Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Taysirul Allam Syarah Umdatul Ahkam Makna Hadits No. 16

14 Sep 2014

Kitab Thaharah
Bab Memasuki WC dan Bersuci

Hadits ke-16


Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam melintas didekat dua makam, beliau kemudian bersabda, 'Sungguh keduanya tengah disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Adapun salah satunya, ia tidak mengambil penutup saat kencing. Sedangkan yang satunya lagi suka mengadu domba'. Beliau lalu mengambil sebuah pelepah lalu beliau belah menjadi dua, dan menancapkannya di kedua kuburan tersebut. Mereka (para shahabat) bertanya, 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan itu?'. Beliau menjawab, 'Mudah-mudahan (siksa) keduanya diringankan, selama kedua (pelepah) belum kering.”1

Makna Global

Suatu ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam bersama sejumlah shahabat melintasi dua makam. Allah memberitahukan kondisi kedua penghuni makam tersebut kepada beliau, maka beliau melihat keduanya tengah disiksa. Beliau kemudian memberitahukan hal itu kepada para shahabat, sekaligus sebagai peringatan untuk umat, karena kedua penghuni makam itu disiksa karena dosa yang sebenarnya mudah ditinggalkan dan dijauhi bagi yang mendapatkan taufik.
Salah satunya disiksa karena tidak menjaga diri dari air kencing sehingga ia terkena najis. Maka badan dan pakaiannya menjadi kotor. Sementara itu, penghuni makam yang satunya lagi suka mengadu domba di antara sesama sehingga memicu permusuhan dan kedengkian di antara manusia, khususnya kerabat dan teman. Ia menemui si A lalu menyampaikan kata-katanya itu pada si B, sehingga keduanya memutuskan hubungan dan bermusuhan. Islam datang membawa cinta di antara sesama manusia, memutuskan segala pertikaian dan permusuhan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun merasa iba pada keduanya. Lalu beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah. Beliau membelahnya menjadi dua bagian lalu masing-masing beliau tancapkan di setiap kuburan tersebut. Para shahabat kemudian menanyakan tindakan aneh tersebut. Beliau menjawab, “Mudah-mudahan (siksa) keduanya diringankan, selama kedua (pelepah) itu belum kering”.

Perbedaan Pendapat Ulama

Ulama berbeda pendapat terkait menancapkan pelepah di atas makam. Sebagian menganjurkan hal tersebut karena menilai tindakan Nabi shallallahu alaih wasallam ini sebagai syariat umum. Alasan mereka bisa dopahami, karena pelepah senantiasa bertasbih di dekat si penghuni makam selama masih basah, sehingga tasbih tersebut diharapkanbisa menerangi kuburnya.
Sebagian berpendapat hal tersebut tidak disyariatkan, karena syariat adalah ibadah yang memerlukan dalil, dan dalam hal ini tidak ada dalil yang memperkuat hal itu. Persoalan ini adalah persoalan individual (khusus) di mana hikmahnya sendiri tidak diketahui. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak melakukan tindakan yang samaselain pada kedua penghuni makam tersebut, juga tidak dilakukan oleh seorang shahabat pun, selain yang diriwayatkan dari Buraidah bin Hushaib, ia berwasiat agar dua pelepah ditancapkan di kuburnya.
Terkait tasbih, tasbih tidak hanya dilakukan tanaman yang basah saja, karena Allah azza wajalla berfirman, “Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.” (Al Isra : 44).
Selanjutnya mereka menyatakan, “Dengan asumsi hikmahnya diketahui, yaitu tasbih yang dilakukan pelepah yang masih basah, toh tindakan yang dilakukan Nabi shallallahu alaihi wasallam terhadap dua makam tersebut bersifat khusus, yaitu Nabi shallallahu alaihi wasallam diberitahu bahwa keduanya tengah disiksa.”
Qadhi Iyadh menyatakan, “Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan alasan kenapa beliau menancapkan kedua pelepah tersebut di atas kuburan, beliau mengatakan, 'Keduanya tengah disiksa'. Mengingatkan siksaan adalah hal gaib, maka tidak bisa diqiyaskan dengan yang lain. Sebab kita tidak bisa mengetahui adanya alasan seperti itu.”

Faidah

Ulama berbeda pendapat, apakah mayit mendapat manfaat dari amal perbuatan yang dilakukan orang hidup ketika pahala amalan raga atau harta dihadiahkan kepada si mayit. Imam Ahmad berpendapat, setiap kebaikan pahalanya sampai kepada mayit berdasarkan nash-nash terkait hal itu. Sementara Ibnu Taimiyah menukil dua pendapat dalam hal ini:
Pertama, si mayit mendapat manfaat berdasarkan kesepakatan para imam.
Kedua, menghadiahkan pahala amalan untuk mayit bukan kebiasaan salaf. Mengikuti manhaj salaf lebih utama. Ash Shan'ani menyatakan, “Mayit boleh dihadiahi amalan ibadah apa saja”.
Terkait menyamakan seluruh amalan ibadah dengan amalan-amalan yang pahalanya sampai kepada mayit, ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Yang benar, pahalanya sampai. Ibnu Taimiyah menyebutkan sejumlah hadits yang menunjukkan mayit mengetahui kondisi keluarga dan teman-temannya di dunia, mayit merasa senang karena kondisi mereka, dan sedih jika kondisi mereka tidak baik.

1 Al Bukhari, hadits no. 216, Muslim, hadits no. 292