Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Taysirul Allam Syarah Umdatil Ahkam Makna Hadits No. 4

21 Jul 2014

Kitab Thaharah

Hadits ke-4


Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Apabila seseorang di antara kalian berwudhu, maka masukkan air ke dalam hidungnya, kemudian keluarkanlah. Siapa yang bersuci dengan batu, maka gunakanlah batu dalam bilangan ganjil. Dan jika seseorang dari kalian bangun tidur, basuhlah kedua tangannya sebanyak 3 kali1sebelum ia memasukkan keduanya ke dalam bejana, karena seseorang dari kalian tidak tahu di mana tangannya bermalam.”


Matan riwayat Muslim menyebut : “Maka hendaklah menghirup air ke dalam hidung.”
Matan riwayat lain menyebut: “Siapa yang berwudhu hendaklah menghirup air ke dalam hidung.”2

Makna Global

Hadits ini mencakup 3 poin. Setiap poin memiliki hukum tersendiri.
  1. Ketika seseorang mulai berwudhu, dianjurkan untuk menghirup air ke dalam hidung kemudian setelah itu dikeluarkan. Inilah yang dimaksud istinsyaq dan istintsar yang disebut dalam hadits ini. Sebab, hidung termasuk bagian wajah yang diperintahkan untuk dibasuh. Banyak hadits shahih yang memerintahan seperti itu, karena hal itu termasuk bagian dari kebersihan yang dituntut secara syar'i.
  2. Bagi yang ingin membersihkan kotoran yang keluar dari kemaluanatau dubur dengan batu, hendaklah diakhiri dalam bilangan ganjil, minimal 3 dan maksimal sampai kotorannya hilang. Jika setelah dibersihkan sebanyak bilangan ganjil belum bersih juga, maka ulangi hingga berjumlah ganjil.
  3. Setelah bangun tidur malam, tidak boleh mencelupkan tangan ke dalam bejana air atau menyentuh benda basah sebelum dibasuh sebanyak 3 kali. Sebab, pada umumnya, tidur malam berlangsung lama dan tangan menyentuh ke tubuh mana saja. Boleh jadi tangan menyentuh sesuatu kotoran tanpa disadari. Karena itu dianjurkan untuk dibasuh agar bersih seperti yang disyariatkan.

Perbedaan Pendapat Ulama

Ulama berbeda pendapat terkait tidur yang setelahnya dianjurkan membasuh tangan.
Imam Syafi'i dan jumhur berpendapat, setelah tidur kapan saja, baik malam maupun siang, berdasarkan keumuman sabda Nabi, “Dari tidurnya”
Sementara itu, Imam Ahmad dan Dawud Azh Zhahiri mengkhususkan tidur malam hari dengan alasan karena hakikat bermalam hanya berlaku pada malam hari saja, juga berdasar riwayat At Tirmidzi dan Ibnu Majah, “Apabila seseorang di antara kalian bangun (setelah tidur) di malam hari.
Yang rajih adalah madzhab terakhir, karena hikmah perintah membasuh tangan ini tidak jelas. Membasuh tangan dalam hal ini lebih kuat dimaknai sebagai ta'abbudiyah, untuk ibadah. Dengan demikian, tidur siang tidak bisa diqiyaskan dengan tidur malam, kendati juga berlangsung lama, karena ia berseberangan dengan sesuatu yang umum. Hukum selalu berkaitan dengan sesuatu yang lebih umum. Zahir (redaksi) hadits-hadits tersebut merupakan takhsis, pengkhususan.
Ulama juga berbeda pendapat, apakah membasuh tangan itu hukumnya wajib, mustahab, atau sunnah? Jumhur berpendapat mustahab. Itulah salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Ahmad, yang dipilih Al Kharqi, Al Muwaffiq, dan Al Majd. Adapun pendapat Imam Ahmad yang masyhur ialah yang menyatakan wajib. Pendapat ini diperkuat tekstual hadits di atas.

-------------------------------------------------------------------------------------
1Hadits ini lafal dari Muslim, Imam Bukhari tidak menyebutkan perihal bilangan tiga.
2Al Bukhari, hadits no. 162, Muslim, hadits no. 278

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi