Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Taysirul Allam Syarah Umdatul Ahkam Makna Hadits No. 13

11 Sep 2014

Kitab Thaharah

Bab Memasuki WC dan Bersuci

Hadits ke-13


Dari Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu, ia berkata, “Pada suatu hari aku naik ke atas rumah Hafshah, aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam tengah buang hajat menghadap ke Syam, membelakangi ka'bah.”1

Makna Global

Ibnu Umar menuturkan bahwa suatu ketika ia datang ke rumah saudarinya, Hafshah, istri Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ia melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam tengah buang hajat menghadap ke Syam dan membelakangi kiblat.

Perbedaan Pendapat Ulama dan Penyelarasan Hadits ini dengan Hadits Sebelumnya

Ulama berbeda pendapat tentang hukum menghadap dan membelakangi kiblat saat buang hajat. Perawi hadits ini, Abu Ayyub, Mujahid, An Nakha'iy dan Ats Tsauri menyatakan haram secara mutlak. Pendapat ini dikuatkan Ibnu Hazm dan membantah pendapat lainnya, seperti yang ia nyatakan dalam Al Muhalla.
Pendapat ini dipilih Syaikh Ibnu Taimiyah. Ibnu Qayyim menguatkan pendapat ini dan membantah pendapat lain, seperti yang ia sebutkan dalam Zadul Ma'ad dan Tahdzibus Sunan, mereka bersandar pada hadits-hadits shahih yang melarang perbuatan ini secara mutlak, di antaranya hadits Abu Ayyub yang kita bahas ini.
Urwah bin Zubair, Rabi'ah dan Dawud Azh Zhahiri membolehkan secara mutlak. Mereka bersandar pada sejumlah hadits di antaranya hadits Ibnu Umar di atas.
Imam Malik, Syafi'i, Ahmad, dan Ishaq, juga diriwayatkan dari Abdullah bin Umardan Sya'bi memberi rincian dalam hal ini, hara hukumnya jika dilakukan di ruang terbuka, dan boleh dilakukandi dalam gedung atau semacamnya. Inilah pendapat yang tepat, sesuai dengan dalil-dalil yang jelas, karena larangan mutlak tentu menyalahi praktik hadits-hadits lain, seperti itu juga dengan izin secara mutlak.
Pendapat yang memberikan riincian menyatukan dalil-dalil yang ada, juga menerapkan semuanya. Inilah yang tepat, karena selama nash-nash masih bisa disatukan, harus disatukan lebih dulu.
Ada pendapat keempat yang tidak lebih kuat dari pendapat ini. Pendapat keempat ini menyatakan makruh, bukan haram. Shan'ani mengatakan, “Hadits-hadits yang ada harus diselaraskan. Caranya, larangan diartikan sebagai makruh, bukan haram. Meski cara ini menyalahi asal larangan, hanya saja indikasi perbuatan Nabi shallallahu alaih wasallam menyalahi hal tersebut, sekaligus sebagai penjelasan hal tersebut boleh dilakukan.”



1  Al Bukhari, hadits no. 148, Muslim, 62/266