maka istri beliau berinisiatif menyuruh seseorang mengendarai unta pos (unta untuk mengirim surat milik negara), setelah beliau mengetahui bahwa madu tersebut dibeli menggunakan fasilitas negara maka beliau memanggil orang tersebut dan berkata, "Bawalah madu ini ke pasar dan juallah, dan kembalikan kepada kami harta pokok milik kami, jika ada kelebihan, serahkan kepada Baitul Mal kaum muslimin untuk pakan unta-unta pos dan seandainya muntahku bermanfaat bagi kaum muslimin, niscaya aku telah berusaha muntah."(Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz, Ibnul Jauzi hal. 189) Subhanallah...
Beliau wafat karena diracun di bulan Rajab 101 H, yang diberikan oleh budaknya dan ketika beliau menanyakan ke budak tersebut apa yang mendorong budak tersebut melakukan hal itu maka budak tersebut menjawab, "karena imbalan 1000 dinar dan akan dimerdekakan" sungguh luar biasa yang dilakukan Amirul Mukminin ini kepada budak tersebut. Beliau hanya mengambil uang 1000 dinar tersebut dan memasukkannya ke Baitul Mal dan menyuruh budak tersebut pergi ke tempat yang tidak ada seorang pun melihatnya. (Tarikh Al Khulafah, Jalaluddin As Suyuthi hal. 246), ma sya Allah...semoga rahmat Allah selalu tercurah kepadamu ya Amirul Mukminin...

Abdurrahman bin Qasim memberi nasehat kepada Al Manshur bahwa dia melihat Umar bin Abdul Azis meninggal dengan meninggalkan anak 11 orang dan harta peninggalannya hanya 17 dinar. Dia dikafani dari harta peninggalannya itu dengan biaya 5 dinar dan untuk membeli tempat pemakamannya 2 dinar, lalu sisanya dibagi kepada anak-anaknya. Sementara Hisyam bin Abdul Malik meninggal dengan anak 11 orang juga dan warisannya dibagikan kepada anak-anaknya masing-masing sebesar satu juta dinar tetapi dikemudian hari dia melihat seorg anak dr anak Umar bin Abdul Azis dalam satu hari menyiapkan muatan seratus kuda untuk jihad di jalan Allah sedangkan anak Hisyam bin Abdul Malik terlihat justru diberi sedekah. (Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz, Ibnul Jauzi hal. 338).