Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Pengertian Hisab dan Kaitan dengan Ilmu Falak

28 Jun 2014

Kata “hisab” berasal dari kata Arab al hisab yang secara harfiah berarti perhitungan atau pemeriksaan. Dalam Al Qur'an kata hisab banyak disebut dan secara umum dipakai dalam arti perhitungan seperti dalam firman Allah,
الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ﴿١٧

Artinya: Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan (pemeriksaan) -Nya . [Al Qur'an surah Ghafir (40): 17].

Dalam Al Qur'an juga disebut beberapa kali kata “yaum al- hisab”, yang berarti hari perhitungan. Misalnya dalam firman Allah,
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ﴿٢٦

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan [Shad (38): 26].
Dalam surat Yunus ayat 5, hisab malah dipakai dalam arti perhitungan waktu, sebagaimana firman Allah,
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴿٥﴾
Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat orbit) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). [Yunus (10): 5].
Dalam hadis kata “hisab” lebih banyak digunakan untuk arti perhitungan pada Hari Kemudian. Namun dalam hadis yang dikutip pada sub bahasan B halaman 5 di bawah ini, kata kerja nahsubu menunjukkan arti perhitungan gerak Bulan dan matahari untuk menentukan waktu, yaitu hisab untuk menentukan bulan kamariah.
Dalam bidang fikih menyangkut penentuan waktu-waktu ibadah, hisab digunakan dalam arti perhitungan waktu dan arah tempat guna kepentingan pelaksanaan ibadah, seperti penentuan waktu salat, waktu puasa, waktu Idulfitri, waktu haji, dan waktu gerhana untuk melaksanakan salat gerhana, serta penetapan arah kiblat agar dapat melaksanakan salat dengan arah yang tepat ke Kakbah. Penetapan waktu dan arah tersebut dilakukan dengan perhitungan terhadap posisi-posisi geometris benda-benda langit khususnya matahari, Bulan dan bumi guna menentukan waktu- waktu di muka bumi dan juga arah.
Pengkajian mengenai posisi-posisi geometris benda-benda langit guna menentukan penjadwalan waktu di muka bumi merupakan bagian dari apa yang dalam peradaban Islam disebut ilmu haiah yang menurut al-Mas'ud (w. 346 H / 957 M) merupakan padanan istilah Yunani ‘astronomi’ . Ilmu haiah (astronomi) sering juga disebut ilmu falak, namun istilah ilmu haiah dalam sejarah Islam lebih populer dan lebih banyak digunakan. Ini terbukti bila kita membuka Program al-Jami‘ al-Kabir, misalnya, akan terlihat bahwa istilah ‘ilmu haiah’ disebut sebanyak 345 kali, sedangkan istilah ‘ilmu falak’ hanya 97 kali. Di zaman modern sekarang istilah ilmu falak lah yang justeru banyak digunakan dan istilah ilmu haiah tenggelam dan hampir tidak terdengar lagi.
Ilmu falak (astronomi / ilmu haiah) jauh lebih luas dari sekedar mempelajari posisi geometris benda langit untuk tujuan praktis seperti penentuan waktu. Hal terakhir ini hanya satu bagian saja dari ilmu falak (astronomi) dan ulama-ulama zaman tengah menamakan yang terakhir ini ‘ilm al-mawaqit (ilmu waktu). Al- Qalqasyandi (w. 821/1418) mendefinisikan ‘ilm al-mawaqit sebagai “salah satu cabang ilmu haiah (ilmu falak) yang mengkaji waktu- waktu ibadah dan penentuan arah kiblat dan semua arah lain serta kedudukan suatu tempat di muka bumi dari segi bujur dan lintangnya dengan melibatkan pengetahuan tentang langit serta ketinggian, peredaran, sinar dan bayangan kerucut benda langit.”
Al-Qalqasyandi juga menyatakan bahwa ilmu waktu (ilm al- mawaqit) merupakan cabang ilmu falak (ilmu haiah) yang paling mulia kedudukannya dalam pandangan syariah. Sedangkan ilmu falak (ilmu haiah) dalam definisi ulama-ulama zaman tengah adalah suatu cabang pengetahuan yang mengkaji keadaan benda-benda langit dari segi bentuk, kadar, kualitas, posisi, dan gerak benda-benda langit. Pada zaman modern, Muhammad Ahmad Sulaiman mendefinisikan ilmu falak sebagai “ilmu yang mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta berupa benda-benda langit di luar atmosfir bumi, seperi matahari, Bulan, bintang, sistem galaksi, planet, satelit, komet, dan meteor dari segi asal usul, gerak, fisik, dan kimianya dengan menggunakan hukum-hukum matematika, fisika, kimia, dan bahkan biologi.” Oleh karena itu untuk membedakan ilmu falak dalam arti astronomi dengan ilmu falak yang khusus mengkaji gerak matahari dan Bulan untuk menentukan waktu-waktu ibadah dan arah kiblat, maka ilmu falak yang terakhir ini disebut dengan ilmu falak syar‘i.
Ilmu falak syar’i terkadang disebut pula dengan ilmu hisab. Hanya saja penamaan dengan ilmu hisab ini populer di kalangan beberapa fukaha. Sesungguhnya dalam khazanah ilmu pengetahuan Islam secara umum, terutama di lingkungan para pengkaji sains Islam di masa lampau, ilmu hisab bukan ilmu falak, melainkan adalah ilmu hitung (aritmetika), yaitu suatu cabang pengetahuan yang mengkaji tentang bilangan melalui penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan seterusnya serta penggunaannya untuk berbagai keperluan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak ulama fikih menggunakan ilmu ini untuk melakukan perhitungan faraid dan wasiat. Dalam beberapa kitab fikih besar, seperti az-zakhirah karya al-Qarafi (w. 684/1285), ilmu hisab dijadikan satu pembahasan panjang sebagai sarana untuk kepentingan perhitungan pembagian warisan. Para ahli hisab pun juga memanfaatkan teori-teori aritmetika ini untuk kepentingan perhitungan hisab astronomi. Itulah mengapa dengan mudah kemudian ilmu falak (astronomi) diasosiasikan dengan ilmu hisab. Di Indonesia pun juga ilmu falak syar’i sering disebut ilmu hisab.

Sumber : Buku Pedoman Hisab Muhammadiyah  

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi