Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Non-LDII Sesat?

09 Aug 2014


Apakah orang yang tidak mengikuti/bergabung dalam Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) itu sesat? Apakah kalau punya pemahaman atau pendapat yang berbeda dengan LDII itu sesat? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Mengapa? Karena kita tidak boleh gegabah mengatakan orang lain sesat bahkan kafir. Kesesatan dan kekafiran adalah masalah ushuluddin atau aqidah, yang penetapan vonisnya adalah hak Allah, Rasul dan alim ulama kibar (ulama senior, atau perkumpulan ulama) bukan ulama abal-abal.

Jika pertanyaan tersebut ditujukan untuk jama'ah Ahmadiyah yang jelas-jelas bukan LDII/354/jokam, maka hal itu benar. Ahmadiyah meyakini ada Rasul setelah Muhammad shallallahu alaihi wasallam yakni Mirza Ghulam Ahmad. LDII dan ahlus sunnah wal jama'ah (antara lain MUI, Muhammadiyah, NU, Al Irsyad, Persis) meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah khatamul anbiya wal mursalin, nabi dan rasul yang terakhir, berdasarkan dalil-dalil Al Qur'an, hadits dan kesepakatan para ulama. Keyakinan ada tidaknya rasul setelah Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah masalah keimanan atau aqidah. Aqidah yang benar adalah meyakini tidak ada nabi dan rasul setelah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Jadi, keyakinan ada nabi setelah Muhammad shallallahu alahi wasallam adalah keyakinan batil, salah, menyimpang, sesat. Demikian pula jika pertanyaan tersebut ditujukan untuk nashrani dan yahudi, vonis sesat dan kafir kedudukannya sudah final dan tidak dapat diganggu gugat. Kenapa? Karena aqidah mereka itu batil (menurut Islam). Seperti, Yesus anak Tuhan/Allah, tidak mengakui kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wasallam, mengingkari kenabian Isa alaihissalam, mengubah taurat menjadi talmud sesuka nafsunya, dll.
Nah, bagaimana kalau vonis sesat itu dijatuhkan sebab fiqh ibadah yang dilakukan, bukan masalah aqidah?
Contoh, sudah jamak diketahui bahwa jama'ah LDII khutbah jum'atnya menggunakan bahasa Arab. Alasan LDII seperti yang dimuat dalam website resminya cukup singkat, “karena tidak ada satu pun ulama yang menyatakan bahwa khutbah jum'at dengan bahasa Arab itu tidak sah, walaupun mustami'in (pendengar) tidak seluruhnya bisa memahami isi khubah. Seperti halnya ketika musim haji dimana imam Masjidil Haram menyampaikan khutbah berbahasa Arab sedangkan mustami'in yang datang dari seluruh dunia belum tentu bisa mengerti isi khutbah tersebut.”
Alasan yang dikemukakan ini benar. Adakah ulama yang mengatakan bahwa khutbah jum'at disampaikan dalam bahasa Arab itu merupakan suatu kesalahan? Kalau khutbah jum'at dengan bahasa Arab itu salah bagaimana dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang khutbahnya pakai bahasa Arab? Dan benar adanya, di Masjidil Haram khutbah jum'atnya dalam bahasa Arab walaupun jama'ahnya dari segala penjuru dunia yang bahasanya berbeda-beda.

Lha mayoritas di Indonesia khutbah jum'atnya dengan bahasa Indonesia bukan bahasa Arab, lantas bagaimana? Tidak sesuai dengan yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam donk...... Berarti mayoritas kaum muslimin Indonesia selama ini salah?
Tidak salah kalau kita memandang khutbah jum'at dengan bahasa Indonesia ini sebagai ikhtilaf/khilafiyah fiqh semata, sebagai perbedaan pendapat dalam fiqh. Oya, islam dibagi dalam 2 bagian, yaitu aqidah/ushuluddin dan fiqh/furu'. Aqidah adalah tentang keimanan, fiqh adalah seputar cabang-cabang, seputar hukum-hukum, halal haram. Tapi, akan jadi salah kalau dimasukkan ke dalam ranah aqidah.
Memang, tidak ada dalil yang mengatakan bahwa khutbah jum'at dengan bahasa Arab itu tidak sah. Yang ada adalah fakta bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan khulafaurrasyidin khutbah jum'at dengan bahasa Arab. Dan fakta ini bisa menjadi dalil khutbah jum'at dengan bahasa Arab itu sah. Khilafiyahnya bukan pada penggunaan bahasa Arab, tapi penggunaan bahasa selain Arab termasuk Indonesia, Jawa, Sunda, dll.
Alim ulama dari 4 madzhab sepakat khutbah jum'at dalam bahasa Arab adalah lebih baik. Mereka juga sepakat bahwa tidak sah shalat jum'at tanpa khutbah. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang boleh tidaknya khutbah dengan bahasa selain bahasa Arab. Pendapat yang melarang, misalnya dari Al Qadhi Al Baghdadi Al Maliki, “Ibnu Al Qasim mengatakan, 'Tidak sah –di dalam khutbah-, kecuali harus disampaikan dengan bahasa Arab'." (Al Ma’unah 1/306).Pendapat yang melarang tetapi memberi batasan dan membolehkan, antara lain pendapat dari Al Marwadi, seorang ulama madzhab hanabilah, Tidak sah khutbah Jum’at dengan bahasa selain Arab apabila mampu melakukannya berdasarkan pendapat yang shahih dalam madzhab (Hambali). Ada pendapat yang menyatakan hal tersebut diperbolehkan (sah) apabila tidak memiliki kemampuan berbahasa Arab.” (Al Inshaf 5/219). Pendapat lain yang membolehkan adalah Imam Al 'Izz bin Abdis Salam, "Kewajiban khathib (saat berkhutbah) yaitu tidak menggunakan kalimat-kalimat yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Ini termasuk bid’ah yang buruk. Karena sesungguhnya tujuan khutbah adalah memberi manfaat kepada hadirin dengan memberikan targhib (anjuran melakukan kebaikan) dan tarhib (ancaman dari kemaksiatan). Serupa dengan hal itu adalah khathib berkhutbah kepada bangsa Arab (tapi) dengan menggunakan kalimat-kalimat non arab, yang tidak mereka fahami. wallahu a’lam." (Fatawa Al ‘Izz bin Abdis Salam, hal: 77-78. Dinukil dari Al Qaulul Mubin fi Akhthail Mushallin, hlm: 371-372).
Nah, berhubung ada khilafiyah, maka toleransi saja. Kalau LDII lebih memilih khutbah dengan bahasa Arab walau ada jama'ahnya tidak faham materi khutbahnya, ya kita toleransi, begitu juga kalau ada yang mantap dengan khutbah dalam bahasa selain Arab, misalnya Jawa atau Bugis, agar jama'ahnya bisa memahami dan melaksanakan wasiat/nasehat taqwa, dan selama perbedaan ini disikapi dengan benar, memasukkan masalah ini ke dalam ranah fiqh.
Tapi..... menjadi salah kalau dibawa ke ranah aqidah. LDII meyakini kalau khutbahnya tidak pakai bahasa Arab maka tidak sah. Karena itulah, warga LDII enggan shalat jum'at di masjid yang bukan milik LDII karena takut (atau malah meyakini?) shalat jum'atnya tidak sah sebagai akibat dari khutbah jum'at yang tidak memakai bahasa Arab. Lho, di mana ranah aqidahnya? Hadits menyebutkan bahwa tidak sah shalat jum'at tanpa khutbah. LDII menganggap orang yang di luar jama'ahnya sebagai orang sesat, ibadah dan kelimuan orang non-LDII dinilai tidak sah, karena non-LDII ilmunya tidak manqul dari Nur Hasan / Madigol pendiri Islam Jama'ah/LDII. Shalat jum'at di masjid non-LDII berarti menjadikan warga LDII bermakmum kepada non-LDII. Ibadah yang non-LDII tidak akan sah karena ilmunya tidak sah, ilmunya tidak dari Madigol (istilah mereka adalah manqul). Jadi menurut LDII, “Percuma saja shalat jum'at di masjid non-LDII, udah ga dicontohkan Rasul, imamnya kafir pula!”, begitu penuturan narasumber yang kami dapatkan. Wait...... Kafir? Iya kafir. Vonis kafir dari LDII kepada non-LDII ini karena non-LDII tidak berguru kepada Madigol. LDII mengklaim hanya dari Madigol lah yang ilmu dan ibadahnya sah, karena Madigol ini berguru langsung ke gurunya yang berguru jika dirunut akan sampai pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, istilahnya adalah sanad.
Ilustrasinya gini, Madigol berguru ke seorang syaikh, sebut saja A. A berguru kepada syaikh B, B dapat ilmu dari syaikh C, C dari D, D dari E, dan seterusnya sampai ke Rasulullah. Kalau ilmu diambil dari orang-orang di luar jalur atau sanad ini, maka dianggap tidak sah.
Keyakinan tersebut sebenarnya ceroboh. Terlalu dini mengatakan orang-orang yang tidak manqul itu ilmunya tidak sah atau tidak benar. Bisa saja ilmunya sah tapi bisa juga salah.
Madigol mengambil ilmu dari A kita tuliskan sebagai Madigol --- A. A berguru dari B, A --- B. B belajar agama dari C, B --- C, dst sampai Rasulullah.
Kita tulis,
Madigol --- A --- B --- C --- D --- E ---------------------------- Rasulullah
Dikatakan, Madigol adalah ulama, maka guru dari Madigol ini sudah tentu ulama juga (masa iya sih kita mau bikin fitnah atau setidaknya negative thinking bahwa Madigol ini ulama yang ilmunya diambil dari seorang preman? Mungkin ga sih preman ngajari ulama?). Maka A, B, C, dst adalah ulama. Biasanya, ulama memiliki banyak murid, apalagi ahli hadits. Adalah hal yang tidak mungkin kalau sepanjang hidupnya syaikh A hanya punya 1 murid yaitu Madigol seorang, mengingat menurut klaim LDII Abah a.k.a Nur Hasan a.k.a Madigol ini belajar dari pakar hadits yang sudah terkenal mendunia. Nah, kita misalkan syaikh A mempunyai 2 murid, yaitu Madigol dan P. P ini kemudian punya murid R dan S. Bagaimanakah kalau ternyata ilmu agama kita itu dari R?
Lagi, B ternyata muridnya tidak hanya A, tapi juga T dan U. Ulama/orang yang berguru kepada T ini adalah V. V punya murid W dan X. Sementara U punya murid Y dan Y adalah guru Z. Bagaimana kalau ngaji dari murid U atau V atau W atau X atau Z? Sahkah ilmunya?
Misalkan sanad keilmuan adalah dari X, bisa dituliskan
non-LDII --- X --- V --- T --- A --- B --- C --- D --- E ---------------------------- Rasulullah.
Blunder bro! Di satu sisi, LDII katakan pola belajar dari selain Madigol tidak sah. Tapi di sisi lain, ternyata guru dari non-LDII itu punya kriteria yang sama dengan Madigol, yaitu sanad keilmuannya sampai kepada Rasulullah. Sanad keilmuan ini berpengaruh pada takfir (vonis kafir). Non-LDII divonis kafir oleh LDII karena non-LDII tidak manqul, tidak sah sanadnya, sanadnya ga sampai pada Rasulullah, belajarnya tidak dari Madigol / Nur Hasan. Padahal, bisa jadi di antara sanad keilmuan non-LDII itu ada nama Muhammad bin Idris Asy Syafi'i, Ahmad bin Hambal, Abu Hanifah An Nu'man Taimillah bin Tsa'labah, Malik bin Annas, Muhammad bin Isa At Tirmidzi, Abu Abdur Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib An Nasa'i, Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An Nawawi, Abul Hasan Muslim bin Hajjaj bin Muslim bin Warad bin Kausyaz Al Qusyairi, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah Al Bukhari.
Sekali lagi, takfir ini masuk ranah aqidah. Takfir juga tidak bisa diberikan kepada sembarang orang. Takfir juga tidak semua orang bebas melakukannya, takfir adalah hak para ulama. Inilah yang kami maksud, dibawa ke ranah aqidah. Pertanyaannya sekarang, adakah ulama yang mengatakan bahwa barang siapa yang khutbah jum'at dengan bahasa selain bahasa Arab maka dia sesat? Atau bahkan disebutkan maka dia kafir?


Maka, pandangan LDII yang memvonis non-LDII sebagai sesat atau bahkan kafir adalah gegabah. Tetapi, kesesatan LDII, sudah ada fatwanya dari MUI walau memang tidak tersirat menyebut LDII tetapi menyebut islam jama'ah yang ternyata ajaran islam jama'ah ini sama dengan LDII, dan sampai sekarang, belum ada perubahan dari keputusan MUI tersebut.