Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Aduuh Sombongnya

04 Aug 2014

Kerongkongan terasa kering keronta, perut terasa lapar, akibatnya badan terasa lemas, konsentrasi berkurang, dan produksi turun. Mood andapun berantakan; emosional, mudah tersinggung, dan empati kepada orang sekitarpun tak menentu.

Coba
Anda berdiri di depan kaca, amatilah raut wajah Anda. Lesu, muram dan mungkin ketampanan atau kecantikan yang selama ini melekat di wajah anda terkikis atau bahkan telah sirna.


Mungkin demikianlah gambaran tentang diri
Anda pada setiap siang hari di bulan Ramadhan, terlebih-lebih bila pada pagi harinya Anda tertidur sehingga tidak sempat menyantap makan sahur.

Apa gerangan yang menjadikan diri
Anda demikian adanya? Bukankah selama ini Anda dikenal sebagai seorang yang gagah perkasa,cerdas, cakap, sigap dan berpenampilan menawan?

Mengapa semua ini terjadi pada diri
Anda? Apa yang menjadikan diri Anda berubah total sedemikian rupa, padahal Anda tidak sedang menderita sakit, atau didera masalah berat, juga tidak sedang dililit hutang?

Selanjutnya, coba bandingkan diri
Anda setelah Anda meneguk seteguk air dan menyantap sesuap nasi. Semuanya jadi berubah, Anda kembali ceria, raut wajah anda kembali menawan, mood andapun kembali normal, ketangkasan dan kecerdasan andapun kembali seperti sedia kala. 

Subhanallah! Ketampanan, kecerdasan, ketangkasan, kegagahan, yang selama ini
Anda sandang ternyata tergantung dengan sesuap nasi dan seteguk air.

Sedemikian besarkah peranan sesuap nasi dan seteguk air dalam hidup
Anda, sampai-sampai kehidupan Anda menjadi berubah hanya karena telat makan dan minum?

Mungkinkah kepandaian
Anda, kegagahan, dan ketampanan Anda selama ini sebenarnya terletak pada nasi sesuap dan air seteguk? 

Bila demikian adanya, mengapa selama ini ada keangkuhan dan kesombongan dalam kehidupan anda? Mengapa kecongkakan senantiasa menghiasi lembaran sejarah hidup
Anda? 
Bila demikian, mengapa Anda seakan tidak butuh kepada kasih sayang dan pertolongan Allah, sehingga Anda jarang mengangkat tangan untuk berdoa kepada-Nya? 
Saudaraku! Simaklah petuah Luqman Al Hakim kepada putranya: 
وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." (Al Qur'an surah A;Isra' : 37).
Apa yang dapat Anda lakukan bila ternyata segala kehebatan Anda tergantung kepada sesuap nasi dan seteguk air? Mungkinkah dengan kesombongan dan keangkuhan Anda mampu menembus bumi dan mengalahkan ketinggian gunung?
Saudaraku! Apalah artinya kesombongan dan keangkuhan, bila ternyata nilai kegagahan, kecakapan, dan kecerdasan anda hanya seberat sesuap nasi dan seteguk air, sehingga sekedar Anda telat makan dan minum sejenak saja, semuanya mulai meredup.
Coba Anda bayangkan, andai rasa lapar dan haus yang Anda rasakan sekarang ini berkepanjangan sebagaimana yang dirasakan oleh banyak orang, akankah kegagahan, ketampanan dan ketangkasan masih melekat pada diri anda?
Subhanallah! Ternyata semua yang Anda miliki tidak lagi berguna, di saat Anda terhalang dari seteguk air dan sesuap nasi. Betapa hinanya kehidupan dunia yang Anda perjuangkan selama ini.
Pada suatu hari Ibnu As Simak manemui Harun Ar Rasyid. Tak berapa lama, Harun Ar Rasyid merasa haus, sehingga iapun segera memerintahkan agar diambilkan air minum. Tanpa pikir panjang seorang pelayan segera membawa bejana yang berisi air dingin. Sebelum Harun Ar Rasyid meminum air itu, ia berkata kepada Ibnu As Simaak: Berilah aku petuah! Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Ibnu As Simakpun segera berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin! Berapakah engkau akan menebus air minum itu bila engkau sedang kehausan dan ternyata aku kuasa menghalangimu darinya? Harunpun menjawab: Dengan separoh kerajaanku. Selanjutnya Ibnu As Simaak berkata: Silahkan engkau menikmati air minummu. 
Seusai Harun Ar Rasyid minum air itu, Ibnu As Simak kembali bertanya: Bayangkan, andai aku kuasa menghalang-halangi air minum yang telah engkau minum untuk keluar dari tubuhmu (menyumbat saluran air senimu), berapakah biaya yang akan engkau keluarkan agar air senimu dapat keluar? Harun Ar Rasyidpun kembali menjawab: Sebesar sisa kerajaanku. 
Mendengar jawaban ini, Ibnu As Simakpun menimpalinya dengan berkata: "Suatu kerajaan yang separohnya dihargai dengan seteguk air, dan sisanya dihargai dengan air seni, tidaklah pantas untuk diperebutkan." Mendengar petuah ini, spontan Harun Ar Rasyidpun menangis tersedu-sedu. (Tarikh At Thabary 6/538 & Al Bidayah wa An Nihayah 10234) 
Demikianlah fakta diri Anda, masihkah Anda tergoda untuk bersikap angkuh, sombong dan merasa hebat?
Ketahuilah Saudaraku, sesungguhnya kesempurnaan diri anda terletak pada kerendahan hati Anda, semakin Anda rendah hati, maka semakin tinggi derajat Anda disisi Allah dan di sisi masyarakat.
Akan tetapi semakin Anda merasa angkuh dan merasa tinggi, maka semakin rendah kedudukan anda di sisi Allah dan juga di sisi masyarakat.

Sumber : Ustadz Muhammad Arifin Badri