Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Kisah Nabi Sulaiman Hendak Memutilasi Bayi

03 Aug 2014

PENGANTAR

Kisah ini memaparkan kepintaran Nabiyullah Sulaiman yang luar biasa dalam mengungkapkan kebenaran dalam sebuah persengketaan tanpa bukti-bukti yang membimbing kepada pemilik hak. Sulaiman menampakkan bahwa dirinya hendak membunuh bayi yang diperebutkan oleh dua orang wanita yang masing- masing mengklaim sebagai ibunya. Maka terbuktilah siapa ibu yang sebenarnya, yang merelakan anaknya untuk lawannya agar bayi itu tidak dibunuh demi menjaga hidupnya padahal lawannya itu bersedia menerima bayi yang akan dibelah dua oleh Sulaiman.

NASH HADIS

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, "Ada dua orang wanita masing-masing dengan anaknya. Datanglah seekor serigala dan mencuri anak salah seorang dari keduanya. Maka salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lain, 'Serigala itu mencuri anakmu.' Yang lain menjawab, 'Anakmulah yang dicuri oleh serigala.' Keduanya mengadukan hal itu kepada Dawud, maka Dawud memutuskan anak itu milik wanita yang lebih tua. Keduanya pergi kepada Sulaiman dan menyampaikan hal itu. Sulaiman berkata, ’Ambilkan untukku pisau. Aku akan membelahnya untuk mereka berdua.’ Wanita muda berkata, ’Jangan, semoga Allah merahmatimu. Anak ini adalah anaknya.’ Maka Sulaiman memutuskan anak ini adalah anak si wanita muda.
Abu Hurairah berkata, "Demi Allah, inilah untuk pertama kalinya aku mendengar kata 'sikkin' (pisau). Kami selama ini mengatakannya 'mudyah' (pisau).”

TAKHRIJ HADIS

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab biografi Sulaiman, 6/458 no. 3427. Dalam Kitabul Faraidh, bab jika seseorang wanita mengakui seorang anak, 12/55, no. 6769. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Aqdhiyah, bab perbedaan para mujtahid, 3/1344, no. 1720. Hadis ini dalam Shahih Muslim dengan Syarah Nawawi, 12/380. Diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Kitabul Qadha’, 8/234.

VERSI TAURAT

Kisah ini terdapat di dalam poin (16-28) dalam Ishah ketiga dalam Safar Muluk, yang pertama. Nashnya:
"Pada saat itu datanglah dua orang wanita pezina kepada raja. Keduanya berdiri di hadapannya. Salah seorang wanita berkata, 'Wahai paduka, dengarkanlah. Aku dan wanita ini tinggal dalam satu rumah. Di rumah itu aku melahirkan anakku. Tiga hari setelah itu wanita ini juga melahirkan. Kami bersama. Di rumah kami tidak ada orang asing selain kami berdua. Kami berdua di rumah. Lalu anak wanita ini mati di waktu malam karena dia tidur di atasnya. Di tengah malam dia bangkit dan mengambil anakku dari sisiku, sementara pada saat itu hambamu ini sedang tidur. Lalu dia menaruh anaknya yang telah mati di sisiku dan menaruh anakku di sisinya. Ketika aku bangun di pagi hari untuk menyusui anakku, ternyata dia telah mati. Aku memperhatikannya di pagi itu, ternyata dia bukanlah anak yang aku lahirkan.’
Wanita yang lain menyahut, ’Tidak mungkin. Anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati.’ Wanita pertama membantah, ’Tidak. Anakmu mati dan anakku hidup.’
Keduanya berbantah-bantahan di depan raja.
Raja berkata, ’Wanita ini mengatakan anaknya yang hidup dan anakmu yang mati. Wanita itu mengatakan bukan, tetapi anakmu yang mati dan anaknya yang hidup." Raja meneruskan, ’Bawakan pedang untukku.’ Lalu mereka menghadirkan pedang di hadapan raja. Raja berkata, ’Belahlah anak yang hidup ini menjadi dua. Separuh untuk wanita ini dan separuh untuk wanita itu.’
Maka wanita yang anaknya hidup berbicara kepada raja karena dadanya bergolak terhadap anaknya. Dia berkata, ’Dengarkanlah, wahai paduka raja, serahkanlah anak ini kepadanya. Janganlah dia dibunuh.’ Wanita yang lain berkata, ’Dia bukan untukmu dan bukan untukku, belahlah dia.’ Raja berkata, ’Berikanlah anak yang hidup ini kepadanya. Jangan bunuh ia karena dia adalah ibunya.’ Ketika seluruh Bani Israil mengetahui keputusan yang dikeluarkan oleh raja, mereka takut kepadanya karena mereka melihat hikmah Allah padanya dalam mengambil keputusan."

KOMENTAR TERHADAP VERSI TAURAT

Terdapat kemiripan yang jelas antara kisah versi Taurat dengan kisah di dalam hadis. Hanya saja kisah dalam Taurat telah tersentuh oleh penyelewengan. Anak itu tidak mati karena ibunya menindihnya di waktu malam, akan tetapi dia mati karena dibawa kabur oleh serigala, dan kelihatannya kedua wanita ini berada di luar desa yang jauh dari penduduk, karena serigala tidak mencuri anak-anak dari rumah-rumah.
Perkara kedua yang diselewengkan adalah klaim Taurat bahwa kisah ini terjadi pada masa raja Sulaiman, setelah wafatnya Dawud. Yang benar adalah bahwa kisah ini terjadi pada zaman Dawud. Dawud telah memberikan keputusannya terlebih dahulu, lalu Sulaiman menyelisihi hukumnya sebagaimana telah dijelaskan.
Yang benar adalah bahwa Sulaiman meminta pisau, bukan pedang sebagaimana yang disebutkan oleh Taurat. Dan pisau adalah alat yang cocok untuk membelah anak kecil menjadi dua, bukan pedang.
Di antara koreksi hadis terhadap Taurat adalah bahwa Sulaiman meminta pisau untuk membelah anak itu sendiri, karena dia belum menjadi raja pada waktu itu. Padahal, Taurat menyatakan bahwa dia memerintahkan prajuritnya agar membelahnya dengan pedang, karena pada waktu dia memutuskan perkara ini dia adalah seorang raja. Dan kalian telah mengetahui kesalahan pendapat ini.
Tidak mungkin kedua wanita itu adalah wanita pezina seperti yang tertulis dalam Taurat. Buktinya adalah ungkapan ibu anak itu yang menunjukkan kebaikan dan ketaqwaan. Dia berkata kepada Nabiyullah Sulaiman ketika dia hendak membelahnya, "Jangan lakukan itu, semoga Allah merahmatimu. Dia anaknya."
Jika keduanya adalah wanita pezina, apakah Nabiyullah Dawud dan Sulaiman membiarkan keduanya bebas atas perbuatan keduanya? Apakah dia tidak memerintahkan agar keduanya dirajam sebagaimana dia memerintahkan merajam seorang wanita ketika terjadi persekongkolan kesaksian palsu terhadapnya bahwa dia telah berzina?

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS

  1. Keutamaan Nabi Sulaiman dan keterangan tentang apa yang diberikan oleh Allah berupa kecerdasan dan kemampuan untuk menggali hukum yang benar dalam perkara-perkara sulit yang terjadi pada masanya. Dan dalam hadis shahih disebutkan bahwa Sulaiman berdoa kepada Allah agar diberi hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, maka dia diberi.
  2. Hakim atau pengadil boleh menampakkan kepada orang yang bertikai perbuatan yang (sebenarnya) dia tidak ingin melakukannya, sebagaimana Sulaiman meminta pisau untuk membelah anak itu menjadi dua, padahal sebenarnya dia tidak menginginkan hal itu. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan kebenaran. Nasa’i telah membuat judul untuk hadis ini, "Keluasan bagi hakim untuk berkata kepada sesuatu yang tidak dilakukannya, 'Lakukanlah', agar terungkap kebenaran."
  3. Dengan berdalil kepada hadis ini Nasa’i membolehkan seorang hakim membatalkan keputusan hakim lain, walaupun dia sama dengannya dalam hal ilmu atau lebih afdhal darinya.
  4. Ini mungkin kurang tepat, karena Sulaiman tidak memutuskan dan menetapkan. Dia hanya mengembalikan urusan kepada Dawud, lalu Dawud membatalkan keputusannya sendiri dengan masukan dari Sulaiman. Wallahu a'lam.
  5. Berdalil dengan faktor pendukung dan tanda-tanda untuk mengetahui kebenaran dalam perkara yang diperselisihkan adalah sesuatu yang dianjurkan pada saat tidak adanya dalil-dalil.
  6. Kisah ini menunjukkan bahwa hakim yang alim diberi pahala, baik dia benar atau salah. Allah telah menetapkan bahwa Sulaimanl-ah yang mengerti rahasia keputusan hukum, walaupun demikian Allah tetap memuji Dawud dan Sulaiman, dan tidak mencela Dawud karena dia salah dalam mengambil Kami telah memberikan keputusan. "Maka pengertian kepada Sulaiman tentang hukum yang lebih tepat, dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu." (QS. Al-Anbiya: 79)
  7. Dan Rasulullah telah secara jelas menyatakan bahwa hakim yang benar keputusannya akan mendapatkan dua pahala. Adapun yang salah, maka cukup satu.
  8. Para Nabi memutuskan perkara-perkara yang terjadi pada mereka dengan ijtihad mereka. Oleh karena itu, hukum Dawud dan Sulaiman berbeda. Jika mereka memutuskan dengan wahyu, niscaya mereka tidak berbeda. Oleh sebab itu, Nabi bisa jadi memutuskan tidak kepada pemilik hak sebagaimana hal itu telah disebutkan di dalam hadis shahih.
  9. Kecerdikan dan pemahaman tidak berhubungan dengan umur. Si kecil bisa jadi mengerti dan mengetahui apa yang tidak diketahui oleh si besar, sebagaimana Sulaiman (si anak) mengerti apa yang tidak dimengerti oleh Dawud (si bapak). Abdullah bin Umar mengetahui jawaban pertanyaan Rasulullah, padahal sahabat-sahabat besar tidak memahaminya, yang di antara mereka terdapat Abu Bakar dan Umar.
  10. Koreksi hadis terhadap kisah menyangkut kisah ini.

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi