Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Mengenal Sejarah dan Pemahaman Khawarij

21 Aug 2014

MENGENAL SEJARAH DAN PEMAHAMAN KHAWARIJ

Khawarij merupakan nama salah satu aliran bid’ah (sesat) yang pertama kali muncul di kalangan Ummat Islam. Sejarah munculnya Khawarij ini sebagai aliran yang sesat telah diceritakan dalam tarikh (sejarah) Islam. Antara lain diceritakan dalam kitab Al Bidayah Wan Nihayah oleh Al Hafidl Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir Al Qurasyi Ad Dimasyqi atau Imam Ibnu Katsir (wafat th. 774 H) sebagai berikut : “Dan ketika rombongan tentara Ali bin Abi Thalib telah dekat dari batas kota Kufah, berpisahlah dari rombongan tentara Ali itu dua belas ribu orang, dan mereka adalah kaum Khawarij, dan mereka menolak untuk tinggal di satu negeri bersama Ali, dan mereka akhirnya tinggal di satu desa bernama Harura’, dan mereka mengingkari beberapa perbuatan Ali yang mereka sangka sebagai kesalahan-kesalahan yang telah dilanggar olehnya. Maka Ali mengutus Abdullah bin Abbas untuk menasehati mereka, sehingga Ibnu Abbas mendebat mereka hingga kebanyakan mereka bertaubat dari kesalahan-kesalahan mereka. Sedangkan sebagian lagi dari mereka, tetap pada pemahamannya yang sesat, sehingga Ali dan para Shahabatnya memerangi mereka. Dan Khawarij inilah yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam sebagaimana telah diriwayatkan oleh periwayatan yang telah disepakati keshahihannya, bahwa Beliau shalllallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda : Akan keluar sekelompok orang dari kaum Muslimin dari jalan kebenaran agama ini di kala kaum Muslimin sedang bertikai. Mereka nantinya akan diperangi oleh kelompok kaum Muslimin yang paling benar. Dan hadits ini mempunyai sanad yang banyak dan lafadlnya juga banyak”.[1]
Selanjutnya Ibnu Katsir meriwayatkan : “Ketika Ali mengirim Abu Musa Al Asy’ari sebagai kepala perunding dan didampingi oleh tentara pengawalnya ke Daumatul Jandal (tempat perundingan dengan pihak Mu’awiyah bin Abi Sufyan), gerakan kaum Khawarij semakin menjadi-jadi dan mereka semakin keras mengingkari perbuatan Ali bin Abi Thalib dan mereka menyatakan kekafiran Ali. Maka datanglah kepada Ali dua orang dari kalangan kaum Khawarij itu, yaitu Zur’ah bin Al Baraj At Tha’ie dan Hurqus bin Zuhair As Sa’die.
Maka keduanya mengatakan kepada Ali : Tidak ada hukum yang sah kecuali hukum Allah.
Maka Ali menimpali perkataan keduanya : Ya, memang tidak ada hukum yang sah kecuali hukum Allah.
Maka berkatalah Hurqus kepada Ali : Bertaubatlah engkau dari kesalahan-kesalahanmu dan pergilah bersama kami untuk memerangi musuh kita sehingga kita berjumpa dengan Tuhan kita (yakni sampai Syahid).
Maka Ali menjawab : Sungguh aku telah menginginkan agar kalian melakukannya bersama kami, tapi waktu itu kalian menolak untuk pergi bersama kami. Sedangkan sekarang kami telah membuat perjanjian damai untuk menghentikan peperangan di antara kami, dan Allah Ta’ala telah berfirman : Dan penuhilah perjanjian yang diatasnamakan Allah bila kalian telah membikin perjanjian. (QS. An Nahl : 91).
Maka Hurqus menyatakan kepada Ali : Itulah dosa yang engkau harus bertaubat darinya.
Maka Ali menjawab Itu bukan dosa, akan tetapi itu adalah kelemahan dari pikiran, dan sungguh aku telah mengajukan usulan kepada kalian untuk terus berperang, namun kalian menolak ajakanku itu.
Maka berkatalah Zur’ah bin Al Baraj : Ketahuilah wahai Ali, demi Allah seandainya kamu tidak meninggalkan perbuatanmu menunjuk orang sebagai hakim dalam menjalankan Kitab Allah[2], sungguh kami akan memerangimu, aku memohon rahmat Allah dengan aku memerangi engkau dalam kesalahan itu dan aku memohon keridlo’anNya.
Maka berkatalah Ali terhadapnya : Celaka engkau dengan pikiranmu yang sial itu! Aku melihat kemungkinan engkau akan terbunuh, sehingga angin akan menyapu tubuhmu.
Maka Zur’ah bin Al Baraj menyatakan : Aku sangat menginginkan hal itu terjadi pada diriku.
Maka Ali menyatakan kepadanya : Kalau memang engkau dalam kebenaran, niscaya kematian itu adalah kemuliaan dan selamat dari kehinaan dunia. Akan tetapi syaithan telah melalaikan kalian (dengan pemahaman sesat kalian itu).
Maka kedua orang tokoh Khawarij itu keluar dari rumah Ali dan keduanya membuat keputusan celaka dan tersebarlah di kalangan mereka kesimpulan sesat kedua tokoh tersebut tentang Ali dan mereka menampakkan sikap mereka secara terang-terangan di hadapan halayak ramai dan mereka selalu menginterupsi khutbahnya Ali dengan melontarkan caci-makian terhadapnya dan bahkan memotong khutbah Ali dengan memperdengarkan ayat-ayat Al Qur’an, ketika Ali sedang khutbah Jum’ah, dimana beliau menyebutkan tentang Khawarij dan beliau mencerca dan menjelekkannya. Maka berdirilah sekelompok orang dari kalangan Khawarij ini dan semuanya menyuarakan pernyataan : Tidak ada hukum kecuali hukum Allah, dan berdirilah salah seorang dari mereka sambil meletakkan jari jemarinya menutup kedua telinganya, sembari berteriak : (membacakan ayat Al Qur’an yang artinya) Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada para Nabi sebelummu bahwa kalau engkau berbuat syirik, niscaya akan gugur seluruh amalanmu dan sungguh kamu akan menjadi bagian dari orang-orang yang merugi”(QS. Az Zumar :65)[3]. Maka dengan perbuatan mereka itu, Ali mengisyaratkan kedua telapak tangannya[4] dan beliau tetap berdiri di atas mimbar dan beliau menyatakan : “Hukum Allah (yakni keputusan Allah dalam bentuk adzabNya) sedang kita nantikan kedatangannya terhadap perbuatan kalian ini”. Kemudian Ali menyatakan kepada mereka : Sesungguhnya kalian punya hak yang wajib kami tunaikan, yaitu bahwa kami tidak akan mencegah kalian beribadah dimasjid-masjid kami sehingga kalian mengangkat senjata memerangi kami”.[5]
Al Imam Al Hafidl Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz Dzahabi (wafat th. 748 H) meriwayatkan : “Telah menceritakan kepadaku Ikrimah bin Ammar, beliau menyatakan : Telah menceritakan kepadaku Abu Zumail, beliau menceritakan bahwa Ibnu Abbas berkata : Ketika kaum Khawarij berkumpul di kampungnya, dan mereka berjumlah enam ribu orang atau sekitar itu, aku katakan kepada Ali bin Abi Thalib : “Wahai Amirul Mu’minin, tundalah shalat dzuhur sampai waktu yang agak reda terik panasnya, agar aku berkesempatan menemui mereka, karena aku khawatir mereka akan memerangi engkau”. Maka Ali menyatakan : “Bahkan aku akan menunda pelaksanaan shalat dzuhur untuk menanti kedatanganmu dari kampung mereka”. Maka Ibnu Abbas memakai pakaian yang sebagus-bagusnya dan beliau adalah pria yang tampan dan bagus penampilannya. Ibnu Abbas menyatakan : Maka akupun mendatangi kaum Khawarij itu[6].
Maka ketika mereka melihat penampilanku, mereka mengatakan : “Selamat datang wahai Ibna Abbas, mengapa engkau memakai pakaian bagus seperti ini?” Aku katakan kepada mereka : “Mengapa kalian mengingkari penampilanku ini? Sungguh aku melihat Rasulullah shallallahualaihi wa aalihi wasallam memakai perhiasan dengan sebaik-baik perhiasan”. Kemudian aku bacakan kepada mereka ayat Al Qur’an (yang artinya) : Katakanlah Siapa yang mengharamkan perhiasan yang Allah ciptakan untuk hamba-hambaNya”. (QS. Al A’raf : 32)Mereka menyatakan : “Apa urusannya engkau datang kemari?” Ibnu Abbas menjawab : “Aku datang dari Amirul Mu’minin dan dari para Shahabat Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, dan aku tidak melihat seorang Shahabat Nabi pun ada di kalangan kalian. Aku akan menyampaikan kepada kalian apa yang mereka katakan dan aku juga akan menyampaikan kepada mereka para Shahabat Nabi itu apa saja yang ingin kalian katakan. Maka silakan kalian katakan kepadaku, apa yang kalian kritik dari putra paman Rasulullah dan menantu Rasulullah itu (yakni Ali bin Abi Thalib)”.
Maka sebagian mereka dengan yang lainnya saling berpandangan, sehingga mereka menyatakan : “Jangan kalian berbicara dengannya, karena Allah telah menyatakan tentang mereka (dalam Al Qur’an, yang artinya) : Bahkan mereka ini adalah kaum yang suka berdebat”. (QS. Az Zukhruf : 58 dan An Nisa’ : 35). Namun sebagian dari mereka menyatakan : “Apa yang menghalangi kita untuk berbicara dengannya, dimana dia ini (yakni Ibnu Abbas tersebut) adalah putra paman Rasulullah dan dia mengajak kita kepada Kitabullah (yakni Al Qur’an). Maka mereka menyatakan kepada Ibnu Abbas : “Kami mencerca Ali pada tiga perkara : Yang pertama, bahwa dia menunjuk seorang hakim dalam memutuskan perkara tentang agama Allah, apa haknya hakim itu dan dimana pula kedudukan hukum Allah. Yang kedua, bahwa dia berperang melawan musuh (yakni melawan Mu’awiyah bin Abi Sufyan), namun dia tidak merampas harta musuh dan dia tidak menjadikan musuh yang tertangkap sebagai budak. Kalau dia telah menghalalkan untuk memerangi musuh, maka mestinya dia menghalalkan untuk menjadikan musuh yang tertangkap itu sebagai budak belian. Kalau tidak menjadikan mereka sebagai budak belian, maka mestinya dia tidak boleh memerangi musuh itu. Yang ketiga, dia telah menghapuskan dari dirinya penyebutan Amirul Mu’minin (yakni dalam surat perjanjian damai dengan Mu’awiyah). Maka kalau dia telah menghapus dirinya dari kedudukan Amirul Mu’minin (yakni pimpinan kaum Mu’minin), berarti dia adalah Amirul Musyrikin (yakni pimpinan kaum Musyrikin)”.
Kemudian Ibnu Abbas berkata kepada mereka : “Apakah selain tiga perkara tersebut ada lagi cercaan kalian terhadapnya?” Mereka (kaum Khawarij) menyatakan : “Cukup bagi kami tiga cercaan tersebut terhadapnya”. Lalu Ibnu Abbas menyatakan kepada mereka : “Bagaimana pendapat kalian kalau aku keluarkan jawaban atas tiga cercaan kalian itu dari Al Qur’an dan Sunnah RasulNya, apakah kalian mau kembali kepada kebenaran?” Mereka menjawab : “Apa yang menghalangi kami untuk kembali kepada kebenaran?” Kemudian Ibnu Abbas mulai menjawab ketiga syubhat mereka : “Adapun ucapan kalian bahwa Ali telah menunjuk seorang hakim dalam perkara agama Allah, maka aku telah mendengar firman Allah dalam KitabNya, (artinya) : Hendaknya menetapkan hukum dengannya (yakni dengan Al Qur’an itu) orang yang paling adil dari kalian”. (QS. Al Maidah : 95). Allah Ta’ala memerintahkan untuk ditunjuknya seorang hakim yang adil dalam memutuskan perkara hewan buruan sebesar kelinci atau yang sebanding dengan itu, dimana harganya hanya seperempat dirham. Seandainya Allah mau, niscaya Dia sendiri yang menetapkan hukum tersebut, namun kenyataannya AllahTa’ala memerintahkan untuk diserahkan ketetapan hukumnya kepada seorang yang adil. Apa lagi dalam perkara darah kaum Muslimin yang tertumpah dalam peperangan diantara sesama mereka? Juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Dan kalau kalian khawatir adanya perselisihan diantara suami istri itu, maka utuslah seorang bijak dari pihak suami dan seorang bijak dari pihak istri, bila kedua suami istri itu ingin berdamai”. (QS. An Nisa’ : 35). Dalam perkara perselisihan suami istri saja Allah memerintahkan untuk menunjuk dua orang yang bijak untuk mendamaikan perselisihan diantara keduanya, bagaimana pula dalam perkara upaya mendamaikan dua kelompok besar kaum Muslimin yang saling berperang? Bagaimana? apakah aku telah keluarkan dalil yang membantah kerancuan kalian dalam perkara ini?” Mereka (kaum Khawarij) menjawab : “Ya engkau telah melakukannya”.
Kemudian Ibnu Abbas melanjutkan : “Adapun pernyataan kalian bahwa mengapa Ali memerangi musuhnya, namun tidak memperlakukan tentara musuhnya yang ditawan sebagai budak belian? Maka jawabannya ialah sikap beliau juga demikian ketika berperang melawan Ibu kalian (yaitu A’isyah Ummul Mu’minin). Dimana beliau mengalahkan A’isyah dalam perang Jamal dan tidak menawannya. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : Dan istri-istri Nabi Muhammad itu adalah ibu-ibu mereka kaum Mu’minin”. (QS. Al Ahzab: 6). Maka kalau kalian menyangka, bahwa beliau bukan ibu kalian, sungguh kalian menjadi kafir karenanya. Namun kalau kalian menganggap bahwa beliau adalah ibu kalian, maka sungguh tidak halal kalian menjadikannya sebagai budak belian. Maka kalian diantara dua kesesatan kalau kalian masih menganggap harus menjadikan musuh yang tertawan dalam peperangan dengan kaum Muslimin itu sebagai budak. Bagaimana? apakah aku telah keluarkan dalil yang membantah kerancuan kalian dalam perkara ini?” Mereka kaum Khawarij menjawab : “Ya, engkau telah keluarkan dalil itu”.
Ibnu Abbas melanjutkan penjelasannya : “Adapun pernyataan kalian bahwa dia (yakni Ali bin Abi Thalib) telah menghapuskan dari dirinya gelar Amirul Mu’minin (dalam surat perjanjian yang dibuatnya dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan), maka aku akan memberitahukan kepada kalian tentang hal itu. Tidakkah kalian mengetahui, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam pada hari perundingan (dengan kaum Musyrikin Makkah) di Hudaibiyah, terjadi penulisan isi perjanjian dalam surat perjanjian antara beliau dengan Suhail bin Amer (utusan musyrikin Makkah). Maka Rasulullah menyatakan : “Wahai Ali, tulislah dalam surat perjanjian itu pernyataan yang bunyinya : Ini adalah perjanjian yang telah ditetapkan atasnya oleh Muhammad Rasulullah. Maka kaum Musyrikin menyatakan : Kalau seandainya kami mengakui kalau engkau itu adalah Rasulullah (yakni utusan Allah), niscaya kami tidak akan memerangi engkau, tulislah namamu dan nama bapakmu. Maka Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam menyatakan : “Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku adalah utusanMu. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam mengambil lembaran surat perjanjian itu dan beliau menghapus pernyataan “Muhammad Rasulullah” dengan tangan beliau, kemudian beliau menyatakan : “Wahai Ali, tulislah : Ini adalah perjanjian damai yang disepakati atasnya oleh Muhammad bin Abdillah”. Maka demi Allah, dengan beliau menghapus pernyataan Muhammad Rasulullah dalam perjanjian itu, apakah bisa mengeluarkan beliau dari kedudukan beliau dari Kenabian beliau? (Yakni sama saja dengan tindakan Ali yang menghapus kata Amirul Mu’minin sebagai gelar beliau yang tertulis dalam surat perjanjian dengan Mu’awiyah, apa dengan penghapusan itu akan mengeluarkan beliau dari kedudukan sebagai Amirul Mu’minin?). Apakah dengan keterangan ini aku telah mengeluarkan dalil dari Sunnah Nabi yang membantah kerancuan kalian tentang Ali?” Kaum Khawarij itu menyatakan : “Ya, engkau telah mengeluarkannya”. Maka rujuklah dari mereka sepertiganya dan berpaling dari ajakan Ibnu Abbas itu sepertiga yang lainnya dan akhirnya terbunuhlah semua yang berpaling itu di atas kesesatan[7].
Demikianlah dialog antara Shahabat Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam dengan kaum Khawarij untuk menasehati mereka. Dan ternyata masih saja dari mereka ada yang tetap bersikukuh di atas pemahaman yang sesat, sehingga syaithan menggiring mereka untuk melakukan pertumpahan darah di antara kaum Muslimin. Maka ketika dialog dan nasehat tidak berguna lagi, keadaan semakin memanas dan menjurus kepada tindakan yang lebih jauh dari kesesatan itu, yaitu menumpahkan darah kaum Muslimin. Mereka merencanakan upaya pemberontakan terhadap pemerintahan Ali, karena mereka meyakini bahwa Ali telah kafir dan harus diperangi dan disingkirkan dari kepemimpinan kaum Muslimin. Mereka mulai menyusun kekuatan di desa Nahrawan di pinggir kota Mada’in di tepi sungai Furat. Dan disaat itu lewatlah di tempat mereka berkumpul itu seorang Shahabat Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallambernama Abdullah bin Khabbab bin Al Aret radhiyallahu anhuma beserta budak perempuannya yang hamil besar.
Telah diriwayatkan oleh Al Hafidl Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah Al Kufi Al Absi (wafat th. 235 H) dalam Mushannafnya[8] tentang kisah terbunuhnya Abdullah bin Khabbab bin Al Areth di tangan kaum Khawarij sebagai berikut : “Telah meriwayatkan kepada kami Yazid bin Harun Al Wasithiy, bahwa beliau menyatakan : Telah menceritakan kepada kami Sulaiman At Taimiy bahwa Abi Mijlaz menceritakan : Ali (bin Abi Thalib) telah melarang para pengikutnya untuk menyerang orang-orang Khawarij, sampai mereka membuat ulah dengan satu kejahatan. Maka pada waktu itu lewatlah di hadapan mereka (kaum Khawarij) Abdullah bin Khabbab bin Al Aret, sehingga mereka menangkapnya. Maka sebagian dari mereka melewati satu biji kurma yang telah jatuh ke tanah dari pohonnya, kemudian diambillah kurma itu dan dimasukkan ke mulutnya. Maka sebagian dari mereka menyatakan kepadanya, itu adalah kurma milik orang kafir Mu’ahad (yakni warga kafir yang mendapat jaminan keamanan dari negara Islam), maka dengan apa kamu menghalalkannya untuk memakannya? Maka orang tersebut segera memuntahkan kurma itu dari mulutnya. Kemudian mereka lewat di hadapan seekor babi, maka sebagian mereka menghalaunya dengan pedangnya, maka sebagian dari mereka mengatakan kepadanya, itu adalah babi milik kafir mu’ahad, dengan apa kamu menghalalkan diri untuk membunuhnya? Melihat perbuatan mereka itu, berkatalah Abdullah bin Khabbab kepada mereka : “Maukah aku tunjukkan kepada kalian, sesuatu keharaman yang lebih dahsyat dari apa yang kalian hindari itu?” Mereka menjawab : “Ya, tunjukkan apa itu”. Maka Abdullah menyatakan kepada mereka : “Aku lebih haram untuk kalian ganggu dari semua itu”. Mendengar jawaban Abdullah bin Al Khabbab itu, mereka langsung mendorongnya maju ke arah sungai dan mereka menebas tengkuknya dengan pedang mereka (yakni memenggalnya).
Ibnu Abi Syaibah membawakan riwayat lain dari Humaid bin Hilal, dari seorang pria dari kalangan Abdul Qais, bahwa beliau menceritakan tentang mengapa mereka membunuh Abdullah bin Khabbab bin Al Aret. Diceritakan bahwa ketika Abdullah mulai ketakutan melihat tingkah mereka, maka mereka menyatakan kepadanya : “Kiranya sikap kami membuat engkau ketakutan?” Abdullah menjawab : “Ya, memang demikian”. Mereka bertanya kepadanya : “Siapakah engkau?” Abdullah menjawab : “Aku Abdullah bin Khabbab bin Al Aret”. Mereka bertanya kepadanya : “Apakah engkau tahu satu hadits dari Bapakmu yang ia dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam? Abdullah menjawab : “Aku telah mendengar ayahku menceritakan bahwa beliau mendengar dari Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya fitnah itu akan datang, dimana pada waktu fitnah itu datang, maka orang yang duduk di rumahnya lebih baik dari orang yang berdiri di tengah kaumnya. Dan orang yang berdiri di tengah kaumnya lebih baik dari orang yang berjalan bersama kaumnya (yakni yang menonton aksi kaumnya membuat fitnah lebih baik dari yang ikut aktif dalam segala atraksi fitnah itu –pent.). Maka bila kamu menjumpai mereka yang terlibat dalam fitnah itu, bila kamu mampu menjadi hamba Allah yang terbunuh, maka hendaknya kamu menjadi yang terbunuh dan jangan kamu menjadi hamba Allah yang membunuh”. Mendengar riwayat sabda Nabi itu mereka langsung mendorong Abdullah ke arah sungai, maka langsung mereka memukul tengkuknya dengan pedang sehingga aku melihat darah muncrat dari lehernya seperti pancuran yang mengalir ke sungai dan mereka lemparkan mayatnya ke sungai sehingga dibawa arus sungai sampai hilang. Kemudian mereka membunuh budak wanita yang hamil besar itu dan membelah perutnya kemudian mencincang janin yang ada diperutnya.
Dengan kejadian ini, Ali bin Abi Thalib mengutus orang untuk meminta mereka menyerahkan pembunuh Abdullah bin Khabbab dan pembunuh budak wanitanya untuk ditegakkan atasnya hukum Qishas (yakni hukum balas). Maka mereka mengirim utusan kepada Ali untuk menyatakan bahwa kami (kaum khawarij) semua yang membunuhnya.
Ali menanyai mereka untuk meyakinkan makna ucapan utusan itu : “Apakah kalian semua yang membunuhnya?” Para utusan itu menyatakan kepada beliau : “Ya, memang kami semua yang membunuhnya”. Maka Ali menyatakan : “Allahu Akbar”. Kemudian (sepulang utusan Khawarij itu kepada kaumnya) Ali memerintahkan kepada pasukannya untuk menyerang mereka kaum Khawarij itu, sembari beliau menyatakan kepada pasukannya : “Demi Allah tidak akan terbunuh dari kalian lebih dari sepuluh orang dan tidak akan selamat dari mereka lebih dari sepuluh orang”.
Maka terbunuhlah mereka semua. Dan Ali memerintahkan kepada pasukannya, untuk mencari Dza Tsadiyyah. Maka pasukan pun mencarinya dan dibawalah mayat Dza Tsadiyyah ke hadapan beliau dan beliau pun bertanya kepada pasukannya : “Siapakah dari kalian yang mengenalnya? Maka tidak ada dari pasukan beliau yang pernah melihatnya kecuali seorang pria. Dia menyatakan : “Aku pernah melihatnya di satu kampung, maka aku tanyakan kepadanya : “Kamu mau kemana? Dia mengisyaratkan kalau mau pergi ke Kufah, dan aku tidak mengenalnya. Maka Ali menyatakan : “Keterangan orang ini benar, dia yang terbunuh ini adalah dari kalangan jin”.
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan pula bahwa Abu Barakah As Sha’idie menceritakan : “Ketika Ali berhasil membunuh Dza Tsadiyyah, berkata Sa’ad bin Abi Waqqas : “Sungguh (Ali) Ibnu Abi Thalib telah membunuh jin dari Ar Rad-hah (maknanya ialah jin yang amat langka -pent)”.
Al Haitsami meriwayatkan dalam Majma’uz Zawaidnya[9] riwayat yang serupa dengan apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah tersebut dengan ada tambahan keterangan dari Sufyan Ats Tsauri, bahwa beliau mendengar Ammar Ad Duhni menyatakan bahwa orang yang disebut Dza Tsadiyyah itu adalah Al Asy-hab atau Ibnul Asyhab. Kemudian Al Haitsami meriwayatkan, bahwa ketika mayat orang tersebut ditemukan diantara tumpukan mayat orang-orang Khawarij yang terbunuh, maka Ali bin Abi Thalib bertanya : “Siapa yang mengenal orang ini?” Maka salah seorang dari pasukan beliau mengatakan : “Kami mengenalnya dengan nama Hurqus dan ibunya ada di dekat sini”. Maka Ali mengutus orang untuk menjemput ibunya. Maka ketika ibunya melihat mayat anaknya, Ali menanyainya : “Siapakah orang ini?” Ibunya menjawab : “Aku tidak tahu wahai Amirul Mu’minin, siapakah anak ini sesungguhnya. Hanya saja aku dulu sedang menggembala kambing milikku di masa jahiliyah di Ar Rabadzah, tiba-tiba aku ditempel oleh sosok yang seperti naungan hitam, dan setelah itu aku mengandung kemudian aku melahirkan anak ini”. Al Haitsami mengomentari riwayat ini : “Ia diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam riwayat yang panjang dan dalam sanadnya terdapat Abu Ma’syar Najih dan dia dha’if (lemah) namun haditsnya pantas ditulis”.
Meskipun Al Haitsami mengomentari demikian, namun tokoh Khawarij yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam akan dibunuh oleh salah satu dari dua kelompok kaum Muslimin yang bertikai itu adalah dari kalangan jin. Dan kelompok kaum Muslimin yang berhasil membunuhnya adalah kelompok yang paling benar dari dua kelompok tersebut. Sehingga ketika ternyata kelompok Ali bin Abi Thalib yang berhasil membunuhnya, kebanyakan para Shahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam meyakini bahwa Ali lah yang benar dalam pertikaian ijtihadnya yang terjadi dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Jumhur Ahlus Sunnah Wal Jama’ah juga meyakini demikian.
Demikianlah episode sejarah munculnya kesesatan kaum Khawarij, yang berujung pada pertumpahan darah kaum Muslimin ketika mereka menyimpang dari penafsiran para Shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam terhadap Al Qur’an Was Sunnah.
 ______________________
1). Al Bidayah Wan Nihayah, Ibnu Katsir, juz 7 halaman 289, Darul Kutub Al Ilmiyah, Beirut – Libanon, tanpa tahun.
2). Mereka kaum Khawarij menganggap kafir atas tindakan Ali menunjuk Abu Musa Al Asy’ari untuk membikin keputusan berkenaan dengan hukum Al Qur’an dalam perkara peperangan antara Ali dengan Mu’awiyah. Mereka mengatakan bahwa hukum Al Qur’an itu adalah hukum Allah dan tidak boleh diserahkan kepada seorang manusia manapun. Barang siapa yang menunjuk selain Allah sebagai penetap hukum yang ada dalam Al Qur’an, berarti dia telah berbuat syirik (yakni menyekutukan Allah dalam perkara hukum). Demikian kesesatan mereka dalam menafsirkan Al Qur’an, karena tidak merujukkan penafsirannya kepada penafsiran para Shahabat Nabi yang ada dihadapan mereka.
3). Ini dilakukan oleh kaum Khawarij itu terhadap Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib, karena mereka sangat yakin bahwa Ali telah berbuat syirik terhadap Allah dalam perkara hak menetapkan hukum, berhubung beliau menunjuk Abu Musa Al Asy’ari untuk menetapkan hukum berkenaan dengan pertikaian dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
4). Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya disebutkan bahwa Ali mengisyaratkan dengan tangan beliau untuk mereka diam dan beliau di atas mimbar (jilid 8 halaman 734 –Darul Fiker Beirut Libanon, cet.th. 1414 H / 1994 M).
5). Al Bidayah Wan Nihayah, Ibnu Katsir, juz 7 halaman 295 – 296.
6). Dalam riwayat yang dibawakan dalam Majma’uz Zawa’id jilid 6 halaman 240, Ibnu Abbas menceritakan keadaan mereka ketika beliau masuk ke perkampungan mereka : Maka aku masuk ke kampung kaum itu, dimana aku tidak melihat satu kaum yang lebih kuat semangatnya beribadah daripada mereka, dimana tangan-tangan mereka tebal karena sering dipakai menapak ketika bangun dari sujud, dan wajah mereka ada bekas-bekas sujud.
7). Dalam riwayat Maj’mauz Zawa’id (jilid 6 halaman 240 – 241 –Darul Kutub Al Ilmiyah Beirut – Libanon, cet. Th. 1408 H / 1988M) Ibnu Abbas menyatakan : Maka rujuklah dari mereka kepada kebenaran sebesar dua puluh ribu orang dan tetaplah dari mereka pada kesesatannya sebanyak empat ribu orang sehingga mereka akhirnya terbunuh. Demikian At Thabrani meriwayatkan dan Ahmad meriwayatkannya sebagian kisah ini dan para perawi riwayat keduanya adalah rawi-rawi dari Shahih (Bukhari dan Muslim).
8). Jilid 8 halaman 732 – Darul Fiker Beirut Libanon, cet. Th. 1414 H / 1994 M.
9). Jilid 6 halaman 234.

Sumber : Ustadz Ja'far Umar Thalib