Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Penjelasan Hai'ah Kibaril Ulama tentang Takfir

15 Aug 2014



Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga, dan sahabatnya serta orang yang mengikuti jalan beliau. Amma ba’du:
Majlis Hai’ah Kibaril Ulama’ pada rapat ke-49, yang berlangsung di Taif mulai 2/4/1419 H, telah mempelajari berbagai tragedi yang terjadi di banyak negara-negara islam dan lainnya, yang berupa pengkafiran, dan pengeboman, serta kerugian yang ditimbulkan oleh hal tersebut, berupa pembunuhan dan pengrusakan sarana umu m.
Menimbang betapa bahayanya perkara ini, dan akibatnya, yang berupa pembunuhan orang tak bersalah, pengrusakan harta benda yang dilindungi, menimbulkan rasa takut, mengganggu stabilitas keamanan dan kedamaian masyarakat, maka Majelis menganggap perlu untuk mengeluarkan penjelasan tentang hukum tindakan tersebut, dalam rangka menasihati untuk Allah dan untuk hamba-Nya, menunaikan tanggung jawab menghilangkan kesamar-samaran dalam pemahaman, kami katakan –wa billahit taufiq-:
Pertama :

Takfir (pengkafiran) adalah hukum syar’i, rujukannya adalah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana halnya menghalalkan, mengharamkan dan mewajibkan adalah hak Allah dan Rasul- Nya, demikian pula dengan pengkafiran.
Tidaklah setiap perkataan atau perbuatan yang disifati dengan kekufuran adalah kufur besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama. Dan karena rujukan hukum pengkafiran adalah Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh bagi kita untuk mengafirkan, kecuali orang yang jelas-jelas telah dikafirkan oleh Al Quran dan As Sunnah, tidak cukup hanya sekedar syubhat atau prasangka belaka, karena hal ini memiliki konsekuensi hukum yang besar.
Apabila hukum hudud (pidana) harus dibatalkan dengan sebab adanya syubhat,–walaupun akibatnya lebih ringan dari pada takfir-, maka takfir lebih pantas untuk dibatalkan dengan sebab adanya syubhat.
Oleh karena itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita dari menghukumi kafir orang yang bukan kafir, beliau bersabda:
Siapa saja yang mengatakan kepada saudaranya: ‘wahai orang kafir’, maka pengkafiran itu pasti mengenai salah seorang dari mereka, jika betul apa yang ia katakan (maka habis perkara- pent) jika tidak, maka ucapan itu akan kembali kepada dirinya.”
(Hadits riwayar Bukhary, pada kitab: Al Adab Bab: “Barang siapa yang mengafirkan saudaranya tanpa ada alasan, maka ia seperti ucapannya sendiri” no: 6104, dan Muslim, pada kitab Al Iman, Bab: “Penjelasan tentang keimanan seseorang yang mengatakan kepada saudaranya orang muslim, wahai orang kafir” no: 60)
Kadang ada dalam Al Quran dan As Sunnah dalil yang dapat dipahami bahwa perkataan atau perbuatan atau keyakinan tertentu adalah kekafiran, akan tetapi pelakunya tidak kafir dengan sebab adanya penghalang dari pengkafiran.
Hukum ini selayaknya hukum- hukum lainnya, sempurna terpenuhi sebab-sebab dan syarat-syarat kecuali jika tidak dapat syaratnya, serta telah hilang penghalangnya, seperti dalam hukum warisan, sebabnya adalah kekerabatan –sebagai contoh-, kadang kala ia tidak dapat mewarisi, disebabkan adanya penghalang, yaitu perbedaan agama, demikian juga halnya dengan pengkafiran, seorang mukmin dipaksa untuk berbuat kekafiran, maka ia tidak kafir karenanya.
Seorang muslim kadang kala mengucapkan kata-kata kafir, karena hanyut oleh kegembiraannya atau karena marah, atau yang lainnya, maka dia tidak dikafirkan karenanya, karena tidak sengaja mengucapkannya, seperti dalam kisah orang yang mengatakan: “Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah rabb-Mu, dia salah (ucap) karena sangat gembira.” (Hadits riwayat Muslim, pada kitab: At Taubah, Bab: “Anjuran untuk bertaubat dan gembira dengan taubat” no: 2747).
Tergesa-gesa dalam mengafirkan, akan mengakibatkan banyak masalah, seperti penghalalan darah dan harta, mencegah hak warisan, pembatalan pernikahan, dan hukum-hukum lainnya bagi orang murtad. Lalu bagaimana seorang mukmin berani untuk melakukannya, hanya karena ada sedikit syubhat?!
Dan apabila pengkafiran itu ditujukan kepada pemerintah, maka ini lebih dahsyat akibatnya, karena
akan mengakibatkan perlawanan, pemberontakan, kekacauan, pertumpahan darah, kerusakan pada masyarakat dan negeri. Oleh karena itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk melawan pemerintah, beliau bersabda:
... kecuali bila kalian telah melihat kekufuran yang nyata, dan kalian memiliki bukti dari Allah.”
Sabda beliau: “kecuali bila kalian telah melihat kekufuran yang nyata.” memberi faedah bahwa tidak cukup sebagai alasan prasangka dan isu, dan sabda beliau “kekufuran” bahwa tidak cukup sebagai alasan, perbuatan kefasikan –walaupun besar- seperti kezaliman, minum khamr, bermain judi, atau mengerjakan yang haram.
Dan sabda beliau “yang nyata” bahwa tidak cukup sebagai alasan, kekafiran yang tidak jelas atau nampak. Dan sabda beliau “dan kalian memiliki bukti dari Allah” yaitu harus ada dalil yang jelas, yang shahih, berhubungan langsung dengan permasalahan, sehingga tidak cukup dengan dalil yang
lemah dan tidak berhubungan langsung. Dan sabda beliau “dari Allah” menunjukkan bahwa tidak ada artinya perkataan seorang ulama’, bagaimanapun tingkat ilmu dan amanahnya, jika perkataannya itu tidak dilandasi oleh dalil yang jelas dan shahih dari Al Quran dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam . Ketentuan- ketentuan tersebut menunjukkan akan bahayanya perkara ini.
Kesimpulannya: tergesa-gesa dalam mengafirkan sangat besar bahayanya, karena firman Allah ta’ala:
Katakanlah sesungguhnya Rabbku mengharamkan perbuatan keji baik yang tampak maupun yang tersembuny i, perbuatan dosa, dan permusuhan tanpa kebenaran, dan untuk kamu berbuat syirik kepada Allah yang tidak pernah diturunkan keterangan padanya, serta untuk kamu berkata atas nama Allah dengan apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Qur'an surah Al A’raf: 33)
Kedua:
Akibat yang dihasilkan oleh keyakinan menyeleweng ini, berupa penghalalan darah, pelecehan kehormatan, perampasan harta benda, baik milik perorangan atau umum, peledakan pemukiman dan kendaraan, pengrusakan sarana umum, seluruh perbuatan ini dan sejenisnya seluruh kaum muslimin sepakat akan keharamannya dalam syariat.
Karena semuanya mengandung pengrusakan harta benda, mengganggu stabilitas keamanan, dan kehidupan masyarakat yang damai dan tenteram, serta pengrusakan sarana umum, yang dibutuhkan oleh setiap orang.
Islam telah melindungi harta, kehormatan, dan badan kaum muslimin, serta mengharamkan untuk dilanggar, dan sangat menekankan akan keharamannya, bahkan wasiat akhir yang disampaikan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu haji wada’, beliau bersabda:
Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian adalah haram di antara kalian, seperti haramnya hari kalian ini, di bulan ini, dan di tempat ini,” kemudian beliau bersabda: “Apakah aku telah menyampaikan?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Ya Allah saksikanlah.” (Telah lalu takhrij hadits ini) .
Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
Setiap orang muslim diharamkan atas muslim yang lainnya, darah, harta dan kehormatannya.” (Hadits riwayat Muslim pada kitab Al Birru was Shilah, Bab: “Keharaman menzalimi seorang muslim dan meremehkannya” no: 2564) Dan beliau juga bersabda:
Hati-hatilah kalian dari kezaliman karena sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat.” (Hadits riwayat Muslim pada kitab Al Birru was Shilah, Bab: “Keharaman menzalimi seorang muslim dan meremehkannya” no: 2578) .
Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah mengancam orang yang membunuh jiwa yang dilindungi dengan seberat-berat ancaman, Allah berfirman tentang perbuatan membunuh seorang mukmin:
Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka jahannam dia kekal di dalamnya, dan Allah murka kepadanya serta melaknatnya dan Dia menyediakan baginya adzab yang pedih.” (Al Qur'an surah An Nisa’: 93).
Dan Allah berfirman tentang perbuatan membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan orang muslim, yang dilakukan dengan tidak sengaja:
Jika yang terbunuh itu dari orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan membayar diyah kepada kalian keluarga maka si pembunuh yang terbunuh itu itu dan memerdekakan hamba sahaya yang mukmin.” (Al Qur'an surah An Nisa’: 92).
Apabila seorang kafir yang memiliki perjanjian damai bila dibunuh dengan tidak sengaja, si pembunuh harus membayar diyah dan kafarohnya, maka bagaimana halnya jika dia dibunuh dengan sengaja? maka kejahatannya lebih besar dan dosanya lebih berat.
Dalam hadits shohih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau pernah bersabda:
Barangsiapa yang membunuh orang kafir yang memiliki jaminan keamanan, maka dia tidak akan dapat mencium bau surga.” (Hadits riwayat Bukhary pada kitab: Al Jizyah, Bab: “Dosa pembunuh orang kafir yang memiliki jaminan keamanan dengan tanpa alasan” no: 3166)
Ketiga:
Sesungguhnya Majelis, di samping menjelaskan hukum mengafirkan manusia tanpa bukti dari Al Quran dan As Sunnah dan bahaya mengucapkan hal ini, dilihat dari akibat yang ditimbulkannya, berupa kejelekan dan pengaruh buruk, Majelis juga menyatakan kepada dunia internasional, bahwa agama Islam berlepas diri dari ideologi menyeleweng ini, dan tragedi yang terjadi di sebagian negara, berupa penumpahan darah orang-orang yang tak kendaraan, prasarana umum , peledakan dan rumah-rumah, perorangan, serta pengrusakan kantor instansi pemerintahan, adalah perbuatan jahat dan islam berlepas diri darinya.
Demikian pula setiap muslim yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, berlepas diri darinya dan sesungguhnya tindakan tersebut adalah perbuatan orang yang telah menyimpang pemikirannya, yang sesat akidahnya, sehingga hanya dialah yang menanggung dosa dan kejahatannya. Tindakannya tidak bisa anggap bagian dari ajaran agama Islam, dan juga tidak dapat dinisbatkan kepada kaum muslimin yang menjalankan ajaran Islam, yang berpegang dengan Al Quran dan As Sunnah.
Tindakan tersebut murni sebagai tindak pengrusakan dan kejahatan yang ditentang oleh syariat islam dan fitrah. Oleh karena itu banyak dalil-dalil syariat yang mengharamkannya dan memperingatkan kita dari berkawan dengan pelakunya.
Allah berfirman:
Dan di antara sebagian manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu dan dia persaksikan kepada Allah atas kebenaran isi hatinya padahal dia penentang yang sangat keras, dan apabila dia berpaling dia berjalan di atas bumi dengan membuat kerusakan di dalamnya dan membinasakan tanaman serta hewan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan.” (Al Qur'an surah. Al Baqarah: 204-206).
Dan yang wajib dilaksanakan oleh seluruh kaum muslimin di manapun dengan mereka berada, kebenaran, adalah saling nasihat-menasihati bahu membahu di atas kebaikan, ketakwaan, amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan cara yang bijak, pelajaran yang baik, dan diskusi yang kondusif, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan: “Dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat pedih siksaan-Nya.” (Al Qur'an surah. Al Maidah: 2).
Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan orang-orang beriman yang laki-laki dan perempuan
sebagian mereka adalah penolong sebagian yang lain, mereka menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mentaati Allah dan Rasul-Nya, merekalah yang mendapat rahmat Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Qur'an surah At Taubah: 71).
Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Demi waktu, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan
merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (Al Qur'an surah Al Ashr: 1-3).
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Agama itu adalah nasihat.” Kami (para sahabat) berkata: “Untuk siapa ya Rasulullah?” beliau bersabda: “Untuk Allah, kitab, rasul- Nya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin - secara umum-.“ (Telah lalu takhrij hadits ini).
Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Permisalan kaum mukminin dalam sikap cinta mencintai, kasih mengasihi dan persatuan mereka, bagaikan satu tubuh, jika salah satu organnya mengeluh sakit, niscaya seluruhnya turut demam dan gelisah.” (Telah lalu takhrij hadits ini). Ayat-ayat dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak sekali. Kami mohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia agar menjaga seluruh kaum muslimin dari kejelekan, dan menunjukkan semua pemimpin kaum muslimin kepada setiap hal yang mendatangkan kebaikan bagi rakyat dan negara, dan semoga Allah menghancurkan kerusakan dan pelakunya. Dan semoga Allah menolong agama dan meninggikan kalimat-Nya, seluruh kaum muslimin di serta manapun memperbaiki mereka keadaan berada, menolong kebenaran dengan mereka, sesungguhnya dan Dialah Penolong dan Yang Kuasa atasnya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan atas Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabatnya.

Hai’ah Kiba ril Ulama’
Ketua Majlis: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz.
Anggota:
  1. Muhammad bin Ibrahim bin Jubair.
  2. Rasyid bin shalih bin Khunain.
  3. Shalih bin Muhammad Al Luhaidan.
  4. Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan.
  5. Abdullah bin Abdir Rahman Al Ghudaiyyan.
  6. Abdullah bin Sulaiman Al Mani’.
  7. Hasan bin Ja’far Al ‘At my.
  8. Abdullah bin Abdir Rahman Al Bassam.
  9. Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.
  10. Muhammad bin Abdillah As Subaiyyil.
  11. Nashir bin Hamad Ar Rasyid.
  12. Abdil Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alus Syaikh.
  13. Abdur Rahman bin Hamzah Al Marzuqy.
  14. Muhammad bin Sulaiman Al Badr.
  15. Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Alus Syeikh.
  16. Dr. Bakr bin Abdillah Abu Zaid.
  17. Muhammad bin Zaid Al Sulaiman.
  18. Dr. Abdullah bin Abdil Muhsin At Turky.
  19. Dr. shalih bin Abdir Rahman Al Athram.
  20. Dr. Abdul Wahhab bin Ibrahim Abu Sulaiman.



Sumber : Ustadz Muhammad Arifin Badri