Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Taysirul Allam Syarah Umdatil Ahkam Makna Hadits No.7

25 Jul 2014

Kitab Thaharah

Hadits ke-7


Dari Humran, maula Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, ia melihat Utsman meminta air wudhu, ia kemudian menuangkan air di kedua tangannya lalu membasuh kedua tangannya sebanyak 3 kali. Ia kemudian memasukkan tangan kanan ke dalam air wudhu lalu berkumur, memasukkan air ke hidung kemudian mengeluarkannya kembali, setelah itu membasuh wajah sebanyak 3 kali, membasuh kdua tangan hingga siku sebanyak 3 kali, setelah itu mengusap kepala, lalu membasuh kedua kakinya sebanyak 3 kali, ia kemudian berkata, “Aku pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam wudhu seperti wudhuku ini dan bersabda, 'Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat 2 rakaat tanpa membisikkan (urusan-urusan dunia) ke dalam jiwanya, dosanya yang telah lalu diampuni Allah'.”1

Makna Global

Hadits ini menyebutkan tata cara wudhu Nabi shallallahu alaihi wasallam secara lengkap. Utsman mengajari mereka tata cara wudhu Nabi shallallahu alaihi wasallam melalui praktek nyata, agar lebih mudah dipahami dan lebih jelas dalam bayangan mereka. Ia meminta bejana air, ia tidak mencelupkan tangan ke dalam air itu agar tidak mengotori, tapi ia tuangkan sebanyak 3 kali ke kedua tangannya hingga bersih, setelah itu ia memasukkan tangan kanan ke dalam bejana, mengambil air untuk berkumur dan menghirup air ke dalam hidung, setelah itu membasuh wajah 3 kali, lalu membasuh tangan 3 kali hingga kedua siku, selanjutnya mengusap seluruh kepala sebanyak 1 kali, kemudian membasuh kaki sebanyak 3 kali.
Setelah mempraktekkan wudhu, ia memberitahu mereka bahwa ia pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam wudhu seperti itu. Setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam wudhu beliau memberitahu para sahabat bahwa siapa yang wudhu seperti wudhu beliau itu, lalu shalat 2 rakaat dengan menghadirkan hati di hadapan Rabb azza wa jalla, maka dengan karunia-Nya Allah akan membalas wudhu yang sempurna dan wudhu yang ikhlas itu dengan ampunan atas dosa yang telah lalu.

Perbedaan Pendapat Ulama

Imam Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi'i, Sufyan, dan lainnya berpendapat, menghirup air ke dalam hidung saat wudhu hukumnya mustahab, tidak wajib. Pendapat masyhur Imam Ahmad menyatakan wajib, tanpa itu wudhu tidak sah. Pendapat ini juga dikemukakan Abu Laila, Ishaq, dan lainnya.
Kalangan pertama bersandar pada hadits, “Sepuluh hal termasuk sunnah (kebiasaan) para rasul,” di antaranya menghirup air ke dalam hidung, dan sunnah itu tidak wajib. Sementara kalangan yang mewajibkan bersandar pada firman Allah azza wajalla, “Maka basuhlah mukamu.”(Al Qur'an surah Al Maidah: 6). Dan hidung adalah bagian dari wajah. Mereka juga bersandar pada sejumlah hadits shahih tentang tata cara wudhu Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan beliau juga memerintahkan seperti itu.
Kalangan ini menanggapi dalil yang dijadikan pedoman oleh kalangan yang tidak mewajibkannya, bahwa yang dimaksud sunnah dalam hadits itu adalah kebiasaan, karena istilah sunnah yang berarti tidak wajib adalah istilah fuqaha generasi terakhir. Karena itu, disebutkan dalam sejumlah hadits yang di antaranya menyebutkan, “Sepuluh termasuk bagian dari fitrah.” Pendapat terakhir ini jelas pendapat shahih karena ddalil-dalilnya kuat dan setahu saya (Syaikh Alu Bassam) tidak berseberangan dengan hadits di atas. Wallahu a'lam.
Ulama sepakat, mengusap kepala wajib hukumnya. Mereka juga berpendapat, seluruh kepala wajib diusap. Namun mereka berbeda pendapat, apakah mengusap sebagian saja sudah cukup, atau harus diusap semuanya? Ats Tsauri, Al Auza'i dan Asy Syafi'i berpendapat, boleh mengusap sebagian saja, meski mereka berbeda pendapat terkait ukuran yang cukup. Malik dan Ahmad berpendapat wajib diusap semuanya.
Kalangan pertama bersandar pada firman Allah azza wajalla, “Dan usaplah kepalamu.”(Al Qur'an surah Al Maidah:6). Ba' dalam ayat ini menunjukkan tab'idh (sebagian), juga bersandar pada riwayat Muslim dari Mughirah dengan lafal, “Beliau shallallahu alaihi wasallam berwudhu, kemudian mengusap ubun-ubun dan juga surban.”
kalangan yang mewajibkan mengusap seluruh kepala berpedoman pada banyak sekali hadits, semuanya menyebutkan tata cara wudhu Nabi shallallahu alaihi wasallam, di antaranya hadits yang kia bahas ini. Ada juga hadits laiin yang diriwayatkan oleh jama'ah, “Beliau mengusap kepala dengan kedua tangan dari depan hingga ke belakang,beliau memulai dari bagian depan kepala, lalu beliau usapkan hingga tengkuk. Setelah itu beliau kembalikan ke tempatnya semula lagi.”
Mereka menanggapi dalil-dalil kalangan yang membolehkan mengusap sebagian kepala, bahwa ba' menurut bahasa tidak ada yang menunjukkan makna tab'idh (sebagian). Makna ba' dalam ayat ini adalah ilshaq, artinya lekatkan basuhan dengan kepala. Ilshaq adalah makna hakiki huruf ba'. Nafthawaih dan Ibnu Duraid pernah ditanya tentang makna tab'idh dalam huruf ba', keduanya tidak mengenal makna tersebut. Ibnu Burhan menyatakan, “Siapa yang menyatakan huruf ba' memiliki makna tab'idh, berarti ia menukil sesuatu dari orang Arab yang tidak mereka ketahui.”
Ibnul Qayyim menyakatan, “Tidak ada satu hadits pun yang menyebutkan bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam mengusap sebagian kepala.”2
1Al Bukhari, hadits no. 164, Muslim, hadits no. 226
2Zadul Ma'ad, 1/39

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi