Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Masjid Perspektif Sejarah dan Hukum Islam

19 Sep 2014

MASJID
Perspektif Sejarah dan Hukum Islam
Oleh : Ustadz Dadang Syaripudin

Pengantar

Di Indonesia, tempat peribadatan (shalat) ummat Islam itu, di samping dikenal dengan sebutan masjid, juga dikenal beberapa sebutan lainnya, seperti: surau, langgar, tajug, mushalla. Untuk masjid pun, dikenal juga sebutan tambahan, ada yang disebut dengan masjid agung, masjid raya, masjid jami` dan sebagainya. Keragaman istilah ini, terkait dengan fungsi, ukuran, kepemilikan dan keberadaanya. Dalam perkembangan terakhir, di kota-kota besar di Indonesia, yang semakin hari semakin padat dan sempit, banyak dibangun masjid atau mushalla yang bersatu dengan gedung-gedung besar atau komplek-komplek bangunan, seperti perkantoran, pertokoan, pasar, terminal bahkan sampai di tempat-tempat hiburan. Sebaliknya, banyak juga masjid-masjid besar dan bertingkat, sehingga memiliki banyak ruangan yang bisa digunakan untuk berbagai macam kegiatan di luar kegiatan peribadatan. Masalahnya sekarang adalah sampai di mana batasan masjid dalam berbagai sebutannya di atas, kriteria, adab-adab serta aktifitas dan kegiatan macam apa saja yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan di dalamnya. Inilah yang menjadi pokok masalah perlunya dirumuskan fiqh masjid, yakni pemahaman yang mendalam dan otentik terhadap berbagai ketentuan dan informasi yang berkaitan dengan masjid.

Hakikat dan Batasan Masjid

Secara etimologis, masjid diambil dari kata dasar sujud yang berarti ta'at, patuh, tunduk dengan penuh rasa hormat dan takzim. Mengingat akar katanya bermakna tunduk dan patuh, maka hakikat masjid itu adalah tempat melakukan segala aktivitas (tidak hanya shalat) sebagai manifestasi dari ketaatan kepada Allah semata. Sedangkan secara terminologis, dalam hukum Islam (fiqh), sujud itu berarti adalah meletakkan dahi berikut ujung hidung (tulang T), kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung jari kaki ke tanah, yang merupakan salah satu rukun shalat. Sujud dalam pengertian ini merupakan bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna etimologis di atas. Itulah sebabnya, tempat khusus penyelenggaraan shalat disebut dengan masjid. Dari pengertian sujud secara terminologis di atas, maka masjid dapat didefinisikan sebagai “suatu bangunan, gedung atau suatu lingkungan yang memiliki batas yang jelas (benteng/pagar) yang didirikan secara khusus sebagai tempat beribadah ummat Islam kepada Allah shubhanahu wata'ala, khususnya untuk menunaikan shalat.

Masjid dalam Al Qur'an

Dalam Al Qur'an, masjid sebagaimana dalam pengertian di atas, diungkapkan dalam dua sebutan. Pertama, “masjid”, suatu sebutan yang langsung menunjuk kepada pengertian tempat peribadatan ummat Islam yang sepadan dengan sebutan tempat-tempat peribadatan agama-agama lainnya (Q.S. 22:40). Kedua, “bayt” yang juga menunjukkan kepada dua pengertian, pertama tempat tinggal sebagaimana rumah untuk manusia atau sarang untuk binatang dan kedua “bayt Allah”.Kata “masjid”, disebut dalam Al Qur'an sebanyak 28 kali, 22 kali di antaranya dalam bentuk tunggal dan 6 kali dalam bentuk jamak. Dari sejumlah penyebutan itu,  15 kali di antaranya membicarakan tentang “Masjidil Haram”, baik yang berkaitan dengan kesejarahannya, maupun motivasi pembangunan, posisi dan fungsi yang dimilikinya serta  etika (adab) memasuki dan menggunakannya. Banyaknya penyebutan, Masjidil Haram dalam Al Qur'an tentang masjid, mengindikasikan adanya norma standard masjid yang seharusnya merujuk kepada norma-norma yang berlaku di Masjidil Haram. Dalam kaitannya dengan ibadah shalat yang dijalankan oleh seluruh ummat Islam kapan dan di manapun, maka yang menjadi arah shalatnya (qiblat) adalah sama, yakni Masjidil Haram atau Ka'bah (Q.S. Al Baqarah, 2: 144, 149-150). Itulah sebabnya, maka seluruh bangunan masjid, harus selalu mengarah ke Masjidil Haram; sesuatu yang sangat berbeda manakala dibandingkan dengan bangunan-bangunan peribadatan agama lain.Dalam fungsinya sebagai kiblat, Masjidil Haram menempati posisi yang sangat suci dan istimewa.  Di dalam dan di sekitar Masjidil Haram, ummat Islam harus menjaga kemanan dan kekhusuan ibadah sedemikian rupa sehingga orang-orang yang membenci Islam tidak dapat masuk dan bahkan tidakboleh mendekatinya (Q.S. 9: 28). Di dalam dan di lingkungan sekitarnya ummat Islam juga di larang berperang, kecuali kalau diserang; tidak boleh memerangi orang musyrik kecuali jika mereka yang memulai (Q.S. al-Baqarah, 2: 191). Sebaliknya ummat Islam diperintahkan untuk memakai pakaian dan perhiasan yang indah dan memakai wangi-wangian jika mau memasukimasjid (Q.S. al-`Araf, 7:31), berusaha untuk saling menjamin kebutuhan pokok sesama orang yang mengunjungi Masjidil Haram, dengan penuh keikhlasan (Q.S. 9:19) Ummat Islam dilarang keras berbuat sewenang-wenang terhadap orang yang sempat menghalang-halangi mereka untuk pergi ke masjid. Mereka dibimbing untuk membalas keburukan orang dengan perilaku yang disemangati oleh jiwa keadilan dan kebenaran (Q.S. al-maidah, 5:2). Di luar konteks pembicaraan tentang Masjidil Haram, Al Qur'an menegaskan ada dua motivasi pendirian bangunan masjid. Pertama motivasi taqwa dan kedua motivasi kejahatan. Kedua motivasi ini indikatornya dapat diketahui   melalui perilaku. Motivasi taqwa ditandai oleh kelurusan pikiran dan kejernihan hati para pengelolanya. Mereka tidak mempertukarkan kejujuran dan kebenaran dengan usaha mencari keuntungan duniawi. Kejujuran dan kebenaran tetap ditegakkan walau dengan itu menghadapi risiko dan kerugiaan duniawi. Sebaliknya pendirian masjid dengan motivasi kejahatan ditandai dengan perilaku buruk, pembangakangan, penuh dengan intrik dan rekayasa untuk memecahbelah ummat serta seba-gai tempat untuk mengintai  gerak-gerik ummat Islam yang selalu berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan (Q.S. 9: 107-110).Sementara itu, kata “bayt” dalam segala bentuknya disebut dalam Al Qur'an sebanyak 69 kali, 15 kali di antaranya dimaksudkan untuk membicarakan Masjidil Haram. Kata “bayt” dalam pengertian Masjidil Haram, umumnya dikaitkan dengan sejarah kehidupan Nabi Ibrahim dan Ismail am.s. serta pembicaraan tentang manasik haji. Dari ayat-ayat ini diketahui, bahwa Masjidil Haram bagi penyembahan pada Allah dengan penuh keberadaban dan keadilan (Q.S. Ali Imran, 3: 96) dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail (Q.S. al-Baqarah,2: 127) yang berfungsi sebagai tempat perlindungan yang aman (Q.S. al-Baqarah,2: 125). Namun demikian, dalam perjalanan sejarahnya, Masjidil Haram sempat dijadikan sebagai tempat peribadatan yang tidak berkeadaban.  Kaum Musyrikin Quraisy beribadah di dalamnya dengan cara yang tidak beradab. Mereka bersiul, bersorak-sorai dan bertelanjang sambil mengelilingi Ka`bah. Suatu gambaran penyembahan berhala yang ramai, ribut, penuh kepalsuan diri. Peribadatan yang sama sekali jauh dari kehidmatan dan kekhusuan bathin sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Masjid pada Masa Rasulullah

Pada masa Rasulullah, masjid memiliki peran yang sangat strategis, baik sewaktu beliau berada di Makkah maupun setelah beliau hijrah ke Madinah. Di Makkah, Masjidil Haram dijadikannya sebagai tempat mensosialisikan (tabligh) wahyu secara terbuka, sehingga mengundang reaksi negatif yang sangat keras dari Musyrikin Quraisy, seperti dilempari batu atau kotoran unta sebagaimana yang menimpa Abdullah ibn Mas’ud, misalanya. Demikian pula, sewaktu Nabi singgah di Quba dalam perjalanannya ke Yastrib, selama 4 hari beliau mendirikan masjid, yang kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Quba; masjid yang pertamakali dibangun oleh Rasulullah pada tahun ke-13 dari kenabiannya atau tahun ke-1 Hijrah (622 M.). Masjid Quba inilah merupakan tempat peribadatan ummat Islam pertama yang kemudian menjadi model atau pola dasar bagi ummat Islam dalam membangunmasjid-masjid di kemudian hari. Masjid Quba, di samping, sebagai tempat peribadatan yang menjadi fungsi utamanya, juga sebagai tempat pendidikan dan pengajaran agama Islam. Untuk itu, Rasulullah menempatkan Muadz ibn Jabal sebagai  imam sekaligus guru agama di Masjid Quba ini.  Selain itu, Rasulullah sendiri kerap berkunjung ke mesjid ini, baik dengan mengendarai Unta ataupun berjalan kaki, dan menunaikan shalat 2 rakaat, konon disebutkan dalam suatu riwayat, kunjungan routin itu dilakukan Rasulullah pada setiap hari sabtu (H.R. Bukhari, Muslim dan al-Nasai). Kemudian setibanya di Yastrib, langkah pertama yang dilakukan Rasulullah saw, adalah membangun masjid yang sangat sederhana, berukuran 35 x 30 m. dengan berlantaikan tanah, dinding terbuat dari tanah yang dikeringkan, tiangnya dari batang pohon kurma dan atapnya dari  pelepah dan daunnya. Masjid ini kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Nabawi. Di sebelah timur masjid, dibangun tempat tinggal Rasulullah yang tentunya lebih sederhana  lagi dari masjid, dan di sebelah barat dibangun sebuah ruangan khusus untuk orang-orang miskin muhajirin, yang kemudian dikenal dengan julukan ahl al-shuffah. Demikian sederhanannya mesjid di zaman Rasulullah namun justru pada kesederhanaannya itu, masjid menjadi sarat dengan fungsi dan banyak peran yang dapat dimainkan. Di masjid yang sederhana ini Rasulullah mulai menggalang kekuatan, mengkon-solidasikan ummat Islam dengan gerakan Muakhkhat (pemersatu, muhajirin dan anshar. Bermodalkan bangunan masjid kecil inilah, Rasulullah membangun dunia ini, sehingga kota kecil yang menjadi tempat beliau membangun ini benar-benar menjadi Madinah, yang arti harfiyahnya adalah “pusat peradaban, atau paling tidak, dari tempat tersebut lahirlah benih peradaban baru ummat manusia.Masjid lain yang dibangun pada masa Rasulullah, adalah masjid yang dikenal dengan sebutan Masjid Qiblatain. Masjid ini semula adalah milik Bani Salaman dari suku Khajraj, salah satu suku yang menyarankan Rasulullah untu berhijrah ke Madinah serta menjanjikan dukungannya. Dinamai Qiblatain (memiliki dua arah kiblat), karena di masjid inilah Rasulullah saw – sewaktu menunaikan shalat zhuhur -- menerima wahyu (Q.S. al-Baqarah, 2:144) yang berisikan perintah untuk memindahkan kiblat shalat dari masjid al-Aqsha (utara) di Palestina ke Masjidil Haram (selatan) di Makah.Masjid lain yang sudah ada pada zaman Rasulullah, bahkan merupakan masjid tertua kedua setelah Masjidil Haram adalah masjid al-Aqsha yang terletak di Bait al-Maqdis atau al-Muqaddas (Yerusalem) dan termasuk salah satu dari tiga masjid yang memiliki keutamaan sendiri, setelah Masjidil Haram dan masjid Nabawi. Karena itu pula masjid al-Aqsa disebut pula al-Haram al-syarif (tanah haram yang mulia) atau juga al-Haram al-Quds (tanah haram yang suci).  Bentuk asli bangunan, Masjid al-Aksa adalah berupa serambi kiblat, tidak memiliki ruangan luas di tengah, sebagaimana masjid pada umumnya. Seperti disebutkan di atas, sebelum Masjidil Haram menjadi kiblat, sekitar 3 tahun, masjid al-Aqsha inilah berfungsi sebagai kiblat shalat ummat Islam. Namun karena, pada masa Rasulullah hidup, masjid al-Aqsha yang berada di Yerusalem itu dibawah kekuasaan kekaisaran Romawi, sehingga tidak banyak  peran dan fungsinya dalam sejarah Islam di masa Rasulullah.

Masjid pada Masa Shahabat

Sejarah perkembangan masjid erat kaitannya dengan perluasan wilayah kekuasaan Islam dan pembangunan kota-kota baru. Sejarah mencatat bahwa pada masa permulaan perkembangan Islam ke berbagai negeri, bila ummat Islam menguasai sutu daerah atau wilayah baru, baik melalui peperangan atau jalan damai, maka salah satu sarana untuk kepentingan umum yang dibuat pertama kali adalah masjid. Masjid menjadi ciri khas dari suatu negeri atau kota Islam, di samping merupakan lambang dan cermin kecintaan ummat Islam kepada Tuhannya, juga sekaligus menjadi bukti tingkat perkembangan kebudayaannya.Keadaan bangunan masjid, berikut sarana dan perlengkapannya, yang tampak dalam banyak masjid di berbagai belahan dunia tidak terwujud begitu saja, tetapi berproses dari bentuk dan kondisi yang sangat sederhana sampai pada bentuk yang dapat dikatakan sempurna. Karena itu, bentuk, wujud, dan corak bangunan masjid dari masa ke masa mengalami perubahan; berbeda antara satu masa dengan masa yang lainnya. Perubahan atau perbedaan itu juga terkait dengan proses waktu persentuhan Islam dan penganutnya dengan seni dan budayanya  yang beragam. Pada masa shahabat, perubahan dan perkembangan masjid itu, lebih terlihat pada perubahan atau perkembangan wujud fisiknya saja (bentuk, corak dan jumlahnya) saja. Perubahan atau perkembangan itu terjadi, seiring  dengan pertumbuhan dan perkembangan jumlah penganut Islam yang terus membesar dan meluas, melampoi jazirah Arab. Perubahan dan perkembangan fisik bangunan masjid yang terjadi, pada masa shabat, antara lain: Pertama, Perluasan area masjid dan sedikit penyempurnaan, Tuntutan perluasan bangunan masjid sepeninggal Rasulullah, dari waktu ke waktu senantiasa mengalami perkembangan. Hal ini seperti yang terjadi pada Masjidil Haram yang diperluas Umar Umar ibn al-Khathab pada tahun ke-17 H. dengan sedikit penyempurnaan, yaitu  berupa pembuatan benteng atau dinding rendah, tidak sampai setinggi badan. Hal yang sama dilakukan pula oleh Utsman ibn `Affan, pada tahun 26 H.  Demikian pula dengan Masjid Nabawi yang diperluas oleh Umar ibn al-Khaththab sekitar 5 meter ke selatan dan ke barat, serta  15 meter ke arah utara, yang pada pada tahun 29 H. diperluas dan direnofasi oleh Utsman ibn `Affan dengan menggantikan tiang-tiangnya dengan batu dan besi berlapis timah, serta mengganti atafnya dengan kayu, Utsman ibn `Affan juga melakukan pemugaran dan perluasan terhadap masjid Quba.
Kedua, pembangunan masjid-masjid baru, di beberapa daerah atau wilayah yang berhasil dikuasai. Di Bait al-Maqdis, Umar membangun sebuah masjid yang berbentuk lingkaran (segi delapan) dan dindingnya terbuat dari tanah liat. Tanpa atap. Tepatnya di atas bukit Muriah. Kemudian masjid yang dibangunnya ini dikenal dengan masjid Umar. Di Kufah, pada tahun 17 H.  Sa`ad ibn Abi waqas, sebagai panglima perang membangun sebuah masjid dengan bahan-bahan bangunan Persia lama dari Hirah dan selesai pada tahun 18 H. Masjid ini sudah memiliki mihrab dan menara. Di Fustat, Mesir, pada tahun 21 H. `Amr ibn al-Ash, sebagai panglima perang ketika menaklukkan daerah tersebut, membangun masjid al-Atiq. Secara fisik masjid ini relatif sudah berkembang maju bila dibandingkan dengan masjid-masjid yang ada. Di Kota Basrah, pada tahun 14 H, oleh `Utbah ibn Ghazwan. Di Madain, pada tahun 16 H. Sa`ad ibn Abi Waqas menjadikan sebuah gedung sebagai masjid. Di Damaskus, pada tahun 14 H., Gereja St. John dibagi dua, sebagian (timur) menjadi milik muslim, oleh Abu Ubaidah ibn Jarah.
Sementara itu, dari segi peran dan fungsinya, masjid pada masa shahabat relatif  tidak mengalami perubahan atau pergeseran, masih tetap seperti pada masa Rasulullah. Secara garis besarnya, masjid masih tetap memiliki dua fungsi. Pertama  fungsi keagamaan, sebagai pusat atau tempat peribadatan seperti shalat, dzikir, do`a dan `itikaf. Kedua fungsi sosial, sebagai pusat pembinaan, pendidikan, pengajaran ummat Islam. Termasuk kedalam fungsi yang kedua ini, masjid pada masa shahabat, juga digunakan sebagai pusat administrasi pemerintahan, tempat konsultasi dan komunikasi masalah-masalah keummatan, tempat santunan sosial, markas perrtahanan dan keamanan, tempat pengobatan korban perang, tempat perdamaian dan penyeleseaian persengketaan, tempat permusyawaratan kenegaraan, tempat penerimaan tamu negara.

Penutup

Dari paparan di atas, muncul pertanyaan: “apakah fungsi dan peran-peran di atas, adalah suatu kemestian;  memang itulah  yang seharusnya melekat pada masjid kapan dan di manapun ? Atau semuanya itu terjadi, semata-mata disebabkan karena memang pada saat itu sarana dan pasilitas untuk menampung kegiatan-kegiatan itu belum ada ? Jawaban sementara penulis, tidak semuanya merupakan satu kemestian.

Wallohu `Alam bi al-Shawab.-

Bandung, 26 Agustus 2000‏