Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Taysirul Allam Syarah Umdatil Ahkam Makna Hadits No.1

18 Jul 2014

Kitab Thaharah

Hadits ke-1



Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu, ia berkata, “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihu wasallam bersabda :
'Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang (akan dibalas) berdasar apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (bernilai sebagaimana) yang ia niatkan'.”1

Makna Global

Ini merupakan hadits agung dan salah satu kaidah Islam; qiyas shahih untuk menimbang segala amal perbuatan dari sisi diterima atau tidak, juga dari sisi banyak dan sedikitnya balasan yang diterima.
Nabi shallallahu alaihi wasallam memberitahukan, bahwa inti segala amal perbuatan bergantung pada niat. Jika niatnya baik dan dilakukan ikhlas karena Allah semata, maka amalan tersebut diterima. Jika tidak seperti itu, amalan tertolak, karena Allah tidak memerlukan sekutu. Kemudian, Nabi membuat suatu perumpamaan untuk menjelaskan kaidah agung ini dengan hijrah. Siapa yang berhijrah meninggalkan negeri kesyirikan demi mencari pahala Allah, dekat dengan Nabi, dan belajar syariat, maka hijrahnya berada di jalan Allah, dan Allah akan membalasnya. Sebaliknya, siapa yang berhijrah demi tujuan-tujuan duniawi, maka ia tidak mendapat pahala. Dan jika hijrah dilakukan untuk kemaksiatan, si pelaku mendapat siksa.
Niat membedakan antara ibadah dan kebiasaan. Mandi misalnya, jika diniatkan untuk mandi jinabat, maka mandi tersebut bernilai ibadah, dan jika dimaksudkan sebagai kebersihan atau mendinginkan tubuh, berarti mandi tersebut bernilai adat (kebiasaan).
Dalam syariat, niat terdiri dari 2 pembahasan:
Pertama, ikhlas dalam mengerjakan amalan karena Allah semata. Inilah makna niat yang paling luhur. Sisi inilah yang dibahas ulama tauhid, sirah, dan suluk (ibadah).
Kedua, membedakan ibadah satu sama lain. Sisi inilah yang dibahas fuqaha.
Hadits ini termasuk hadits jawami' (singkat kata namun sarat makna) yang harus diperhatikan dan dipahami, karena penjelasan yang tidak memadai tentu tidak bisa menunaikan hak hadits ini. Imam Al Bukhari menyebut hadits ini di bagian awal kitab Shahih-nya, karena masuk dalam setiap permasalahan ilmu dan semua bab-bab ilmu.

---------------------------------------------------
1Al Bukhari, hadits no.1; Muslim, hadits no.1907

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi