Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

May Day, Tradisi Kuno dan Buruh

14 Jul 2014

Satu Mei, seluruh dunia hingar bingar menyambut hari untuk buruh, 1 Mei dan setiap orang menyebutnya May Day! Parade? Demonstrasi, Hari Libur Nasional, Hari Bebas Bekerja, atau Tarian Mengelilingi Tiang Berhiaskan Untaian Bunga?

Kisah lain tak kalah menariknya, di zaman Roma kuno, hari pertama bulan Mei jatuh pada festival Floralia, dinamai demikian untuk menghormati Flora, dewi musim semi dan bunga. Itulah waktu untuk bernyanyi, menari, dan mengadakan parade bunga. Para pelacur Romawi khususnya menikmati festival ini, karena mereka menganggap Flora sebagai dewi pelindung mereka.


Pada waktu orang Romawi menaklukkan negeri-negeri lain, mereka memperkenalkan adat istiadat dan tradisi mereka. Akan tetapi, di negeri-negeri Keltika, orang Romawi mendapati bahwa hari pertama bulan Mei telah dirayakan sebagai festival Beltane. Pada malam sebelum tanggal satu Mei, semua api dipadamkan, dan ketika matahari terbit, orang-orang menyalakan api unggun di puncak bukit-bukit atau di bawah pohon-pohon keramat untuk menyambut kehidupan yang diperbarui. Mereka membawa ternak ke padang rumput, dan memohon kepada dewa-dewi untuk melindungi ternak itu. Tidak lama kemudian, Floralia menyatu dengan Beltane dan menjadi festival May Day.

Bagi orang yang berbahasa Jerman dan orang Skandinavia, Walpurga adalah festival yang mirip dengan Beltane. Pesta pada malam Walpurga dimulai dengan menyalakan api-api unggun untuk mengusir tukang sihir dan roh jahat. Orang Eropa lainnya mengembangkan variasi kebiasaan May Day mereka sendiri, banyak di antaranya masih dipraktekkan.

Gereja Kristen tidak berdaya menghadapi pesta semacam itu. May Day—atau Beltane—adalah hari paling serba boleh dalam setahun, suatu festival yang tidak pernah dapat sepenuhnya dikendalikan oleh gereja Kristen dan kalangan berwenang lainnya,” kata surat kabar Guardian dari Inggris.

Pada Abad Pertengahan, kebiasaan-kebiasaan baru telah ditambahkan ke dalam festival yang kemudian menjadi hari libur favorit di Inggris. Kaum pria dan wanita bermalam di hutan-hutan setempat guna mengumpulkan bunga dan tangkai pohon yang berbunga untuk ’menyambut bulan Mei pada saat matahari terbit. Amoralitas merebak, menurut selebaran The Anatomy of Abuses karya Philip Stubbes, seorang kaum Puritan. Para partisipan mendirikan Maypole (tiang berhiaskan untaian bunga) di tengah desa, dan hal ini menjadi pusat acara tari dan permainan sepanjang hari itu. Stubbes menyebut tiang itu sebagai ”berhala bau busuk ini”. Orang-orang memilih seorang ratu Mei dan sering kali seorang raja Mei untuk memimpin pesta. Kebiasaan ini juga umum di tempat-tempat lain di Eropa.

Encyclopædia Britannica menjelaskan, ”Pada mulanya, ritus semacam itu dilakukan untuk memastikan kesuburan tanaman, lalu diperluas untuk kesuburan ternak dan manusia, tetapi makna penting ini dalam kebanyakan kasus lambat laun menghilang, dan praktek-praktek ini tetap dilakukan sekadar sebagai perayaan populer.”

Para Reformis Protestan mencoba memberantas perayaan tersebut. Pengikut Calvin di Skotlandia melarang May Day pada tahun 1555. Kemudian, Parlemen Inggris yang dikuasai kaum Puritan melarangkan Maypole pada tahun 1644. Pada waktu Inggris tidak memiliki seorang raja selama periode Negara Persemakmuran, ”praktek-praktek ketidaksenonohan” May Day dibatasi. Akan tetapi, monarki memulihkan Maypole pada tahun 1660.

Pesta-pesta Maypole lambat laut merosot selama abad ke-18 dan awal abad ke-19 tetapi dihidupkan kembali pada masa-masa belakangan dengan semangat yang lebih bermoral. Banyak kebiasaan yang dianggap sebagai kebiasaan May Daytradisional, seperti anak-anak menari mengitari Maypole sambil melilitkan pita-pita berwarna semarak, berasal dari masa-masa belakangan ini. Akan tetapi, para pakar cerita rakyat yang meneliti sejarah May Day kuno menemukan banyak asal usul kafir dalam perayaan itu.

Para imigran Eropa memperkenalkan kebiasaan May Day mereka ke negeri-negeri baru, dan sebagian keturunan mereka masih merayakan May Day dengan cara tradisional. Akan tetapi, di banyak negeri, May Day, atau hari Senin pertama setelah tanggal 1 Mei, dianggap hanya sebagai hari libur buruh.

Parade dan demonstrasi May Day modern dimulai di Amerika Utara. Mengapa di sana? Revolusi industri telah menghasilkan mesin-mesin baru yang dapat beroperasi terus-menerus sehingga para pemilik pabrik sering meminta pegawai mereka untuk bekerja sampai 16 jam setiap hari kecuali hari Minggu. Dalam upaya meningkatkan kehidupan para pekerja, sebuah federasi perdagangan dan serikat buruh di Amerika Serikat dan Kanada mengajukan tuntutan untuk bekerja delapan jam sehari. Pada April 1886, ratusan ribu kelas pekerja di AS yang berkeinginan kuat menghentikan dominasi kelas borjuis, bergabung dengan organisasi pekerja Knights of Labour. Perjuangan kelas masif menemukan momentum di Chicago, salah satu pusat pengorganisiran serikat-serikat pekerja AS yang cukup besar. Gerakan serikat pekerja di kota ini sangat dipengaruhi ide-ide International Workingsmen Association. Gerakan tersebut telah melakukan agitasi dan propaganda tanpa henti sebelum Mei untuk merealisasikan tuntutan “Delapan Jam Sehari”.

Pada 1 Mei 1886, terjadi unjuk rasa pekerja di Amerika Serikat terkait tuntutan ‘Delapan Jam Sehari’.  Federation of Organized Trades and Labor Unionsmenetapkannya sebagai hari perjuangan kelas pekerja. Informasi yang dihimpunTim Mawar Merah, meski menyimpan kisah kontroversi, tuntutan “Delapan Jam Sehari’ mengakibatkan aksi pemogokan dan Chicago pun lumpuh total. Tindakan aksi pemogokan kaum buruh Amerika disambut polisi dengan membabi buta dan menimbulkan korban. Tiga hari kemudian, aksi pemogokan semakin menyeluruh dan besar, di Lapangan Haymarket, kota Chicago. Rekam jejaknya pun korban banyak berjatuhan akibat lemparan ‘bom’ di tengah kerumunan polisi. Kerusuhan di Lapangan Haymarket menjalar ke berbagai kota di dunia, Belanda, Inggris, Italia, Prancis, Rusia, dan Spanyol ikut mogok. Pada tahun 1889, sebuah rapat kongres partai-partai Sosialis dunia di Paris menyatakan bahwa tanggal 1 Mei 1890 akan menjadi hari demonstrasi internasional untuk mendukung hari kerja delapan jam. Sejak itu, tanggal 1 Mei menjadi peristiwa tahunan bagi para pekerja untuk menuntut kondisi kerja yang lebih baik.

Di republik-republik Uni Soviet, May Day secara tradisional dirayakan dengan parade militer dan pameran pencapaian teknologi. Dewasa ini, banyak negeri memberlakukan hari libur yang disebut Hari Buruh atau Hari Pekerja Internasional pada hari pertama bulan Mei. Akan tetapi, Amerika Serikat dan Kanada merayakan Hari Buruh pada hari Senin pertama bulan September.

Apa benang merah antara Pesta Kuno dan Pesta Modern? Sejak dahulu, May Dayadalah pesta rakyat. Para pekerja mengambil waktu bebas kerja dengan atau tanpa izin majikan mereka. Peran-peran sosial diputar balik. Raja dan ratu pada hari itu dipilih dari rakyat biasa, dan golongan penguasa sering menjadi sasaran ejekan. Oleh sebab itu, May Day segera dikaitkan dengan gerakan buruh, dan pada abad ke-20, May Day menjadi hari libur dalam kalender Sosialis.

Seperti May Day kuno, Hari Pekerja Internasional menjadi hari parade melintasi jalan-jalan. Namun, kekerasan telah menjadi hal umum selama perayaan May Daypada tahun-tahun belakangan ini. Dalam May Day tahun 2000, contohnya, berlangsung unjuk rasa sedunia menentang kapitalisme global. Protes-protes pada saat itu dinodai oleh perkelahian, cedera, dan kerusakan properti.

Sumber : Mawar Merah

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi