Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Taysirul Allam Syarah Umdatul Ahkam Makna Hadits No. 10

08 Sep 2014

Kitab Thaharah

Hadits ke-10


Dari Nu'aim Mujmir, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda,
“Sungguh umatku dipanggil pada hari kiamat dengan wajah dan kaki bercahaya karena bekas-bekas wudhu. Maka siapa di antara kalian yang mampu memperpanjang cahayanya, lakukanlah.”1
Lafal lain menyebutkan,

“Saya melihat Abu Hurairah berwudhu, ia membasuh wajah dan kedua tangannya hingga hampir mengenai pundak, setelah itu membasuh kedua kaki hingga ke betis, setelah itu ia berkata, 'Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Sungguh umatku dipanggil pada hari kiamat dengan wajah dan kaki bercahaya karena bekas-bekas wudhu. Maka siapa di antara kalian yang mampu memperpanjang cahaya wajah dan tangan dan kakinya, lakukanlah.''”2
Lafal Muslim menyebutkan,
“Saya mendengar kekasih saya shallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Hiasan orang mukmin mencapai bagian yang dicapai wudhu(nya).”3

Makna Global

Nabi shallallahu alaihi wasallam menyampaikan berita gembira pada umatnya bahwa Allah memberi mereka tanda khusus sebagai keutamaan dan kemuliaan pada hari kiamat di antara seluruh umat. Mereka dipanggil di hadapan seluruh manusia dengan wajah, tangan dan kakibercahaya terang karena bekas-bekas ibadah agung, yaitu wudhu yang selalu diulang-ulang demi mencari ridha dan pahala Allah. Pahala yang mereka terima adalah pujian agung da istimewa ini.
Kemudian Abu Hurairah berkata, “Maka siapa di antara kalian yang mampu memperpanjang cahayanya, maka lakukan.” karena semakin panjang bagian yang dibasuh, cahayanya pun semakin panjang. Sebab, hiasan cahaya akan mencapai sejauh air wudhu mengenai bagian tersebut.

Perbedaan Pendapat Terkait Memperpanjang Cahaya

Ulama berbeda pendapat terkait melampaui batas wajib yang dibasuh pada wajah, kedua tangan dan kaki. Jumhur berpendapat itu dianjurkan sesuai hadits in, meski mereka berbeda penddapat terkait batas yang dianjurkan. Malik dan salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Ahmad menyatakan, tidak dianjurkan melampaui batasan yang diwajibkan. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, guru kami Syaikh Abdurrahman bin Nashir AS Sa'di. Mereka memperkuat pendapat ini dengan sejumlah alasan berikut:
Pertama, melampaui batasan yang wajib sebagai ibadah adalah klaim yang memerlukan dalil. Sementara, hadits yang tengah kita bahas ini tidak menunjukkan seperti itu, karena hanya menunjukkan cahaya pada bagian-bagian wudhu pada hari kiamat. Adapun praktek yang dilakukan Abu Hurairah hanya sebatas pemahamannya saja dari hadits ini. Dengan demikian, pemahaman ini tidak boleh dijadikan pijakan untuk menyalahi dalil yang kuat.
Terkait sabda, “Maka siapa yang mampu...” menurut para ahli hadits, ini adalah bagian dari perkataan Abu Hurairah, bukan perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Kedua, andai hal itu (basuhan melampaui batasan yang wajib) kita terima, tentu pembasuhan wajah harus sampai ke rambut, tetapi hal itu tidak bisa disebut ghurrah, cahaya pada wajah, sehingga berseberangan dengan yang rajih.
Ketiga, tidak dinukil dari seorang sahabat pun yang memiliki pemahaman seperti ini ataupun melampaui bagian yang diwajibkan. Justru dinukil dari Abu Hurairah, ia bersembunyi kala wudhu dengan cara ini, khawatir dianggap aneh oleh orang lain.
Keempat, para sahabat yang menyebut tata cara wudhu Nabi shallallahu alaihi wasallam hanya menyebutkan beliau membasuh wajah, kedua tangan sampai siku, dan kedua kaki sampai mata kaki. Beliau sekalipun tidak pernah meninggalkan tata cara yang utama setiap kali wudhu. Disebutkan dalam Al Fath, “Rangkaian kalimat seperti ini tidak saya temukan dalam riwayat para sahabat yang menukil hadits ini. Mereka berjumlah 10 orang. Tidak pula dari orang-orang yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, selain riwayat Nu'aim ini saja.”
Kelima, ayat membatasi bagian wajib sampai siku dan mata kaki. Ayat ini termasuk bagian-bagian akhir Al Qur'an yang diturunkan. Silahkan Anda baca penjelasan Ibnu Qayyim dalam Hadits Arwah berikut:
Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihain, rangkaian lafal hadits ini milik Muslim; dari Abu Hazim, ia berkata, “Suatu ketika aku berada di belakang Abu Hurairah, ia tengah wudhu untuk shalat. Ia membasuh tangannya hingga ketiaknya, lalu aku berkata, 'Wahai Abu Hurairah, wudhu apakah ini?' Abu Hurairah berkata, 'Wahai Bani Farukh, kalian di sini rupanya? Andai aku tahu kalian ada di sini, tentu aku tidak berwudhu seperti ini. Aku pernah mndengar kekasihku shallallahu alaihi wasallam berkata, 'Hiasan orang mukmin mencapai bagian yang dicapai wudhu(nya)'.'” Hadits ini dijadikan hujjah kalangan yang menganjurkan membasuh hingga lengan dan memperpanjang cahaya, seperti sebagian fuqaha Hanafiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah.
Sementara Nabi shallallahu alaihi wasallam hanya membasuh wajah, tangan hingga siku dan kaki hingga mata kaki, lalu bersabda, “Siapa yang melebihi (bagian) ini, ia telah berbat buruk atau zalim.” Hadits ini membantah pendapat mereka. Karena itu, menurut pendapat yang shahih adalah tidak dianjurkan. Demikian pendapat penduduk Madinah.
Ahmad memiliki 2 pendapat dalam hal ini, seperti yang diriwayatkan darinya. Hadits di atas tidak menunjukkan anjuran memperpanjang basuhan, karena hiasan pada umumnya ada di lengan dan pergelangan tangan bawah, bukan di lengan atas atau pun ketiak.
Adapun kata-kata, “Maka siapa di antara kalian yang mampu memperpanjang cahayanya, lakukan.” ini adalah tambahan yang dimasukkan dalam hadits, bersumber dari perkataan Abu Hurairah, bukan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, seperti dijelaskan oleh sejumlah Hafizh.
Hadits ini disebutkan dalam Musnad Ahmad. Nu'aim mengatakan, “Aku tidak tahu kata-kata 'Maka siapa di antara kalian yang mampu memperpanjang cahayanya, lakukan' bersumber dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam atau Abu Hurairah.” Syaikh Abdurrahman As Sa'di menyatakan, “Kata-kata ini tidak mungkin berasal dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena ghurrah ini mustahil, jika memanjang hingga kepala, berarti tidak disebut ghurrah.


1  Al Bukhari, hadits no. 136, Muslim, hadits no. 246, 250.
2  Muslim, hadits no. 35/246

3  Muslim, hadits no. 250