Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Taysirul Allam Syarah Umdatil Ahkam Makna Hadits No. 5

22 Jul 2014

Kitab Thaharah

Hadits ke-5


Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Janganlah seseorang di antara kalian kencing di air menggenang yang tidak mengalir lalu ia mandi dengan air itu.”1

Riwayat Muslim menyebut,
“Janganlah seseorang di antara kalian mandi di air menggenang sementara ia dalam kondisi junub.”2

Makna Global

Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang kencing di air menggenang yang tidak mengalir, seperti tempat-tempat penyimpanan air, tangki air, oase, dan sumber-sumber air yang biasa diambil untuk keperluan minum, agar tidak mengotori dan membuat jijik. Sebab, kotoran-kotoran itu bisa menyebabkan berbagai macam penyakit berbahaya.
Nabi shallallahu alaihi wasallam juga melarang mandi dengan menceburkan seluruh atau sebagian tubuh ke dalam air yang tidak mengalir agar tidak mengotori atau membuat yang lain jijik, harus diciduk sedikit demi sedikit. Larangan ini semakin ditekankan ketika seseorang dalam kondisi junub. Namun, jika airnya mengalir, tidak mengapa mandi dan kencing di tempat tersebut. Perbuatan itu dikhawatirkan mengotori dan membahayakan orang lain.

Perbedaan Pendapat Ulama

Ulama berbeda pendapat, apakah larangan ini larangan haram atau makruh.
Malikiyah berpendapat bahwa itu larangan bersifat makruh. Hanabilah dan Zhahiriyah berpendapat bahwa itu larangan bersifat haram. Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan itu bersifat haram jika airnya hanya sedikit, dan makruh jika airnya banyak.
Redaksi larangan menunjukkan pengharaman (kencing) di air yang volumenya sedikit maupun banyak, namun dikhususkan (dikecualikan) dari hukum tersebut untuk air danau berdasarkan kesepakatan ulama.
Mereka juga berbeda pendapat terkait air yang dikencingi, apakah tetap bersih ataukah najis? Jika airnya berubah karena terkena benda najis, maka ijma menyatakan air tersebut najis, entah air itu sedikit atau banyak. Namun, jika airnya tidak berubah dan banyak volumenya, ijma menyatakan air tersebut tetap bersih.
Sementara, jika air hanya sedikit namun tidak berubah terkena benda najis, Abu Hurairah, Ibnu Abbas,, Hasan Al Bashri, Ibnu Musayyib, Tsauri, Dawud, Malik, dan Al Bukhari berpendapat, air tersebut tidak najis. Al Bukhari menyebutkan sejumlah hadits sebagai bantahan bagi kalangan yang menyatakan air tersebut najis.
Ibnu Umar, Mujahid, Hanafiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah berpendapat, dengan hanya terkena benda najis, air menjadi najis meski tidak mengalami perubahan, jika volumenya sedikit. Mereka bersandar pada sejumlah dalil, di antaranya hadits yang tengah kita bahas ini. Semua dalil yang dijadikan pijakan kalangan ini bisa ditanggapi. Sementara kalangan pertama bersandar pada sejumlah dalil, di antaranya riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi yang ia nyatakan hasan “Air itu suci, tidak dinajiskan oleh apapun.” Mereka menanggapi hadits di atas bahwa larangan ini dikarenakan akan membuat jijik orang-orang yang meminumnya, bukan karena air tersebut terkena najis.
Pendapat yang benar ialah pendapat kalangan pertama, karena ukuran najis tidaknya air adalah ketika air mengalami perubahan setelah terkena benda najis, entah volumenya sedikit ataupun banyak. Pendapat ini dipilih Syaikh Ibnu Taimiyyah. Berdasarkan penjelasan ini kita juga tahu bahwa pendapat yang rajih adalah air sisa mandi jinabat suci, meski hanya sedikit, tidak seperti pendapat masyhur madzhab kita, juga madzhab Asy Syafi'i yang menyebut ketika air sudah digunakan untuk mandi, sifat bersihnya hilang, jika airnya hanya sedikit.

------------------------------------------------------
1Al Bukhari, hadits no. 239, Muslim, hadits no. 282
2Muslim, hadits no. 283

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi