Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Kisah Nabi Ayyub Alaihissalam

04 Aug 2014

PENGANTAR

Ayyub adalah hamba shalih dan teladan kesabaran. Kisahnya diceritakan untuk menghibur orang-orang yang ditimpa musibah, baik pada diri mereka, keluarga dan harta. Dia dulu sehat lalu sakit, dulu kaya lalu miskin, pemilik keluarga dan anak lalu Allah mengambil keluarga dan anaknya. Dia menjalani semua itu dengan kesabaran yang baik, tidak mengaduh, dan tidak meratap. Ujiannya berlangsung lama. Semangatnya tidak berkurang karena ujian yang panjang itu. Kemudahan datang dari Allah ketika Ayyub memanggil-Nya dan berdoa kepada-Nya. Allah mengembalikan kesehatannya, mengembalikan harta dan anaknya dua kali lipat dari yang sebelumnya.
Kisahnya menjadi cerita yang menghiasi bibir sesudahnya. Kisah seorang imam orang-orang yang sabar, Ayyub Nabiyullah.

NASH HADIS

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Nabiyullah Ayyub ditimpa musibah selama delapan belas tahun. Orang dekat dan orang jauh menolaknya, kecuali dua orang laki-laki saudaranya yang selalu menjenguknya setiap pagi dan petang hari. Suatu hari salah seorang dari keduanya berkata kepada temannya, 'Ketahuilah, melakukan sebuah dosa seorang manusia di dunia ’Apa itu?’ Dia menjawab, Allah tidak merahmatinya yang menimpanya.’ demi Allah, Ayyub telah yang tidak dilakukan oleh ini.’ Temannya menanggapi, ’Sudah delapan belas tahun dan tidak mengangkat ujian Manakala keduanya pergi kepada Ayyub, salah seorang dari keduanya tidak tahan dan dia mengatakan hal itu kepada Ayyub. Maka Ayyub berkata, ’Aku tidak mengerti apa yang kalian berdua katakan. Hanya saja, Allah mengetahui bahwa aku pernah melewati dua orang laki- laki yang bersengketa dan keduanya menyebut nama Allah, lalu aku pulang ke rumah dan bersedekah untuk keduanya karena aku khawatir nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, "Ayyub pergi buang hajat. Jika dia buang hajat, istrinya menuntunnya sampai di tempat buang hajat. Suatu hari Ayyub terlambat dari istrinya dan Allah mewahyukan kepada Ayyub, ”Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum." (QS. Shad: 42) Istrinya menunggunya cukup lama. Dia melihat dan memperhatikannya sedang berjalan ke arahnya, sementara Allah telah menghilangkan penyakitnya dan dia lebih tampan dari sebelumnya. Ketika istrinya melihatnya, dia berkata, ’Semoga Allah memberimu berkah, apakah kamu melihat Nabiyullah, orang yang sedang diuji? Demi Allah, kamu sangat mirip dengannya
jika dia itu dalam keadaan sehat.’ Ayyub berkata, ’Sesungguhnya akulah Ayyub.’ Ayyub memiliki dua tempat untuk mengeringkan hasil bumi, yang pertama untuk gandum dan yang kedua untuk jewawut, lalu Allah mengirim dua potong awan. Ketika awan yang pertama tiba di atas tempat pengeringan gandum, ia memuntahkan emas sampai ia melimpah, dan awan yang lainnya menumpahkan di tempat pengeringan jewawut sampai melimpah pula."

TAKHRIJ HADIS

Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata tentang takhrij hadis ini dalam Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah (1/24), "Diriwayatkan oleh Abu Ya'la dalam Musnad-nya (1/176- 177), Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (3/374-375) dari dua jalan dari Said bin Abu Maryam. Nafi' bin Yazid menyampaikan kepada kami, Aqil memberitakan kepada kami dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik secara marfu’." Dan dia berkata, "Gharib dari hadis Az-Zuhri, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Aqil. Rawi-rawinya disepakati keadilan mereka. Nafi meriwayatkannya secara sendiri." Aku berkata, "Dia adalah rawi tsiqah (terpercaya) sebagaimana yang dikatakannya. Muslim meriwayatkan hadisnya, rawi-rawi lainnya adalah rawi-rawi Syaikhain.
Jadi, hadis ini shahih. Ia dIshahihkan oleh Ad-Dhiya' Al- Maqdisi. Dia meriwayatkannya dalam Al-Mukhtarah (2/220-221) dari jalan ini. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (2091) dari Ibnu Wuhaib. Nafi' bin Yazid memberitakan kepada kami."

VERSI TAURAT

Barangsiapa membaca kisah Ayyub di dalam Al-Qur'an dan hadis yang shahih lalu membaca kisah ini dalam Taurat, maka dia akan meyakini bahwa salah satu sasaran pemaparan VERSI dalam Al-Qur'an dan penjelasan detail-detailnya di dalam hadis adalah untuk membongkar penyelewengan kisah ini menurut versi Bani Israil dan membebaskan Nabiyullah Ayyub dari tuduhan palsu dan dusta oleh orang-orang yang menyeleweng lagi dzalim.
Klaim pertama yang harus diluruskan dan dikoreksi adalah klaim para penulis kisahnya dalam Taurat bahwa Ayyub hanyalah seorang laki-laki shalih lagi lurus. Dia bukan seorang Nabi. Klaim kedua yang harus diluruskan dan dikoreksi adalah apa yang dikatakan oleh Taurat bahwa Ayyub marah kepada Tuhannya ketika menjalani cobaan. Kemarahan Ayyub kepada Tuhannya ini dipaparkan lewat perbincangan panjang antara Ayyub dan ketiga orang temannya. Walau Ayyub dengan imannya dan kepercayaannya kepada Tuhannya, dia tetap berbicara panjang kepada teman-temannya untuk menampakkan penderitaannya karena cobaan dari Allah, walaupun dia tetap baik, lurus dan melakukan kebaikan.
Dialog yang terjadi adalah dialog yang panjang. Melalui dialog ini para pengarangnya bermaksud untuk mengatasi masalah akidah, yaitu sebab-sebab Allah menurunkan ujian-Nya kepada orang shalih dan hamba- hamba-Nya yang bertaqwa kepada-Nya dan teguh di atas perintah-Nya. Dialog itu mengangkat masalah ini dengan bahasa filsafat dan bahasa syair. Oleh karena itu, orang- orang Yahudi menganggap bahwa Safar Ayyub adalah salah satu Safar hikmah.
Aneh jika Ayyub dalam Taurat adalah seorang pemarah dan pengeluh yang jauh dari pemahaman yang lurus, menolak berserah diri terhadap qadha dan qadar, dan bahwasanya teman-temannya adalah orang-orang yang mengerti dan mengetahui sehingga berusaha sepenuh daya guna untuk memberi pengertian, pelajaran dan mengembalikannya ke jalan yang benar.
Kedustaan semua itu ditunjukkan oleh hadis yang disampaikan oleh Rasulullah tentang kesabaran Ayyub dan keteguhannya untuk menerima apa yang menimpanya tanpa berkeluh kesah, sampai-sampai salah seorang temannya menduga sesuatu pada diri Ayyub. Dia melihat lamanya ujian yang menimpa Ayyub sebagai bukti bahwa Ayyub telah melakukan dosa besar, sehingga dia berhak menerima hukuman panjang ini.
Ayyub membantah hal itu dengan menyebutkan kepada mereka tentang ketaqwaan dan kebersihan hatinya semasa dia sehat wal afiat.
Apa yang ditetapkan oleh hadis menunjukkan bahwa Ayyub lebih memahami, lebih bertaqwa, dan lebih mengetahui. Dia tidak bimbang. Bimbang ini tidak datang darinya, tetapi dari salah seorang temannya.
Adalah benar ketika Taurat menyebutkan bahwa Ayyub mengerti, bertaubat, dan kembali kepada Allah. Akan tetapi, apa yang disebutkan oleh Taurat bahwa Ayyub mengeluh, merasa sempit dan marah, ini tidaklah benar sama sekali. Taurat sesuai dengan Al-Qur'an dalam memberitakan bahwa Ayyub dulunya adalah orang yang kaya sebelum ditimpa musibah. Dia memiliki keluarga dan anak, dan bahwa Allah mengambil harta dan anaknya sebagaimana ujian menimpa jasadnya, lalu Allah mengembalikan keluarga, anak, serta hartanya kepadanya setelah Ayyub sembuh.
Akan tetapi, Taurat menyembunyikan hakikat manakala mengklaim bahwa Allah memberi ganti harta kepada Ayyub melalui hadiah dari saudara-saudara dan kawan- kawannya. Padahal, dari hadis Rasulullah kita mengetahui bagaimana Allah melimpahkan harta kepada Ayyub dalam bentuk emas dan perak melalui awan. Kembalinya harta kepada Ayyub bukan melalui hadiah dari kerabat dan teman-temannya.
Taurat sesuai dengan Al-Qur'an dalam urusan penyakit yang menimpa tubuh Ayyub, yaitu dari setan. Namun perincian-perincian yang disebutkan oleh Taurat dalam perbincangan antara Allah dengan setan tidaklah benar.
Hal itu menyelisihi kaidah-kaidah syariat yang pokok lagi baku. Allah tidak berbincang dengan setan setelah Dia mengusirnya dari rahmat-Nya, walaupun terkadang Dia mengizinkan untuk menimpakan penyakit kepada hamba- hamba-Nya karena sesuatu perkara yang diinginkan oleh- Nya.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS

  1. Keutamaan Nabiyullah Ayyub dalam kesabarannya atas ujian dari Allah: Lenyapnya harta, keluarga dan anak, ditambah penyakit dan menjauhnya teman- teman darinya.
  2. Akibat dari kesabaran adalah kebaikan dunia dan Akhirat. Allah menyembuhkan Ayyub setelah penyakit yang berkepanjangan. Dia mengembalikan kekuatan dan kesehatannya, memberinya harta yang melimpah dan anak-anak yang shalih.
  3. Sejauh mana ta’dzim (pengagungan) Ayyub kepada Tuhannya. Dia menebus dengan bersedekah atas nama dua orang yang bersengketa dan keduanya menyebut nama Allah, karena takut nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.
  4. Besarnya kesetiaan istri Ayyub kepada suaminya dan pengabdiannya kepada Tuhannya. Begitu pula kedua temannya. Kesulitan hidup membuka kualitas orang, walaupun orang-orang dengan kualitas bersih semakin sedikit, akan tetapi di setiap masa dan kota akan selalu ada, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah.
  5. Kemampuan Allah untuk menghapus ujian dan menyembuhkan orang sakit hanya dalam sekejap, sebagaimana Allah mengembalikan kekuatan dan kesehatan kepada Ayyub.
  6. Kodrat Allah memberi rizki kepada hamba-hamba-Nya dengan cara yang tidak umum. Ayyub mendapatkan harta yang banyak dalam bentuk emas dan perak yang dibawa oleh dua awan dan belalang emas yang jatuh kepadanya.
  7. Allah memberi kemudahan dan jalan keluar bagi Ayyub dalam nadzarnya. Dia bisa memenuhi nadzarnya tanpa merugikan istrinya. Ibnul Qayyim menyatakan bahwa dalam syariat mereka tidak ada kaffarat (denda). Jika dalam syariat mereka terdapat kaffarat, niscaya Ayyub akan melakukannya tanpa perlu memukul istrinya. Sumpah bagi mereka adalah sesuatu yang wajib, seperti hukuman had. Dan yang pasti adalah bahwa jika pelaku kesalahan yang mengakibatkan hukuman mempunyai alasan, maka hukumannya diringankan darinya dan istri Ayyub memiliki alasan. Dia tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah setan. Dia hanya bermaksud untuk berbuat baik, maka dia tidak berhak untuk dihukum. Allah memberikan fatwa kepada Ayyub agar memperlakukannya sebagai orang yang berudzur, ditambah kasih sayang dan kebaikannya kepada Ayyub. Maka Allah mengumpulkan untuknya antara memenuhi sumpah dan berlemah lembut kepada istrinya yang baik yang mempunyai alasan dan tidak berhak untuk dihukum.
  8. Hadis ini membebaskan Ayyub dari kebohongan- kebohongan yang dinisbatkan oleh orang-orang Yahudi kepada Ayyub. Hadis ini meluruskan dan mengoreksi sejarah Ayyub yang mereka ubah dan selewengkan.



Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi